
Waktu bergulir dengan tenang disekitar Tuan Saga. Daniah sudah diboyong kembali ke rumah utama.
Sembari Han mempersiapkan diri untuk melamar Aran, laki-laki itu pun berjibaku dengan Pak Mun dan para pelayan untuk mempersiapkan pesta tuan putri Erina. Pesta meriah yang akan dilangsungkan di rumah utama.
Gadis cantik putri pertama Tuan Saga dan Nona Daniah akan diperkenalkan secara terbuka pada keluarga besar Antarna Group. Pada sanak saudara yang tidak mendapat kesempatan menjenguk di RS, mereka semua akan mendapat undangan. Bahkan menjangkau keluarga Amera yang jauh di luar kota.
Kamar bayi yang sudah di desain oleh desainer ternama. Ada di sebelah kamar utama. Tampak manis dan ceria seperti layaknya kamar seorang putri. Itu adalah kamar Erina, dua perawat khusus bergantian menjaganya, membantu Daniah bergiliran antara mereka, masih dibantu para pelayan juga.
Boks bayi berenda, dengan beberapa mainan gantung yang mengeluarkan bunyi ketika disenggol, berada di tengah kamar. Ada tempat tidur juga di sebelahnya, dipakai perawat tidur saat malam. Deretan boneka yang mungkin baru akan dimainkan Erina setahun lagi, menghiasi kamar. Menambah kesan kanak-kanak yang manis.
Putri kecil itu sudah selesai mandi. Memakai baju berlengan panjang dan kaos kaki mungil. Sehabis mandi biasanya suster akan memakaikan kaos kaki supaya hangat katanya. Menyisir rambut kruel dengan sisir bayi. Bola mata bening Erina menatapnya.
Lucunya, gemas banget. Tuan putri imutnya.
Suster gemas sendiri dengan bayi yang dia jaga.
"Anak cantik, putri Erin sudah cantik dan wangi." Perawat itu mengajak Erina berceloteh dengan riang. Sambil menggoyangkan kepala dan tangan mengajak berkomunikasi. Erin menatapnya. Suster sudah senang bukan main dengan reaksi kecil Erina.
Pintu terbuka saat dia sedang memangku Erina dan menyisir rambut. Nona muda yang selalu datang setiap kali dia ada di rumah. Adik bungsu Tuan Saga. Sudah muncul di depan pintu.
Sofia tersenyum sumringah, berjinjit-jinjit mendekat.
"Selamat sore Nona Sofia, Anda sudah datang." Suster perawat menyapa.
"Hihi, Erin bangun ya? Sus, apa aku boleh melakukannya?" Menunjuk sisir bayi yang ada ditangan perawat Erina.
Hah! Anda ini ya, walaupun bergumam diserahkan juga sisir di tangannya. Sofia berlutut di dekat sofa, lalu menyisir rambut Erina yang terasa lembut. Sambil tertawa-tawa mengajak Erina bicara.
Saking gemasnya melihat Erina yang mengerjap Sofi pura-pura pingsan di pangkuan perawat.
"Erin gemas banget ya, nggak kuat aku. Matanya itu lho, ih, cium dikit aja Erin, mumpung ibu sama ayahmu nggak ada." Sofia sudah monyong-monyong.
Tangan perawat Erina melintang, meringis sambil menggelengkan kepala.
"Tidak boleh Nona."
"Ih pelit, aku sudah mandi, wangi, bersih."
Tetap tidak boleh. Sebenarnya suster juga serba salah, tapi karena aturan yang dibuat Tuan Saga membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain menjalankannya.
__ADS_1
Saat akhirnya Sofia menyerah dan cuma mencium tangan dan kaki Erina, suara Daniah terdengar. Gadis itu muncul sudah terlihat segar dan cantik, dengan baju terusan warna biru muda.
"Ada Sofi ya?" ujar Daniah mendekat.
"Kakak ipar, suster pelit banget nggak boleh cium Erin." Berharap kalau mengadu akan mendapat izin.
"Nona, kan memang tidak boleh." Seperti mau menangis karena disalahkan suster menjawab. Daniah malam tergelak kecil, lalu duduk di sofa. Meminta Erina di pindahkan ke pangkuannya.
"Anak ibu sudah cantik ya, ulu, ulu, cantiknya." Muaahhh, mencium leher Erina. "Sudah wangi juga." Bayi kecil itu seperti tahu mana ibunya, bibir mungilnya bergerak, dengan bola mata berbinar.
Sofia melihat adegan itu semua menggigit jari, berkaca-kaca. Daniah tertawa melihat kelakuan adik iparnya itu.
"Sini, duduk. Sofi mau memangku Erin? Boleh cium, tapi jangan banyak-banyak ya."
Daniah menjelaskan kalau kulit bayi memang sensitif, dan tidak boleh sembarangan dicium-cium. Apalagi kalau dicium oleh orang yang pakai make up.
Setelah mendengar penjelasan Daniah, Sofia lari keluar kamar, tidak lama muncul lagi dengan wajah yang agak basah, ditangannya handuk kecil dia pakai mengeringkan muka. Sepertinya dia rela menghapus makeup demi bisa mencium Erina.
Sofia duduk di sofa, hatinya berdegup, tangannya gemetar. Tapi dia antusias. Suster meletakkan bantal berbentuk agak bulat, yang biasanya dipakai Daniah menyusui. Lalu memindahkan Erina ke pangkuan Sofia. Gadis itu menjerit tanpa suara saat Erin sudah ada di pangkuannya.
"Kakak Ipar, dia lucu banget, cium ya? boleh ya?"
Bayi memang wangi banget! Sofia merasakan keharuman tubuh Erina merasuk ke hidungnya. Wanginya jauh mengalahkan koleksi parfum Kak Jen gumamnya. Bersama Erina rasanya bisa menjadi pelepas lelah pikir Sofia. Lebih seru dari mainan hp. Hihi, dia terkikik sendiri.
"Kakak ipar, pesta Erina nanti Haze diundang Kak Saga, mereka akhirnya akan bertemu."
Daniah mendengarkan sambil mengambil boneka kelinci, membawanya ke depan Erina.
"Kakak ipar."
"Hem kenapa?" Sambil Daniah main cilukba dengan menutup wajahnya dengan boneka. Bermain bersama Erina.
"Vidio Haze yang konser saat pesta rakyat kemarin kan Sempet trending ya, trus banyak tawaran masuk buat Haze, nyanyi juga, bahkan dia mulai terima endorse barang di sosial medianya."
Mimpi buruk Daniah hari itu ternyata menjadi hari baik buat seseorang yang lain gumam Daniah.
"Bagus donk, dia jadi populer berarti ya." Sofia nyengir, menanggapi, sambil menggoyangkan bantal di pangkuannya.
"Kak Jen sebentar lagi wisuda dan penempatan kerja di perusahaan. Aku juga sebentar lagi harus magang, tapi aku bingung Kakak ipar." Sofia kaget saat Erina mulai menangis tiba-tiba. "Kakak ipar, aku nggak ngapa-ngapa in, Erin menangis sendiri." Sofia kalang kabut.
__ADS_1
Suster dan Daniah tertawa, melihat bocah memangku bocah. Apalagi saat dia panik kelabakan. Merasa berdosa, dia pikir Erina menangis karena salahnya.
"Erin haus ya, ayo minum susu dulu." Suster sudah memindahkan Erina ke pangkuan ibunya. Dan bayi kecil itu terdiam saat mulutnya mulai menghisap asi. Tidak lama hisapan itu terlepas, Erin terlelap.
Setelah memindahkan Erina ke dalam boks bayi. Daniah menyuruh suster untuk melakukan kegiatannya sendiri, seperti mandi dan makan. Karena dia yang akan menjaga Erina sambil mengobrol dengan Sofia. Suster menundukkan kepala lalu keluar kamar.
"Kenapa, apa yang membuat Sofi bingung?" Perhatian Daniah sudah tertuju pada Sofia.
Sofia si bungsu Antarna Group. Adik kecil ini imut dan menggemaskan. Paling takut kalau kakaknya sudah marah. Lebih takut kalau dia dimarahi Sekretaris Han. Berbeda dengan Jen yang terkadang masih suka menantang kalau dimarahi Han.
"Aku nggak terlalu ingin kerja di perusahaan," ujarnya mendekat saat Daniah sudah duduk di sofa. "Kakak ipar coba lihat, ini aku lho." Dia tersenyum simpul penuh kebanggaan. Menunjukkan Vidio yang sudah ditonton puluhan ribu kali. "Tutorial make up dan berpakaian ala gadis remaja populer. Begitu judulnya.
"Wahh, hebat banget, aku baru tahu." Daniah merebut hp Sofia, turun naik melihat Vidio. Ada banyak. "Kapan kamu ngerjain ini semua?"
Perasaan Daniah nggak pernah melihat Sofia sibuk syuting atau apa. Yang dilihatnya cuma gadis itu yang asik dengan hpnya.
"Hihi itu bareng teman-temanku dan Haze, mereka yang edit-edit Vidio dan aku cuma syuting aja. Bagus nggak Kakak Ipar?"
"Tuan Saga tahu?"
Sofia memeluk kakak iparnya dan menjatuhkan kepala bersandar.
"Han kan tahu semua sosial mediaku, mustahil Kak Saga nggak tahu, karena aku nggak dilarang, jadi itu artinya aku dibolehkan, jadi ya udah aku terusin kegiatan itu."
Wahh, aku nggak pernah membayangkan. Aku pikir Jen dan Sofi selain kuliah kerjanya cuma main, ternyata. Daniah bergumam sambil mengusap kepala adik iparnya.
"Lantas apa yang membuatmu bingung?"
"Kak Saga kan tahunya itu sebatas hobi dan aku cuma bersenang-senang." Wajah Sofia muram. "Kalau masa depan, dia tetap mau aku bekerja di perusahaan." Melihat boks bayi Erina. "Setelah keponakanku lahir, aku jadi melihat mimpi Kak Amera tidak terlalu buruk juga."
Amera yang cita-citanya menikah dengan Han, menjadi istri dan ibu dari anak-anak Han. Dulu Sofia menganggap mimpi Amera lucu dan kekanakan, tapi saat melihat kehidupan Kak Saga dan kakak ipar yang terasa lengkap dengan kehadiran Erina, Sofia Jadi memiliki cita-cita yang hampir mirip dengan Amera.
"Kenapa? Kau jadi ingin menikah dengan Han juga?"
"Kakak Ipar!" Sofia sampai menjerit amit-amit. Kaget, lalu menutup mulut takut Erina terbangun. Daniah tertawa sambil mendorong kepala Sofi yang dusel-dusel dari tadi. "Aku kan punya Haze, Kakak Ipar." Memukul-mukul sofa sambil merinding dan bilang amit-amit lagi.
"Hihi, ia, ia, pacar Sofia yang manis itu." Daniah masih tertawa sambil memeluk Sofia. Tidak memperhatikan ada sepasang mata yang mengintip di pintu kamar.
"Tapi aku takut buat bilang ke Kak Saga. Hiks." Curhat Sofia masih berlanjut, tentang pekerjaan dan masa depan yang ia inginkan.
__ADS_1
Bersambung