
Gedung Antarna Group. Lantai tertinggi.
Libur bulan madu Sekretaris Han sudah berlalu, setelah melewati romansa manis hari-hari menjadi pengantin setelah menikah, Han harus kembali pada aktifitas normalnya. Bekerja dan bekerja. Melakukan yang terbaik agar segala sesuatunya berjalan dengan seharusnya untuk Tuan Saga.
Tidak ada gurat lelah dimatanya, karena setelah pulang ke rumah, dia tidak akan hanya disambut keheningan ruang tamu apartemennya. Malam hangat dan membara selalu mengisi malam-malamnya sekarang.
Kembali ke pekerjaan, sudah seminggu ini laki-laki itu berusaha mengumpulkan data dan fakta mengenai gadis kecil yang memberi Saga coklat di RS.
Setelah mendapat informasi dari ayah Revan, keyakinan intuisinya semakin naik berkali lipat. Dia yakin kalau gadis kecil itu memang Nona Daniah. Dan dia ingin membuktikan dan membawa kabar mengejutkan ini untuk Tuan Saga. Tuan Saga pasti sangat terkejut dan pasti akan senang.
Semua bukti sudah ada dalam genggamannya. Dia sudah yakin, untuk menunjukkannya pada Tuan Saga hari ini.
Han keluar dari lift bersama dengan ayah Revan disampingnya, laki-laki itu kembali datang ke ibukota untuk mengkonfrontir bukti-bukti yang didapatkan Han. Saksi hidup yang masih mengingat kejadian hari itu dengan sangat jelas.
Sebenarnya Han pun mencari jejak perawat yang hari itu menolong gadis kecil atas perintah Tuan Saga, namun sayang perawat itu sudah cukup tua dan tidak mengingat kejadian hari itu. Han memberi hadiah berupa uang dan bingkisan, karena wanita itu sudah bekerja keras mencoba mengingat, walaupun tidak berhasil mengingat apa pun.
"Aku tidak percaya, ada takdir yang menakjubkan seperti ini Han, padahal dulu tuan muda menolong gadis itu hanya sambil lalu saja." Ayah Revan kembali merasakan momen koridor RS kala itu dalam ingatannya. "Aku tidak membayangkan kalau gadis kecil itu adalah Nona Daniah."
Karena saat itu dia berdiri menjauh, dia tidak mendengar pembicaraan tuan muda dan gadis kecil itu. Hanya melihat tuan muda yang menarik rambut bergelombang gadis kecil yang memakai jaket pemberian perawat dengan wajah senang.
Benar-benar takdir yang dibuat Tuhan sungguh luar biasa, gumamnya mengikuti langkah kaki Han menuju ruangan Presdir. Tempat dulu dia menghabiskan waktu selama masih aktif bekerja di Antarna Group.
Saat Han dan ayah Revan masuk, Saga sedang duduk di sofa, menghabiskan potongan buah di piring sambil menelepon. Sepertinya dia bicara dengan Nona Daniah dan putri Erin. Saga melambaikan tangan, saat menutup panggilan. Memberi kecupan tiga kali di depan layar hpnya.
Saga menoleh pada dua orang yang baru masuk.
"Paman?"
Saga heran karena melihat ayah Revan, dia merasa tidak memanggilnya.
Apa Revan sudah ketahuan menyukai Jen?
Saga bisa membayangkan kalau sampai laki-laki ini tahu, entah sudah jadi apa Revan hari ini. Tapi, dia tidak mendengar apa-apa kabar tentang Revan, berarti bocah itu baik-baik saja.
Apa yang membuatnya datang?
"Duduklah."
Han dan paman duduk, di sofa di depan Saga. Saga melihat Han meletakkan map coklat di atas meja. Hanya dengan Saga melirik map itu, Han sudah tahu harus membuka amplop dan mengeluarkan isinya.
"Tuan muda, ini perihal kejadian di RS saat kematian tuan besar." Han bicara hati-hati, melihat reaksi Saga sebelum melanjutkan kalimatnya. Laki-laki itu menunggu, bukannya marah karena dia sudah menyinggung hari yang tidak mau diingat Saga. Berarti dia bisa melanjutkan gumam Han. "Waktu hari pernikahan saya, Anda mengingat kejadian itu dan mengatakan tentang gadis kecil yang memberikan Anda coklat."
Ah, saat aku bicara hal aneh di ruang tunggu ya.
"Kenapa Paman disini? lantas kenapa dengan gadis itu?"
Saga masih memicing, menebak apa sebenarnya yang mau dibicarakan Han. Tiba-tiba membahas hari kematian ayahnya dan membicarakan tentang gadis kecil yang memberinya coklat.
Aku tidak ingat wajahnya. Memori Saga masih tersamarkan.
Han meletakkan foto-foto di depan Saga. Ada sekitar empat foto dia dapatkan dari Gunawan dan dari keluarga ibu Daniah yang tinggal di dekat pesisir laut. Untuk itulah cukup memakan waktu mengumpulkan semua informasi ini.
Han dengan antusias memulai bicara.
"Tuan muda, apa Anda percaya kalau saya bilang, gadis kecil dengan rambut acak-acakan yang memberi Anda coklat itu adalah Nona Daniah."
Melihat bola mata Saga yang membelalak kaget, membuat Han mengulum senyum. Dia seperti sudah bisa melihat ledakan kegembiraan Tuan Saga dengan kejutan yang dia berikan ini.
__ADS_1
"Apa?" Saga menyambar foto-foto diatas meja. Ada foto di pemakanan. Dengan melihat foto itu saja bisa dilihat situasi orang-oranh yang sedang berduka di dalamnya. "Kau bicara apa Han, yang memberiku coklat dulu Niah?"
Tangan Saga menggantung foto di depannya, diperhatikan dengan cermat orang-orang yang ada di dalam foto.
"Saya mendapatkan foto-foto ini dari Gunawan, ayah Nona Daniah. Ini foto pemakaman istri pertamanya, apa Anda lihat anak kecil yang memakai jaket dan menggendong boneka itu." Saga memperhatikan lagi foto. Ingatan masih tersamarkan di memorinya. "Gunawan bilang, anaknya tidak mau melepas jaket itu dan memakainya sepanjang hari."
Sedikit demi sedikit bayangan wajah gadis pemberi coklat muncul diingatan Saga.
"Itu jaket yang Anda berikan di RS pada anak kecil itu, paman bisa menjadi saksinya."
Saga melihat paman, laki-laki itu menganggukkan kepala.
"Saya tidak akan melupakan hari itu tuan muda. Jaket itu memang jaket yang Anda berikan melalui perawat pada gadis kecil di RS yang memberi Anda coklat."
Saga menutup mulutnya yang terbuka. Gadis kecil dalam foto itu benar, seperti yang muncul dalam ingatannya. Apa ini batinnya. Sekelebat bayangan kejadian hari itu muncul di kepalanya. Dia yang menyentuh rambut anak kecil itu, dia tidak mendengar dia bicara apa, dia malah memainkan rambut anak itu.
"Jadi dia Niah, Niah yang memberiku coklat supaya aku tidak menangis. Niah yang rambutnya lucu berantakan itu." Saga tertawa, tapi entah kenapa ada yang meledak-ledak di hatinya. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. "Benar, dia bilang namanya Niah." Tiba-tiba teringat begitu saja. "Paman, benar, dia bilang namanya Niah, sambil melambaikan tangan digendong perawat."
Suara tawa Saga karena rasa tidak percaya sekaligus takjub memenuhi ruang kerjanya.
Ya Tuhan, kalau aku tahu dia yang akan jadi istriku yang menggemaskan seharusnya aku memeluknya dan tidak akan membiarkan dia pergi.
Mulai deh Saga berandai-andai dengan pengandaian tidak masuk akalnya. Dia memukul sofa dan tertawa, masih belum sepenuhnya percaya. Kalau sebelumnya dia memang sudah terhipnotis pada rambut bergelombang milik istrinya.
...πππ...
Sebenarnya Saga ingin pulang lebih awal dan menceritakan hal yang tidak bisa dia percaya ini pada Daniah. Tapi ada acara penting yang tidak bisa diwakilkan Saga pada orang lain, akhirnya dia pulang selepas makan malam.
Di lantai atas rumah utama.
Daniah keluar dari kamar Erina, setelah gadis kecilnya tertidur. Bersamaan Saga yang muncul dari tangga, tersenyum saat melihatnya. Terlihat bersemangat dan senang, tidak seperti orang yang baru pulang setelah seharian bekerja.
"Niah, aku merindukanmu istriku."
Saga berjalan cepat menghambur ke pelukan Daniah. Dia melihat Pak Mun sekilas.
"Tinggalkan kami Pak istirahatlah, biar Niah yang membantuku."
"Baik Tuan Muda, selamat malam, selamat istirahat, Nona juga selamat istirahat."
Saga hanya menjawab hemm seperti biasa, Daniah berterimakasih dengan kalimat yang panjang sebelum Pak Mun berlalu.
"Sayang, kenapa, kau kelihatan senang sekali."
Kau tidak akan percaya, pasti kau tidak percaya kalau mendengarnya Niah, kalau kita sudah pernah bertemu waktu kita kecil.
Daniah mengeryit saat melihat Saga tertawa sambil tiba-tiba menggendongnya masuk ke dalam kamar. Dia dijatuhkan pelan ditempat tidur.
"Aku mau mandi, tunggu aku di sini."
Dia tidak menarikku untuk membantunya buka baju, tumben sekali.
"Sayang, aku nggak perlu ganti baju tidur?" Daniah menunjuk bajunya.
Kenapa dia aneh sekali si, malam ini.
Saga kan biasanya paling tidak suka kalau dia ditempat tidur tapi tidak memakai baju tidur ala kadarnya itu.
__ADS_1
"Tidak perlu, toh kau hanya perlu melepas baju itu."
Apa sih. Wajah Daniah malu.
"Sudah kubilang, aku lebih senang, kau tidak pakai baju kan." Menoel dagu sambil menyeringai. Lalu meninggalkan Daniah masuk ke ruang ganti dengan berdendang.
Dia kenapa si, kenapa kelihatan senang begitu. Bikin merinding.
Daniah menunggu dengan hati berdebar. Sebenarnya apa yang akan dilakukan Tuan Saga. Saat Saga muncul dari ruang ganti hanya dengan memakai handuk, dia langsung bergumam.
Heaaa!
Kenapa wajahmu sesenang itu si, aku pikir ada hal spesial apa. Sedikit kecewa sebenarnya. Ternyata Tuan Saga hanya ingin mencumbuinya. Daniah langsung menutup matanya dengan semua jari saat handuk yang dipakai Saga terlepas dan jatuh ke lantai.
"Sayang! Kau ini kenapa si." Menjerit kaget.
Saga loncat seperti anak kecil ke atas tempat tidur. Tubuhnya yang lembab menyeruak aroma sabun yang harum. Membuat Daniah menelan ludah dan ingin menyentuhnya.
"Niah! Hari ini aku senang sekali." Memeluk Daniah sambil menggoyangkan tubuh gadis itu dalam pelukannya. "Kau itu memang ditakdirkan untukmu. Rambut jelekmu ini memang ditakdirkan untukku."
Apa sih, dia bicara apa?
Tangan Saga sudah bergerak dengan cepat melucuti baju yang dipakai Daniah. Melemparkan dalaman dengan sembarangan ke lantai. Menghujani tubuh Daniah dengan ciuman bertubi-tubi. Entahlah, fakta itu membuatnya merasa senang tidak terkira. Seperti merasa mereka sudah ditakdirkan sejak kecil, untuk hidup bersama dan saling mencintai.
"Niah, aku mencintaimu." Cium lagi disana sini. Tanda merah kemarin saja belum hilang, sudah hujan tanda baru di leher dan tubuh Daniah.
"Ia sayang aku juga."
Tapi tolong jelaskan ini ada apa! kenapa kau main cium-cium seperti orang yang pertama kali jatuh cinta.
Tubuh tanpa sehelai benang pun itu menempel erat dibawah selimut. Bergumul saling memeluk.
"Niah, kita sudah pernah bertemu saat kecil lho, apa kau percaya itu." Lidah Saga sudah bermain di leher Daniah. Menciumi, sampai rasanya aroma sabun berpindah ke tubuh Daniah.
"Apa si sayang, memang kapan kita pernah bertemu. Aaaah, ahhhh." Sambil keluar ******* saat Saga menorehkan gigitan bibirnya di bagian atas dada.
Aaaaaaa!
Daniah sudah tidak menggubris apa yang digumamkan Saga, karena tangan dan bibir laki-laki itu membuat pikirannya blank dan terbang membumbung angkasa.
Aaaaaa! ahhhh!
"Aku mencintaimu Niah, sangat mencintaimu."
Mereka bergelut dibawah selimut selama dua babak. Baru Saga menjawab pertanyaan Daniah tentang pertemuan masa kecil mereka. Gadis itu tidak sempat terkejut, karena mendapat serangan selanjutnya.
"Aaaaaaaa! Sayang!"
Ternyata masih berlanjut ke ronde ketiga π€
...TMTM Musim Spesial...
...πTamatπ...
note :
Sampai jumpa lagi di KTS bagian kedua, dengan TMTM musim baru π₯°
__ADS_1
baca penjelasannya di bab info ya π