
Di dalam keluarga besar Antarna Group akan datang pasangan baru. Cinta yang berbeda rasa dengan sebelumnya.
Rumah utama di suatu hari yang cerah.
Kesibukan sudah dimulai sejak bumi masih temaram. Sisa embun pagi saja belum menguap pergi. Akhir pekan yang biasanya dimulai lebih siang, hari ini tampak berbeda. Pelayan bekerja sesuai dengan tanggung jawab mereka, terlihat keluar masuk, menyiapkan semua yang dibutuhkan pemilik rumah.
Hari inilah pesta pernikahan pasangan baru itu akan dilaksanakan.
Sudah jam delapan pagi, tiga gadis cantik, bunga indah yang memiliki style dan gaya yang berbeda, keluar bersamaan dari kamar Jen. Mereka sudah berdandan dan merias diri dengan sempurna. Kecantikan ketiganya langsung semerbak memenuhi udara di mana langkah mereka menapak.
Jen dengan kecantikan gadis dewasanya, dia menggerai rambutnya dengan rapi, menarik rambut di dekat telinga yang dia pilin kemudian dia sematkan jepit berwarna perak berbentuk bunga. Sementara Sofia, wajah imutnya merona dengan sapuan make up tipis. Amera terlihat elegan dan dewasa, dengan dress dan perhiasan yang dia buat sendiri.
Ketiganya sedang berjalan menuruni tangga. Berhenti sejenak, sambil meneruskan obrolan.
"Kak Jen, bagaimana perasaan Kak Jen?" Sofia menyenggol lengan kanan Jen, dibumbui tawa. Gadis itu mau menggoda Jenika. "Apa hati Kak Jen berdebar-debar?" Bertanya lagi sambil terkikik, menggeser langkah karena takut dicubit Jen.
"Ia Jen, bagaimana perasaan mu sekarang." Amera tidak mau kalah dari Sofia, menjahili Jen. "Sepertinya kau tidak mau kalah ya, kau berdandan dengan habis-habisan."
Jenika, yang berjalan di tengah, diapit kedua gadis itu merengut. Sofia dan Amera memang sedang iseng menggoda Jen. Ya, dia yang kisah cintanya sempat menghebohkan dengan drama restu orangtua, akhirnya disalip duluan. Karena hari ini adalah hari pernikahan Dokter Harun dan pembawa berita Sandrina. Bukan pernikahannya dengan Kak Revan.
Dia dan Revan masih menjadi penonton kebahagiaan orang lain. Karena ibu, walaupun sudah memberikan lampu hijau, belum merestui kalau Jen mau segera menikah. Pacaran saja dulu, jangan buru-buru menikah. Ibu pun sampai memohon pada Kak Saga, ya akhirnya Jen dan Revan mengikuti keputusan Kak Saga yang mengabulkan permintaan ibu.
Jen mendengus lalu mencubit pipi Sofia.
"Diamlah kalian, kalian menyebalkan tahu. Kak Amera juga, seharusnya Kak Mera kan yang lebih tua dari ku." Amera tidak terpancing, karena bagi gadis itu kesiapan menikah tidak diukur dari usianya. Tapi, tergantung ada yang melamarnya atau tidak. Dan diusianya yang sekarang, dia tidak sedang kejar tayang. Berhubung laki-laki yang dia sukai juga sudah menikah. "Bagaimana hubungan kalian Kak? laki-laki muda yang sering Kak Mera ganggu itu." Jen mencoba mengingat namanya tapi dia lupa, karena Amera sudah jarang menyebut namanya dalan cerita.
Amera mengibaskan rambutnya, laki-laki yang lebih muda darinya memang seru untuk dia goda, tapi ternyata hatinya hanya bergetar sesaat. Sebenarnya saat ini dia sedang PDKT dengan seorang laki-laki, tapi karena hubungan mereka masih terhitung abu-abu, dia belum mau sesumbar apa pun. Ya, walaupun dia tetap merasa berterimakasih pada juniornya.
"Dia itu masih bocah, lucu menggodanya sebagai adik. Sudahlah jangan membicarakannya lagi."
Langkah mereka yang terhenti, akhirnya bergerak lagi.
"Hah? Apa Kak Mera belum move on dari Han?" Sofia yang merasa frustasi setiap jalan buntu percintaan Amera akan kembali berakhir pada Han. "Sadarlah wahai manusia, jangan menggangu cinta orang lain." Baru saja Sofia mau mengeluarkan kata mutiara, sudah dipotong Amera.
"Apa sih, siapa juga yang masih memikirkan Han. Walaupun tipe ku masih sepertinya, tapi aku juga tahu diri. Di matanya cuma ada Kak Aran. Eh, Erin!" Amera meninggalkan kakak beradik dan berlari menuruni tangga duluan saat melihat Erina dan suster sedang bermain di lantai bawah.
Erina langsung menoleh dan berlari kecil menyambut pelukan Amera, gadis kecil itu tertawa kegelian saat Amera menyerbu pipinya.
"Keponakan Tante lucunya, imutnya, cantiknya. Muah...muah."
"Ela geli, geli."
Semakin Erin kegelian, semakin Amera menikmati kelucuan putri kecil dalam dekapannya.
__ADS_1
"Kalian sudah siap ya? Kak Saga dan Kak Niah mana?"
Suster yang ditanya oleh Jen hanya menjawab dengan senyuman, karena dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukan orangtua Erina. Dia juga tidak berani mengetuk pintu dan memilih menunggu sambil bermain dengan Erina.
Saat Sofia dan Jen mendekat, serbuan ciuman menjadi tiga kali lipat, kali ini suster sampai berteriak sudah-sudah nanti dandanan Nona Erina berantakan.
"Hehe, Erin jangan cepat-cepat besar ya. Opia masih mau gendong-gendong, mau cium-cium. Muah-muah." Menggoyangkan Erin dalam pelukannya, putri kecil yang pintanya bergoyang itu hanya tertawa saja mendengar ucapan Sofia. "Kak Jen, Erin ikut kita saja yuk, Kak Jen minta izin kakak ipar dulu. Biar aku yang pangku Erin nanti."
"Mau pangku Opia, hehe."
Pikir Sofia, pastinya akan lebih seru, karena Erin akan selalu memeriahkan suasana. Mereka juga masih ada waktu dua jam sebelum jadwal, masih bisa foto-foto nanti. Mereka mau mengabadikan momen cantik keponakan mereka yang sudah berdandan dengan pakaian seperti putri.
Mereka sudah berjalan ke luar rumah.
Jen yang mengeluarkan hp, sedang menunggu nada dering ke tiga. Belum diangkat juga.
"Hemmm..." Sahutan di hp.
Hah! Hanya gumaman begini aku sudah tahu kalau ini Kak Saga. Jen bahkan tidak perlu memastikan dua kali.
"Kak Saga, Erin dan suster berangkat bersama kami ya? Ibu menginap di rumah Kak Harun, kami bertiga pergi bersama Kak Revan. Boleh ya? Kakak ipar di mana?" Jen sampai bingung semua dia tanyakan karena dari tadi tidak ada sahutan. "Boleh ya Kak?"
"Hemmm..."
Hah? Benar-benar deh gumam Jen. Tapi artinya boleh kan? Jen bergantian memandang hp dan Erin, artinya boleh kan? Ah, pasti boleh lah, kalau tidak boleh pasti Kak Saga bilang jangan tadi. Jen mengambil kesimpulan sendiri. Gadis itu berlari ke area parkir, Revan sudah mengganti mobil dengan yang lebih besar karena mereka akan membawa banyak penumpang.
"Boleh kan Kak? Kak Saga dan Kakak ipar bilang apa?" Sofia dan Amera sudah masuk ke dalam mobil. Suster setelah memasukan tas keperluan Erin juga ikut masuk dan duduk dengan tenang sambil menyandarkan bahu. Bersantai sejenak karena Erin ada yang menjaga.
"Hemmm."
"Hah? Apa si Jen?" Amera nyeletuk sambil meladeni Erin yang memainkan jari-jarinya."
"Ya hemmm, Kak Saga cuma menjawab hemmm."
"Benar-benar seperti Kak Saga." Sofia yang gantian nyeletuk sambil memangku Erin. Sementara Revan hanya tersenyum menimpali. Sudah tidak aneh dengan jawaban Saga yang sesimpel itu. Selama ini Sekretaris Han yang selalu bisa mengartikan dengan tepat, walaupun dia pun sudah bisa memahami. Dan dia selalu merasa bangga setiap bisa menerjemahkan kemauan tuan Saga dibalik kata hemm itu.
Karena semua sepakat mengartikan boleh akhirnya mobil keluar dari area parkir dengan perlahan. Sambil mereka membicarakan pernikahan Kak Harun dan Sandrina. Pernikahan yang mendebarkan hati, walaupun mereka dijodohkan namun Kak Harun dan Sandrina melanjutkan hubungan karena cinta keduanya.
"Nanti om Halun punya dede bayi juga?"
Semua langsung terdiam saking kagetnya, Revan bahkan tersentak, tangannya langsung memegang kemudi dengan erat. Suster di kursi belakang terlihat panik. Pembicaraan mereka tadi sepertinya hanya seputar pernikahan, tapi kenapa Erin bicara tentang Dede bayi.
"Erin, kenapa om Halun punya dede bayi?" Amera yang bertanya sambil mengusap kepala Erin.
__ADS_1
"Menikah sepelti ibu dan ayah, ibu punya Dede. Sus ia kan? Bibi Alan juga, menikah punya Dede bayi."
Mereka semua terlihat mengusap wajah sambil tertawa. Sofia langsung menciumi pipi Erin.
"Ya ampun, lucunya. Ia Erin sayang, kalau sudah menikah nanti punya Dede bayi seperti Erin."
"Elin bukan bayi!" Marahnya saja menggemaskan. Gadis kecil itu mengibaskan telunjuknya sambil mengulang kata-kata, kalau dia bukan bayi. Lalu menunjuk perutnya. "Dede bayi di pelut ibu, Opia ini."
"Haha, ia, maaf. Opia salah. Erin bukan bayi lagi. Muah...muah..."
Sekarang, mereka jauh lebih hati-hati berbicara, karena walaupun masih bayi, Erin tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas. Walaupun cara bicaranya yang masih cadel menunjukkan kalau dia benar-benar bayi.
Di kursi depan, Revan dan Jen lirik-lirikan, mereka tergelak kecil bersamaan, karena sepertinya pikiran mereka berlabuh di tempat yang sama. Menikah dan punya Dede bayi seperti yang Erin katakan tadi.
...🍓🍓🍓...
Sementara itu di kamar utama. Kita kembali ke rumah utama, karena masih ada yang tertinggal di sana.
Saga meletakan hpnya lalu mengangkat tangannya, Pak Mum langsung sigap membereskan nampan sarapan dan menundukkan kepala. Keluar dari kamar dan meminta sopir yang akan mengantar untuk menunggu dengan santai karena sepertinya tuan mudanya belum akan keluar dari kamar sampai satu jam ke depan.
Sebenarnya sudah selesai bersiap, Saga sarapan sambil menunggu Daniah berganti pakaian, gadis itu sudah berdandan dibantu pelayan tadi. Sekarang, muncul dari ruang ganti. Dress pesta yang longgar dan nyaman yang dia pakai sekarang. Menyembunyikan perutnya yang sudah mulai membesar.
"Niah..."
Dari cara memanggil saja, Daniah sudah merasakan gelagat mencurigakan dari suaminya.
"Sayang, jangan mentang-mentang Erin ikut Jen, kamu jadi mau bersantai lagi? Tidak boleh. Aku sudah selesai ganti baju, ayo berangkat."
Tapi dari cara Saga mengendurkan dasi dan senyum seringai yang keluar dari bibirnya, sudah bisa ditebak apa maunya.
"Ah, Niah... kapan lagi kita bisa berdua begini."
"Sayang!"
"Ia Niah sayang, kenapa?" Senyum Saga semakin terkembang, karena menggoda istrinya yang sudah panik.
"Sayang.. ah.. ah... hemmm, hemm." Tangan Daniah mulai melemah, saat ciuman Saga mulai mendorong tubuhnya ke arah tempat tidur. "Hemm.. hemm."
Suara kecup-kecup mulai berganti menjadi ******* lembut.
Untung saja, acara resepsi masih dua jam lagi.
Bersambung
__ADS_1