Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 44. Kencan Makan siang


__ADS_3

Gedung pusat Antarna Group.


Seorang gadis tinggi semampai baru saja keluar dari kamar mandi. Dia baru saja merapikan rambut dan riasan. Karena hari ini dia mau makan siang bersama seseorang. Yang spesial, yang menemani hari-harinya selama beberapa bulan ini. Tentunya dia harus tampil cantik dan mempesona kan.


Dia adalah Jenika, adik pemilik gedung yang berbaur dengan semua orang seperti layaknya karyawan lainnya.


Jenika berjalan dengan cepat, keluar dari loby gedung. Revan akan menunggunya di depan kantor. Gadis itu berlari dengan semangat ketika melihat mobil milik Revan menepi.


Mobil tidak berhenti tepat di depan gedung, jadi Jen harus berjalan sedikit ke arah kanan.


"Pelan-pelan Jen, kau bisa terkantuk pintu." Revan memegang atas pintu saat Jen terlihat buru-buru masuk. Sambil menebar senyum ceria yang selalu dirindukan Revan.


Dia terlihat seperti putri, seperti biasanya, selalu cantik. Pujian berderet meluncur di dalam hati Revan untuk gadis di depannya.


"Haha, aku takut ketahuan mata batin Kak Saga," ujar Jen, duduk dengan manis. Revan menarik sabuk pengaman dan memakaikan pada Jen.


Mata batin Kak Saga yang dipikirkan Jen siapa lagi kalau bukan Sekretaris Han. Manusia bermata elang. Tapi Jen masih yakin kalau hubungannya belum terendus oleh Han. Karena Kak Saga belum memanggilnya atau bertanya apa pun dia jadi berfikir kalau Kak Saga tidak tahu.


"Aku kangen Kak Revan tahu." Jen menggengam tangan Revan. "Pekerjaan Kakak selesai dengan baik kan?"


Revan dengan antusias menjelaskan, kalau pekerjaannya semudah menghabiskan kopi dalam beberapa kali tegukkan. Para karyawan luar biasa dalam bekerja, begitu sesumbarnya. Padahal mereka jauh lebih giat karena mendapat intimidasi bukan hanya dari tatapan, tapi juga dari mulut Revan yang tidak berhenti bicara.


Tangan Jen minta di genggam lagi, alhasil Revan menyetir dengan satu tangan. Di depan Jen, laki-laki itu sering tidak bisa mengontrol ekspresi senangnya. Dia bersemu mendengar Jen bicara kalau dia merindukannya. Memang sudah dua hari ini mereka tidak bertemu, karena pekerjaan yang harus dia selesaikan di luar kota. Makanya mereka sengaja makan berdua untuk melepaskan kerinduan.


"Kau makan teratur kan selama aku pergi." Dengan tangan kiri Revan mengusap rambut Jen. Giliran gadis itu yang bersemu malu.


Gaya pacaran dan hubungan Jen dan Revan malah jauh melebihi ABG seperti Sofia dan Haze. Karena selama ini kekaguman Revan terhalang statusnya yang hanya bisa menyukai Jen dalam keheningan, jadi sikap malunya masih sangat terlihat. Skinship yang bisa mereka lakukan baru sekedar berpegangan tangan. Revan belum berani melakukan lebih dari itu.


Sampailah mobil di sebuah area parkir restoran. Mereka masuk sambil bergandengan tangan. Membahas tentang cuaca dan langit yang cerah. Saat sudah memesan makanan, kedua mata mereka bertatapan, langsung tersenyum dan tertawa bersamaan.


"Pekerjaan Kak Revan lancar? sempat pulang ke rumah paman dan bibi nggak?" Ternyata urusan Revan di kota yang sama dengan orangtuanya tinggal.


"Mampir sebentar."


"Kakak membicarakan ku dengan paman dan bibi nggak?" Bola mata berbinar Jen, berharap Revan menyebutnya pada orangtuanya.

__ADS_1


Kalau aku bicara tentangmu, aku pasti sekarang tidak duduk di depanmu Jen. Mungkin aku sekarang sedang dirawat karena patah tulang.


Gelengan Revan membuat Jen merengut kecewa. Saat itu pesanan datang, membuat fokus teralihkan pada makanan.


Ayah Revan tentunya tidak merestui hubungan anaknya dengan Jen, bukan karena Jenika, tapi masalahnya ada pada anaknya. Bagi ayah Revan, Revanlah yang menjadi sumber masalahnya. Revan yang tidak pantas untuk Nona Jenika. Pasti begitulah ayah Revan berfikir. Bagaimana mungkin keluarga mereka, yang sudah hidup dengan baik karena belas kasih Antarna Group berani mengidamkan nona berharga milik Antarna Group.


Ayah Revan pasti berfikir, ketidak sopanan dan rasa kurang ajar apa yang sedang kau lakukan, beraninya kau memimpikan adik tuan muda. Sambil memukuli Revan tentunya. Untuk menyadarkan anaknya supaya tahu diri, jangan bermimpi bersanding sejajar dengan keluarga Tuan Saga yang mereka hormati.


"Kak.." Jen menjentikkan jarinya.


"Eh, maaf Jen, aku malah melamun. Kenapa Jen? Kau suka makanannya kan?" Revan mendorong saos ke dekat piring Jen supaya gadis itu lebih mudah meraihnya.


Tiba-tiba Jen seperti mendapat pencerahan.


"Ayo mengaku pada Kak Saga."


Sendok Revan terjatuh. Ah, walaupun masalah pekerjaan dia berani bicara dengan lantang di hadapan Tuan Saga, tapi kalau urusan ini entah kenapa dia merasa takut. Karena sama seperti ayahnya, dia juga merasa tidak pantas berdiri di dekat Jen dengan statusnya seperti sekarang.


"Kenapa? Kak Revan takut?"


Tidak dijawab pun Jen sudah tahu jawabannya.


Ah, keduanya tertunduk. Pembicaraan ini selalu menemukan jalan buntu. Bicara dengan Kak Saga tidak berani, bicara dengan paman juga takut. Aaaaaa, jadi bagaimana. Jen tidak mau pacaran diam-diam begini terus. Dia juga mau pamer pada semua orang, kalau Kak Revan itu pacarnya. Karena ada beberapa rekan karyawan yang juga sering bisik-bisik membicarakan Kak Revan. Dia kan tidak bisa cemburu secara terbuka, karena pacaran saja diam-diam.


"Kak, kenapa kau tidak percaya diri, kau lihat Haze kan, kekasih Sofia. Kak Saga juga tidak keberatan dengan hubungan mereka."


Haze dan Kak Revan dilihat dari sudut mana saja juga mirip kok, batin Jen.


"Dia kan bukan bawahan Tuan Saga Jen, sedangkan aku. Aku seperti memimpikan untuk menjadi keluarga majikanku sendiri, ayahku pasti berfikir ini sikap kurang ajar. Bagaimana kalau Tuan Saga juga berfikir begitu."


Buntu lagi, masalah hanya berputar di tempat. Akhirnya mereka memilih mengunyah makanan dan makan dengan cepat. Istirahat makan siang akan cepat berlalu, tidak mau mereka sia-siakan pertemuan ini dengan perdebatan yang tidak berarti.


Jen meletakkan sendoknya, lalu memukul meja dengan kencang. Membuat Revan tersentak kaget.


"Kak, semua kuncinya ada pada Kak Saga." Seharusnya Jen cepat tersadar akan hal ini. "Kita hanya perlu mendapatkan restu dari Kak Saga, kalau Kak Saga bilang iya, Kakak tahu kan apa yang akan diputuskan paman." Gadis itu menyeringai sambil menutup mulutnya. Paman tidak akan membantah apa pun yang diputuskan Kak Saga. Kenapa aku bodoh sekali si, sampai baru kepikiran sekarang. Jen berbinar-binar meminta persetujuan Revan. "Lho, kenapa Kak Revan masih lesu begitu."

__ADS_1


Revan sangat setuju dengan pendapat Jen, benar kalau Tuan Saga merestui mereka, maka mendapatkan restu orangtuanya hanyalah perkara membalikkan telapak tangan. Pasti semudah itu. Dialah yang harus menunjukkan sikap dan keberaniannya sekarang.


Untuk mendapat Jen, untuk bisa mencintainya secara terbuka, dia harus mendapatkan kepercayaan Tuan Saga. Laki-laki itu memang mengakui hasil kerjanya, tapi tidak tahu kalau perkara adiknya.


"Aku akan bicara dengan Tuan Saga Jen, apa pun yang terjadi nanti tolong percayalah, bahwa aku sangat menyukaimu dan mencintaimu."


Pipi Jen memerah, dia menyentuh kedua pipinya dengan kedua tangan. Bola matanya menyipit karena dia tersenyum senang.


"Aku juga menyukai Kakak dan mencintai Kakak. Berikan tangan Kak Revan." Tangan Jen sudah terulur di atas meja, menunggu tangan Revan. Ditariknya tangan Revan sampai membuat Revan maju membentur meja. Jen menempelkan tangan Revan di pipinya. "Berusahalah Kak, aku juga akan bicara dengan kakak ipar untuk membantuku. Tapi setelah Kak Revan bicara dengan Kak Saga?"


"Nona Daniah."


Jen masih tertawa, lalu mencium punggung tangan Revan. Membuat wajah laki-laki itu memerah antara malu dan senang.


Kakak ipar memang selalu patuh dan melakukan apa pun yang Kak Saga katakan, tapi percayalah, yang bisa merubah keputusan Kak Saga ya cuma kakak ipar. Dalam artian, Kak Saga sebenarnya tidak berkutik di depan kakak ipar. Hehe. Revan sepertinya agak terkejut dengan penjelasan Jen, tapi karena Jen yang mengatakannya Revan akan mempercayainya.


Bahkan kalau Jen bilang, Tuan Saga menangis karena Nona Daniah, aku juga akan percaya.


Bucinnya Revan pada Jen memang sudah nggak ada obat. Gadis-gadis lain yang dia lihat berseliweran di depannya, atau bahkan yang mendekatinya secara terang-terangan, cuma terlihat seperti daun kering yang berguguran di depan Revan. Hanya Jen yang mekar seperti kelopak bunga di matanya.


"Aku akan bicara dengan Tuan Saga secepatnya."


"Huaaaaa, semangat Kak."


Mereka menghabiskan makanan lalu kembali menuju gedung Antarna Group. Sebelum berpisah, di dalam mobil, Jen meraih tangan Revan dan menciumnya. Laki-laki itu ragu dan malu-malu melakukan hal yang sama. Jen tertawa menoel dagu Revan.


"Kakak lucu sekali si, aku keluar ya. Sampai jumpa nanti sore."


"Ia, selamat bekerja Jen."


Revan belum menggerakkan mobil menuju area parkir, sebelum Jen menghilang masuk ke dalam gedung. Setelah gadis itu tidak terlihat, mobilnya baru berjalan menuju area parkir bawah tanah.


Aku memang ingin segera melakukannya, tapi apa aku sudah gila, sampai sudah datang tanpa persiapan begini.


Revan yang meminta izin untuk bertemu Tuan Saga, setelah mendapat izin, kaki dan tangannya gemetar di depan pintu ruang Presdir Antarna Group. Mau mundur dan berbalik, sudah tidak mungkin.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar, dia mengetuk pintu ruang kerja Tuan Saga.


Bersambung


__ADS_2