Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 46 Restu Dari Saga


__ADS_3

Lucu sekali gumam Saga melihat tingkah Revan yang ada di depannya. Mendengar teriakan pengakuannya kalau dia mencintai Jen, padahal tangan dan kakinya gemetar. Bisa-bisanya dia langsung berlutut tanpa menyapaku duluan. Apa dia pikir aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di belakangku. Tapi mengerjai bocah di depannya menghibur juga bagi Saga. Saga jadi mengikuti alur ketegangan yang dibuat Revan. Pura-pura ikut tegang.


Dia yang memohon bertemu, dia yang kebingungan mau bicara apa, dasar bocah.


Saga yang sudah mengenal Revan sejak kecil, sudah tahu bagaimana kesetiaan Revan padanya. Darah ayahnya yang mengalir dalam tubuhnya, seperti sudah menjadi stempel di hatinya untuk mengabdi pada Antarna Group. Anak yang cerdas dan pandai dalam banyak hal. Saga bahkan sudah memberikan tanggung jawab besar di pundak Revan, walaupun usianya yang masih sangat muda. Bagi Saga, dia mengakui kemampuan Revan.


Perihal Jen, dia juga melihat ketulusan dan keseriusan Revan seperti apa yang dilaporkan Han padanya.


Dia menunggu, bocah laki-laki di depannya bukan hanya untuk mengakui perasaannya. Namun juga keberaniannya untuk menunjukkan perasaannya itu. Padanya, bukan sebagai Presdir Antarna Group. Tapi sebagi kakak laki-laki Jen.


"Beraninya kau!"


Duar! Hal yang paling ditakutkan Revan ketika dia mengakui perasaannya adalah penolakan dari Saga, yang sekarang terdengar dari mulut Saga. Membuat Revan semakin diam tertunduk.


Benar, aku sudah sangat lancang dan kurang ajar. Bagaimana bisa aku menyukai adik Anda. Bagaimana bisa aku memimpikan masuk dalam keluarga Anda. Rasa malu langsung menusuk-nusuk hati Revan. Aku memang pantas di hajar ayahku dengan sikap lancang dan tidak hormatku pada Anda.


Rasa malu itu, mengubur sakit hati dan kecewa. Saat ini Revan seperti mendapatkan pukulan di kepalanya yang menyadarkan posisinya. Siapa dia dan siapa Jen. Walaupun sakit, dia akan menerima keputusan Tuan Saga. Apa pun itu.


Tapi, hati kecilnya sakit, karena tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Jen. Dia tidak akan melupakan perasaannya pada Jen, tidak akan. Biarlah, dia kembali mencintai gadis itu dalam keheningan. Mungkin memang takdir cinta seperti inilah yang dibuat Tuhan untuknya.


Revan bahkan sudah pasrah dan menyerah kalah, karena dia tidak akan membantah apa pun yang diputuskan Tuan Saga. Ah, untung saja ayah tidak tahu masalah ini, kalau sampai ayah tahu sudah mencemari nama keluarga dengan ketidaksetiaan tetap tidak mendapatkan cinta Jen. Lengkap sudah aib yang dia corengkan di atas nama keluarganya .


"Maafkan saya Tuan, saya akan berhenti di sini dan walaupun saya tidak akan melupakan Nona Jen. Saya mohon, kirimlah saya ke tempat yang jauh, dan laranglah saya kembali ke negara ini." Hal gila apa yang sedang aku bicarakan ini gumam Revan, semua meluncur begitu saja dari mulut Revan. Karena hanya inilah caranya menghindari Jen.


Dia sudah mengecewakan Jen. Dia ingin lari dan menghilang saja. Mungkin, dia akan langsung mengemasi barangnya dan pergi jauh. Revan tidak berani bertemu dengan Jen.


"Cih."


Apa! Kenapa Tuan Saga bicara cih, apa dia sangat kesal sekarang.


"Revan.."


"Ia, Tuan."

__ADS_1


"Semudah itu kau menyerah pada cintamu?"


Hah! Tentu saja saya tidak akan menyerah, saya tidak akan melupakan Jen. Tapi, kalau Anda melarang saya, saya juga tidak punya pilihan lain selain mematuhi Anda. Saya akan tetap mencintai Jen dalam keheningan. Begitulah hati Revan bicara.


"Jawab!"


"Saya akan mematuhi apa pun keputusan Anda Tuan."


"Bagaimana dengan Jen? kalau kau menyerah semudah ini bagaimana dengan Jen."


Deg. Revan tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya berfikir, kalau dia pergi dan bersembunyi, lambat laun Jen akan melupakannya. Apalagi kalau Tuan Saga nanti menemukan laki-laki yang pantas untuk adiknya. Jen pasti bisa membuka lembaran hatinya lagi dengan laki-laki yang setara statusnya dengannya.


"Kau tidak memikirkan Jen? Cintamu sedangkal itu ternyata pada adikku."


"Tidak Tuan!" Revan langsung tersulut. "Cinta saya tulus untuk Jen, sebesar hidup saya. Tapi, kalau Anda tidak mengizinkan, saya harus menghormati keputusan Anda kan." Revan tertunduk dengan sedih. Menatap lututnya sendiri. "Saya akan berdoa untuk kebaikan Jen, kalau saya pergi menghilang, dia pasti akan melupakan saya dengan cepat."


Nyut, rasa sakit menjalar di seluruh tubuh Revan.


"Maaf, karena saya bodoh Tuan."


Saga tertawa, setelah mendengar suara lemah dan tidak berdaya Revan.


Kenapa Tuan Saga malah tertawa. Revan jadi kebingungan, saat melirik Han, laki-laki itu masih diam tak bergeming. Apa sih? keberadaanmu sama sekali tidak membantu. Paling tidak berikan kode apa gitu, kau kan yang paling tahu isi hati Tuan Saga.


"Haha, angkat kepalamu! Aku sudah tidak tahan." Saga tertawa lagi. "Lucu sekali, memang ya orang yang sedang jatuh cinta bisa membuatnya tidak waras."


Ya betul, Anda kan bukti nyatanya tuan muda. Cinta anda pada nona terkadang membuat Anda tidak waras. Sekarang juga, bisa-bisanya Anda menjahili Revan yang sedang ketakutan, padahal bagi Revan ini antara hidup dan mati. Cinta dan kesetiaannya pada Anda. Han yang bicara dalam hati, padahal ikut menikmati reaksi lucu Revan.


Revan melihat Saga, wajah tampan dan berwibawa yang akan selalu dia hormati apa pun keputusannya itu masih tertawa mengejek.


Apa si! Kenapa beliau tertawa dengan ekspresi begitu lagi.


"Apa kau pikir aku tidak tahu kau pacaran dengan Jen?"

__ADS_1


Hah! Revan langsung melihat ke arah Han. Laki-laki itu cuma mengangkat bahu. Ah, sialan! Padahal kami sudah sangat berhati-hati, bagaimana bisa tercium hidungnya.


Eh, bukan itu yang penting. Kalau Tuan Saga sudah tahu dan dia tidak marah, artinya dia merestui hubungan kami kan.


"Apa, Anda mengizinkan kami Tuan?"


"Kau pikir kau masih bisa diam-diam berhubungan kalau aku tidak mengizinkan."


Sing! Kata-kata Saga seperti langsung menebas kepala Revan. Bagaimana dia bisa sebodoh ini. Benar, kalau Tuan Saga sudah tahu, dan tidak mengizinkannya, tidak mungkin dia masih bisa menghirup udara di negri yang sama dengan Jen, wanita yang ia cintai.


"Bangunlah sampai kapan kau mau berlutut, duduk di sofa . Sekarang aku mau mendengar rencana kedepanmu dengan Jen apa?"


Suasana kembali mencekam bagi Revan. Sementara Han hanya menonton sama sekali tidak memberi reaksi simpati atau apa pun.


"Jadi, aku mau melihat Jen bahagia."


"Saya akan membahagiakan Jen Tuan. Saya akan melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia." Menjawab sambil mengepalkan tangan keudara.


"Kau tahu kan, hatinya mudah goyah kalau bertemu dengan laki-laki yang baik dengannya." Mode kakak laki-laki beraksi.


"Saya akan jadi satu-satunya laki-laki yang mencurahkan kebaikan padanya, supaya dia tidak merasakan kebaikan laki-laki lain." Lagi-lagi mengepalkan tangan ke udara dengan yakin.


Saga tersenyum mendengar semangat Revan, tak lama dia menyeringai. Sepertinya Anda mau menjahili Revan lagi ya gumam Han, yang tahu arti senyum Saga itu.


"Kalau begitu, bilang pada paman."


Wajah Revan langsung pucat. Sementara Saga tertawa dengan puasnya. Untuk kedua kalinya Revan melorot dari duduknya, berlutut lagi dilantai.


"Cih, kau pikir aku akan membantumu kalau kau berlutut begitu."


Waaahhh, Anda senang sekali menjahili Revan. Han berjalan ke meja kerja Saga, membereskan beberapa laporan kerja yang sudah selesai di periksa Saga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2