Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 58. Pelukan Saga


__ADS_3

Ruang tunggu mempelai pria.


Ketegangan hari ini di luar dari situasi menegangkan apa pun yang pernah dihadapi Dokter Harun. Bahkan saat sidang penilaian saat dia mengambil spesialis tidak begitu membuat hatinya berdebar takut, kenapa bisa begitu? karena dia percaya diri dengan kemampuannya. Otaknya pintar dan pandai bicara. ya, dia sangat tahu kemampuannya. Jadi, kenapa takut kalau urusan pendidikan dan pekerjaan.


Tapi sekarang...


Bahkan sepercaya diri apa pun, orang tetap bisa berada di situasi semacam ini.


Aaaaa! Pantas saja Han yang seperti tidak akan berdarah saat tertusuk pisau itu terlihat cukup tegang waktu akan menikah, ternyata begini ya perasaan panik itu. Hati berdebar-debar entah alasannya apa, takut berbuat salah sekecil apa pun kesalahan itu, karena kau ingin semuanya sempurna di hari spesial mu. Bahkan Harun saat ini berhati-hati mengambil jeda nafas sekalipun. Takut bajunya kusut katanya. Keringat dingin muncul di kening Harun. Dia usap dengan punggung tangan. Belum puas, dia menyambar tisyu di meja.


Dag Dig dug. Begitulah suara detak jantungnya sekarang. Harun sedang berusaha menenangkan hatinya dengan berkomunikasi sambil memegang dadanya, matanya terpejam.


Sebentar lagi aku akan menikahi Sandrina, tenanglah, setelah itu aku bukan hanya boleh menggengam tangannya. Wajah Harun memerah malu karena pikirannya sedang membayangkan wajah cantik Sandrina dalam balutan baju pernikahan yang dipilih kedua orangtua mereka.


Jadi, fokus. Kalau sampai kau membuat kesalahan, Harun yakin dia akan menjadi bahan ejekan selama setahun ini. Apalagi kalau sampai dia menangis nanti. Revan pasti sepanjang hari akan menertawakannya. Harun yang sepanjang hidupnya selalu cengengesan dan banyak bicara ternyata punya airmata juga ya. Sudah bisa dibayangkan, betapa terhiburnya orang-orang nanti.


Tetaplah tenang, fokus, jangan menangis.


Sambil mengusap kening, menarik nafas pelan. Harun meraih selembar kertas yang ada di atas meja, membaca ulang apa yang tertulis di sana. Demi mengusir ketegangan. Janji pernikahan yang dia buat setelah meminta saran semua teman-temannya yang sudah menikah. Kecuali Saga. Sebenarnya, Harun juga meminta pendapat Saga.


Tapi...


"Apa!"


Bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah kata menyalak marah saat Harun bertanya. Saga tersinggung karena dia sendiri tidak pernah membuat janji pernikahan dengan Daniah dulu. Begitulah alasan kenapa Saga sama sekali tidak ambil bagian dalam deretan kata yang tertulis di selembar kertas yang sedang Harun baca sekarang.


Gumaman pelan terdengar dari mulut Harun. Sambil mengulang kata demi kata.


Saga itu sensitif sekali, padahal dia sudah bahagia dengan kakak ipar.


Suara pintu terbuka. Membuat Harun menoleh. Dua orang laki-laki masuk ke dalam ruangan. Mereka bukan mempelai pria, tapi kenapa ketampanan wajah mereka rasanya mengalahkan semuanya. Ya, Saga dan Han yang selalu sempurna tetap sempurna dalam segala suasana.


Tampan dalam balutan jas pengiring mempelai pria. Aura dingin yang terlihat di wajah Han, namun tidak menakutkan. Pasti efek Aran yang menempel padanya. Sementara Saga, kalau tersenyum sedikit saja, sudahlah orang selalu ingin mendekat padanya. Itu juga pasti karena efek kakak ipar gumam Harun. Cinta sudah merubah keduanya.


"Anda terlihat tegang sekali?" Sekretaris Han bukan bertanya karena dia perduli, tapi tentu saja untuk mengejek Harun. "Masih belum hafal janji pernikahan?" lagi-lagi bertanya bukan karena khawatir, tapi seru mengejek Dokter Harun sekarang pikir Han.


"Diam kau Han." Mendelik sambil memonyongkan bibir.


"Padahal waktu itu Anda mengejek saya." Tak acuh Han menimpali sambil menyeringai. Lalu menarik kursi untuk diduduki Saga. Namun saat Saga baru saja mau duduk, tubuh Harun maju selangkah dengan cepat sambil merentangkan tangan di depan Saga. Suara tawa cengengesan terdengar.


Sekretaris Han mendesah, sambil bergumam, "Mulai." saat melihat tindakan tiba-tiba Harun. Mari kita melihat, hal gila apa lagi yang mau Anda lakukan. Begitulah arti sorot mata Han, sambil dia berjalan menjauh mencari tempat duduk.


"Kau lupa janji mu. Mau memeluk ku, kau sudah janji kan, kalau aku menikah kau akan memeluk ku dan memberi ku selamat kan." Harun masih merentangkan tangan, dengan bola mata berbinar.


Saga masih acuh, tapi belum duduk.


"Anda seperti anak kecil." Dari tempat duduknya, Han bersuara.

__ADS_1


"Diamlah Han. Aku menunggu momen ini tahu. Peluk aku dan berikan aku selamat Saga. Siapa tahu aura mu yang penuh wibawa akan menempel pada ku kan." Harun mulai mengoceh tidak jelas demi mendapat pelukan Saga. "Saga, aku tegang sekali. Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan nanti. Kalau aku jatuh saat berjalan nanti, bisakah kau maju dan membantu ku bangun. Kalau kau yang maju, aku yakin tidak akan ada yang berani tertawa."


Saga terlihat tersenyum tipis, Harun memang seperti ini. Cerewet dan tidak tahu malu. Tapi, itulah yang membuatnya dicintai banyak orang.


"Jangan hanya tersenyum, peluk aku dan berikan aku selamat."


"Dasar bocah, kemarilah aku..."


Belum juga Saga menyelesaikan kalimatnya, Dokter Harun sudah menghambur ke depan, dan memeluk Saga. Hah! Terdengar Saga menghela nafas, tapi tak lama bibirnya sudah tersenyum sedikit lebih lebar. Saat tangannya menepuk bahu Harun dengan pelan, terlihat dengan jelas sorot mata bahagia laki-laki itu. Akhirnya, setelah tertunda sekian lama, mereka menikah juga gumam Saga.


"Selamat, akhirnya kau menikah juga. Ya, walaupun kau tertinggal cukup jauh dari kami. Aku ikut bahagia."


"Hiks, hiks. Kau bangga kan? Aku membereskan semua pekerjaan dulu baru menikah, aku dengar kau memberikan tiket bulan madu selama seminggu. Ibu ku menangis saking terharu dan bahagianya karena akhirnya bisa menyiapkan pesta ini. Walaupun aku ketinggalan dari kalian, lihat saja. Aku pasti bisa mengejar kalian."


Han terlihat menyeringai sinis, menyalip apanya. Aku bahkan sudah langsung mau punya dua. Memang sesumbar mu selalu melebihi kemampuan mu.


"Aku senang melihat bibi dan paman sebahagia itu kau menikah, kau bahkan langsung disuruh punya anak kan? berusahalah!"


Pelukan dan tepukan bahu masih berlangsung, setelah cukup lama Saga mendorong kepala Harun.


"Lepaskan!"


"Dasar pelit, kau bahkan memeluk Han lebih lama dari ini." Harun menepuk bahunya beberapa kali, berharap aura Saga menular padanya. Wajahnya sudah sumringah dipenuhi senyuman. Dia merasa jauh lebih tenang, seperti Saga membagi energinya padanya. "Aku berdebar-debar, begini ya rasanya menunggu janji pernikahan. Selama ini aku cuma bisa melihat kalian satu persatu menikah, sekarang aku merasakan juga. Saga, apa kau juga dulu begini. Berdebar-debar saat menikah dengan kakak ipar."


"Dokter!"


"Hah! Eh, maaf. Aku tidak bermaksud!"


"Padahal Niah sudah susah payah membuat suasana hati ku menjadi baik, tapi kau malah mengingatkan ku lagi."


Sekarang, Harun bahkan lebih takut saat melirik Han. Dasar bodoh! padahal semalam Han sudah mewanti-wanti mulutnya untuk menjaga bicara. Saga jauh lebih sensitif jika ada sahabatnya yang menikah, apalagi jika pernikahan mereka karena cinta. Seperti kenangan buruk awal pernikahannya dengan Daniah muncul lagi. Dan Harun seperti sedang menggali kuburnya sendiri.


"Anda benar-benar tidak bisa menjaga mulut ya." Han sudah berjalan mendekat.


"Aaaaaaa! Maafkan aku!" Harun berlari ke belakang kursi yang di duduki Saga. Dia yakin, Han mau mencengkeram kerah jasnya. "Aku benar-benar tidak sengaja. Lagipula sekarang..."


"Diamlah, kau berisik sekali."


Mulut Harun langsung terkunci. Ketika Saga sudah bicara, Han menghentikan langkanya.


"Karena ini hari pernikahan mu maka aku maafkan." Saga mendorong kursi yang dia duduki. "Minggir, aku mau bertemu Niah. Tadinya aku mau menemani mu, sekarang aku malas."


"Apa? Hei jangan marah. Tetaplah di sini. Saga!"


Walaupun Harun merengek, Saga melengos dan meninggalkan ruang tunggu. Lebih baik bersama Niah daripada si bodoh yang selalu banyak bicara itu. Tapi, saat dia sedang berjalan menuju ruang tunggu miliknya, dia berpapasan dengan ayah Revan. Jadilah, keduanya terlibat pembicaraan.


Tertinggalah Sekretaris Han dengan gelengan kepalanya.

__ADS_1


"Anda benar-benar ya. Ckck."


"Dia tidak benar-benar marah kan? Aku kan tidak sengaja."


"Kalau melihat tuan muda tidak menendang kaki Anda, sepertinya dia tidak marah."


"Han! Kalau aku jatuh nanti, dia masih mau menolong ku kan." Harun membayangkan hal terburuk saat dia berjalan di depan semua orang nanti.


"Anda juga, kenapa mengungkit pernikahan tuan muda dan nona, beliau kan sangat sensitif mengenai itu."


"Aku lupa sialan! karena saking tegangnya aku tadi."


"Ckck, padahal waktu itu Anda mengejek saya."


"Diam kau! Padahal yang penting sekarang mereka kan sangat bahagia. Cinta mereka membuat semua orang iri. Itu kan yang penting. Hal-hal tidak baik seharusnya dilupakan saja."


Tapi, Harun bergumam dalam hati. Melihat sifat Saga, pasti tidak mudah melupakan kenangan buruk kan. Dia bahkan masih menunggu Helena walaupun dengan kemarahan. Hah! Cinta memang benar-benar aneh.


"Saya juga belum lupa, Anda pernah menggoda istri saya."


"Apa! Hei! itukan sudah berlalu!"


Han terdiam, menatap lurus ke pintu keluar. Ekspresinya sudah ditebak Harun, apa yang sedang dia pikirkan.


"Maaf, aku akan lebih berhati-hati lagi."


Sama seperti Han yang mengingat dulu dia pernah mencoba mendekati Aran, mungkin seperti itulah kenangan pernikahan Saga.


"Tapi supaya lancar mengucapkan janji pernikahan apa yang kau lakukan waktu itu?"


Han mengalihkan pandangan dari pintu ke wajah Harun. Tatapannya tidak dingin, tapi dia tidak tersenyum. Membuat Harun merinding.


"Anda tahu juga salah Anda di mana."


"Diamlah, aku juga tahu. Aku akan berhati-hati. Sekarang jawab pertanyaan ku. Apa yang kau lakukan, supaya tidak tegang saat mengucap janji pernikahan?" Harun mulai kesal, karena Han hanya menjawab lewat sorot mata. "Hei, jawab donk."


"Anda kan menyuruh saya diam.


Aaaaaaa! Dasar gila! Rasanya Harun ingin meninju lengan Han, tapi masalahnya dia tidak punya keberanian. Jadi alih-alih mengajak perang, dia memilih memohon saran. Dan berbarengan dengan ketukan pintu, panitia mengatakan kalau sebentar lagi acara akan dimulai. Sambil berjalan menuju ballroom, Harun mendengarkan penjelasan Han. Walaupun itu sama sekali tidak membantu.


"Pikirkan saja, setelah selesai gadis yang ada di depan Anda akan menjadi milik Anda seutuhnya."


Itu kan artinya, kau bisa menyentuhnya, mengecup bibirnya. Dasar! Ternyata, itu yang ada di otak mu juga saat menikah dengan Aran. Semakin dekat dengan tempat acara, semakin berdebar dada dokter Harun.


Sandrina, aku datang!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2