Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 45. Teriakan Revan


__ADS_3

Perasaan cinta Revan untuk Jen memang tumbuh karena kebersamaan. Dia yang dulu menjadi teman bermain kedua adik Tuan Saga, mulai menyimpan rasa simpati pada Jen. Namun, dia selalu cukup tahu diri, bahwa cinta dan simpatinya hanya boleh dia berikan dalam kesunyian. Kenapa? Karena dia adalah Jenika, adik Tuan Saga. Seseorang yang sangat dihormati oleh ayahnya.


Cinta yang terbalas membuat cinta dalam keheningan itu berubah wujudnya.


Tenanglah, kau harus melakukan ini, sekarang atau pun nanti. Karena kau menyukai Jen, karena kau mencintai Jen. Dia adalah gadis yang harus kau perjuangkan, karena dia berharga. Begitulah Revan meyakinkan hatinya. Bahwa dia memang harus melakukan ini cepat atau pun lambat.


Tapi masalahnya, kenapa kau datang tanpa persiapan bodoh! Paling tidak kau harus membuat rencana dan menyusun kata-kata di depan Tuan Saga kan. Apa yang harus kau ucapkan nanti. Baru kepikiran setelah ada di depan pintu. Membuat Revan memaki dirinya sendiri. Dia seharusnya sudah membuat pidato pengakuan. Mengakui cintanya, dan mengakui dosanya. Karena berani berpacaran dengan Jen secara diam-diam.


Padahal dia orang yang sangat perhitungan, perencana yang menyiapkan segala sesuatu dengan matang dengan urusan pekerjaan. Tapi kalau urusan Jen, dia ingin semua serba cepat bahkan tanpa perhitungan. Seperti akal sehatnya dikalahkan perasaannya.


Masih dengan dada yang berdebar dengan sangat kencang, sampai menarik nafas dalam-dalam untuk memompa keberanian. Itulah yang bisa dilakukan Revan di depan pintu Tuan Saga saat ini.


Pemuda yang sedang memperjuangkan cintanya, mulai terlihat pias saat pintu ruang kerja presdir Antarna Group terbuka.


Sekretaris Han yang memegang handle pintu menatap Revan. Tanpa ekspresi seperti biasanya, tidak terlihat penasaran sedikitpun kenapa Revan ada di depannya sekarang. Kenapa Revan meminta izin bertemu. Padahal tidak ada yang perlu dia laporkan urusan pekerjaan.


Dari gerak gerik Han yang terlihat santai, sebenarnya laki-laki itu sudah menduga, apa yang akan di sampaikan Revan pada Tuan Saga.


"Masuk." Han bicara singkat.


"Ia terimakasih."


Hah! Saking gugupnya aku sampai berterimakasih pada Han yang membuka pintu.


Tenang dan fokus.


Menyapa Tuan Saga terlebih dahulu. Memberi salam dan tundukkan kepala terlebih dahulu, lalu tunggu beliau bertanya, baru kau bicara. Begitulah siklus sesuai protokol yang harusnya dilakukan Revan, sesuai dengan prosedur yang seharusnya jika dia menghadap Tuan Saga.

__ADS_1


Sebenarnya sudah menyuruh hati dan pikirannya untuk fokus. Tapi karena rasa khawatir yang teramat sangat membuat pikiran Revan sedikit blank.


Tuan Saga yang memang selalu terlihat tinggi di tempat duduknya, sekarang terlihat semakin tinggi. Wajah dingin yang menatap Revan dengan lurus sedang duduk di sofa, jadi terlihat seperti ayah mertua menakutkan bagi pemuda jelata yang ingin meminta restu untuk menikahi anak gadisnya.


Tangan dan kaki Revan kembali gemetar.


Saat Saga mengangkat satu kaki untuk dia tumpukan di kaki yang lainnya, belum mengucapkan kata sepatah pun, kaki Revan reflek ambruk duduk berlutut di lantai. Semua prosedur menghadap Tuan Saga menguap begitu saja. Sekretaris Han cuma mengangkat bahu sambil mengeryit. Apa akhir-akhir ini berlutut sedang populer ya gumamnya. Karena beberapa hari lalu dia juga melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan Revan sekarang.


"Ada apa dengan kalian?" Tuan Saga masih setenang angin yang berhembus di pagi hari. Revan belum berani mengangkat kepala. Dia hanya sedang berfikir tentang kata-kata Tuan Saga.


Kalian? Apa ada yang berlutut sebelum aku? Kenapa? Apa ada yang sudah melamar Jen juga? Ah, bagaimana ini apa aku kalah cepat.


Siapa? Siapa yang juga menginginkan Jen. Dia kan pacarku. Pikiran aneh Revan baru berhenti setelah mendengar Tuan Saga bicara lagi.


"Baru kemarin Han berlutut memohon, sekarang kau juga. Kesalahan apa yang sudah kau lakukan Revan?"


Kenapa Han berlutut di hadapan Tuan Saga. Ah, bodoh! Kenapa aku malah penasaran, sekarang kan yang penting mengatakan perihal Jen.


"Saya mohon, maafkan atas kelancangan saya Tuan. Saya telah lancang kepada Anda." Revan masih tertunduk dan tangannya bergetar. Tidak ada jawaban apa pun dari mulut Tuan Saga menanggapi kata-katanya. Revan mengangkat sedikit kepalanya, melihat reaksi laki-laki yang sedang duduk di sofa. Diam tidak bergeming.


Mulutku tidak berani terbuka lagi.


Karena Saga yang hanya diam saja, diartikan Revan dengan kemarahan Tuan Saga.


"Bicara yang jelas!" Han yang bereaksi dengan ucapan Revan. Menerjemahkan diamnya Tuan Saga.


Deg. Revan juga menyadari, dia bicara berbelit, dan belum mengatakan intinya. Apa ini semakin membuat Tuan Saga kesal.

__ADS_1


"Saya telah melakukan sesuatu yang salah Tuan Saga, saya mohon maaf. Saya memang tidak tahu diri karena berani melakukan ini. Tapi saya melakukannya dengan tulus, Tuan Saga. Mohon, maafkan saya. Saya tahu saya tidak pantas."


Aku ini bicara apa si!


Revan terdiam. Tuan Saga menghela nafas setelah mendengar Revan yang bicara berputar-putar.


"Kau ini bicara apa lagi!" Suara pendek Tuan Saga terdengar semakin membuat Revan menciut. "Temui aku nanti kalau kau sudah siap bicara."


Sekretaris Han bergumam bodoh. Karena Revan yang sedari tadi tertunduk jadi dia tidak melihat, sebenarnya Tuan Saga tersenyum dengan kelakuannya yang belum bicara apa-apa malah langsung duduk berlutut. Mana Revan terlihat gemetar takut seperti bocah kehujanan di depan rumah orang tuanya dan takut untuk pulang.


Revan mulai panik lagi. Dia menampar pipinya sendiri untuk menstimuli keberanian.


"Revan..."


"Maafkan saya Tuan, tolong beri saya waktu sebentar."


Masih membeku, setelah mengeluarkan kata-kata permohonan.


"Han." Sepertinya kesabaran Tuan Sag semakin menipis, dia memanggil Han untuk menyeret Revan keluar dari ruangan. Menakut-nakuti Revan sebenarnya.


"Baik Tuan Muda."


Revan sudah mendengar langkah kaki Han mendekat ke arahnya. Perintah Tuan Saga pasti menyuruh Han untuk mengusirnya. Sekali lagi, otaknya refleks memberi perintah pada tubuhnya untuk mempertahankan diri. Dan kekuatan terjepit, terkadang mengeluarkan energi terpendam manusia. Begitu pula yang dirasakan Revan. Entah berasal dari mana keberaniannya, hingga mulutnya lantang bicara.


"Saya mencintai Jen, mohon maafkan kelancangan saya karena mencintai Nona Jenika Tuan Saga. Maafkan saya yang mencintai Jen." Suara Revan melengking, naik beberapa kali lipat dari suaranya yang biasanya. Lagi-lagi Han terlihat bergumam dasar bodoh setelah mendengar teriakan Revan.


Padahal ya, semuanya, tidak hanya Tuan Saga, tidak Han, semuanya, selalu berubah jadi orang bodoh di depan cinta. Tapi memang paling pintar mengatai orang bodoh, seperti yang dilakukan Han sekarang. Dia kalau di depan Aran saja bisa berubah jadi meong, meong gemas.

__ADS_1


Hening, setelah teriakan Revan tidak ada suara yang lain. Sampai rasanya Revan tercekik dengan rasa malu karena suara teriakannya sendiri.


Bersambung


__ADS_2