
Saga melongok ke dalam kamar Erina, yang dia cari ada di dalam. Sedang dipeluk-peluk adik bungsunya. Dia ingin masuk dan merebut perhatian istrinya, tapi, dia melihat tubuhnya. Hari ini dia banyak bertemu orang. Debu juga pasti menempel di tubuhnya. Bagaimana dia bisa membawa tubuh kotor ini masuk ke kamar putri kecilnya.
"Aku mau mandi dulu Pak." Akhirnya beranjak dari depan pintu, berjalan ke kamar sebelah.
"Baik Tuan Muda." Pak Mun mengikuti langkah Saga.
"Apa terjadi sesuatu pada Sofi?" Bisanya Jen yang suka nempel-nempel seenaknya, kenapa sekarang Sofi ikut-ikutan pikir Saga.
"Nona Sofi memang sering menemani Nona Erina, Tuan Muda, kalau dia sedang ada di rumah."
Pak Mun meraih jas yang disodorkan Saga, saat laki-laki itu hanya menjawab hemm sambil mengibaskan tangan dia menundukkan kepala, keluar kamar. Sementara Saga masuk ke dalam ruang ganti dan langsung ke kamar mandi.
Setelah merasa segar dan bersih, dia keluar kamar. Pak Mun sudah menunggunya.
Saga merasa dia sudah mandi cukup lama. Tapi, saat pemandangan di kamar Erina yang dia lihat tidak berubah wajahnya mengeryit.
"Niah, kenapa kalian peluk-pelukan seperti sepasang kekasih begitu?" Saga berdiri di depan pintu seperti memergoki pasangannya berselingkuh.
Setelah aku mandi kalian bahkan belum selesai peluk-pelukannya!
Yang membedakan situasi dari sebelum dia mandi, mungkin hanyalah Erina yang sudah digendong susternya. Sepertinya dia sudah bangun.
Sofi dan Daniah terperanjat kaget, Pak Mun bahkan tidak memberi tahu kalau suaminya sudah pulang. Kenapa laki-laki itu sudah terlihat segar seperti habis mandi.
"Sayang."
"Kak Saga, Kakak sudah pulang?"
Bersamaan Daniah dan Sofi bicara.
Saga menjentikkan tangannya, Sofia langsung bangun dari duduk. Dan dalam sekejap Saga sudah mendekat ke arah Daniah. Sekarang Saga sudah menggantikan posisi Sofia. Dengan santainya memeluk Daniah sambil menjatuhkan kepala di bahu istrinya, sama persis seperti yang dilakukan Sofi tadi.
Sofia cuma memiringkan kepala, mau heran, tapi ini kakaknya.
"Sayang, maaf, aku tidak tahu kamu sudah pulang, sudah mandi ya?" Daniah mencium aroma sampo yang menyegarkan dari rambut suaminya. "Pak Mun kok nggak bilang?" Pak Mun yang berdiri di dekat pintu menunduk dan minta maaf.
Saga masih diam saja, hanya memeluk Daniah. Sedang cosplay jadi Sofi.
Dia ini kenapa si! Daniah melirik Sofia, setelah melihat gadis itu seperti mendapat pencerahan. Ya Tuhan, apa dia tadi melihat Sofi dan cemburu karena adiknya memelukku. Dih, dasar Tuan Saga.
"Sayang, Sofi curhat." Daniah mau menceritakan kegalauan Sofi.
"Kakak Ipar!" Sofia menyela, menggelengkan kepala. Dia belum mau Kak Saga tahu tentang kegalauan hatinya mengenai pekerjaan yang dia inginkan sekarang. Karena hatinya pun belum memantapkan hati. Daniah paham kode-kode bahasa bibir yang diberikan Sofi, sementara Saga terlihat acuh tidak memperhatikan. Hanya fokus memeluk istrinya. "Kak Saga, aku keluar ya, tadi aku cuma mengobrol dengan kakak ipar masalah ini dan itu." Gadis itu mau segera kabur sebelum ditanyai kakaknya.
"Sofia." Suara pelan Saga menahan langkah Sofi.
"Ia Kak." Langsung badan Sofia berdiri tegak. Meremas jemarinya. Dia takut kalau Kak Saga tiba-tiba bicara dengan nada serius begitu memanggil namanya.
"Pacaran sewajarnya saja, dan jaga dirimu, kau paham kan." Melihat adiknya dengan tatapan kasih sayang.
"Ia Kak."
Kenapa tiba-tiba! Apa Kak Saga pikir aku sedang curhat tentang Haze.
"Kak Saga, Haze titip salam, terimakasih sudah diundang ke pesta Erin katanya. Dia akan datang nanti." Sekalian menyampaikan pesan Haze pikir Sofia.
"Hemm."
__ADS_1
Sofia lega, artinya itu kode untuk menyuruhnya keluar kan.
"Kalau begitu aku keluar dulu ya Kakak Ipar, terimakasih sudah mendengarkan ceritaku. Kak Saga, aku keluar ya."
Saga mengibaskan tangan tanda mengusir. Daniah sampai memukul tangan Saga.
"Sayang, kau melihat kami ya tadi, waktu Sofi curhat."
Dasar, semua kau cemburu, jangan-jangan kau bisa cemburu pada sabun mandi yang aku pakai. Tapi Daniah tidak mau menanyakannya, takut mendengar jawaban Saga .
"Hemm." Saga mencium pipi Daniah, berlanjut ke bibir istrinya. Lalu laki-laki itu melihat ke arah suster yang tertunduk karena baru saja melihat Tuan Saga mencium istrinya. "Taruh Erina, dan keluar, jangan ada yang masuk sebelum aku memberi izin."
Perawat itu menundukkan kepala dan menjawab baik. Dia terlihat tersenyum malu-malu. Lalu dia meletakan Erina ke dalam boks, bayi mungil itu menatapnya. Kalau Erina bisa bicara mungkin dia akan bilang, gendong aku tante.
Sayang, kau mau apa? Kenapa mengusir perawat. Daniah melihat kepergian suster dengan penuh tanda tanya, suster sudah menghilang ke luar kamar.
"Pak Mun, matikan semua kamera." Saga menunjuk empat arah mata angin di mana kamera CCTV berada. Kamar Erina memang terpasang empat kamera pengawas.
"Baik Tuan Muda." Pak Mun menundukkan kepala, lalu mundur dan keluar kamar. Dia tidak tahu alasan kenapa harus mematikan kamera, tapi terlihat sedikit senyum samar di wajah Pak Mun.
Daniah jadi mulai berfikir macam-macam, mengusir perawat Erina, menyuruh Pak Mun mematikan kamera yang biasanya menyala 24 jam. Dia menatap suaminya. Membuat tanda silang di tubuhnya dengan tangan.
Tuan Saga, belum boleh!
"Sayang, kau mau apa?" Daniah beringsut menggeser tubuhnya menjauhi Saga.
Kau marah karena aku dipeluk-peluk Sofi, diakan adikmu, perempuan lagi. Otak Daniah sudah diajak traveling kemana-mana. Berfikir apa yang akan dilakukan Saga.
"Sayang, belum boleh?" Daniah menjerit saat Saga meraih tangannya.
"Apa? Aku cuma mau menciummu."
"Sayang, belum boleh."
Saga menatap istrinya sesaat, lalu dia mengusap kening dan mengibaskan rambutnya. Laki-laki itu tertawa sambil menyandarkan kepala.
"Wahh, Niah apa yang sedang kau bayangkan?" Menoel dagu Daniah. Gadis itu wajahnya langsung merah padam. Ketahuan sekali isi kepalanya.
"Apa? Kau sendiri mau melakukan apa? Kenapa mengusir semua orang dan mematikan kamera." Daniah jadi seperti terciduk sedang melihat gambar mesum.
Saga tertawa dengan suara cukup keras, lalu dia bangun dari duduk. Berjalan mendekat ke arah boks bayi Erina.
Eh, kenapa dia malah berjalan kesana. Daniah ikut beranjak.
"Aku mau menggendongnya."
Apa! Loading, loading. Saat mulai paham Daniah jatuh terduduk tertawa tepingkal-pingkal. Ya Tuhan otakku, apa karena sudah lama libur aku jadi merindukan cumbuan Tuan Saga sampai otakku sudah jalan-jalan melintasi luar samudra.
Kalau cuma mau menggendong Erin, kenapa kau membuat semua orang salah paham! Daniah menjerit tak habis pikir. Senyum Pak Mun yang penuh makna sebelum keluar tadi. Perawat Erina yang menunduk malu-malu, pasti juga memikirkan hal yang sama denganku.
"Dasar mesum." Saga menuding kening istrinya yang lelah tertawa. "Ambil Erina, aku ingin menggendongnya."
"Haha, ia sayang. Ia, duduklah di sofa, gendong sambil duduk dulu ya." Tubuh Daniah masih gemetar karena tertawa. Dia sudah melihat foto Han yang menggendong boneka saat belajar menggendong bayi. Jadi paham apa yang diinginkan Saga sekarang. Dia mau praktek menjadi ayah yang hebat. "Apa kau malu kalau dilihat suster dan Pak Mun."
"Cih."
Dasar! Padahal kau bangga sekali kemarin saat pamer foto Sekretaris Han dan bilang kau sudah ikut pelatihan menjadi orangtua hebat.
__ADS_1
Hati Saga berdegup, saat Erina sudah berpindah dari tangan Daniah ke pangkuannya. Dia menyebutkan teori menggendong dengan suara keras, membuat Daniah gemas sendiri. Tuan Saga benar-benar serius menghafal dan mempraktekkan apa yang sudah dia pelajari.
"Apa tanganku sudah benar." Menunjuk tangan yang menopang leher Erina. "Aku tidak akan mematahkan lehernya kan?" Mimik wajah khawatir muncul.
"Tidak sayang, itu sudah benar." Daniah tersenyum bahagia melihat keseriusan ayah Erina di depannya. Daniah mencium pipi Saga lalu duduk di sampingnya. "Erin, sayang, lagi digendong ayah lho, ayo liat sini." Daniah menoel pipi Erina, yang bola matanya mengerjap melihat ayahnya. "Sayang bicaralah pada Erina."
"Bicara apa?"
"Apa saja, asal jangan hemm."
Daniah tertawa, saat Saga mendelik ke arahnya.
"Hei Nak, ayah mencintai ibumu. Kau cantik seperti ibumu. Erin jawab kalau ayah bicara padamu." Bola mata Erina mengerjap, menatap ayahnya. Bibir mungilnya bergerak. Daniah cuma bisa menepuk jidatnya mendengar suaminya bicara. Tapi Erin terlihat senang, bibirnya tersenyum pada ayahnya.
"Wahh, sayang sepertinya dia jatuh cinta padamu." Katanya cinta pertama anak perempuan itu pada ayahnya. Ya, mungkin Daniah dulu juga begitu, sebelum ibunya pergi.
"Maaf ya Erin, ayah tidak bisa membalas cintamu, cinta ayah untuk ibumu." Yang membuat lucu adalah, cara bicara Saga yang serius dan merasa bersalah karena tidak bisa membalas cinta Erina.
Apa sih, Daniah cuma bisa tertawa sampai tubuhnya gemetar.
"Ya, tapi kau akan jadi cinta ayah yang kedua." Saga mendekatkan wajahnya. Mencium pipi kenyal Erin dua kali. "Tumbuhlah dengan sehat dan kuat, kau kan penerus Antarna Group."
Eh, Saga terlihat sedikit bingung saat melihat anaknya.
"Niah, kenapa dia mengantuk, kami kan sedang mengobrol, kenapa dia tidur seenaknya." Sang ayah protes karena ditinggal tidur anaknya.
"Sepertinya dia senang digendong sama kamu sayang, dia jadi mengantuk lagi. Sini, biar aku pindahkan ke boks." Daniah cuma bisa tersenyum mendengar ayah yang marah karena ditinggal anaknya tidur.
"Aku mau mencobanya, biar aku yang menidurkannya di boks. Aku tinggal bangun, meletakkan tanganku di boks, dan menggeser kepala Erina kan?" Lagi-lagi bicara seperti membaca buku teks. Membuat Daniah tersenyum geli tapi takjub. Gadis itu mengangguk.
Saga dengan hati-hati bangun dari duduk, berjalan selangkah demi selangkah menuju boks bayi. Menundukkan kepalanya, meletakkan tangannya, lalu menggeser leher Erina. Lalu melepaskan tangan kanan yang menyangga pantat Erina.
Hah! Dia bernafas lega setelah Erina berhasil selamat dia pindahkan. Saga menyelimuti Erina. Dia menunduk dan mencium kening bayi mungilnya. Saga terlihat puas dengan apa yang dia lakukan.
Daniah memeluk Saga sambil menutup boks bayi. Mereka berciuman di dekat Erina yang sudah terlelap. Daniah memberikan hadiah atas kerja keras suaminya sudah belajar menggendong anaknya.
Eh, eh, sayang!
Saga mendorong Daniah sampai jatuh ke tempat tidur. Dia tertawa, meminta reward lebih pada Daniah atas kerja kerasnya.
"Lagi, cium lagi."
"Sayang, sebentar lagi makan malam." Daniah menggoyangkan kakinya supaya dilepaskan.
Tapi senyum licik Saga, sudah menjawab, kalau dia tidak akan melepaskan istinya. Apalagi saat Saga menarik tali pita baju di atas dada Daniah.
"Sayang, belum boleh."
"Aku tahu, cuma cium kok." Tangan sudah aktif bergerak, bermain di area kesukaannya. "Bukannya kau yang membayangkan duluan tadi."
"Sayang! Ah! Sayang. Ah."
Bersambung
Sebentar lagi pernihan Han, gadis kecil yang memberi Saga coklat akan segera terungkap dengan kedatangan ayah Revan 💖🍓
Jangan lupa tap like semua episode ya, gratis kok 🤭
__ADS_1
Vote 🌹🌹🌹 juga ya jangan lupa💖
Terimakasih 😘