Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 54. Bermain Bersama Erina


__ADS_3

Akhir pekan setelah melewati beberapa kali terbit dan tenggelamnya matahari.


Sofia keluar dari kamarnya, dia bahkan sarapan di dalam kamar tadi, karena hanya makan sendirian. Semua orang punya kesibukannya sendiri di akhir pekan ini. Dia sendiri sepertinya yang tidak punya janji keluar.


Kak Jen dan ibu pergi bersama, entah kerasukan apa Kak Jen, tiba-tiba mengajak ibu untuk ikut kelas memasak. Kak Jen yang bahkan tidak pernah memotong buah sendiri itu, bilang, dia ingin belajar sesuatu untuk modalnya menikah nanti. Ya, walaupun Sofia tahu, Kak Revan mencintai Kak Jen apa adanya, karena Kak Revan juga tahu, bagaimana selama ini Kak Jen bertumbuh. Tapi, sepertinya Kak Jen ingin berusaha menjadi istri terbaik. Setidaknya bisa mengupas semangka untuk Kak Revan nanti.


Dia tidak mau ikut-ikutan, akhirnya sendirianlah dia di rumah. Kak Amera juga sedang pulang ke rumah orangtuanya. Maka lengkaplah sudah dia sendirian.


Jangan tanyakan di mana Kak Saga dan kakak ipar ya, hah! Mereka bahkan belum terlihat batang hidungnya. Pak Mun sudah mengantar sarapan ke kamar mereka tadi.


Target yang Sofia datangi, siapa lagi kalau bukan keponakannya yang semakin lucu, menggemaskan dan pintar itu. Setiap hari ada saja yang dilakukan Erina, membuat seisi rumah terkesima. Bukan hanya keluarga saja, para pelayan juga ikut senang kalau bisa melihat Erina.


Kepala Sofia masuk sedikit, mengintip di pintu. Kak Saga dan kakak ipar belum terdeteksi gumamnya.


Erina cuma bersama susternya, suster sedang membersihkan bibir Erina, sepertinya nona kecil itu habis sarapan.


Huuuu, gemasnya. Sofia menggoyangkan tangannya di dekat pipinya, mendengar Erin bicara dengan cadel pada suster. Gadis itu sengaja melompat dari depan pintu sambil berteriak duar! Mengangetkan Erin dan suster.


"Erin! Opia datang!"


Suster yang terperanjat sambil mengelus dadanya. Dari tatapan mata dan helaan nafasnya sepertinya dia sudah sangat terbiasa dengan candaan Sofia. Suster menundukkan kepala, mengucapkan selamat pagi.


Sementara Erina, langsung lompat-lompat senang saat Tante yang datang adalah Tante imut dan cerewet itu.


"Pia, Opia, main ayo..." Celotehan Erina membuat Sofia langsung kejang saking gemasnya. Gadis itu menjerit sambil berjalan mendekat. Dia memeluk Erina lalu menghujani Erina dengan ciuman. Di pipi kanan dan kiri. "Opia..."


"Ah, jantungku!" Cium lagi dan lagi.


Sofia memang sering sekali over mengekspresikan perasaan sayangnya pada keponakannya. Mau bagaimana lagi, Erin terlalu menggemaskan, apalagi kalau sudah berceloteh dengan suara cadelnya itu.


"Nona Sofia, jangan begitu, kalau Tuan Saga tahu, nanti Anda dimarahi lagi."


"Haha, maaf Sus, soalnya dia gemas sekali si. Muah...Muah." Meletakan Erina ke pangkuannya. Masih mencium pipi kiri. "Sus, kita main diluar yuk, ke taman, duduk pakai alas duduk di rumput sambil bawa mainan Erin. Kita piknik yuk. Aku di rumah sendirian. Aku sudah minta Pak Mun menyiapkan semuanya."


"Tapi Nona, Tuan Saga dan Nona Daniah belum datang, sepertinya beliau berdua belum bangun." Suster tentu saja tidak berani membawa Nona Erina keluar rumah, tanpa izin Daniah.


Sofia malah terkikik sambil menutup mulutnya, lalu menghela nafas dan menatap suster.


"Kak Saga dan kakak ipar sepertinya tidak akan keluar kamar Sus, kita pergi saja yuk. Nggak usah izin juga, nanti menggangu mereka, hihi. Tahu kan?"


Wajah suster Erina malah yang merona merah. Entah sudah berapa kali dia tidak sengaja melihat tuan dan nonanya bermesraan. Aaaaaaa! Mereka memang kadang tidak tahu tempat, bukannya malu, malah membuat yang melihat merasa malu sendiri.


"Haha, suster tahu aja mereka lagi ngapain."


"Nona!"


"Hihi, Aran, istrinya Han kan sudah hamil, Kak Saga pasti kalah saing, mereka pasti bekerja lebih keras dari biasanya ia kan? Membuat adik untuk Erin." Sofia menoel pipi Erina yang duduk di pangkuannya.


"Adi.." Erin bicara sambil menyentuh pipi Sofia. Gadis itu tergelak, karena Erin mengikuti apa yang dia lakukan. "Opia.."


Sofia seperti mendapat serangan mematikan lagi. Aaaaaa, tidak tahan, dia mencium pipi Erin lagi.


"Nona Sofia..."

__ADS_1


"Hihi, maaf. Aku tidak kuat dengan keimutannya. Ayo turun. Erin, main diluar yuk. Main sepedah sama main bola. Mau."


Erin langsung loncat dari pangkuan Sofia. Tentu saja dia yang paling semangat. Anak seusianya Erin memang sedang senangnya main di luar.


"Sini Opia gendong."


Erin merentangkan tangan, lalu dalam sekali hap, sudah masuk dalam dekapan Sofia. Suster terlihat cekatan, membawa mainan bahkan camilan Erin juga. Setelahnya berjalan di samping Sofia.


"Tapi Nona, apa kita tidak bilang dulu pada Nona Daniah?"


Suster Erin masih ragu. Selama ini dia sudah bekerja dengan sempurna, dalam artian tidak pernah melanggar aturan yang dibuat Tuan Saga. Dia tidak mau, ini jadi kesalahan pertamanya sekaligus terakhirnya.


Pak Mun, keluar dari ruangan Saga membawa nampan, tempat sarapan tadi. Sofia langsung memanggil Pak Mun. Laki-laki itu menunduk, lalu tersenyum saat melihat Erin dalam pelukan Sofia.


"Takek..."


"Ia, Tuan putri, selamat pagi. Mau main ya?" Lalu Pak Mun melihat Sofia. "Saya sudah menyiapkan yang Nona minta di halaman, saya juga sudah mengatakannya pada tuan muda."


"Ahhhh, Pak Mun terimakasih banyak. Sus, jangan khawatir, sudah boleh kan. Hihi." Sofia nyengir, sejak tadi dia memang menunggu Pak Mun. Dia sudah yakin si kalau dia bakal diizinkan, makanya dia sudah membawa Erin keluar kamar.


Lihatlah, kamar Kak Saga saja masih tertutup. Hehe. Berjuanglah Kak, kalau ada bayi mungil lagi, aaaaaaa! Aku pasti tambah senang. Isi hati Sofia yang sedang berbunga.


Ternyata Anda menyuruh Pak Mun untuk minta izin ya. Pantas Anda tenang sekali. Suster yang sedang tenggelam dengan pikirannya juga melirik sekilas pintu kamar tuan dan nonanya. Dia juga mengulum senyum sendiri.


...🍓🍓🍓...


Para pelayan yang disuruh menyiapkan area piknik dan tempat bermain Erin, tidak beranjak dari tempat mereka berdiri. Karena apa? tentu saja mereka ingin melihat Erin dari dekat.


"Nona, hati-hati."


Suster ikut berlari, mengimbangi langkah Erin. Memastikan gadis itu tidak tersandung. Sementara Sofia, sudah siap dengan kamera hpnya. Mengabadikan bahkan setiap gerakan Erin.


"Opia, naik cepeda."


"Boleh sayang. Opia dorong ya. Sus, tolong pegang hp. Foto ya, yang banyak deh, buat Vidio juga."


Suster meraih hp Sofia, lagi-lagi dengan sorot mata yang sudah merasa sangat terbiasa dengan semua kelakuan Sofia.


Para penonton ikut meramaikan dengan tepuk tangan, setiap apa saja yang dilakukan Erin.


"Opia.. Opia..."


Minta didorong lagi lebih kencang.


Ganti mainan yang lain setelah turun dari sepedah, Erin mau main bola. Sekarang mengajak suster juga. Lempar-lembaran bola. Bosan main bola, main kejar-kejaran.


Bruk!


Semua orang langsung menjerit kaget, saat Erin jatuh tersungkur saat mengejar salah satu pelayan. Dia jatuh di rerumputan yang empuk. Untung saja, gumam semua orang, walaupun begitu tetap panik juga.


Erin langsung bangun, tidak melihat para pelayan dan suster yang terlihat pucat seperti kehabisan darah. Erin memeluk kaki suster yang masih membeku. Berhasil menangkap susternya.


"Sus kena.. Sus kena."

__ADS_1


"Nona, Nona nggak papa kan?" Malah suster mau menangis rasanya.


Sofia ikut memeriksa, hanya pakaian Erin saja yang terkena sedikit percikan basah rumput. Selebihnya tidak ada luka. Sofia mengusap tubuh Erin memastikan sekali lagi.


"Aaaaaa! Opia kaget lho Erin jatuh. Nanti Opia yang dimarahi ayah. Hati-hati ya Erin sayang."


Erin mengusap pipi Sofia. Lalu mencium pipi gadis itu.


"Eh, Erin.. pintarnya.. cium lagi."


Dengan patuh, Erin mencium pipi Sofia lagi.


"Opia, minum.."


"Erin haus ya?"


Gadis kecil itu sudah lupa kalau dia habis terjatuh. Suster yang wajahnya berangsur memerah bergegas mengambil minum. Setelah minum, seperti tidak kehabisan Energi, Erin kembali berlarian. Mengambil mainnnya. Mengajak susternya main sepedah lagi.


Sofia yang ambruk kelelahan, di alas duduk. Di atas rerumputan. Dia kehabisan energi meladeni Erin.


"Kenapa anak kecil nggak ada capeknya si, Erin, kamu ini mirip sama ayah mu yang nggak ada lelahnya."


Deg...


Saat memikirkan Kak Saga, entah kenapa mata Sofia pandangannya menuju ke jendela kamar Kak Saga. Gadis itu tersentak, karena melihat kakak ipar di depan jendela.


Aaaaaa! Sejak kapan kakak ipar berdiri di sana! Sofia sebenarnya masih sedikit lega, karena yang ada di sana kakak ipar. Karena kakak ipar cara berfikirannya kan masih manusiawi. Dia tidak akan marah padanya atau suster tanpa alasan hanya karena Erin jatuh. Karena kakak ipar tahu, selincah apa Erin kalau main.


Kak Saga tidak melihat kan?


Sofia memakai kamera hpnya, untuk melihat kakak ipar. Memperbesar layar. Dia melihat kakak iparnya melambaikan tangan. Lalu tangannya bergerak, mendekat ke bibir. Membuat gerakan mengunci bibir sambil tersenyum.


Aaaaaaa! Kakak ipar!


Saat masuk melihat kakak ipar tertawa, tiba-tiba Kak Saga muncul dari belakang. Sofia menjerit kaget menjatuhkan hpnya. Dasar gila! Kaget aku! Untung Kak Saga pakai celana!


Dari kejauhan samar terlihat, Kak Saga memeluk kakak ipar dari belakang, lalu menarik tirai, dan entah hilang ke mana. Sofia buru-buru meraih hpnya. Membuka kamera lagi, menyorot ke arah jendela kamar Kak Saga. Mereka benar-benar menghilang, dengan tirai yang tertutup lagi.


Kak Saga! Dasar!


Setelah selesai mengisi baterai, Sofia kembali menoleh ke arah Erin. Mereka sedang main masak-masakan rupanya.


"Erin, Opia mau lapar..."


Para orang dewasa, yang kembali menjadi anak-anak bersama Erina. Tuan putri Antarna Group yang makin hari makin terlihat cantik, hatinya yang hangat dan baik seperti ibunya pun mulai terlihat. Dia memperlakukan suster dan para pelayan, seperti teman. Karena melihat bagaimana ibunya yang berinteraksi dengan suster dan para pelayan.


Dia memang tuan putri yang memiliki segalanya, namun dia tumbuh benar-benar mirip dengan ibunya yang baik hati.


Piknik para pelayan bubar, setelah Tuan Saga dan Nona Daniah muncul. Mereka makan siang di hamparan tikar di atas rumput. Erin duduk dipangkuan ayahnya, mencium pipi ayahnya yang tertawa sambil mengajaknya bicara.


Akhir pekan yang damai di rumah utama. Setelah informasi kehamilan Aran menyebar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2