Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 39. Gara-Gara Hemm


__ADS_3

Kabar pernikahan Han yang dipercepat tentu saja sudah menyebar di rumah utama. Bukan hanya Harun dan Revan yang kelimpungan, Jen dan Sofi ikut sibuk sampai orang bisa salah paham kalau mereka yang akan menikah. Pakaian keluarga Tuan Saga disiapkan Han, ini sudah meringankan beban mereka.


Kata hemm dari Tuan Saga telah merubah segalanya.


Di halaman rumah utama. Di suatu sore.


Daniah habis mengajak Erin jalan-jalan di taman, ditemani Maya dan suster Erina. Sambil mengobrol dan mengajak Erina melihat dedaunan dan bunga-bunga yang menyegarkan. Dia juga cukup senang menghirup udara segar di luar ruangan.


Sebuah mobil terlihat memasuki halaman rumah, Amera yang lesu keluar dari mobilnya. Terlihat lelah, mungkin karena sudah seharian bekerja gumam Daniah. Energinya jadi terkuras habis. Dia juga dulu pernah mengalami itu, kalau di toko orderan sedang membludak. Paking-paking sampai malam, rasanya buat berjalan saja tidak ada tenaga.


Daniah melambaikan tangan pada gadis yang terlihat lesu. Sambil meletakkan Erin ke dalam kereta bayi yang dipegang suster.


"Mera!"


Amera berlari mendekati Daniah, menunduk sambil menggoyang-goyangkan kunci mobil di depan Erina. Tertawa, melihat baby Erina rasa lelahnya mengecil. Entah kenapa melihat bayi lucu bisa langsung menaikkan mood berkali lipat. Dia melihat Daniah yang berjalan, lalu dia mengikuti duduk di kursi taman.


"Kenapa? Kelihatan lelah?"


Sudah mencari tempat duduk masing-masing.


"Kak Niah tahu kenapa Han mempercepat hari pernikahan?" Suara Amera masih lesu.


Apa dia masih belum rela Han menikah dengan Aran?


Daniah menggeleng, Tuan Saga kalau ditanya juga cuma menjawab hemm, hemm saja. Dan dia tidak tahu terjemahan kata hemm itu yang sebenarnya apa.


"Aku kan mau membuat satu set perhiasan untuk Kak Aran, belum lagi untuk kita pakai kembaran, waktunya mepet banget!" Amera sudah seperti mertua yang disibukkan dengan persiapan pernikahan anaknya. "Aaaa, frustasi jadi aku, memang Kak Aran mau diambil orang apa sampai buru-buru begini."


Memang ada orang gila yang mau bersaing dengannya, gumam Amera kesal.


"Memang bisa menyiapkan pernikahan secepat ini Kak, keluarga Aran juga kan harus siap-siap?"


Hemm, Daniah menyentuh dagunya. Sambil melihat ke arah Maya dan suster yang sedang asik bermain dengan Erina. Kalau dipikir-pikir dulu persiapan pernikahannya juga cukup mendesak, tapi orangtuanya tenang-tenang saja. Karena semua disiapkan Tuan Saga. Dan Daniah tahu siapa yang berjibaku mempersiapkan semua itu kalau bukan Han.


"Han sudah pengalaman menyiapkan pernikahanku dan Tuan Saga, tapi Amera, kau tidak apa-apa kan?" Daniah bertanya tentang hati Amera. Bagaimana pun dia kan pernah menyukai Han, bukan dalam hitungan hari juga pikir Daniah


Amera mendekat ke samping Daniah, melingkarkan tangan. Maen peluk-peluk seperti para gadis sebelumnya. Kalian ini, kenapa semua orang suka sekali menunjukkan cinta dengan sentuhan fisik begini si. Kalau Tuan Saga melihat lagi, yang ada cemburu lagi dia.


"Aku move on, Kak Niah, walaupun itu nggak mudah. Hadiahku pada Han dan Kak Aran nanti akan berisi doaku untuk kebahagiaan mereka." Menjawab dengan lantang setengah berteriak juga. Sambil memeluk Daniah erat.


Lagian memang aku punya celah menggoyah hati Han. Cih, orang kok kaku, seharusnya ditawarin mendua dengan wanita secantik aku pura-pura goyah kek, ini malah yang sudah menawarkan diri yang malu.


"Kak Niah, waktu menikah dengan Kak Saga bagaimana?"


Apa sih kok malah jadi aku. Daniah tidak mau membahas kisah hidupnya yang seperti drama novel percintaan buatan Aran. Dia malu, dan juga hal menyedihkan yang seperti cerita novel itu terasa menyakitkan kalau diingat-ingat. Membuatnya memilih menguburnya jauh dalam ingatannya.


"Amera, cinta itu selalu datang di waktu yang tepat, percayalah. Kau akan bertemu dengan laki-laki yang kau cintai, bahkan mungkin kau tidak menyadarinya." Daniah mengusap-usap kepala Amera. "Perasaan cinta akan mencari jalannya sendiri."


Amera tersenyum mendengar kata-kata Daniah. Apa itu yang sedang dia rasakan sekarang pada juniornya di kantor. Walaupun melihat Han yang dia kejar-kejar menikah dengan wanita lain hatinya tidak terlalu sakit dan menerima dengan lapang. Karena Kak Aran juga keren mau bagaimana lagi.

__ADS_1


Amera bangun dari duduk. Lalu berteriak di tengah-tengah taman, membuat orang tertawa melihatnya.


"Aku move on! Aku sudah move on!"


Senja mulai terlihat, sudah waktunya Erina masuk ke dalam rumah. Daniah menggandeng tangan Amera, Pak Pun menyambut di depan rumah.


"Tuan muda sudah sampai di gerbang depan Nona," ujarnya memberi informasi.


Wah, cintaku sudah pulang. Mendengar itu wajah Daniah menjadi cerah.


Erina dibawa naik oleh suster, sementara dia tertinggal menunggu kedatangan Tuan Saga bersama Pak Mun.


...***...


Setelah makan malam, Daniah dan Saga menemani Erina sampai dia terlelap. Kedua orang itu masuk ke dalam kamar kemudian. Ke kamar mandi bersama, berganti baju dengan baju tidur masing-masing. Daniah memilihkan baju yang dipakai Saga.


"Sepertinya kau nggak perlu pakai baju, lebih cantik," ujar laki-laki itu serius. Daniah memukul tangan suaminya yang merayap kemana-mana.


Belum boleh! Belum boleh sayang!


Akhirnya Daniah memilih baju tidur dengan warna yang sama seperti yang dipakai Saga. Wajah Saga kecewa saat istrinya memakai baju.


"Padahal lebih bagus kau tidak pakai baju."


Terserahlah! Daniah tertawa saja menanggapi. Padahal baju tidurnya sudah mengumbar bentuk tubuhnya kemana-mana, masih minta polosan lagi.


"Sayang, lebih seksi pakai baju kan?" Daniah mengedipkan mata sambil menarik rok tipis baju tidurnya naik ke atas lutut. Daniah, kau memancing singa yang sedang berusaha mengendalikan hasratnya. Gadis itu didorong sampai terduduk di kursi dekat meja penyimpanan jam tangan. Dan mereka berciuman cukup lama di sana.


"Sayang belum boleh." Daniah terjerembab di tempat tidur sudah mau main serang babak kedua. "Belum boleh ya sayang, sebentar lagi. Sabar ya."


Saga merengut. Hasratnya sudah menumpuk berkali lipat hari ini. Dia membalikkan badan dan tengkurap memeluk tempat tidur.


Lucunya kalau dia ngambek.


"Sayang," Daniah memeluk Saga yang masih tengkurap dengan tangan terentang. "Mau aku pijat sayang." Tangan gadis itu sudah merayap di punggung Saga.


Hihi, sudah lama aku tidak memijatmu kan. Mau pijat plus, plus. Haha. Tapi cuma berani menawari dalam hati.


"Mau?" Merapatkan wajah sambil mencium pipi. Saga tertawa karena Daniah menciumnya berkali-kali. Rasa kesalnya mulai menguap.


"Lakukan, pijat plus-plus ya?"


Daniah hanya menjawab dengan tertawa dan pukulan tangannya di punggung Saga.


Daniah sudah berpindah, duduk di atas pinggang Saga, menarik baju tidur dan melepaskan baju itu. Dari posisinya duduk saja sudah mengarah ke pijat plus-plus 🤭


"Sayang."


Tangannya lembut menari di bagian leher. Menekannya perlahan, turun kebagian lengan. Dia masih ingat tehnik memijat yang pernah dia pelajari.

__ADS_1


"Waktu Han bertanya padamu untuk memajukan hari pernikahan, memang kau menjawab apa?" Tangan mulai turun ke pinggang, Dan Daniah merosot duduk di kaki Saga yang masih memakai celana.


"Hemm."


"Sayang, jawab yang benar kenapa?" Tangan Daniah tepat menempel di pantat Saga. Iseng gadis itu meremas.


"Wahhh, Niah tanganmu mulai berani ya, remas-remas."


"Haha sayang." Langsung naik duduk di punggung sambil mengusap-usap bahu. "Habis kamu ditanya hemm, hemm aja."


Aaaaaaa!


Secepat kilat mereka sudah bertukar posisi. Rambut bergelombang itu sudah terburai di atas tempat tidur. Tali baju tidur melorot sampai ke lengan. Rok naik sampai ke pusar.


"Sayang! Belum boleh!" Berteriak sambil mau menutupi roknya yang tersingkap, kalah cepat, kedua tangannya sudah dicengkeram dan dinaikkan ke atas kepala Daniah. Hanya dipegang satu tangan Saga. Tangan satunya menari-nari di paha Daniah.


"Aku tahu kok, nggak akan sampai kesitu." Menoel bagian bawah Daniah sambil tertawa. "Aku cuma akan bermain ditempat yang diperbolehkan." Tangannya semakin kuat mencengkeram, saat tangan Daniah berontak.


Gadis itu menyerah, dan membiarkan bibir Saga mulai menikmati area kesukaannya.


"Sayang, jawab dulu pertanyaanku tadi, nanti aku pasrah. Lepaskan tanganku, tapi jawab dulu. Kamu jawab apa waktu Han minta izin memajukan pernikahan."


"Hemm." Bibir Saga basah saat mengangkat kepala.


"Bukan hemm, hemm!"


"Aku memang menjawab hemm pada Han."


Apa! Jadi Han menerjemahkan kata-katamu semaunya.


Namun Daniah tahu, kalau Han yang selalu serius tidak mungkin bercanda tentang wanita yang ia sukai. Dia ingin menikahi Aran dengan segera, karena keseriusan hatinya.


Semoga kau bahagia Aran, seperti aku yang bahagia mendapatkan cinta luar biasa dari tuan laki-laki yang akan menikahimu.


Sepertinya rasa penasaran Daniah sudah terobati dengan jawaban hemm dari Saga.


Saga melepas tangannya yang mengekang kedua tangan Daniah. Sekarang bibirnya menyusuri leher Istrinya.


"Sayang, belum boleh ya, benar ya." Gadis itu menggeliat geli.


"Ia aku tahu, itu kan demi kesehatanmu."


Aku tidak akan mengorbankan kesehatanmu untuk merasakan kenikmatan sesaat Niah.


"Aku mencintaimu Niah, aku sangat mencintaimu."


Aaaaaaa!


Bahkan hasrat dan kerinduan Daniah ikut membara dengan semua sentuhan tangan dan bibir Tuan Saga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2