
Sebuah mobil masuk dari gerbang rumah utama. Perlahan berhenti di depan rumah. Ternyata ibu Tuan Saga yang kembali dari menghadiri sebuah kegiatan sosial. Dia terlihat senang, sepertinya dia mendapatkan sesuatu yang bagus saat acara tadi. Ibu bahkan menyapa Pak Mun dengan ramah.
"Pak, apa Jen sudah pulang?"
"Nona Jen baru saja masuk ke kamarnya, apa Anda mau saya panggilkan?" Pak Mun menjawab sambil menundukkan kepala.
"Tidak usah, nanti saja aku ke kamarnya, aku mau ke kamar dulu. Ah, hari ini aku senang sekali." Pak Mun mengangguk lagi dan tersenyum memberikan reaksi. "Ada laki-laki yang mau aku kenalkan pada Jen, sepertinya dia sudah cukup umur, dan harus mulai menjalin hubungan serius dengan laki-laki." Dan ibu merasa senang sekali karena sudah mendapat nama calon, yang pantas untuk Jen.
Ibu cuma bicara sambil lalu, tapi yang dia ucapkan tentu saja membuat Pak Mun terkejut. Kenapa kebetulan sekali seperti ini ujar Pak Mun dalam hati. Saat, Nona Jen sudah berhubungan dengan Revan malah nyonya datang. Ah, semoga tidak akan terjadi apa-apa. Pak Mun masih berdiri di tempatnya, sampai menghilang dari pandangannya tubuh ibu Tuan Saga.
Dan malam ini, ibu benar-benar mendatangi kamar Jen, kebetulan gadis itu sedang sendirian di kamar. Setelah terjadi narasi yang cukup panjang dari ibu, saatnya giliran Jen bicara.
"Ibu, aku sudah punya pacar." Jen menjawab dengan pelan.
Ibu yang tadinya bicara dengan antusias, bahkan sudah menunjukkan foto laki-laki tampan di hp miliknya, langsung tercengang. Tentu saja ibu terkejut, karena dia tidak menduga sama sekali. Apalagi Jen tidak pernah membicarakannya.
"Apa Saga sudah tahu?"
Jen mengganguk.
Kalau Saga sudah tahu, dan dia tidak melarang, artinya laki-laki itu sudah lolos kan. Begitu yang ibu pikirkan, dia pasti memang layak untuk putrinya. Dia jadi tidak bisa ikut campur lagi. Siapa dia? gumamnya penasaran.
"Hah! Kalau kakak mu sudah mengizinkan, Ibu mau bilang apa lagi." Tapi, dia masih terlihat sedih saat melihat foto di hpnya. Karena laki-laki yang mau dia kenalkan pada Jen, sangat sayang untuk dilewatkan. "Kapan, kau mau membawanya ke rumah dan mengenalkannya pada ibu? Kali ini, hubungan kalian serius kan? Kamu kan bilang, ingin menikah muda supaya jarak usia mu dan anak-anak mu nanti tidak terlalu jauh."
Wajah Jen langsung merona malu.
"Sepertinya kau sangat menyukainya ya. Dari wajahmu saja sudah kelihatan." Ibu tersenyum simpul. Dia juga menyentuh pipinya, sepertinya dia sedang teringat, memori manis hubungannya dengan suaminya. "Baiklah, kalau kakak mu sudah setuju, ibu jadi semakin ingin bertemu dengannya."
Deg...
__ADS_1
Jen seperti langsung tersadar, dengan situasi yang sepertinya mengancam. Ibu memang tidak pernah protes dengan siapa dia pacaran selama ini. Karena ibu tahu, pacaran mereka juga belum serius untuk memikirkan pernikahan. Dan rata-rata, mantannya dari kalangan anak pengusaha yang juga ibu tahu siapa orangtua mereka.
Tapi, Kak Revan? Gumam Jen. Ah, tidak-tidak. Kau jangan takut Jen, bukannya Kak Saga saja memberi mu restu. Paman dan bibi juga sudah memberi lampu hijau, ibu juga pasti demikian. Karena Kak Saga sudah mengizinkan, semua pasti lebih mudah. Jen mengepalkan tangan penuh keyakinan. Jalan mulus di depannya sudah pasti terbentang. Jadi, dia akan langsung mengaku pada ibu sekarang.
"Ibu sudah sering bertemu dengannya kok. Dia tampan, baik hati, ramah dan giat bekerja." Jen memberikan sanjung dan pujinya untuk Revan.
"Apa? Siapa?" Pikiran Ibu langsung mengembara pada laki-laki seumuran Jen yang sering ia temui. Ibu mengabsen, beberapa nama anak kenalannya, teman-teman pergaulan sosialitanya. Menyebutkan nama perusahaan.
Jen tertawa, karena sebagian nama yang ibu sebutkan, bahkan tidak dia kenal. Mungkin mereka pernah bertemu, namun pasti interaksi mereka tidak spesial.
"Kenapa malah tertawa? Siapa? Sebutkan saja nama perusahaanya."
Deg.. Jen jadi merasa ragu lagi. Namun saat ibu bertanya lagi, sambil sekali lagi menyebutkan nama-nama, Jen menyebut nama Antarna Group.
"Apa maksud mu Jen? Dia bawahan Saga di perusahaan?" Sudah terlihat nada tidak suka ibu. "Siapa anak kurang ajar yang sudah menggoda mu."
"Bagaimana bisa dia tidak kurang ajar, dia bawahan Saga, bagaimana bisa dia bermimpi untuk masuk ke dalam keluarga tuannya. Hah! Jenika, kau itu terlalu polos atau bagaimana? Apa dia benar mencintai mu, bukan karena kau adiknya kakak mu."
Wajah Jen mulai terlihat pias, kalau orang di luar melihat, mungkin seperti itulah yang terlihat. Kak Revan yang kurang ajar karena menyukai adik bosnya, tapi.. bahkan Kak Saga pun melihat ketulusan hati Kak Revan. Jadi, kenapa dia meragukannya. Kak Revan mencintainya, bukan hanya karena dia adik Kak Saga.
"Siapa dia Jen? Dia tahu kau adik Saga?"
"Kak Revan."
Ibu kembali kehilangan kata-kata, ketika nama Revan disebutkan. Sesaat dia shock, sampai menyentuh tengkuknya yang tiba-tiba langsung berdenyut. Tentu saja dia tahu siapa Revan dan bagaiman pengabdian Revan dan keluarganya. Tapi, ini berbeda, ibu bergumam lirih.
"Bahkan Han saja tahu posisinya dengan tidak menyukai kalian berdua, bagaimana bisa, Revan yang sudah dibawa ayahnya masuk ke Antarna Group begitu tidak tahu diri."
Memang, siapa juga yang mau sama Han. Jen bergumam sambil mulutnya manyun. Sofia saja tidak mau, apalagi aku.
__ADS_1
"Ibu, Kak Revan tulus. Kami saling menyukai."
"Jenika, kau ini sangat polos. Dan sedang dibutakan kata-kata manis laki-laki itu." Suara ibu tak kalah meninggi, mengalahkan protes Jen. "Biar ibu yang bicara padanya." Ibu ingin bertemu langsung dan menanyakan pada Revan.
Jen langsung tersentak dan berdiri dari duduk. Ah, dia tidak pernah mengkhawatirkan restu ibu selama ini, karena Kak Saga sudah mengisyaratkan menerima Revan. Kenapa ibu malah keras kepala, padahal paman dan bibi sudah membuka hati.
"Ibu, kalau aku memang bodoh dan polos dan sedang jatuh cinta, bagaimana dengan Kak Saga? Kak Saga sangat mengenal Kak Revan kan, apa Kak Saga juga polos dan bodoh?"
Jleb, ibu seperti terhantam sesuatu.
"Bu, kalau ini tentang status Kak Revan, tentang uang dan latar belakang Kak Revan, ibu lihat sendiri kan, bagaimana Kak Saga dan kakak ipar. Ibu yang menentang pernikahan mereka karena latar belakang kakak ipar, sekarang ibu lihat sendiri bagaimana bahagianya Kak Saga. Erina juga lahir dari cinta mereka. Apa ibu masih meragukan ketulusan Kak Revan hanya karena latar belakangnya?"
Aaaaaaa! Kenapa? Kenapa aku bisa bicara sekeren ini. Jen menutup mulutnya, karena merasa kaget dengan kata-katanya sendiri. Apalagi saat wajah ibu yang memerah dan tersentak. Sepertinya, ibu juga terkejut, Jen membombardirnya dengan argumen yang berkelas.
"Aku akan mengajak Kak Revan bertemu dengan ibu secara resmi, katakan saja, kapan ibu punya waktu. Aku dan Kak Revan akan meluangkan waktu."
Jen kembali menyerang dengan berani.
"Bagaimana kalau makan malam bersama, dengan semuanya. Dengan Kak Saga juga."
Ibu bangun tiba-tiba dari duduk, wanita itu terlihat kesal karena kalah telak berargumen dengan Jen. Dia hanya melengos, tidak menjawab pertanyaan Jen.
"Atau aku tanya Kak Saga dulu Bu, kapan dia punya waktu."
Ibu menoleh sebentar, lalu membanting pintu tanpa sepatah kata pun. Sementara itu, Jen terkikik sambil menatap pintu yang tertutup. Restu Kak Saga memang memudahkan semuanya. Hihi, ibu bahkan tidak bisa menjawab.
Malam itu, sebelum tidur, sambil terkikik, Jen menelepon Revan dan menceritakan semuanya.
Bersambung
__ADS_1