Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 49 Restu Orangtua Revan.


__ADS_3

Revan sedang mengingat kata-katanya sendiri.


Jangan menyerah sebelum bertarung sekuat tenaga. Lawan ketakutan yang ada dalam diri kalian. Perjuangkan mimpi kalian! Kalau pun gagal setelah kalian berjuang, tidak akan ada penyesalan. Yang ada malah semakin memotivasi diri untuk kalian bangkit. Ayo lawan ketakutan yang ada dalam diri kalian.


Lihat aku! Apa kalian pikir aku tidak pernah gagal, aku juga pernah tidak berhasil dan salah membuat kesimpulan, tapi yang menjadikanku berbeda adalah, aku tidak menyerah dan kalah dengan kegagalanku itu.


Sialan! Waktu aku mengoceh sepertinya keren sekali.


Begitu yang selalu Revan tanamkan pada bawahannya yang terkadang ragu atau ingin menyerah urusan pekerjaan. Sekarang, kata-kata itu teramat tepat sekali untuk dia pakai menampar dirinya sendiri.


Dan akhirnya, berbekal dukungan Jen dia memutuskan pulang ke rumah. Dia siap bertemu dengan orangtuanya. Apa pun yang terjadi nanti. Revan akan menghadapinya.


Adegan drama bak roman picisan terjadi, padahal Jen sering menertawakan Sofia kalau dia melihat adiknya dan Haze, eh ternyata sekarang dia menjadi pelaku utama.


"Jen, doakan aku ya, supaya aku bisa kembali dengan selamat nanti." Revan menggengam tangan Jen. "Aku akan pulang dan menyampaikan pada ayah dan ibuku perihal hubungan kita."


Jen menganggukkan kepala sambil menggoyangkan tangan dalam genggamannya. Dia sudah meminta kakak iparnya untuk bicara dengan Kak Saga, walaupun begitu rasa cemas juga masih datang menyelimuti.


"Kak! Bagaimana kalau aku pergi dengan Kak Revan juga? Kalau bersamaku, paman tidak akan marah kan."


"Tidak! Aku akan membawamu pada ayah dan ibuku nanti, setelah mereka memberi restu."


Begitulah akhirnya, Revan tetap melarang Jen untuk ikut. Dia akan menghadapi ayahnya sendirian. Karena dia laki-laki. Tuan Saga kan sudah merestuinya, dia akan memakai nama beliau sebagai senjata terakhir. Jika ayah meluapkan kemarahannya nanti.


Dan di waktu pagi, saat kedua orangtuanya masih sarapan. Dia sudah berdiri di depan halaman rumah. Sebuah rumah besar dengan halaman yang luas. Ibu Revan menaman aneka tanaman bunga di depan rumah. Lebih banyak bunga mawar dan anggrek yang menghiasai halaman. Ibu merawatnya sendiri khusus untuk bunga. Tangan kecilnya yang telaten dan hangat yang selalu dirindukan Revan.


Seharusnya aku menulis surat wasiat tadi untuk Jen.


Revan bergumam saat memencet bel. Terdengar langkah kaki dari dalam. Saat pintu terbuka, seraut wajah wanita paruh baya terperanjat ketika melihat siapa yang ada di depan pintu.


"Tuan muda! "


"Apa kabar Bi, hehe, kaget ya, aku pulang tanpa pemberitahuan. Ibu dan ayah sedang sarapan ya?


"Ia, sedang sarapan. Silahkan masuk, saya siapkan sarapan untuk Anda juga."


Revan menyapu ruangan, melihat ayah dan ibunya sedang duduk di ruang makan. Ibu langsung menghampiri putranya, memeluk lalu memukul bahu Revan. Gemas pada anaknya yang pulang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.


"Hehe, aku kebetulan ada pekerjaan di sini Bu. Ketimbang ke hotel lebih baik pulang kan." Revan menundukkan kepala pada ayahnya, memberi salam.


Ayah terlihat menatap Revan, sepertinya laki-laki itu bersikap waspada. Karena melihat keanehan kedatangan putranya. Dan karena kemarin Sekretaris Han sudah menghubunginya. Tuan Saga bahkan berkata jangan terlalu berlebihan. Saat melihat anaknya sekarang pikirannya semakin curiga. Anaknya pasti datang dengan maksud tertentu.


"Duduk dan makanlah."


"Baik Bu."


Bibi membawakan piring. Revan makan seperti biasa. Melirik ayahnya lalu kembali ke piringnya saat ayahnya masih menatapnya. Deg, deg. Makan sarapan kali ini terasa mencekam bagi Revan sendiri. Untung saja ada ibu yang mencairkan suasana, membuat ketegangan Revan sedikit menghilang.


Saat sarapan sudah selesai. Tiba-tiba, Revan langsung duduk bersimpuh di lantai di depan sofa. Ayah yang mau berangkat bekerja mulai membaca situasi. Ibu bereaksi dengan ikut bersimpuh di dekat anaknya.

__ADS_1


"Revan, kenapa? Ibu sudah curiga saat kamu tiba-tiba pulang. Kenapa Nak?"


"Apa kau membuat kesalahan pada Tuan Saga?" Ayah langsung menuding dengan pertanyaan intinya.


Kemunculan Revan saja sudah merupakan keanehan. Terlebih setelah sekretaris Han menghubunginya. Hanya ada pikiran negatif di kepala ayah Revan sekarang. Anaknya sudah melakukan kesalahan pada Tuan Saga.


"Duduklah sebentar, ibu, ayah, saya ingin bicara hal yang penting."


"Revan!" Ayah bicara dengan suara lantang. Sampai ibu tersentak. "Kau membuat kesalahan apa pada Tuan Saga?" Baru praduga saja ayah sudah terpancing amarahnya. Dia mendekati anaknya. Mencengkeram kerah baju yang di pakai Revan. "Sekarang jawab! Kau sudah mempermalukan keluarga! Iya!"


Revan menciut, nyali yang sudah dia kumpulkan selama mengendarai mobil tadi, sepertinya berceceran saat berhadapan dengan ayahnya. Mendengar suara menggelegar ayahnya, cengkeram kuat di lehernya, dia sudah kehilangan keberanian.


"Ayah! Tolong lepaskan dulu!" Ibu meraih tangan ayah, mengusapnya perlahan. Tangan ibu terlihat bergetar. Wanita itu juga pasti ketakutan. Suaminya memang sangat sensitif jika berhubungan dengan Tuan Saga. "Dengarkan dulu Revan bicara, sekarang ayo duduk dulu."


Ibu berhasil membuat ayah melepaskan tangannya. Menarik tubuh tinggi dan besar ayah untuk jatuh terduduk di sofa. Revan membentulkan kemejanya yang berantakan. Menggeser duduk berlututnya, untuk berada di jarak aman. Suaranya tetap terdengar dengan jelas, tapi, dia juga aman dari jangkauan kaki ayahnya.


"Bicaralah Revan, jangan membuat ayahmu salah paham. Kau tidak mungkin membantah perintah atau melakukan kesalahan dalam bekerja kan?" Ibu masih menggenggam tangan suaminya. Inilah cara yang bisa dia pakai untuk melindungi putranya.


Deg.. deg...


Dada Revan bergemuruh, karena takut.


"Saya.. Saya mencintai seseorang wanita." Revan berhenti bicara. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi ayah dan ibunya.


Ibu menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan. Ayah bisa dengan cepat menguasai ekspresi, lalu dia tertawa kecil.


"Kau ini, kenapa membuat orang salah paham. Haha! Rupanya kau juga sudah jatuh cinta ya. Betul-betul, setelah Tuan Saga, Tuan Noah, Sekretaris Han, bahkan Dokter Harun kau juga pasti akan menyusul." Ibu tertawa kecil sambil memukul bahu suaminya. "Sebentar lagi akan ada menantu perempuan di rumah ini Yah. Siapa dia Revan? Siapa wanita yang sudah membuatmu yang biasanya bersikap tenang jadi setegang ini?" Masih terlihat tawa di bibir ibu. Wanita itu sudah merasa bahagia sepertinya. Karena selama ini memang tidak ada kabar apa pun perihal percintaan anaknya.


"Saya mencintai Jenika Bu, saya sangat menyukainya dan mencintainya."


"Hoho, ternyata namanya cantik sekali ya. Jenika." Ibu berhenti menunjukkan ekspresi ceria, ketika mulai menyadari nama siapa yang disebut Revan barusan. "Re, Revan, maksudmu bukan Nona Jenika?"


Revan yang malah tertunduk dan membisu menjadi jawaban dari semua pertanyaan ibu.


Ayah bangun dari duduk. Amarah langsung meluap di matanya. Kekurang ajaran apa ini pikir ayah.


"Kurang ajar! Beraninya kau memimpikan nona muda yang kau layani untuk jadi istrimu. Revan!"


Plak! Satu tamparan, plak dua tamparan menorehkan bekasnya di pipi Revan. Ayah mencengkeram kerah kemeja lagi. Menggoyangkan tubuh Revan sampai bergetar.


"Sikap kurang ajar apa yang sudah kau lakukan untuk membalas kebaikan Tuan Saga padamu dan keluargamu. Beraninya kau mencintai nona yang seharunya kau hormati dan kau layani."


Ibu menjerit memohon supaya ayah berhenti memukul Revan. Semakin frustasi karena bukannya lari, atau beranjak dari lantai Revan seperti pasrah mendapatkan pukulan dari ayahnya.


"Saya sudah berkencan dengan Jen!"


"Kau masih berani bicara!"


Plak! Bug!

__ADS_1


Revan mengerang kesakitan, jatuh meringkuk di lantai. Dalam posisi itu, ibu berlari, jatuh di depan putranya. Merentangkan tangannya. Memohon pada suaminya untuk berhenti.


"Tuan Saga sudah merestui kami!"


Tangan ayah yang sudah terangkat, terjatuh.


"Beliau bilang, aku boleh berkencan dengan Jen dan mencintai Jen!" Revan menjerit dengan lantang menyuarakan kemenangan. Ayahnya langsung membeku menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "Tuan Saga bilang, aku boleh mencintai Jen, ayah dengar itu! Aku pulang karena sudah mendapat restu dari Tuan Saga!"


Ah, sialan! Sakit sekali, apa ayah mau membunuhku! Kau pikir aku berani pulang, kalau aku belum bicara pada Tuan Saga.


"Sakit Bu."


Padahal dia sendiri sudah tahu, kalau ini yang akan dia dapatkan. Tangannya tidak patah sudah keberuntungan. Ayah, walaupun sudah pensiun, tapi tenaganya seperti tidak berkurang sama sekali. Dia yang jauh lebih muda saja kalah tenaga.


"Kalau ayah tidak percaya tanyakan pada Han!"


Ayah Revan masih mematung. Jadi ini maksud Sekretaris Han kemarin. Pesan yang membuatnya sedikit bingung. Sekarang terjawab sudah.


"Tuan muda berpesan, dengarkan Revan bicara, dan jangan berlebihan padanya." Itu pesan yang diberikan Tuan Saga melalui Han.


Deg.. deg...


Ayah berjalan ke sofa dan jatuh terduduk. Bagaimana bisa keluarganya bersikap sangat kurang ajar dan tidak tahu terimakasih seperti ini. Sebenarnya bagaimana aku mendidik dan membesarkan anakku, sampai dia bisa memimpikan memetik bintang milik Antarna Group. Ayah masih menundukkan kepala, merasa sangat malu.


"Ayah, ibu, tolong restui kami. Seperti yang dilakukan Tuan Saga. Saya dan Jen sudah mendapat restu dari Tuan Saga!"


"Kau benar-benar tidak tahu malu!"


"Saya dan Jen saling mencintai Ayah, kami saling menyukai."


Revan menyeringai sambil menahan sakit. Kepalanya sudah berpindah ke pangkuan ibu. Minta dibelai-belai. Heh! Memang ayah punya pilihan lain. Wajahnya lucu sekali saat shock karena mendengar Tuan Saga merestui kami. Masih sempatnya Revan mengejek ayahnya, sambil dia menahan sakit.


"Ibu, sakit Bu!" Revan merengek seperti bocah pada ibunya. Dia sudah bisa tersenyum walaupun kesakitan. Karena melihat ekspresi yang dibuat ayahnya. "Sakit Bu!"


Wajah ayah lucu sekali saat kalah dariku.


Restu yang diberikan Tuan Saga, membuatnya sebagai orangtua Revan tidak bisa melakukan apa-apa. Selain berterimakasih. Tapi, sungguh, dia malu sekali, bagaimana bisa anaknya begitu kurang ajar.


Ibu mendekati ayah yang masih terkejut.


"Suamiku, cinta kan terkadang aneh. Dia datang begitu saja tanpa bisa diprediksi, bukankah kau juga melihat Tuan Saga seperti itu. Dan sekarang, cinta itu menghampiri anak kita dan Nona Jen."


"Tapi, bagaimana bisa, kita..."


Ayah melihat Revan nyengir, sambil masih menahan sakit. Tapi bocah itu tertawa sambil mengusap bibirnya.


"Aku akan bertemu dengan Tuan Saga sebelum itu, jaga sikapmu."


Revan sudah merasa menang, karena tidak mungkin, ayah akan membantah kata-kata Tuan Saga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2