
Dedaunan di luar rumah utama terlihat silau ditimpa cahaya matahari siang. Panas udara cukup terik, membuat Erin sudah masuk ke dalam rumah setelah bermain sebentar di halaman tadi bersama suster dan para pelayan perempuan.
Sekarang, gadis kecil itu sudah ada di kamarnya.
"Erin sayang, ibu membawa camilan." Daniah masuk ke dalam kamar Erin. Disambut kesunyian. Dia celingak celinguk, tidak menemukan keberadaan putri cantiknya. Hanya ada sang suster. "Lho, Erin di mana ya? Erin, ibu bawa potongan buah kesukaan Erin. Nanti ibu habiskan kalau Erin nggak mau. Erin sayang!"
Suster menutup mulut, sambil menggelengkan kepala beberapa kali ketika Daniah bertanya melalui sorot mata maupun gerakan bibir. Suster tidak bisa menjawab Daniah karena sudah berjanji pada Erina tadi untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada ibu. Suster mendekapkan tangan di dada meminta maaf. Daniah tertawa sambil menggoyangkan jari telunjuknya beberapa kali. Sambil bicara dengan mata memicing.
"Kalian bersekongkol rupanya ya."
Suster semakin mengatupkan tangan.
Akhirnya Daniah menyerah mengorek info dari suster. Dia mencoba mencari keberadaan Erin di samping tempat tidur, tidak ada juga. Di belakang tirai jendela yang biasanya menjadi tempat favorit Erin bersembunyi juga tidak ada. Berjalan lagi ke sudut lain, tidak ada juga.
"Lho, sayang, Erin anak ibu, dimana ya?"
Sekarang Daniah kebingungan dalam arti sebenarnya, dia mencari di balik tumpukan boks mainan juga tidak ada. Dia menatap suster, untuk segera menyudahi petak umpet ini.
"Sus..."
"Nona Erin ada di kamar ini. Sungguh Nona." Suster mengatupkan tangan memohon, sambil melirik sebuah sudut. Ternyata yang dilirik suster adalah lemari boneka. Suster tidak bicara sesuai janjinya para Erina, dia hanya memberikan sedikit sinyal. Dan Daniah menangkap kode kecil yang di berikan suster.
Benar saja gumam Daniah, pintu lemari itu tidak tertutup. Bisa-bisanya aku melewatkan petunjuk sejelas itu. Jujur saja, Daniah sudah mulai sedikit panik tadi. Saat sudah tahu dimana keberadaan anaknya, bukannya mendekati lemari boneka, Daniah malah berjalan menjauhi. Dia menuju karpet tebal yang ada di tengah ruangan. Beberapa bantal yang biasanya dipakai Erin bermain rumah-rumahan menumpuk.
Terlihat jelas Daniah menekuk kakinya, seperti tersandung bantal. Membuatnya jatuh. Suster menjerit kaget, karena berfikir Daniah benar-benar terjatuh. Bukan hanya anaknya, kalau ibunya terluka saat dia sedang bertugas, Pak Mun pasti akan mencercanya dengan banyak pertanyaan. Berhadapan dengan Pak Mun saja membuat kakinya lemas, apalagi dengan Tuan Saga.
"Nona Daniah! Anda tidak apa-apa?"
Suster sudah duduk pasrah lemas di karpet di dekat Daniah. Jantungnya rasanya seperti mau jatuh karena saking kagetnya.
Sementara itu, langsung terdengar suara cadel sang pemilik kamar.
"Ibu! Ibu!" Suara kaget dari dalam lemari yang pintunya langsung tersibak. Gadis kecil yang tadinya cekikikan karena tempatnya bersembunyi tidak diketahui jadi terlihat sedih saat melihat ibunya jatuh. "Ibu, jatuh. cakit Bu?"
Daniah yang mau tertawa, jadi merasa bersalah melihat kesedihan anaknya. Dia sengaja jatuh supaya Erin muncul dengan sendirinya.
"Dede gimana? Ibu cakit? Dedek cakit?"
Suster menarik tumpukan bantal untuk bersandar Daniah, sementara Erin memegangi tangan ibunya. Sambil memeriksa perut Daniah, menyentuhnya dengan lembut sambil menempelkan telinga di atas perut. Raut wajah kecil yang khawatir pada ibu dan adik bayi yang ada dalam perut ibunya.
"Dede cakit Bu?"
Daniah mengusap kepala Erin, lalu merentangkan tangan minta dipeluk. Ibu yang sangat terharu melihat kepedulian anaknya itu jadi merasa bersalah. Dengan keisengannya.
"Ibu nggak papa sayang, Dedenya Erin juga nggak papa. Maaf ya, ibu kurang hati-hati. Sudah, jangan bersedih. Ibu tidak apa-apa."
Aaaaaa! Kenapa Erin makin lucu saja tingkahnya si! Daniah pun terkadang tidak bisa menahan serangan keimutan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Benal? Dedek nggak papa?" Erin mencium perut ibunya lagi. Daniah tersenyum lalu mengganguk beberapa kali. Dia menepuk tangan suster yang tadinya juga tegang. Wajah suster sudah kembali teraliri darah.
Maaf! Tadi aku niatnya hanya menjahili Erin! malah sus ikut ketakutan.
"Aku nggak papa sus, maaf sudah membuat mu kaget."
"Nona... kalau sedang mau bercanda tolong ajak saya, biar saya nggak ikutan kaget." Dengan sorot mata memohonnya. Sepertinya suster mulai menyadari kalau tadi salah satu keisengan Daniah.
"Haha, baiklah."
"Jantung saya seperti mau copot tadi."
"Haha, maaf, maaf."
Setelah semuanya tenang, mereka makan buah yang dibawa Daniah. Suster ikut makan beberapa potong dengan malu-malu. Tapi malah, selain menyuapi ibunya, Erin juga menyuapi suster dengan penuh kasih sayang dan semangatnya. Beberapa kali, garpu yang dia pakai menusuk buah meleset. Hingga harus dibantu Daniah.
"Erin, mau dedek perempuan seperti ibu, apa laki-laki seperti ayah?" Daniah membuka mulutnya saat buah stroberi tebang di depannya. Berpindah dari garpu yang dipegang Erin. Anaknya sedang menyuapinya. Mengeluarkan suara pesawat terbang juga lagi.
Kehamilan anak kedua Daniah membawa suka cita bagi semua orang. Hanya berjarak tidak lebih dari tiga bulan, sejak Aran positif hamil, gadis itu pun mulai mengalami perubahan aneh dalam tubuhnya. Apalagi saat dia tidak datang bulan. Semua orang menjadi yakin. Dengan hati berdebar, dia pun menjalani pemeriksaan. Dan benar saja, positif. Akhirnya, perjuangan Tuan Saga membuahkan hasil. Ehm, aku juga berjuang kok, meladeni Tuan Saga. Ujar Daniah mengulum senyum malu, mengingat apa yang dia dan suaminya lakukan demi kehamilan anak kedua ini.
Ditanya begitu, Erin langsung menjawab tanpa ragu.
"Mau cepelti ayah. Hehe." Erin yang selalu girang sendiri setiap kali membicarakan ayahnya. Cinta pertama Erin memang ayahnya. "Ayah tampan."
"Haha. Tahu saja Erin, kalau ayah tampan. Hayoo, siapa yang ngajarin ini?"
"Bibi Aran juga anaknya laki-laki seperti ayah, nanti dedeknya Erin banyak ya."
"Pelut bibi besal." Erin merentangkan tangan. Menggambarkan perut Aran yang sudah membesar. Selain karena usia kehamilan, juga karena bayinya kan kembar. "Ibu kecil."
Daniah tergelak, lalu menciumi pipi Erin karena gemas.
"Soalnya di dalam perut bibi ada dua dedek seperti paman Han. Jadi perut bibi besar." Daniah mengusap perutnya, kalau tidak diperhatikan dengan seksama, perutnya hanya sedikit membuncit. Ah, belum terlihat sebenarnya kalau dia memakai baju seperti sekarang. "Erin senang kan, nanti punya dedek seperti ayah dan paman Han."
"Hehe, cenang. Cenang."
Erin akan jadi kakak perempuan yang dikelilingi adik laki-laki. Membayangkan saja sudah menggemaskan pikir Daniah. Apalagi kalau semuanya menggelayut manja pada Erin. Hihi, Daniah terkikik senang sendiri dengan apa yang dia bayangkan.
Saat melihat Erin yang sedang menyuapi suster, lagi-lagi Daniah iseng bicara.
"Nanti, kalau dedek Erin lahir, sus ganti jagain dedek ya?"
Erin menjatuhkan sendok garpunya. Kaget. Lalu memeluk pinggang suster.
"Tidak boleh, cus punya Elin." Semakin erat Erin memeluk suster. "cus cama Elin aja." Daniah tidak bisa tidak tertawa. "Cali cus baru, Bu. Oke." Sambil mengangkat satu telunjuk, seperti orang memberi perintah. Erin semakin erat memeluk susternya.
"Hehe, ia Nona Erin. Ibu cuma bercanda kok." Sus ikut memeluk Erin dan mengusap kepalanya. "Lihat, ibu tertawa kan."
__ADS_1
Erin melihat ke arah Daniah, tawa ibunya membuat Erin berganti memeluk ibunya, sambil menciumi perut.
"Dede, nanti kita main. Cayang Dede."
Aaaaaa! Kalian ini ya, bahkan interaksi satu arah seperti ini saja sudah menggemaskan, apalagi kalau adik Erin nanti sudah lahir. Aaaaa! Daniah pasti dihujani tingkah gemas keduanya.
Kalau semua sesuai prediksi dokter, anak kedua Daniah adalah laki-laki, tentu saja Saga senang sekali saat mendengar kabar ini, walaupun masih agak sensitif kalau Han sedang menceritakan tentang anaknya yang kembar laki-laki. Anaknya memang laki-laki, tapi Han langsung punya dua anak laki-laki.
Saat sedang melanjutkan makan buah, hp milik Daniah berdering. Suster sigap bangun dan mengambil hp di atas meja.
"Tuan Saga yang menelepon."
Panggilan Vidio call. Erin langsung berebut layar, mau terlihat paling depan. Duduk di samping Daniah yang masih bersandar di bantal.
"Sayang..."
"Ayah! Ayah!"
"Wahh, kalian sedang bersama. Kekasih ku."
Daniah tergelak, suaminya sedang duduk di ruang kerja. Dia terlihat melepas jas.
"Niah, kau sudah makan?" Seperti biasa, yang ditanya ibunya duluan.
"Elin cudah!" Daniah mengusap kepala Erin dan tergelak lagi, karena anaknya menyambar pertanyaan. "Ayah, ibu jatuh."
"Apa?"
Deg, Daniah langsung panik, karena Saga langsung bangun dari duduknya. Terdengar suaranya yang keras bicara pada Sekretaris Han.
"Sayang! Sayang dengarkan aku dulu!"
Tapi sambungan telepon sudah terputus. Dan entah apa yang akan dilakukan Tuan Saga sekarang. Aaaaaaaa! Daniah sedang membayangkan kemunculan dokter dan semua peralatannya. Dan segala bentuk hal tidak masuk akal yang bisa saja terjadi.
Aaaaaa! Padahal aku sudah lama tidak melihat tingkah aneh Tuan Saga. Aaaaa! Tidak! Daniah menjerit. Dia iseng memikirkannya kemarin, dia kangen tingkah Tuan Saga yang di masa-masa dulu. Dengan segala keanehannya. Dia ingin melihat tingkah itu lagi.
"Tidak mungkin, aku benar bisa melihatnya sekarang kan."
Suster bingung ada apa ini pikirnya.
"Sus, panggil Pak Mun!"
Daniah ingin meminimalisir drama yang sebentar lagi akan terjadi. Sekretaris Han, ayo telepon Sekretaris Han.
"Ibu, ayah mana?" Erin yang masih ingin melihat ayahnya mulai merengek, sambil menggoyangkan hp.
Bersambung
__ADS_1