Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 53. Restu Dari Semua Pihak


__ADS_3

Gedung Antarna Group.


Sekretaris Han keluar dari lift, diikuti oleh Saga. Mereka baru saja mengunjungi salah satu anak perusahaan, untuk meninjau peluncuran produk baru. Melihat bagaimana tanggapan pasar pada produk itu. Penjualan pertama setelah produk launching bahkan diluar target yang ditetapkan. Mereka mendapat sambutan luar biasa.


Kasur busa dengan kualitas baik yang diproduksi secara masal sehingga bisa mengurangi modal produksi. Dijual dengan harga cukup terjangkau untuk kalangan menengah sampai ke bawah. Produk baru ini akan menjadi produk tahunan, yang akan diproduksi sekali dalam setahun. Saga terlihat puas dengan apa yang dia lihat hari ini. Bahkan masih membicarakannya di mobil saat dalam perjalanan menuju gedung pusat.


Di dalam lift dia juga masih memuji ide menjual kasur busa ini kepada masyarakat menengah ke bawah. Produk tahunan ini seperti bakti Antarna Group kepada masyarakat.


Saat sudah berjalan menuju ruangan, sudut mata Saga terlihat berkerut, dia mengingat sesuatu yang ingin dia katakan pada Han. Tentang ibu yang menyuarakan protesnya, kenapa dia menerima Revan untuk Jen. Dia sudah mau membicarakan ini, malah fokusnya teralihkan tadi saat meninjau produk baru.


"Han..."


"Ia Tuan Muda."


"Ibu mengeluh tentang Revan."


"Nyonya?"


Kalaupun nyonya mengeluh, sepertinya tidak akan menjadi batu sandungan yang berarti pikir Han. Baru saja mau menanyakan lebih lanjut, mereka sudah sampai.


Perkataan Saga tidak berlanjut, saat langkah kaki mereka sampai di depan ruangan, para staf perempuan sudah berdiri sambil menundukkan kepala. Saga langsung masuk ke dalam ruangan miliknya. Sementara Han berbalik menemui para staf. Salah satu staf melaporkan, ada tamu yang sudah menunggu sejak pagi tadi.


"Siapa? Tidak ada janji bertemu siapa pun hari ini."


Dan biasanya tidak akan ada yang bersikeras menunggu tanpa membuat janji bertemu, karena mereka akan langsung terusir begitu Sekretaris Han muncul. Sekretaris Han tidak perduli dengan alasan yang mereka buat. Tuan Saga tidak dapat ditemui, tanpa janji terlebih dahulu.


"Maafkan saya Tuan, saya sudah memintanya untuk membuat janji bertemu terlebih dahulu, tapi beliau bersikeras menunggu Tuan Saga." Takut-takut, staf wanita menjelaskan.


"Siapa?" Sambil terdengar helaan nafas, yang membuat tengkuk staf wanita merinding.


"Beliau mantan kepala keamanan Antarna Group. Beliau bilang, beliau ayah Tuan Revan." Aaaaaa! Kenapa sekretaris Han jadi menyeramkan lagi si, padahal akhir-akhir ini bicaranya sudah tidak sedingin ini. Staf wanita yang tidak bisa protes bahkan pada dirinya sendiri, karena memang dia yang salah.


Paman, gumam Han. Padahal paman orang yang paling tahu aturan apa yang berlaku jika ingin bertemu dengan Tuan Saga. Tapi Han bisa menebak dengan pasti, apa tujuan laki-laki itu datang tanpa pemberitahuan seperti ini. Rasa bersalah paman, karena anaknya sudah melakukan hal tidak sepantasnya.


"Layani beliau, aku akan menyampaikan pada Tuan Saga."


Staf itu menundukkan kepala, dan Sekretaris Han, menghilang di balik pintu ruang kerja Tuan Saga. Tidak begitu lama, pintu ruang kerja Saga terbuka lagi, dan Sekretaris Han keluar menuju ruang tunggu.


Dia berjalan dengan cepat sambil pikirannya terbang ke mana-mana.


Sebenarnya apa yang dipikirkan para orangtua. Hah! Aku juga kan mengalaminya, Sekretaris Han tergelak kecil. Dia juga melewati perjuangan mencari restu orangtua saat menikahi Aran. Apa semua orangtua akan seperti ini pada anaknya ya. Ya, dia bahkan menghadapi ibu yang membencinya. Tapi, kalau dipikir-pikir perjuangan Revan tidaklah terlalu berat, karena restu Tuan Saga sudah dia kantongi. Nyonya juga pasti akan menyerah dengan mudah, bahkan pada Nona Daniah saja dia tidak bisa menang, apalagi kali ini. Paman juga pasti begitu, kalau Tuan Saga sudah memutuskan.


Ya, ya, Nona Jen dan Revan, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan.


Saat membuka pintu ruang tunggu, aura suram langsung menyambut Sekretaris Han. Ayah Revan memancarkan aura penyesalan. Padahal dia sudah menghajar anaknya, tapi dia tetap masih merasa bersalah pada Tuan Saga.

__ADS_1


Sekretaris Han tidak banyak bicara, hanya memberi hormat, dan meminta ayah Revan untuk mengikutinya.


...🍓🍓🍓...


Di ruangan Presdir Antarna Group.


Saga menatap paman yang masih tertunduk, aura suram masih terpancar dengan jelas. Menunjukkan perasaan paman yang sebenarnya.


"Aku akan mengundang paman dalam waktu dekat, tapi ternyata, malah paman datang dengan cara begini."


Deg, ayah Revan paham maksud kata-kata Saga. Dia datang tanpa membuat janji, dan memaksa bertemu. Menunggu Tuan Saga hanya itu cara yang dia pakai, kalaupun Tuan Saga tidak mau menemuinya, dia akan pulang setelah sore datang. Karena dia terlalu malu, untuk meminta izin bertemu.


"Maafkan saya Tuan, karena saking merasa malunya pada Anda dan Tuan besar, saya benar-benar merasa malu." Tangan laki-laki yang sudah menua itu basah oleh keringat dingin. "Saya malu sekali pada tuan besar, karena tidak bisa mendidik anak saya dengan baik."


Saga bisa merasakan, suara yang bergetar dari bibir ayah Revan. Penyesalan karena menjadi orang yang serakah. Padahal dia sendiri tidak pernah berfikir sejauh itu. Situasi ini mirip sekaligus tidak mirip gumam Saga, saat Gunawan berlutut di depannya memintanya membantu perusahaannya. Saat hari itu dia melihat foto Daniah pertama kali.


Kenapa aku malah teringat kejadian itu, Saga menyentuh keningnya dengan telapak tangan. Membuat Han sedikit bereaksi, karena berfikir Saga tidak suka paman yang meminta maaf.


"Kenapa?"


Paman mengangkat kepalanya. saat pandangan mereka bertemu, paman segera mengalihkan perhatian.


"Apa paman meragukan penilaian ku."


Deg...


Katanya, dulu paman preman pasar miskin sebelum bertemu dengan ayah. Tidak tahu bagaimana cara mereka bertemu, tapi ayah memang menyelamatkan keluarga paman. Saga bisa melihat, airmata ketulusan yang menetes dari setiap rasa bersalah yang tersampaikan lewat kata-kata paman. Dan Saga pun melihat itu dalam diri Revan. Sejak pertama kali mereka bertemu.


"Paman yang memberikan Revan padaku kan? Sudah lama sekali sejak hari itu kan."


Paman mengganguk, masih dengan kepala tertunduk.


"Ibu bilang, Revan tidak pantas untuk Jen. Sama seperti yang paman katakan sekarang." Saga melihat Han. "Tapi, apa paman tahu, aku selalu iri pada Han dan orang-orang seperti Revan dan Jen."


Sudut mata Han berkedut, saat mendengar kata-kata Saga. Laki-laki itu terlihat sangat penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Saga.


Paman mendongak sedikit, menunggu apa yang akan dikatakan Saga.


"Aku iri, pada mereka yang menikah karena cinta. Karena aku tidak menikah dengan landasan cinta itu." Rasanya malu. "Cih, kenapa aku malah membuat pengakuan menggelikan begini untuk menghibur paman." Saat melihat Han, laki-laki itu tersenyum lalu mengganguk penuh kebanggaan. "Apa! Dasar sialan! Kau mau menyombongkan diri karena menikah dengan wanita yang kau cintai!" Melihat senyum Han, entah kenapa membuat Saga kesal.


Han malah mengulum senyum tipis lagi. "Yang penting, sekarang Anda dan Nona Daniah kan saling mencintai, itu kan yang paling penting Tuan Muda, apalagi sekarang, ada buah cinta kalian yaitu Nona Erina."


Saga melengos.


"Tentu saja, sekarang kami pasangan saling mencintai, dan aku lebih dulu punya Erina. Cih, jangan sombong kau Han."

__ADS_1


Han tergelak dalam hati, padahal dia sendiri tidak pernah menyombongkan diri. Anda saja yang selalu kesal kalau mengungkit itu.


Melihat pertengkaran kecil itu, paman ikut tersenyum. Tuan Saga yang dulu dia layani, dan Tuan Saga yang sudah menjadi suami dan ayah sungguh seperti dua orang yang berbeda.


"Maafkan saya Tuan Saga, maafkan saya karena sudah bersikap tidak sopan." Paman langsung bicara, saat Saga melihat ke arahnya. "Kalau Anda memang sudah memutuskan begitu, maka saya akan mematuhinya."


Hah! Sudah kubilang, jalan Revan dan Nona Jen memang seperti jalan bebas hambatan gumam Han.


"Paman, kalau Revan membuat Jen menangis, aku yang akan menghajarnya sendiri. Paman tidak keberatan kan?"


"Revan sudah menjadi milik Antarna Group sejak saya membawanya pada Anda, Anda Tidak perlu bertanya. Dan kalau sampai Revan berani kurang ajar, saya sendiri yang akan menghukum anak itu."


Saga tergelak, tidak ada yang berubah dari paman. Laki-laki yang dulu memegang tampuk tertinggi tim keamanan Antarna Group, sampai hari ini masih terlihat gagah. Saga meraih tangan kasar dan lebar milik paman, laki-laki itu terperanjat kaget.


"Tinggallah untuk makan malam paman."


"Ba.. baik Tuan Saga."


Hanya dengan satu kalimat dari Saga, bahkan kalau Revan dan Jen ingin menikah esok hari, bisa jadi semua akan terlaksana. Tapi tentunya, Saga tidak akan semudah itu memberi jalan bagi Revan. Dia akan memberi kesempatan Revan dan Jen memutuskan sendiri, masa depan yang akan mereka ambil.


Penutup


Kejadian di rumah utama, saat ibu bicara dengan Saga. Ibu sengaja bicara bukan di ruang kerja, berdua dengan anaknya. Tapi ibu bicara saat Saga sedang bersama Erina cucunya dan Daniah istrinya. Kenapa ibu melakukan itu, karena ibu yakin, Saga tidak akan marah dan tersinggung. Atau paling tidak, anaknya tidak akan menunjukkan kemarahannya secara terang-terangan. Dan benar saja, cucunya yang menggemaskan, yang duduk di pangkuannya saat dia menyuarakan protes hanya melahirkan helaan nafas Saga.


Tapi tetap saja, ibu berdiri di depan pintu dengan wajah cemberut.


"Tidak hanya Jen, kamu juga, semua memakai senjata Daniah untuk menjatuhkan ibu, Hah! Sudahlah, kalau kau sudah memutuskan, ibu mau apa lagi."


"Nene, malah..malah..." Celotehan Erina langsung membuat ibu tertawa.


"Haduh cucu nenek, siapa yang marah. Muah, muah. Lucunya, pintarnya Erina."


Dan akhirnya ibu tidak jadi pergi dengan wajah cemberut, karena cucu kesayangannya. Ibu malah menggendong Erina keluar, disusul suster Erina.


Meninggalkan kedua orangtuanya berdua.


"Sayang, ibu lucu sekali." Daniah mengecup bibir suaminya. "Mirip dengan mu. Hihi."


Dipancing begitu, tentu saja Saga tidak melewatkan kesempatan. Dia langsung menerjang, dan memakan tanpa jeda, bibir mungil yang berteriak meronta-ronta itu.


"Ayo buat adik untuk Erina."


"Sayang!"


Suster yang tadinya mau kembali mengambil mainan Erina, langsung menutup pintu. Deg.. deg, jantungnya langsung berdebar kencang. Untung hanya terdengar suaranya. Aaaaaaa! Dia menjerit tanpa suara, berlari menuju kamar nyonya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2