Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 47. Masalah Beres


__ADS_3

Perasaan cinta Revan pada Jen memang setulus itu, tapi apakah bisa menumbangkan kuatnya pondasi kesetiaan paman. Yang menganggap Saga sebagai tuan yang ia layani dan harus dia hormati.


Sebenarnya kalau Saga memberi isyarat melalui gerakan tangan saja. Semuanya pasti beres. Paman akan menundukkan kepala dan melakukan apa pun yang diputuskan Saga. Tapi, tidak seru kan, kalau Revan tidak melewati ujian ayahnya sendiri.


Jadi Saga tetap pada pendiriannya.


"Dapatkan restu dari paman dan temui aku lagi nanti." Kata-kata Saga yang langsung menumbangkan permohonan Revan. Ternyata berlututnya dia, tidak bisa meluluhkan hati Saga untuk membantunya menghadapi ayahnya.


"Anda kan tahu saya bisa saja tidak kembali dalam keadaan utuh, ayah pasti menghajar saya karena kekurangajaran saya ini."


Revan menunjukkan aura terpidana mati yang pasrah dan tidak berdaya membuat Saga bukannya iba, malah tertawa mengejek. Memang apa urusanku, dengan entengnya Saga bicara merespon tatapan memelas Revan.


"Jen pasti akan bersedih kalau melihat saya patah tangannya, saya mohon Tuan." Sampai membawa nama Jen segala. Segala upaya sedang diusahakan Revan, agar mendapat memo khusus dari Tuan Saga, menghindari amarah ayahnya.


Tapi, Saga tetap cuma mengangkat tangannya, membuat Revan menyerah. Karena dia juga akan merasa sangat kurang ajar, kalau dia memohon lebih dari ini. Mendapatkan restu dan kepercayaan dari Tuan Saga semudah ini saja sudah menjadi anugrah terindah untuk Revan.


Lucunya, Saga bergumam saat mobil sudah memasuki gerbang utama. Lampu taman yang menyala dengan terang, menghiasi bunga yang bermekaran di malam hari. Sudah cukup larut mereka kembali ke rumah utama. Terlihat penjaga malam menundukkan kepala saat mobil Saga melintas di depan mereka.


Baiklah, aku akan membantumu sedikit, untuk membayar keberanianmu bicara di depanku hari ini.


Saga pada akhirnya turun tangan.


"Han..."


"Ia Tuan Muda."


"Katakan pada paman untuk jangan berlebihan."


Sepenggal kata itu, sudah membereskan semua masalah Revan.


"Baik Tuan Muda."


Han sedikit merasa kecewa sebenarnya, karena dia ingin melihat drama restu ini juga dihadapi Revan. Sama sepertinya dulu yang memperjuangkan restu orang tua Aran. Ah, walaupun mendebarkan, tapi itu menjadi semacam tali pengingat bagi Han. Bahwa tidak mudah dia mendapatkan restu orangtua istrinya, hingga menjadi pegangan baginya untuk tidak mengecewakan kedua mertuanya.


Mobil berhenti di depan pintu rumah utama. Han sudah membuka pintu belakang, Saga pun keluar. Udara malam langsung menyergap wajah, mengalirkan hawa dingin.


"Hemm."

__ADS_1


Saga menunggu apa yang mau dikatakan Han, ketika laki-laki itu bukannya beranjak pergi tapi malah meminta izin bicara.


"Tuan Muda, tolong segera bicara dengan Nona, perihal adik untuk Nona Erina."


Siing!


Angin yang lewat rasanya jauh lebih kencang dan dingin dari yang tadi ketika mereka turun dari mobil. Bercampur dengan rasa kesal Saga yang tiba-tiba menguar, karena diingatkan lagi hal menyebalkan itu.


"Enyah kau sana, beraninya kau menyuruhku." Menendang kaki Han.


Aku pikir dia mau bicara apa!


Han tersenyum dan menundukkan kepala, melihat Saga yang kesal. Lalu saat Saga dan Pak Mun berlalu masuk ke dalam rumah dia baru masuk ke dalam mobilnya. Sambil bergumam. Aku kangen Aran. Aku juga harus fokus dan bersemangat juga kan, ehm, biar Aran segera hamil juga. Dia melajukan mobil dengan kecepatan penuh setelah keluar dari jalanan komplek rumah utama. Dia ingin segera sampai ke rumah, Aran pasti sedang menunggunya di tempat tidur dengan baju tidur seksinya.


Sementara itu, kembali pada Saga


Walaupun aku mengulur waktu, tapi aku memang tetap harus membicarakannya pada Niah. Kalau bukan kemarin, hari ini atau besok. Saga menghela nafas saat menaiki tangga. Pak Mun yang sedang menyampaikan informasi mengenai seharian ini yang terjadi di rumah terdiam karena mendengar Saga menghela nafas. Pak Mun berfikir kalau Saga tidak berkenan dengan isi laporannya.


"Teruskan Pak."


Jadi Revan memohon melalui aku, dan Jen menyerang kakak iparnya. Dasar, dua bocah itu ya. Seperti sudah mau menikah saja kalian ini.


"Hemm baiklah, istirahatlah Pak."


"Baik Tuan Muda, selamat malam dan selamat istirahat."


Saat Saga sudah masuk ke dalam kamar, Pak Mun berhenti sejenak. Berfikir, apa dia melakukan kesalahan, apa ada laporannya yang salah mengenai nona. Karena helaan nafas Tuan Saga begitu keras tadi. Sampai Pak Mun selesai mengecek semua hal malam ini, dia masih terlihat tidak tenang.


Daniah sedang ada di kamar Erina, karena saat masuk ke kamar, Saga tidak melihat keberadaan istrinya itu. Laki-laki itu memilih langsung masuk ke kamar mandi. Sekitar setengah jam sepertinya dia mandi, saat keluar, Saga mendapati Daniah yang sedang berdiri di depan lemari pakaian. Mau berganti baju tidur.


"Sayang sudah selesai mandi?" Daniah menoleh sebentar, lalu melihat ke gantungan baju lagi. Malam ini mau memakai warna apa ya, dia sedang memilih baju yang mau dia pakai.


Sedang kebingungan memilih warna, sampai tanpa sadar Daniah mengacuhkan Saga.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Saga langsung memeluk Daniah. Tangan gadis itu terlepas dari gantungan baju. Menggeliat tertawa saat suaminya menciumi pipinya.


"Sayang, hentikan, keringkan dulu air di tubuhmu."

__ADS_1


Bukannya berhenti, malah semakin aktif baik bibir maupun tangannya.


"Aku merindukanmu Niah." Masih kecup-kecup di sana sini, tetesan air dari rambut Saga bahkan menempel di pipi Daniah. "Ah, harumnya Niah, aku menyukainya."


"Sayang, kau yang harum, kan kamu yang habis mandi. Haduh, keringkan dulu rambutmu sayang." Daniah menarik handuk yang digenggam Saga. Dia goyangkan handuk di rambut, sampai airnya Menyiprat kemana-mana. "Kau lelah ya? kau sudah bekerja keras sayang." Daniah menjinjit, lalu mengecup bibir Saga.


Namun kecupan itu malah hanya memantik hasrat suaminya, mereka akhirnya berciuman cukup lama di depan lemari pakaian. Setelahnya, Daniah yang mau mengambil baju tidur di tepis tangannya.


"Kau tidak perlu memakai baju." Langsung menggendong Daniah dalam pelukan. Bahkan handuk yang dipakai Saga terlepas saat dia berjalan ke luar ruang ganti. Jatuh begitu saja ke lantai. Tetesan air mengering dengan sendirinya, bergesekan dengan baju yang dipakai Daniah.


Daniah panik, karena malam ini ada hal penting yang mau dia bicarakan pada suaminya. Tapi, kalau dia sudah diserang seperti ini, mana ada celah lagi dia untuk bicara.


"Sayang, sayang dengarkan aku dulu. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan tentang Jen."


Keduanya sudah ambruk di tempat tidur. Saga memeluk Daniah, kakinya sudah terangkat naik di paha Daniah. Dan Saga yang tidak memakai sehelai pun pakaian baru disadari Daniah. Gadis itu menjerit dengan wajah memerah lalu menarik selimut. Saga tertawa sambil berbisik "Padahal kau selalu menikmati saat aku tidak memakai baju, tapi masih pura-pura malu."


"Sayang!" Semakin merah saja wajah Daniah karena di goda seperti itu. "Dengar dulu sayang, ada yang mau aku bicarakan."


"Kenapa? tentang Revan?"


"Lho sayang, kamu sudah tahu."


"Sudah kan."


Maksudnya, sudah tidak ada yang perlu dibahas kan? Aku juga sudah tahu Revan dan Jen. Dan masalah beres, begitu arti kata sudah kan yang diucapkan Saga.


Saga menarik tali baju Daniah sampai terlepas, menarik baju itu ke atas kepala, dan membuangnya entah kemana. Dalam sekejap dia sudah membenamkan wajah di area kesukaannya.


Daniah pun hanya menghela nafas pasrah, sepertinya tidak ada yang perlu dia bicarakan lagi tentang Jen dan Revan, karena sepertinya suaminya sudah tahu semua. Dan kalau Tuan Saga sudah tahu, artinya masalah beres kan. Gumam Daniah mulai menikmati sentuhan tangan dan bibir di tubuhnya.


"Sayang!"


Lidah yang menari di atas dada, membuat Daniah tidak fokus lagi, pikirannya melayang. Merasakan sentuhan tangan dan bibir suaminya di sekujur tubuhnya.


Perihal adik untuk Erina masih sedikit tertunda lagi. Aku akan bicara setelah ini gumam Saga sambil mencium leher Daniah dan meneruskan apa yang harus dia teruskan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2