
Ternyata malam panjang Saga dan Daniah belum berakhir begitu saja, ketika hasrat satu sama lain selesai tersalurkan. Mereka belum memejamkan mata. Di bawah selimut, tanpa sehelai pakaian, mereka masih berpelukan menghangatkan tubuh satu sama lain. Udara malam yang dingin menelisik, semakin membuat mereka merapatkan tubuh.
Baiklah, sekarang waktunya aku bicara.
Saga membelai rambut Daniah, menciumi pipi istrinya. Terdengar gumaman pelan dari mulut istrinya. Daniah memang masih terjaga, tapi dia malas bicara karena kehabisan energi meladeni Saga. Kesadarannya belum sepenuhnya hilang. Tapi dia tidak mau membuka mata atau pun mulutnya. Dia masih bisa merasakan sentuhan tangan dan bibir Saga di tubuhnya.
"Niah..."
Daniah bereaksi dengan gumaman, dan mengangkat tangannya, mengusap dada Saga yang telanjang. Masih tidak bicara apa pun. Aku ngantuk, begitu ekspresi matanya yang mengecil. Kalau aku bicara, bisa-bisa kami tidak jadi tidur kan, begitu yang ditakuti Daniah. Terkadang hanya dengan gerakan atau suara pelan saja, kantuk suaminya bisa hilang, dan akan panjang urusan kalau dia sudah tidak mengantuk.
Saga melihat mata Daniah, lalu dia tertawa karena tahu istrinya mengantuk. Tapi, dia tidak mau menundanya lagi. Harga dirinya seperti tercoreng, kalau nanti Han bertanya, dan jawabannya masih belum. Belum bertanya tentang kesiapan Daniah istrinya untuk hamil anak kedua.
Sialan! Kau bisa berlagak karena belum melihat istrimu melahirkan Han, kalau kau sudah tahu, sekali saja, kau pasti juga trauma sepertiku.
Rasa tidak terima Saga, kalau Han mengalahkannya dalam hal yang sangat penting ini. Dia juga ingin melihat laki-laki itu gemetar ketakutan saat istrinya melahirkan nanti. Satu lagi, Saga juga ingin melihat Han direpotkan istrinya perkara ngidam. Banyak sekali permintaan Anda, tuan muda.
Ehm, Saga berdehem. Lalu mengusap kepala Daniah lagi. Menyuruhnya tetap terjaga. Dia cium-cium mata istrinya supaya mata itu terbuka dan Daniah mendengarkan apa yang mau dia katakan.
Haha, lucunya, mata Niah jadi mengecil.
"Niah, apa kau mau memberi Erina adik?"
Seperti dibantu Tuhan, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Saga. Pertolongan Tuhan telah membuat Saga mengucapkan pertanyaan yang selama ini tersangkut di tenggorokannya.
Daniah langsung membuka matanya dengan lebar. Mengerjap beberapa kali. Memastikan kalau dia tidak salah dengar, dengan apa yang diucapkan Saga barusan. Entah energi apa yang menerbangkan rasa kantuk, dia sepenuhnya sadar sekarang.
"Sayang?"
Suami yang masih trauma karena melihat istrinya melahirkan, tiba-tiba tidak ada angin lewat membicarakan tentang kemungkinan anak kedua. Kantuk di mata Daniah rasanya langsung menghilang begitu saja. Ada apa ini batin gadis itu, aku tidak salah dengar kan. Gadis itu masih tidak percaya dengan pendengarannya. Hingga dia memastikan ulang.
__ADS_1
"Sayang, tadi kau bilang, adik untuk Erin kan?"
Hah! Kau bahkan tidak percaya, saking tidak mungkinnya aku bicara begitu.
Saga tersenyum, lalu mengecup bibir Daniah dua kali.
"Apa kau mau hamil lagi, anak kedua kita?"
Keputusan akhir akan Saga berikan pada Daniah, untuk mengambil keputusan, kalau memang jawaban Daniah ia, dia akan melakukannya. Kalau Niah tidak mau, Saga juga tidak akan memaksakannya. Saga yang biasanya tidak pernah berkompromi dalam hal apa pun, apalagi melakukan yang orang lain putuskan untuknya, tapi kali ini, dia akan melakukan apa pun yang diinginkan Daniah.
Karena rasa sakit melahirkan itu yang menanggung adalah Daniah. Dia hanya bisa berada di samping istrinya untuk memberi dukungan. Makanya dia menyerahkan pada istrinya keputusan berat ini.
Mata Daniah mulai dipenuhi antusias.
Aku tidak salah dengar berarti. Daniah seperti mendapat suplai energi entah dari mana asalnya. Tuan Saga tidak pernah mau membicarakan perihal anak dan kehamilan lagi. Dia selalu mengalihkan pembicaraan kalau Daniah mencoba membicarakan tentang adik Erina.
Ada apa dengannya tiba-tiba? Daniah mencoba menduga-duga.
Saga mengusap rambutnya, dia masih terlihat ragu dan takut. Tapi dia harus mengatakannya sekarang.
"Apa kau mau?"
Daniah sendiri tidak pernah bilang tidak mau, dia mau, walaupun sakit tapi karena rasa sakit melahirkan akan langsung lenyap saat bayi melihat dunia, seperti kesusahan itu hilang begitu saja, berganti kebahagiaan. Makanya dia tidak pernah merasa trauma. Dia masih mendambakan momen menegangkan itu.
"Sayang, apa aku boleh tahu, kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran." Daniah menarik selimutnya yang melorot, menutupi dadanya lagi. "Apa karena Erin perempuan?"
Tentu saja karena dia perempuan. Tapi bukan karena dia perempuan dia tidak pantas menjadi penerus keluarga. Tapi karena aku terlalu menyayanginya, dan tidak mau dia menanggung beban berat Antarna Group di pundaknya. Begitulah alasan utamanya. Yang beberapa hari ini menghantui Saga.
"Karena dia semakin lucu dan mirip denganmu, aku tidak mau di menanggung beban berat di pundaknya. Kau tahu kan maksudku?"
__ADS_1
Posisi Presdir Antarna Group. Posisi yang terlalu berat untuk ditanggung Erina nanti. Begitulah, ketika dipikirkan semakin kenyataan itu membuka mata Saga. Kalau dia harus memiliki penerus laki-laki. Bukan karena Erina tidak mampu, namun dia yang tidak mau membebani putri kesayangannya.
"Sayang, kau memang ayah yang luar biasa, kau sudah memikirkan sampai ke sana juga." Daniah setuju dengan apa yang Saga pikirkan. Dia pun dihantui kecemasan yang sama dengan suaminya. Erina yang manis dan menggemaskan itu. Memikirkannya saja Daniah sudah takut.
"Niah, apa kau bisa menanggung rasa sakit yang sama seperti waktu itu? Aku masih takut kalau harus mengalami kejadian seperti saat itu. Kau yang berjuang antara hidup dan mati dan aku tidak bisa melakukan apa pun."
Dia masih takut gumam Daniah, Daniah menarik tangan suaminya. Memeluknya. Tubuh yang selalu percaya diri itu bergetar sesaat, sepertinya kejadian saat Erina lahir terbayangkan dipikirannya lagi saat ini.
"Sayang, kau kan ada menemaniku. Asalkan kau bersamaku aku pasti akan berjuang seperti waktu itu. Katanya yang kedua sudah tidak terlalu sakit kok." Katanya, entah kata siapa, tapi sepertinya Daniah pernah mendengarnya. Semoga itu benar adanya.
Mimik wajah Saga tidak terlihat sama sekali kalau dia percaya dengan apa yang diucapkan Daniah.
"Benar, sepertinya aku pernah membaca di buku sayang. Nanti aku juga akan bertanya pada dokter." Tangan kecil Daniah menyentuh pipi suaminya. "Mari lakukan yang terbaik sayang, semoga Tuhan memberikan adik untuk Erina, adik laki-laki yang setampan dan sekeren ayahnya."
Saga sudah tersenyum senang, wajah suramnya menghilang saat mendengar pujian istrinya.
"Aku akan mencari tahu tentang metode melahirkan yang terbaik, supaya kau tidak kesakitan lagi. Kau mau ngidam apa pun akan aku lakukan. Aku akan melakukan apa pun itu Niah."
Mendapatkan perhatian semacam itu sudah membuat Daniah yakin untuk menjalani kehamilan keduanya. Gadis itu tertawa, saat Saga mengulang janjinya dengan berapi-api, kalau dia boleh ngidam dan minta apa pun.
Haha, lucunya Tuan Saga. Daniah mengecup bibir suaminya.
"Kalau begitu, ayo kita mulai sekarang."
"Sayang!"
"Haha, aku bercanda."
Saga membekap tubuh Daniah dalam pelukannya. Masih sempat menciumi pipi dan leher Daniah sebelum mereka terlelap. Wajah Saga terlihat jauh lebih tenang saat jatuh tertidur. Masalah terpentingnya sudah bisa diselesaikan.
__ADS_1
Kenapa aku setakut ini, padahal Niah saja senang. Gumamnya sambil tenggelam dan jatuh dalam mimpi.
Bersambung