Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 56. Ayah Datang Erin Senang


__ADS_3

Kejadian hari itu masih berlanjut, Erin yang sebenarnya tanpa maksud apa-apa, mengatakan pada ayahnya kalau "Ibu jatuh." Aduan Erin yang mungkin sebatas ocehan karena senang bicara pada ayahnya, menjadi panjang urusannya.


Kenapa? kenapa lagi, karena ayahnya adalah Tuan Saga. Tuan Saga yang jauh lebih protektif ketika kehamilan Daniah dikonfirmasi.


Haru ini Saga bahkan sampai memberi perintah pada Han, untuk pesawat jet stand by, jika keadaan benar-benar darurat. Dia takut, harus membawa Daniah ke luar negri. Wajahnya sudah memerah saking tegang dan terbawa pikiran dan ketakutannya.


Sementara itu, Sekretaris Han sudah menghubungi Dokter Harun, untuk membawa dokter kandungan, perawat dan peralatan yang dibutuhkan. Mereka diperintahkan segera meluncur begitu sambungan telepon terputus. RS yang sudah lama tidak menghadapi telepon darurat seperti Dejavu dengan masa lalu.


Dan sekarang, sedang dalam perjalanan menuju rumah utama. Tuan Saga sudah duduk di kursi belakang mobil miliknya. Sementara Han, melirik kaca spion sekilas sebelum pandangannya lurus ke depan lagi.


Di kursi belakang, Saga sedang berfikir serius.


Ini salahku, aku yang meminta Niah untuk hamil anak kedua kami. Seandainya aku tidak memohon padanya, kalau saja dia tidak hamil pasti Niah tidak akan kesusahan. Tidak! Tuhan, aku mohon jangan, jangan terjadi apa pun pada Niah dan calon anak kami. Sambil menyandarkan kepala, Sapuan tangan membasuh wajah Saga yang dihantui ketegangan.


Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Niah, bagaimana kami bisa hidup tanpa Niah. Saga segera membuang jauh pikiran buruk yang menjalar sampai bagaimana Erin tanpa ibunya. Wajahnya menjadi sangat pias. Karena perasaan takut itu tidak pergi.


"Tidak! Semua pasti baik-baik saja. Niah sangat kuat. Dia pasti bisa." Akal sehatnya berusaha mengajak Saga berfikir waras.


Yang melirik dari kursi di belakang kemudi menunjukkan rasa bersalah, karena sudah membuat Tuan Saga merasa tidak nyaman.


Tapi...


Hah! Sudahlah, toh nanti Tuan Saga akan melihat Nona Daniah baik-baik saja. Akhirnya Han memutuskan untuk membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut seperti ini saja.


Karena, meluruskan kesalahpahaman Tuan Saga, pasti hanya akan menimbulkan kemarahannya. Begitulah akhirnya, Sekretaris Han mengikuti semua drama yang dibuat Tuannya. Sekretaris Han sendiri sudah mendapatkan informasi yang sebenarnya dari Pak Mun.


Penjelasan singkat dari Pak Mun yang ditangkap Sekretaris Han ketika dia sudah menghubungi dokter tadi.


"Nona Daniah tidak apa-apa. Tadi nona, sedang bermain dengan Nona Erina, dan bercanda pura-pura jatuh. Jadilah seperti ini." Tapi, Pak Mun menambahkan, kalau dia sudah menyiapkan apa yang diminta Sekretaris Han. "Tuan muda pasti sangat cemas, apa kau bisa meluruskan informasi yang sebenarnya." Pak Mun tidak mau kepanikan ini berbuntut pada banyak hal. Sekretaris Han mengiyakan sekedarnya lalu menutup panggilan. Tapi pada akhirnya, dia tidak memberitahu Saga.


Sebenarnya ini kejadian sangat lucu. Gumam Han, tapi karena berhubungan dengan Tuan Saga, jadi tidak lucu sekarang.


Nona, apa Anda sudah lupa bagaimana watak suami Anda, Sekretaris Han berdecak sendiri. Dalam situasi normal saja, kekhawatiran Tuan Saga bisa naik seratus kali lipat jika Anda terluka, apalagi sekarang, Anda sedang hamil. Kehamilan yang sudah sangat dinantikan lagi. Sekretaris Han melirik lagi, sebenarnya dia merasa bersalah melihat kecemasan di mata Tuan Saga. Tapi mau bagaimana lagi pikirnya.


Jalanan cukup lengah, dengan menambah sedikit kecepatan saja, mobil yang mereka tumpangi sudah jauh meninggalkan gedung Antarna Group.


Sekretaris Han melirik kaca spion untuk ketiga kalinya, dia semakin tidak tega melihat kegelisahan Tuan Saga.


"Han, lebih cepat lagi. Aaaa, kenapa bisa seperti ini. Bagaimana Niah dan bayi kami Han? Dokter sudah sampai?" Pertanyaan satu belum dijawab, sudah bertanya lagi dengan pertanyaan selanjutnya. "Aku memang tidak boleh meninggalkan Niah sendirian." Sudah terbersit ide, untuk bekerja dari rumah. Ini yang dipikirkan Saga. Supaya dia bisa menemani istrinya dalam segala situasi. "Aku khawatir sekali, semuanya baik-baik saja tadi pagi. Kenapa dia bisa jatuh? Memang tidak ada yang bersamanya? Memang kemana semua orang?"


Han bisa membayangkan, kalau dia mengatakan situasi sudah terkendali, laki-laki yang duduk dengan segala kekhawatirannya itu bukannya tenang, malah akan meledak marah.


"Dokter pasti lebih dulu datang dari kita Tuan."


"Suruh mereka segera bergegas! Lakukan pemeriksaan darurat. Kalau harus di bawa ke RS tidak perlu menungguku, kita langsung ke RS. Pesawat sudah siap."


"Baik."


Saga menghela nafas, memukul kaca mobil di sampingnya, sambil mencercau entah apa. Semua itu dilakukan Tuan Saga untuk mengusir kegelisahannya.


"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Niah dan anak kami, Han."


"Tidak akan terjadi apa-apa Tuan Muda."


"Tutup mulut mu Han! Bagaimana kau bisa bicara segampang itu. Niah terjatuh saat dia hamil, apa kau pikir bukan apa-apa." Langsung emosi kan, memang pilihan terbaik sekretaris Han diam saja.


"Maafkan saya Tuan Muda."


Akhirnya tetap memilih mengalah. Demi kewarasan semua orang.


"Padahal istrimu juga sedang hamil, seharusnya kau memahami ke khawatiran ku. Kau juga kan mengalaminya."


"Maafkan saya Tuan Muda. Saya akan mempercepat laju mobil, supaya kita cepat sampai dan Anda segera bertemu dengan Nona."


"Memang istrimu tidak mengeluh, atau kau yang tidak perduli!" Malah menjadi tempat pelampiasan kemarahan. "Dia sudah mau melahirkan kan? Kau harus lebih memperhatikannya. Dia akan berjuang hidup dan mati, kau jangan santai dan tenang-tenang saja." Dengan memarahi Han dan bicara sebanyak itu, berhasil mengusir kegelisahan Saga.


Yang sedang dimarahi, tetap kalem dan tenang, melihat lurus ke depan dan mempercepat laju kendaraan.


Masalahnya Aran tidak perlu dikhawatirkan Tuan Muda, tapi karena dia setangguh itu malah yang membuat saya khawatir. Hah! Bahkan sekarang sudah hamil tua, dia tetap dengan santainya bekerja. Segala teori yang sudah dipelajari Han dari melihat Tuan Saga, menjadi tidak berguna.

__ADS_1


Di saat mobil sudah memasuki komplek rumah utama, Saga membicarakan tentang keinginannya mencari asisten pribadi untuk Daniah. Seperti yang dilakukan Aran dulu. Sekretaris Han mengiyakan supaya urusan cepat selesai. Dan dia menanggapi dengan tenang seperti biasanya.


"Baik Tuan Muda."


Mobil yang dibawa Sekretaris Han memasuki gerbang rumah utama. Sudah ada mobil ambulans dan mobil Dokter Harun terparkir di depan rumah. Pak Mun sudah berdiri di depan pintu. Laki-laki tua itu mendekat namun batal bicara karena melihat tangan Sekretaris Han yang terangkat menyuruhnya tidak bicara apa pun.


"Dokter sudah memeriksa Niah?"


Saga hanya sambil lalu bertanya, karena tanpa menunggu jawaban Pak Mun, dia sudah berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Setengah berlari dia menaiki tangga, jarak tangga yang biasanya tidak terlalu jauh, entah kenapa hari ini sepertinya tangga rumah menjadi jauh lebih panjang. Dia mengeluh sambil memukul pegangan tangga.


Mempercepat langkah saat akan sampai di depan pintu kamar.


"Ayah! Ayah!"


Erin yang sedang digendong suster keluar dari kamar Saga. Sangat senang melihat ayahnya. Biasanya dia baru bertemu ayahnya saat sore hari.


"Ada doktel! Ayah! endong."


"Ia sayang, ibu kan sakit. Erin sama suster sebentar ya." Saga mendaratkan kecupan di kening Erin. Menolak merengkuh tangan anaknya, walaupun anaknya sudah mengangkat tangan minta untuk digendong. Wajah Erin langsung merengut sedih, sebentar lagi pasti tangisnya pecah.


Walaupun bukan termasuk anak yang suka menangis, tapi Erin tetaplah hanya bocah kecil, yang akan merajuk kalau tidak digendong ayahnya.


"Ayah! Ayah! Endong!"


Karena merasa tidak dipedulikan ayahnya, Erin mulai menangis. Meronta-ronta dalam pelukan suster sambil memanggil ayahnya. Saga yang sudah meraih handle pintu menghentikan langkahnya. Menarik nafas pelan. Mengusir emosi yang sesaat muncul karena Erin.


"Erin, ayah mau melihat ibu dulu."


"Ibu cehat, Dede cehat. Erin mau gendong ayah."


Tetap kekeh dengan pendirian, karena biasanya kalau ayahnya pulang kerja, artinya ayah mau bermain dengannya.Terdengar helaan nafas Saga lagi. Membuat Sekretaris Han yang akhirnya turun tangan.


"Tuan, saya panggil Dokter Harun untuk keluar ya? Anda gendong Nona Erin dulu sebentar." Sekretaris Han sudah memeluk Erin, karena suster hampir terjatuh tadi saat Erin meronta memanggil ayahnya. Saat ini gadis kecil itu pun masih menangis. Sambil memanggil ayahnya.


Melihat Erin yang sesenggukan, Saga pun langsung tersentak kaget dan tersadar. Dia segera meraih putri kecilnya, berpindah dalam dekapannya. Dia mencium pipi Erin. Yang tadinya masih menangis sesenggukan, langsung tertawa dan mencium ayahnya senang.


Deg... dada suster langsung berdegup kencang karena takut.


"Bagaimana Niah bisa jatuh? Kau ada di sana juga kan?"


"Be..benar Tuan, saya sedang bersama Nona Daniah tadi."


Deg..deg... karena takut, kata-kata yang seharusnya dengan mudah terucap jadi keluar dengan terbata-bata. Bahkan informasi penting yang seharusnya suster katakan tidak bisa terucap, pikirannya yang blank, semakin dia menundukkan kepala karena menghindari sorot mata Tuan Saga, semakin kebingungan dia memilih kata.


"Ayah! Ayah! Ibu cehat, Dede cehat juga."


"Ia sayang. Erin sudah menjaga ibu ya. Terimakasih." Erin menjadi penyelamat suster yang kebingungan.


Tidak lama dari masuknya Sekretaris Han, pintu sudah terbuka lagi. Di belakang Sekretaris Han yang keluar adalah Dokter Harun dan para petugas RS mengikuti dari belakang. Mendorong peralatan medis yang mereka pakai memeriksa Daniah. Mereka menundukkan kepala ketika melihat Saga.


"Kenapa kalian semua keluar? Niah bagaimana?"


Erin menepuk-nepuk pipi ayahnya, karena suara Saga meninggi. Sambil berkata jangan marah ayah, dengan suara cadelnya yang khas. Saga tersenyum dan mencium pipi Erin, dan mengatakan kalau dia tidak marah.


"Ayah tidak marah, maaf ya, Erin kaget ya."


Sementara Dokter Harun memberi instruksi pada semua bawahannya untuk langsung kembali ke RS, biar dia bicara dengan si gila ini. Wajahnya campuran antara kesal, lega juga ingin memukul Saga secara bersamaan. Kau tahu tidak! Setakut apa aku tadi waktu kemari. Isi kepalanya rasanya ingin meledak. Dia sudah ketakutan kalau-kalau harus menghadapi situasi seperti saat ayah Han mengalami kondisi kritis saat itu. Si gila yang menggila karena rasa bersalah dan tidak berdaya. Dan imbasnya dia dan semua bawahannya yang kena.


"Kenapa semua orang pergi? Bagaimana dengan Niah?" Intonasi suara Saga merendah, karena Erin yang masih mengelus pipi ayahnya.


Haduh Erin! Jangan bercanda dengan ayah mu yang gila ini. Begitu isi pikiran Harun.


"Istrimu baik-baik saja Saga, anak dalam kandungan Daniah juga baik-baik saja." Dokter Harun mengelus dadanya. Tenang, tenang gumamnya. "Semuanya baik-baik saja, Tapi... kau tahu? Mereka itu tadi sedang main-main!" Akhirnya Harun keluar juga tanduknya. "Erin dan kakak ipar tadi sedang main-main, dia cuma pura-pura jatuh. Dasar gila! Kau membuat RS panik tahu!"


Sekretaris Han bahkan nyaris tersenyum saat melihat ekspresi kaget Saga.


"Apa?"


Ekspresi wajah kaget sekaligus bodoh tanpa disadari muncul di wajah Saga. Saat dia menoleh dan melihat suster, wanita itu langsung menganggukkan kepala beberapa kali, lalu menunduk tidak mau bersitatap. Hah! Apa sih? Mereka sedang bercanda!

__ADS_1


"Erin, kata mu tadi ibu jatuh?" Mencoba mencari tahu kebenaran lewat Erin.


"Ibu jatuh, ayah pulang. Erin cenang." Erin yang ditanyai malah mengoceh tidak jelas. Membuat yang sebenarnya sedang kesal jadi tertawa. Suster bahkan melengos karena menahan tawa.


"Dan kau tidak mendengarkan penjelasan kakak ipar setelahnya kan?" Dokter Harun menyambar. "Coba kau dengarkan dulu penjelasannya, pasti tidak akan seheboh ini."


"Minggir, aku mau melihat Niah."


Entahlah, karena mungkin sedikit malu sudah membuat kehebohan, Saga tidak mau meneruskan pembicaraannya. Dia menggendong Erin masuk ke dalam kamar.


Yang ada di depan kamar hanya bisa menggelengkan kepala. Mau kesal tapi juga tidak berani menunjukkannya. Harun memilih menertawakan kelakuan Erin yang tidak ada takutnya. Lalu laki-laki itu melihat Han dengan kesal.o


"Kau juga sudah gila ya! Kenapa tidak memberitahu Saga yang sebenarnya!"


"Anda kan tahu, tuan muda seperti apa kalau urusannya dengan Nona Daniah."


"Dasar gila! Aku takut setengah mati tadi."


Harun tidak meneruskan kata-katanya, karena yang terlintas dikepalanya adalah kematian ayah laki-laki di depannya. Kepergian seseorang, yang benar-benar membuat duka terulang bagi Antarna Group dan Saga secara pribadi.


"Bagaimana keadaan Nona?"


"Menurut mu? Dia malu sekali tadi dan minta maaf beberapa kali."


"Hari ini sebenarnya lucu kan Dok?"


"Dasar gila! Kalau bukan Saga ia lucu."


Mereka berdua tertawa, lalu entah siapa yang memulai duluan, tiba-tiba mereka sudah membicarakan segala tingkah kebodohan Saga yang berhubungan dengan Daniah.


"Waktu bulan madu menurut saya yang lucu."


Harun yang cuma mendengar ceritanya saja tertawa terbahak-bahak, apalagi kalau melihat langsung. Di saat dua orang itu bicara, suster yang mendengarkan senyum-senyum sendiri, membayangkan semua kejadian yang tidak pernah dia dengar itu.


...🍓🍓🍓...


Yang di dalam kamar.


"Sayang! Lain kali dengarkan aku sampai selesai dulu kenapa! Aku malu sekali tadi!"


Daniah menghujani bahu Saga dengan pukulan tangannya. Bagaimana tidak, dokter yang awalnya panik setelah masuk ke dalam kamar, langsung membeku, tapi tangan mereka bergetar menahan tawa setelah Daniah menceritakan kejadian sebenarnya.


Dan demi memastikan dan membuat laporan pada Tuan Saga nanti, mereka tetap melakukan pemeriksaan. Jadi seperti main dokter-dokteran. Daniah menahan malu, para dokter dan perawat yang menahan senyum dan tawa. Situasi yang sungguh lucu dan menggelikan bagi Daniah.


"Erin kan yang bilang kamu jatuh, aku kan terkejut."


"Jadi salahnya Erin ini ya?" Daniah menoel pipi Erin, gadis itu tertawa, dan memeluk ayahnya.


"Ibu ayah pulang cepat." Sambil mencium pipi Saga bagian kanan. "Besok ibu jatuh lagi ya, biar ayah pulang cepat."


Saga dan Daniah saling pandang, lalu tertawa bersamaan. Satu kecupan mengakhiri tawa mereka.


"Erin mau cium juga. Cium ayah."


Dengan gemasnya Erin merebut perhatian ayahnya, dengan menghujani pipi ayahnya dengan ciuman.


"Ayah, pulang cepat lagi ya, main cama Elin."


Yang paling senang hari ini tentu saja Erin, gadis itu selalu ingin mencari perhatian ayahnya setiap ada kesempatan. Paling senang cium-cium pipi ayahnya, apalagi kalau sudah melihat ayahnya mencium ibunya.


Daniah mengusap pipi suaminya, sambil tersenyum.


"Lihat, menurun dari siapa itu cemburuannya Erin. Hahaha, sayang, sayang."


Saga berkomplot dengan Erin menggelitik Daniah, setelah gadis itu tertawa dan meminta ampun, mereka berdua menghujani Daniah dengan serbuan kecupan.


Cerita hari ini, menyebar dari mulut ke mulut, sampai semua orang tanpa terkecuali tahu. Selama seminggu, Sofia masih membicarakannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2