
Beberapa hari kemudian, pas sekali dengan akhir pekan datang.
Jen terlihat bersemangat, dia setengah berlari menuruni tangga. Penampilannya seperti orang yang mau pergi kencan. Rambut lurusnya bergoyang seirama tubuhnya yang menuruni tangga. Dia berpapasan dengan pelayan wanita, lalu bertanya di mana Pak Mun. Baru saja ditanya, Pak Mun sudah muncul dengan membawa dua buah tas ditangannya. Gadis itu bersorak riang.
"Ini sudah saya siapkan apa yang Nona minta." Pak Mun belum memberikan tas yang dia pegang, malah melihat dibelakang Jen, tidak ada siapa pun. "Dimana Nona Sofia? Anda katanya mau pergi dengan Nona Sofia kan?" Tangan yang sudah agak terulur, dia tarik lagi.
Aaaaa, ketahuan juga.
Pak Mun tidak akan memberikan tas yang dia pegang, sebelum Sofia muncul. Laki-laki itu juga sepertinya tidak akan membiarkan Jen pergi jika tidak ada yang menemani. Bagaimana pun, membiarkan Jen pergi sendirian ke rumah Revan baginya itu membahayakan, walaupun dia tahu Revan tidak akan berani macam-macam sekalipun.
"Kalau Nona Sofia tidak bisa menemani, saya akan menyuruh pelayan untuk menemani Nona."
Aaaaaaa, apa sih! Jen merengut, dia kan bukan kakak ipar yang sampai perlu diawasi sampai begitunya.
"Pak, cuma sebentar kok, mengantar makanan saja, lalu aku langsung pulang. Sofi masih tiduran tadi di kamar, ya, aku janji langsung pulang. Kak Saga juga hari ini nggak akan turun, pasti dia cuma di kamar sama kakak ipar dan Erin." Jen mengatupkan tangan memohon. Memicingkan mata melihat tas yang ada ditangan Pak Mun. Ingin segera dia sambar dan dia bawa kabur. Dia yakin seratus persen tidak akan ketahuan Kak Saga, kalau Pak Mun tidak mengadu.
Pak Mun menggelengkan kepala.
"Maaf Nona, ini perintah Tuan Muda, kalau hanya mau mengantar makanan, biar saya mengirim pelayan saja." Tak kalah pintar Pak Mun berdalih. Membuat Jen semakin merengut.
"Aaaaaaa! Ia, ia. Tunggu sebentar biar aku bangunkan Sofi." Jen segera lari menaiki tangga lagi. Pak Mun masih bisa mendengar suara gumaman kesal dari mulut Jen.
Tuan muda hanya ingin menjaga Anda nona, tidak terasa ya, Anda sudah dewasa sekarang dan mungkin akan ada pesta pernikahan berikutnya di rumah ini. Kemarin, Pak Mun ditelepon ayahnya Revan. Tentu saja laki-laki itu berkeluh kesah tentang betapa kurang ajarnya Revan sampai berani mencintai Nona Jen.
Yah, tapi memang itu kenyataanya kan gumam Pak Mun. Tuan Saga juga sudah merestui. Sekarang tinggal nyonya, bagaimana pendapat nyonya ya? Tapi rasanya seperti orangtua Harven, asalkan Tuan Saga setuju, maka semua sudah dipastikan akan lancar.
Sepertinya Jen berhasil menyeret Sofia. Daripada pergi ditemani pelayan wanita, tentu dia masih memilih Sofia. Terserah, adiknya manyun karena menjadi obat nyamuk. Toh dia juga dulu sering begitu. Sekarang gantian donk ujarnya terkikik sambil mendorong Sofi masuk ke dalam mobil.
Dan benar saja.
Sofia menekuk wajahnya sambil bermain hp. Tiduran di sofa. Dia seperti seonggok kain yang digantung di sofa. Tidak dipedulikan, baik oleh Kak Jen maupun sang pemilik rumah. Sofia malah voice call akhirnya dengan Haze, laki-laki itu sedang ada di dalam mobil. Mau berangkat pemotretan.
Sementara yang ada di belakang Sofia sedang malu-malu, duduk berdekatan, Jen sedang menemani Revan makan.
"Kak, masih sakit ya?" Suapan pertama masuk ke dalam mulut Revan. Setelahnya Revan meminta sendok dari tangan Jen, karena malu disuapi.
"Sudah membaik kok, apalagi kamu datang."
Jen nyengir dengan wajah tersipu. Mengibaskan rambut indahnya ke belakang.
__ADS_1
"Tapi, ayah jahat sekali..." Sekarang Jen sudah memanggil ayah Revan dengan panggilan ayah. "Bekasnya pasti lama hilangnya, rekan kerja Kakak bilang apa? Pasti mereka penasaran kan?"
Tentu saja Revan menfoto semua luka yang dia dapatkan hari itu. Mengirimkannya pada Sekretaris Han. Untuk apa, tentu saja menunjukkan seberapa gigihnya dia mencari restu ayahnya. Semua itu tujuannya demi mendapat simpati Tuan Saga. Ya, jalan bebas hambatan di depannya bisa ada kan karena Tuan Saga. Kalau Tuan Saga iba, semua sudah dipastikan baik-baik saja.
"Sebentar lagi juga hilang kok, mereka cuma kaget saja, aku bilang di hajar Han, terus nggak ada yang nanya lagi." Seriusan, itu yang dikatakan Revan kalau ada yang bertanya kenapa dia terluka. Ini ulah sekretaris Han, sambil menunjuk lukanya. Si penanya langsung mundur teratur tidak bertanya apa-apa lagi.
Sofia yang tidak dihiraukan terkikik, mendengar kata-kata Revan, hiiiii, memang orang itu masih tetap menakutkan. Cuma di depan Kak Aran saja dia bisa senyum-senyum sampai buat merinding. Aku si tetap merinding karena takut padanya. Sekarang menjatuhkan kepala malas, sambil nguping obrolan Kak Jen dia main sosial media.
Revan makan dengan lahap, ditemani Jen yang sibuk memindahkan lauk ke piringnya. Hati laki-laki itu berdebar tidak karuan, tapi dia berhasil menunjukkan ekspresi tenang. Tapi, saat sedang enak mengunyah sambil melirik Jen, gadis di sampingnya nyeletuk.
"Kalau aku mengajak Kak Revan menikah, apa Kakak sudah siap?"
"Uhuk! Uhuk!" Saking kagetnya sampai tersedak. Jen memukul punggung Revan. Sebenarnya bukan hanya Revan yang terkejut, Sofia juga tidak kalah kaget. Kak Jen saja belum membicarakan perihal pernikahan padanya, kok tiba-tiba menyerang Kak Revan begitu.
"Kak Jen serius? Ibu saja belum tahu kan." Sofia buka mulut, masih tiduran di sofa.
Selera makan Revan langsung lenyap. Dia meletakan gelas setelah meneguk isinya hampir separuh. Dia hanya fokus pada restu Tuan Saga dan ayahnya, sampai melupakan nyonya. Selama ini jika bertemu, dilirik pun tidak salam darinya untuk nyonya.
"Apa sih, ini kan kalau. Nanti juga aku bilang ke ibu, Kakak tahu kan, ibu mungkin ya gitulah awalnya aja, tapi percayalah nanti juga dia luluh. Kakak ipar dulu buktinya." Jen tidak menjelaskan, karena yakin Revan tahu maksud gitulah yang dia katakan.
"Nona Daniah?"
"Ya begitulah." Sofi menjawab sekenanya. "Tapi, yang penting kan Kak Saga sudah setuju, ibu juga sudah banyak berubah kok sekarang. Tapi siapkan mental duluan ya Kak, kalau ibu nanti begitulah pokoknya." Ikut-ikut tidak mau menjelaskan.
Revan mengganguk paham. Dia membereskan piring dan gelas yang baru saja dia pakai. Jen ikut bangun dari duduk, mengekor di samping Revan. Memperhatikan apa yang dilakukan laki-laki itu. Revan memasukkan lauk tersisa ke dalam kulkas. Lalu membawa piring kotor ke tempat cuci piring.
Deg...
Saat Revan meremas spon sampai tangannya dipenuhi busa, Jen menatap dengan takjub. Apalagi saat busa semakin melimpah di tangan Revan. Matanya mengerjap. Ini pertama kalinya dia melihat orang mencuci piring di depan matanya langsung. Tangan Revan membilas piring dan gelas, lalu air keran menyapu kumpulan sabun sampai tidak tersisa.
"Wahh, Kak Revan keren, bisa cuci piring sendiri."
"Hah?"
Tapi kemudian Revan tertawa, setelah memindahkan piring ke rak dan membilas tangannya. Ah, dia hampir lupa siapa gadis di sampingnya. Yang dari kecil sampai tumbuh secantik ini, semua yang Jen pakai selalu dilayani pelayan.
"Kenapa? Kok jadi sedih?"
Wajah Jen berubah muram.
__ADS_1
"Kalau aku menikah dengan Kak Revan bagaimana ini Kak, aku nggak tahu caranya mencuci piring, apa aku juga harus memasak. Aaaaaa! Bagaimana ini Kak, aku nggak bisa apa-apa. Bagaimana aku mau menikah dengan Kakak!" Jen jadi overthingking dan panik sendiri. Kalau Kak Revan jangan ditanya, sejak muda dia sudah tinggal sendiri. "Kak..."
Gemasnya, ah, dia lucu sekali. Saat Jen sedang panik, Revan malah menikmati mimik panik Jen dengan gemas.
"Jangan khawatir, tipe idealku memang yang nggak bisa cuci piring dan masak. Hehe, jadi jangan bersedih donk." Tangan Revan mengusap pipi Jen lembut. "Senyum donk, nanti aku yang masak dan cuci piring."
Bibir yang tadi merengut sedih mulai tertarik, gadis itu sudah mulai bisa tersenyum.
"Kak.."
"Kenapa?"
"Apa aku boleh pegang itu? Apa sama dengan spon untuk mandi?" Jen menunjuk spon cuci piring yang sudah dicuci Revan.
Dan akhirnya dua orang itu cekikikan di depan tempat cuci piring. Ah, kencan yang tidak pernah dilakukan Jen dengan pacar atau kekasihnya sebelumnya. Tapi ini lucu dan menyenangkan. Dia tertawa sambil membenturkan kepalanya ke lengan Revan.
"Aku akan belajar mencuci piring dan memasak, Kak Saga saja belajar menyetir demi kakak ipar."
Revan mengusap tangan Jen yang penuh busa, sabun cuci piringnya sepertinya langsung habis separuh. Nona Jen lucu sekali ya Tuhan, bagaimana ini, aku ingin menciumnya, pipinya saja. Tapi tentu saja, Revan belum berani melakukannya.
"Kak Jen, kalian ngapain? Ayo pulang, Kak Saga lagi jalan-jalan di taman dengan Erina dan kakak ipar." Sofia berteriak dari ruang depan. "Aku mau main sama Erina."
Tidak ada sahutan.
Yang ada di dapur.
"Yah, aku harus pulang Kak.."
"Ia, terimakasih ya sudah datang, makanannya juga. Nanti kalau ayahku datang kita bertemu beliau sama-sama ya."
Keduanya sudah mencuci bersih tangan.
"Kakak juga, terimakasih sudah mengajariku cuci piring." Jen mendekat, menyambar pipi kanan Revan secepat kilat. Muah. Lalu lari ke ruang depan.
Revan menyentuh pipinya, sampai membuat kakinya lemas. Wajahnya memerah, yang tidak berani dia lakukan, dilakukan Jen dengan santainya.
Aaaaaa! Bisa gila aku, kenapa Jen menggemaskan sekali. Revan bergegas menyusul Jen. Dia tidak akan mencuci wajahnya selama beberapa hari, tidak seminggu. Aaaa! Jen imut banget si.
Bersambung
__ADS_1