Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Flashback : Bukan Anak Haram


__ADS_3

"Mama ...."


"Iya, Sayang?"


"Lily ingin bertanya, boleh tidak?"


"Kenapa meminta izin? Mama sudah bilang, tanya saja apa yang ingin Lily ketahui."


"Tadi di sekolah Lily tidak sengaja mendengar ucapan dari ibunya teman sekelas Lily. Tante itu bilang jangan bermain atau berteman dengan Lily dan kakak karena kami anak haram. Apa itu anak haram?" tanyanya polos.


Senyum di wajah Dian luntur seketika. Hatinya mencelos sakit serta tenggorokannya tercekat.


"Anak haram itu karena kita tidak memiliki papa. Benar, kan Mama?" Emi ikut melontarkan.


"Ishh! Kita punya papa, tahu! Mama bilang kan sudah menunjukkan papa." Lily kesal.


"Kita hanya punya mama. Jika ada papa, dia seharusnya disini!" jawab Emi tak mau kalah.


"Papa kan sudah bahagia. Dia tidak bisa bersama kita," bela Lily lagi.


"Jadi sama saja, kan? Pada akhirnya kita hanya memiliki mama!"


Lily tidak lagi menjawab, tapi matanya sudah berkaca-kaca. Bibirnya melengkung kebawah.


"Huaa ... kakak jahat. Lily bukan anak haram, Lily punya papa ..." Gadis berusia empat tahun itu akhirnya menangis.


"Dasar cengeng!"


"Emi!" tegur Dian, bocah laki-laki itu tertunduk.


Dian membawa Lily ke pangkuannya, memeluk. "Sstt ... jangan menangis. Lily dan kakak bukan anak haram. Kalian anak Mama, jangan dengarkan mereka." Menenangkan. Dian juga membawa Emi kepelukannya.


Mata Dian penuh kemarahan bercampur sedih yang tak bisa dilihat Emi maupun Lily. Satu tangannya mengepal dibalik punggung kedua anaknya.

__ADS_1


Mulut bisa menjadi senjata untuk membunuh orang jika kau tidak bisa menjaga lisanmu. Hal yang pernah ia khawatirkan terjadi. Seseorang menyebut kedua anaknya adalah anak haram. Di usia yang baru menginjak empat tahun, mereka harus mendengar kata-kata tak pantas itu.


Maaf ... maaf karena harus terlahir tanpa seorang ayah. Meski begitu, Mama akan selalu menjadi ayah sekaligus ibu untuk kalian.


"Mama ingin bertanya juga. Apa boleh?" Dian melepas pelukannya. Menatap mata polos anak kembarnya. Lily dan Emi mengangguk.


"Siapa yang membesarkan Kakak dan Lily?"


"Mama," jawab keduanya.


"Siapa yang bekerja?"


"Mama."


"Kenapa Mama?"


"Karena Mama orang tua kami, yang mencintai dan menyayangi kami."


"Benar. Apa orang yang mengatai Lily dan Kakak juga ikut andil?" Keduanya menggeleng. "Mereka hanya orang asing," jawabnya.


"Jika tidak ada yang mau berteman dengan kalian, maka kalian juga tidak perlu berteman dengan mereka. Ada banyak orang-orang munafik di luar sana. Jadi kalian juga harus pandai dalam memilih orang."


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


Hari ini Dian datang menemui wanita yang mengatakan kedua anaknya adalah anak haram. Ia tidak memiliki banyak stok kesabaran jika itu menyangkut kedua anak kembarnya. Ia penasaran sekaligus ingin bermain sedikit dengan orang bermulut besar itu.


Kedatangan Dian ke sekolah merupakan kejutan bagi sebagian orang. Terlebih lagi Dian datang sebagai orang tua dari Emily dan Emilio yang desas-desus nya memang kurang baik. Dian melempar buku pernikahan lamanya, kemudian bukti perceraiannya.


"Tidak memiliki ayah bukan berarti anak haram! Memangnya tidak ada perceraian di dunia ini?" sarkasnya.


Diandra merupakan donatur terbesar di sekolah elit ini. Tapi tidak ada yang mengetahui jika sosok ini adalah ibu beranak dua yang sudah pernah menikah. Mereka juga tidak pernah melihat Emi maupun Lily bersama wanita ini. Wajar tidak ada yang mengetahui identitas kedua anak itu selain kepala sekolah.


"Aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum dengan keluhan perusakan nama baik!"


"Tidak bisakah diselesaikan secara kekeluargaan?" Wanita itu panik.


"Mungkin kau akan keberatan dengan syaratku." Dian bersedekap.


"Tidak! Aku tidak akan keberatan," jawabnya cepat. Lebih baik seperti ini daripada berurusan panjang dengan Dian yang bertempramental tinggi.


"Oke!"


Plakk!


Tamparan keras sudah melayang di wajah sebelah kanan wanita dewasa itu. Wajah itu sudah memerah akibat tamparan Dian yang tidak pelan.


"Ini cara kekeluargaan yang bisa kulakukan."


Dian menampar wanita itu di hadapan semua guru bahkan kepala sekolah. Tak ada yang berani mencegah atau melerai karena tahu seperti apa Dian.


Plakk! Dian menampar pipi sebelah kirinya bergantian.


"Ini tidak sebanding dengan mulut kotormu yang menodai telinga putriku. Percayalah aku masih berbaik hati padamu. Lain kali aku tidak akan menampar, tapi langsung merobek mulutmu! Dan semoga saja tidak ada lain kali," katanya tidak ramah.


Dian menatap satu-persatu orang-orang disana yang menunduk saat bertemu pandang dengannya.


"Aku tidak ingin mendengar Lily atau Emi mengeluh hal tidak menyenangkan tentang kalian. Didiklah murid kalian sebagaimana mestinya tanpa ada yang dilebih-lebihkan. Jangan sampai aku berpikir untuk meratakan sekolah ini," ucap Dian lagi penuh peringatan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2