Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Ruang Seni (2)


__ADS_3

Dian mulai membereskan beberapa barang-barang dibantu Nico. Nantinya akan dipindahkan oleh beberapa pelayan yang dipanggil Nico dari mansion.


Lukisan terakhir yang tersisa menghentikan kegiatan Nico. Gambar pada lukisan hanya berupa siluet namun Nico sangat mampu memahaminya karena cukup jelas. Lukisan itu dipajang terpisah dengan yang lainnya.


Dengan dada sesak Nico menyentuhnya. Sudah bisa ditebak siapa yang melukis gambar itu.


"Mereka berdua mengutitku, kan?" Sekarang Nico menyadarinya. Pertemuan dengan Lily pertama kali adalah di cafe. Ia ingat betul bagaimana gadis itu mengerjarnya sampai ke mobil.


"Aku yang tidak melarang mereka."


"Seandainya aku tahu, takkan kubiarkan dia pergi." Meraba lukisan itu.


"Semua sudah berlalu," ujar Dian.


"Bagaimana?" tanya Nico.


"Hm?"


"Bagaimana mereka mengenalku?"


Dian menghentikan kegiatannya dan ikut berdiri di samping Nico yang berhadapan dengan lukisan Lily.


"Kubawa mereka melihatmu dari jauh." Dian menerawang jauh, "kau tahu mereka sangat senang melihatmu. Lily bilang kau tampan seperti Emi. Ya, Emi memang banyak mengikutimu." Dian terkekeh pelan.


Nico menatap haru meski dadanya semakin sesak. Ia merasa menjadi ayah yang buruk bahkan anaknya tidak berani mendekatinya. Ia buruk, payah dan pengecut! Bagaimana mungkin ia tidak mengenal anaknya sendiri.


"Sebenarnya aku juga memajang itu." Dian menunjuk dengan dagunya.

__ADS_1


Sekarang Nico baru menyadari ada foto besar yang terpajang di ujung ruangan. Foto pernikahan mereka dulu. Saat dimana keadaan memaksa mereka.


"Itu buruk." Tidak ada senyuman di foto dua mempelai itu.


Dian tertawa pelan. "Ya, aku tahu itu. Tapi hanya itu satu-satunya bukti jika mereka memiliki ayah."


Nico tidak tahan lagi segera memeluk istrinya.


"Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan membayar semua penderitaanmu dengan kebahagiaan."


"Jangan berjanji, tapi buktikan. Aku sudah sering mendengar janji berupa tong kosong."


**


"Wah sangat besar!" pekik Lily begitu turun dari mobil.


Lily pikir akan tinggal di mansion oma Mita, rupanya ada mansion yang lainnya. Emi berdecak di samping Lily sedangkan Rico sama takjubnya dengan Lily.


"Berisik!" Lily langsung cemberut.


"Besar sekali seperti rumah om Johan," celetuk Rico polos namun segera mengundang atensi Dian.


"Rico pernah kesana?"


Bocah itu mengangguk, "bersama kakak Lily dan Emi." Membuat keduanya langsung gugup.


Kini pandangan Dian beralih pada dua bocah kembar itu. Dian menaikkan sebelah alisnya. Tidak memberitahuku? Begitu maksud tatapannya.

__ADS_1


"Kami lupa, hehe." Lily menggaruk pelipisnya.


"Kalian tidak boleh mengikuti orang asing sembarangan!" Rasa khawatir Dian timbul kembali. Tidak menyangka Johan sudah sejauh ini.


"Maaf, Mama," cicit ketiganya.


"Sudahlah. Kita masuk dulu." Merengkuh pinggang istrinya, "Lily, Emi, Rico ayo masuk."


Nico paham kekhawatiran Dian, namun ia tidak mau istrinya berlarut. Nico juga berusaha memahami pria bernama Johan tersebut. Sebagai ayah pasti tak berbeda jauh dengan dirinya yang menginginkan anak mereka.


"Kami tidur terpisah?" tanya Emi.


Barang mereka diletakkan di kamar berbeda, itu sebabnya menimbulkan kebingungan.


"Benar. Ini kamar Emi dan disana kamar Lily, lalu yang ditengah milik Rico. Kemudian di ujung sana ada kamar mama dan papa," jelas Nico.


"Jadi Lily tidak bisa tidur dengan kakak lagi." Lily menunduk sendu.


"Kau sudah besar, jangan manja!" cibir Emi sambil berlalu masuk ke kamar barunya.


"Kakak!"


"Lily," tegur Dian. Gadis kecil menghentakkan kaki dan pergi ke kamarnya sendiri.


"Ayo, Sayang. Mama akan bantu." Dian meraih tangan kecil Rico.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2