Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Melakukannya dengan Benar— Sekali Lagi (End)


__ADS_3

"Kita akan kemana dengan pakaian serapi ini?"


Hanya jalan-jalan mengapa harus sesempurna ini. Nico hanya tersenyum seraya menuntun istrinya.


"Kemana?" Dian menghentikan langkahnya setelah mereka berjalan kaki cukup jauh dari mansion bahkan telah melewati halaman belakang yang luas. Tidak seperti jalan-jalan yang ia pikirkan.


"Kalau jalan terus kita akan menembus pantai dan dimana anak-anak?" Dian membungkuk untuk memijat kakinya yang pegal karena terlalu lama berjalan.


"Sebentar lagi."


"Kakiku mau patah," keluhnya membuat Nico terkekeh.


"Kemari."


Mendengar itu Dian langsung mendongak senang. Ia menghadap suaminya sambil merentangkan tangan.


"What?" Nico berpura-pura bingung.


"Apa yang apa? Kau mau menggendongku, kan?"


"Tidak."


"Tidak?!" Dian tertawa kesal kemudian melepas heels dan menentangnya sambil menghentakkan kaki kesal meninggalkan Nico.


Nico menahan tawa sambil mengikuti istrinya itu. Tingkahnya sekarang sangat mirip dengan Lily jika kesal.


"Baby ...."


"Menjauh dariku!"


"Haha ... Imutnya istriku."


Nico melajukan langkahnya menuju Dian dan langsung menggendongnya. Dian spontan mengalungkan lengan karena terkejut.


"Turunkan aku!"


Nico tidak mendengarkan.


"Nico!"


Terus berjalan tanpa peduli.


"Ck!"


Berhenti juga akhirnya. Tapi hey! Apa-apaan tatapan itu.


"A—apa?" Dian gugup.


"Jangan berdecak atau berdecih padaku, Baby. Aku tidak suka," katanya dengan nada rendah.


Oh sikap otoriter menyebalkan itu kembali lagi. Sekarang ia seperti budak penurut.


Cup! Sebuah kecupan mendarat singkat di bibirnya.


"Sudah dengar?"


Dian hanya mengangguk dengan bibir sedikit cemberut. Nico jadi ingin memakannya sekarang jika tidak ingat tujuan awalnya.


"Baby—"

__ADS_1


"Aku dengar, Sayang! Aku akan diam saja." Menyembunyikan wajahnya di leher Nico.


"Sebenarnya kita mau kemana?" gumamnya di ceruk leher Nico, "kau tidak menjawabnya sejak tadi."


"Tempat untuk aku menebus satu hal."


"Hm?" Dian mengangkat kepala bingung, "apa yang kau—"


"Selamat datang, Mama!"


Sorakan ramai di belakang membuat Dian terkejut dan langsung turun dari gendongan Nico. Ia terperangah menatap pemandangan yang membuatnya takjub.


Tak jauh dari desiran tenang pantai yang berada tepat di belakang mansion telah didekorasi sedemikian rupa. Beberapa anggota keluarga berdiri layaknya menunggu seorang pengantin yang berjalan di atas altar.



Lily, Emi, Rico bahkan Rehan, anak-anak manis itu berdiri seperti orang dewasa dengan pakaian formalnya.


Ya Tuhan lucunya!


Namun bukan hanya mereka yang jadi pusat perhatian Dian. Kehadiran Reana, Serena, sang kakek, Johan, Vira, juga kakak ipar (suami Sera) yang tidak pernah muncul juga mengejutkan Dian. Dan jangan lupakan Roby.


"Sebenarnya ada apa?" Dian masih dilanda kebingungan. Semua anggota keluarganya hadir disini.


"Sudah kubilang menebus satu hal." Mengelus kedua lengan istrinya dari belakang. Demi Dian, ia akan menurunkan sedikit egonya dari orang-orang di depannya. Ya, penyebab luka lama Dian.


"Sampai kapan kalian berdiri disana? Kami tidak sabar melihatnya." Kali ini suara itu mengagetkan Dian kembali. Buru-buru ia menoleh dan mencari sumber suara.


"Papa?!" Ia tak salah lihat? Tunggu— ada Mita juga? Kenapa ia tidak melihat mereka berdua tadi.


"What?" Ricard menahan senyum. Menantunya ini pasti mengira ia bercanda soal kepulangannya ke Jakarta, itu sebabnya Dian tak pernah menemuinya sekalipun.


"Kalau begitu kau coba tes saja sendiri." Ricard merentangkan tangannya. Dian spontan segera memeluk laki-laki yang telah menjadi pengganti ayah untuknya itu.


"Bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik."


"Ya, baik-baik saja. Hanya sedikit sedih karena cucu-cucuku tidak ada yang mengenalku."


"Jadi selama ini kalian masih berhubungan?" tanya Nico menarik istrinya dari pelukan sang ayah. Ia sedikit cemburu meski itu ayahnya sendiri.


"Hubungan baik harus dijaga," santai Ricard.


"Cih!"


"Nico, papa menjalani pengobatan di luar negeri selama ini. Vira adalah dokter pribadi yang ku tunjuk." Itu sebabnya wanita bergelar dokter itu kini beralih menjadi asistennya.


Biasanya Diandra masih sering berkunjung sekalian menemani Emi les bahasa, hanya setahun belakangan ini ia belum sempat pergi.


Nico saja berpikir jika ayahnya benar-benar pergi meninggalkan mereka.


Di satu sisi ada seseorang yang tidak berani mendekat. Hanya Serena dan Ricard yang punya hubungan baik dengan Diandra di masa lalu. Mita merasa iri dengan hubungan baik itu. Mungkin karena ia tidak termasuk ke dalamnya. Jangankah Diandra, ia saja belum bisa melihat senyuman hangat Nico seperti dulu kecuali dengan istrinya.


Ia diundang ke acara spesial ini saja sudah membuatnya bersyukur. Setidaknya Nico masih menganggapnya.


"Ehem!" Seseorang berdehem di sisi lain.


Dian menoleh pada Johan, sedangkan Nico menatap kesal.


"What? Aku hanya mengingatkan." Johan tidak terima.

__ADS_1


"Baiklah, kita langsung mulai saja," kata Ricard.


"Ayo, Papa. Lily sudah tidak sabar!" teriak gadis kecil itu.


"Memangnya kau mau melakukan apa?" Dian sendiri masih bingung dengan konsep malam ini. Sebenarnya Dian sudah menebak-nebak, namun hal itu belum tentu.


Nico meraih kedua tangan Dian dengan tersenyum. Sebelumnya ia mengecup lebih dulu kedua tangan itu.


"Dulu kita tidak melakukannya dengan benar, jadi aku ingin memperbaiki hal ini juga."


Nico terlihat mengatur nafas lagi dan sedikit bingung. Roby dan Johan yang berdiri bersisihan saling menatap.


"Sudah kuduga, tuanmu payah!" katanya pelan. Roby meringis membenarkan.


Diandra terkekeh pelan seraya mengalungkan tangannya ke leher Nico. Ia sudah tahu apa yang hendak dilakukan suaminya ini.


"Biar aku yang lakukan," ujar Dian tersenyum.


"Lakukan apa?"


Menghela nafas, kini bergantian Dian yang menggenggam tangan Nico.


"Aku mencintaimu. Menikahlah denganku."


Pfff ... Semua yang menyaksikan menahan tawa, terutama Johan dan Roby yang sudah menutup mulut mereka agar tidak kelepasan.


Awal rencana, Nico lah yang akan melamar istrinya, namun sekarang Diandra lah yang memulainya.


Lily sendiri menepuk keningnya pelan. Astaga, Papa! Rusak sudah citra dirimu! Begitulah isi pikirannya sekarang.


"Jangan mencuri kata-kataku!" Dian justru tertawa.


Kali ini Nico berlutut dengan memegang sebuah kotak perhiasan berisi sepasang cincin.


"Hubungan kita tidak bermula dengan baik, namun aku tidak menyesalinya. Memilikimu dan anak-anak adalah keberuntungan. Jadi menikahlah denganku sekali lagi— dengan benar."


Mereka telah melewati kehidupan yang melelahkan. Entah itu kehidupan sehari-hari maupun kisah percintaan yang kurang beruntung. Nico hendak menjalani dengan benar kali ini sebagai bayaran atas waktu yang telah terbuang.


"Kalau begitu ayo lakukan— dengan benar kali ini." Keduanya saling menatap dengan tersenyum.


Malam ini mereka kembali berjalan di atas altar lalu mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan sekaligus keluarga. Menikah atas nama cinta dan bersedia saling mendampingi selamanya.


Semua orang bertepuk tangan. Rea dan Mita meneteskan air mata. Jika dulu mereka tidak egois, kebahagiaan seperti ini akan mereka lihat sejak dulu.


...-End-...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kali ini beneran tamat ya Say🥺 papayy!


Note: Extra part nnti hanya cerita tambahan, bukan cerita utama.


...-...


...-...


...Mksii banyakk untuk pembaca baru yang udah mampirr smpai tamatt...


...Komentar kalian semangat akuu❤❤...

__ADS_1


__ADS_2