
"Johan," datar Dian.
"Mama mengenalnya?" tanya Rico polos.
"Kalian tunggulah di mobil," perintah Dian pada anak-anak, "kau juga, Rico." Dengan nada peringatan karena Rico tak bergeming.
"Pergilah, Nak," ucap pria yang dipanggil Johan tersebut.
Bocah itu berjalan sambil sesekali menatap kebelakang. Lily menarik Rico agar segera masuk.
"Kalian tunggu disini," kata Nico sebelum beranjak mendekati Dian bersama pria yang baru dilihatnya itu.
"Aku sering melihatmu di media, tapi baru kali ini aku melihatmu langsung."
"Apa maumu?" tanya Dian tak ramah.
Tanpa perkenalan lagi, Dian sudah tahu betul siapa orang berada di hadapannya sekarang. Dalam diri Dian seolah muncul tanda peringatan terhadap pria ini.
"Mencari putraku."
Kali ini Nico langsung menunjukkan tanda siaga. Mencari putra yang berhubungan dengan Dian? Pria ini tidak mencari mati dengannya, kan?
"He's my son!" tekan Dian.
"Siapa dia?" tanya Nico dingin.
__ADS_1
Johan tersenyum menatap bergantian pasangan di depannya.
"Perkenalkan saya Johan, Tuan Nico. Saya ayah kandung dari Rico sekaligus mantan kekasih Melly."
Rahang ketat Nico sedikit mengendur setelah mendengar itu.
"What?"
"Anda pasti bingung. Sama seperti anda, saya juga tidak tahu jika Melly memiliki kekasih lain." Sebenarnya wanita itu menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus, "namun dia memilih menikah denganmu pada akhirnya."
"Dia bukan urusanku lagi," dingin Nico.
"Dia juga bukan urusanku." Johan masih menunjukkan senyum ramahnya, "tapi mungkin saya akan sering berurusan dengan istri anda." Beralih menatap Dian yang masih memandangnya dengan aura permusuhan.
"Jangan macam-macam!" ancam Nico mulai mendekat kepada Johan, namun Dian menahannya.
"Belum lama ini. Saya tidak bisa bersikap impulsif dan membuat anak saya takut, kan?"
"Kalau begitu ini yang terakhir!"
Dian menarik suaminya untuk pergi. Baru beberapa langkah berjalan menuju mobil mereka, Johan menginterupsi.
"Saya hampir gila setelah mengetahui kebenarannya. Nona Diandra— anda tahu betul bagaimana rasanya kehilangan seorang anak, begitu juga saya, tapi Rico bukan pengganti."
Dian berbalik dan menatap nyalang, "dia bukan pengganti!"
__ADS_1
"Apa maksudnya?" Nico semakin tak mengerti.
"Tampaknya suami anda belum mengetahui apapun." Johan tersenyum.
Johan tahu ini tidak mudah. Mengetahui keberadaan Rico ada dalam genggaman Dian si wanita yang terkenal tanpa kehangatan, kasar dan semena-mena membuatnya harus mencari cara untuk melawan wanita tak berperasaan itu demi mendapatkan putranya kembali.
"Apa yang belum ku ketahui?"
Tangan Dian mengepal erat dengan sorot mata tajam pada Johan. Pria ini ingin menjadi musuhnya rupanya.
"Apa saya yang harus mengatakannya?"
"Katakan!" desis Nico dengan tangan mengepal juga. Apa yang belum ia ketahui tentang istrinya. Bahkan Dian tak berniat menjawabnya.
Johan terkekeh pelan, "Saya tidak ingin ikut campur. Kalian bisa membicarakannya nanti. Saya tidak akan terburu-buru, Nona Diandra. Saya akan menunggu hingga anda siap memberikan putra saya."
Johan menunduk pamit dengan pandangan menusuk yang masih dilayangkan Dian.
"Kau tidak berniat mengatakannya?"
Untungnya sudah tidak ada siapapun disana sejak awal. Sekolah sudah kosong cukup lama karena mereka sedikit terlambat menjemput anak-anak sehingga tidak ada yang menyaksikan keributan tadi.
Melihat Dian hanya diam tanpa berniat menjawab, Nico tersenyum sinis meninggalkan istrinya menuju mobil dan menunggu disana.
Dian menyusul masuk tak lama kemudian dan duduk disebelah Nico yang mengemudi. Perjalanan diisi dengan keheningan dengan Lily, Emi dan Rico yang ikut membisu di kursi penumpang. Ketiganya tahu jika ada masalah diantara orang tuanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...