
Tiga bocah kecil berlarian masuk ke loby begitu mobil yang mengantar mereka berhenti di depan pintu masuk.
Beberapa karyawan menyingkirkan tubuh mereka sebelum tertabrak tubuh-tubuh mungil itu. Para penjaga dan resepsionis menjadi kelabakan karena ulah mereka.
"Siapa mereka?"
"Nona Diandra ada di atas. Bagaimana jika ada kekacauan?" bisik beberapa karyawan.
Tapi setelah melihat jelas wajah Lily dan Rico, mereka mulai menyadari.
"Itu anak yang dikenalkan nona Dian saat di pesta dan gadis itu kan pianis waktu itu, tapi anak laki-laki satunya lagi?"
Baru saja aksi ketiga bocah itu hendak dihentikan, kehadiran Vira mengalihkan atensi semua orang.
"Tante, ayo cepat!" panggil Lily cemberut. Ia tidak sabar bertemu mamanya.
Tante?!
"Sabar, Lily."
Vira menyadari kehadiran banyak orang pasti karena ulah anak-anak ini.
"Jika mereka datang lagi, biarkan saja mereka masuk," pinta Vira pada resepsionis, namun didengar oleh banyak orang.
"Ayo, Tante! Nanti mama pergi lagi." Lily tidak sabaran.
"Mama tidak ada jadwal, Lily. Jangan berisik!" hardik Emi kesal.
Mama? Ada apa sebenarnya?!
Vira menghela nafas pasrah.
"Baiklah, baiklah! Ayo."
Setelah kepergian empat orang itu, para karyawan mulai menduga-duga. Sepertinya rumor Dian adalah seorang ibu benar. Walau pernah menyaksikan sendiri sosok itu saat di pesta, namun siapa sangka itu sungguhan?
"Astaga, apa itu benar?"
__ADS_1
"Aku tidak pernah dengar dia menikah."
"Mungkinkah anak diluar nikah?"
"Dian memang sudah menikah. Bocah yang kalian lihat memang anaknya." Kehadiran Rea yang tiba-tiba membuat semuanya menunduk.
Sejak penyerahan jabatan secara resmi pada Diandra. Reana sudah jarang datang ke perusahaan kecuali ada hal penting.
"Se— selamat siang, Nyonya," sapa mereka gugup.
Rea tidak menanggapi lebih lanjut dan pergi menuju lift. Tujuannya ada ruangan Dian yang kini terdengar ramai karena celotehan Lily. Ada Emilio yang seperti biasa nampak malas dan sesekali menegur Lily yang berisik menurutnya, kemudian Rico yang selalu menyetujui ucapan Lily.
"Mama sudah janji ya! Sore nanti kita pergi ke pantai dengan papa, yey!"
"Kau sudah mengatakannya berulangkali!" hardik Emi.
"Agar mama tidak lupa," ujar Rico.
"Sudah, jangan bertengkar." Dian memijat pangkal hidungnya, "kalian tenang dulu, biar Mama selesai pekerjaan dengan cepat."
"Jika sibuk, sebaiknya menundanya saja," kata Emi tak tega melihat ibunya yang kelihatan lelah.
"Mama lelah!" bisik Emi kesal.
Dian mengalihkan pandangan dari laptop kepada ketiga anaknya.
"Kalian pergilah ke ruangan tante Vira dan masuklah Mam." Menatap ke arah pintu.
"Oma?"
Rea tersenyum simpul, "Oma mengganggu ya?"
Lily menggeleng, "tidak. Kami akan ke ruang tante Vira." Gadis itu menarik tangan Emi dan Rico tanpa menoleh lagi. Tinggallah Rea dan Dian disana.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rea. Suasana hatinya sedikit lebih baik saat Dian memanggilnya mam barusan.
"Masih sama."
__ADS_1
Rea menghela nafas pelan. Ia memberanikan diri untuk mendekat pada Dian yang masih duduk di kursi kebesarannya. Rea menarik salah satu kursi tamu kemudian duduk di samping Dian.
Wanita paruh baya itu lalu meraih pergelangan tangan putrinya setelah mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Mom mendesain perhiasan baru untukmu."
Tanpa persetujuan Dian, Rea memasang sebuah gelang di tangannya. Pergerakannya sedikit tertahan saat melihat sebuah bekas luka yang membentuk di bagian kulit nadi putrinya.
Lihatlah akibat perbuatan kita, Pah.
Dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca, Rea melanjutkan aktifitasnya.
"Aku tahu ini tidak bisa menyembuhkanmu, tapi mom berharap ini bisa menutupi sedikit luka lamamu." Tidak masalah walau hanya sedikit. Rea sudah mensyukuri itu.
Terlihat Dian memalingkan wajah ke arah lain sesaat, lalu kembali menatap ibunya.
"Mama senang melihatmu sekarang. Mama bahagia, Dian." Rea masih berkaca-kaca. Siapa yang tidak terluka melihat putri yang dilahirkannya harus mengalami hal buruk sejak kecil? Ditambah kenyataan bahwa dirinyalah penyebab hal buruk tersebut.
"Mama ingin mengakui sesuatu?" Dian mencoba menurunkan egonya.
"Maaf—" Rea menggenggam erat tangan Dian, "selama beberapa tahun ini aku telah memaksa Vira memberitahu kondisimu. Aku benar-benar ingin mati setiap kali Vira mengatakannya."
Dian yang menangis sendirian, gangguan kepribadian yang muncul serta rasa sakit yang tiba-tiba akibat rasa trauma masa lalu membuat Reana begitu terpukul.
Namun apa yang bisa diperbuatnya jika Dian sudah terlanjur membencinya. Kehadirannya hanya akan menjadi luka baru untuk Dian.
"Lalu aku melihat Nico. Aku tahu dia ayah anak-anak. Kupikir dia bisa membantumu sembuh."
-
-
-
-
yuk yang belum mampir^^
__ADS_1
Gendre juga wanita kuat ya~