
Setelah melihat istrinya tidur dengan tenang di kamar, Nico keluar melihat kondisi anak-anak yang sempat melihat keadaan Dian saat masuk ke rumah. Tidak salah, ketiga anaknya sedang duduk menunggu di ruang keluarga dengan wajah cemas mereka.
Begitu melihat Nico turun, ketiganya langsung mendekat.
"Papa, bagaimana keadaan mama?"
"Mama baik-baik saja, kan?"
"Mama tidak apa-apa, kan?"
Ketiganya mencercanya dengan pertanyaan. Nico mengelus kepala mereka satu-persatu dan menuntunnya duduk.
"Mama baik-baik saja. Sekarang sedang istirahat. Mama hanya kelelahan." Nico menenangkan.
"Sudah lama mama tidak begini," ucap Emi menatap ke lantai atas.
"Maksudmu?" tanya Nico.
"Jika mama merasa tertekan, dia akan sakit," sahut Lily.
Nico tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya berapa banyak masalah istrinya ini. Baru akan bicara lagi, Nico mengurungkan niatnya saat melihat Vira masuk beriringan dengan Roby.
__ADS_1
Melihat perban di sepanjang lengan Vira, anak-anak berpindah mendekatinya.
"Tante kenapa?!"
"Tidak apa-apa. Hanya terjatuh." Vira mengibaskan sebelah tangannya.
"Kalian belum makan, kan? Tante sudah beli untuk kalian." Menyenggol Roby yang terbengong. Pria tersadar segera meletakkan beberapa bungkus makanan yang sempat di beli di atas meja.
"Apa mama yang melakukannya."
"Melakukan apa?" Vira tertawa canggung, mengalihkan pandangan dari tatapan Lily.
"Lily, kenapa bicara begitu?" tanya Nico lembut.
Tentu saja Nico tahu. Dian tanpa kelembutan di dalamnya hingga mendapat julukan monster karena sifatnya.
Vira menghela nafas pelan. Ia duduk dan menatap semua orang satu-persatu.
"Salah satu sifat Dian yang cukup berbahaya adalah melukai orang tanpa sadar. Biasanya itu terjadi pada orang terdekatnya karena setelah itu dia akan tertekan atau syok," jelas Vira.
Berbeda lagi jika itu terjadi pada orang-orang menyebalkan yang tidak disukai Dian. Wanita itu tidak akan ragu mengatakan jika dia sadar!
__ADS_1
"Bukankah berbahaya jika terjadi pada anak-anak," sahut Roy.
Mungkinkah ini termasuk salah satu gangguan mental yang di alami Dian akibat masa lalunya?
"Jangan meminta kami untuk menjaga jarak dengan mama," ucap Emi tajam.
Dibandingkan tiga orang dewasa itu, Emi dan Lily merasa lebih tahu tentang ibunya. Hal buruk apa yang belum keduanya lihat mengenai ibu mereka sendiri. Jangankan ketiga orang itu, saat Reana beberapa kali membujuk pun, keduanya enggan.
"Kami sudah bersama selama bertahun-tahun. Mama hampir membunuh orang pun kami sudah melihatnya!" Lily ikut membela.
"Lily, Emi, tenanglah. Tidak ada yang akan memisahkan kalian," kata Nico, meski ada sedikit keterkejutan saat mendengar ucapan Lily.
"Mama tidak jahat. Mama bilang itu untuk melindungi diri." Rico ikut bersuara. Semua orang langsung menatap bocah kecil itu.
"Tante Vira, maafkan mama ya. Mama pasti tidak sengaja." Menyentuh pelan tangan Vira. Dokter muda itu tersenyum haru melihatnya.
"Tante tidak marah, Rico sayang. Mama Dian adalah orang baik, Rico harus terus menyayanginya ya." Vira mengelus kepala Rico.
Dian mungkin belum sempurna sebagai ibu, tapi Dian tidak pernah gagal menjadi ibu untuk anaknya. Wanita itu berhasil mendidik anak yang dibesarkannya dengan kasih sayang.
Begitupun Nico yang merasa bangga melihat pertumbuhan Rico yang sempat khawatirkan akan menjadi timbulnya masalah. Tapi Dian dengan percaya diri menyangkal semua pemikirannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf banget klo ceritanya semakin gaje🙏 Aku udah berusaha berpikir keras buat lanjutin cerita mereka.