
"Berdasarkan catatan medis yang pernah di jalani Dian bahwa memang benar dia melakukan histerektomi. Lebih jelasnya Dian pernah mengalami plasenta akreta sehingga harus terpaksa melakukan pengangkatan rahim."
Plasenta akreta adalah kondisi ketika ari-ari atau pembuluh darah pada plasenta bertumbuh pada dinding rahim terlalu dalam. Normalnya, plasenta ikut terlepas dari dinding rahim usai ibu melahirkan. Namun, ketika ibu mengidap plasenta akreta, plasenta tetap menempel pada dinding rahim setelah ibu melahirkan, baik sebagian atau seluruhnya. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan menyebabkan ibu mengalami perdarahan hebat setelah melahirkan.
(Source: Google)
"Bagaimana Dian mengalaminya sedangkan ia tidak pernah melahirkan!" Apa dokter pribadinya ini sedang membual.
"Aku hanya melihat catatan medis Dian, Nic. Seperti itu yang diterangkan disana." Dokter itu menjawab apa adanya.
"Maksudmu Dian berbohong soal ini?!" Nico tahu Dian yang sekarang tidak suka berbasa-basi. Apa yang keluar dari mulut wanita itu bukanlah mainan.
"Bisa saja, kan?" Gwen tidak ingin kalah. Melihat amarah Nico yang semakin tersulut, Gwen menghela nafas kasar.
"Menurut pendapatku ada dua kemungkinan, Nic. Kau mau dengar?" Gwen kembali melanjutkan ucapannya saat mendapat tatapan tajam Nico. "Pertama, bisa saja dia memang pernah melahirkan, namun Tuhan berkehendak lain. Kedua, dia memalsukan catatan medisnya."
Masuk akal, Roby setuju dalam hati. Status Dian yang besar tidaklah masalah untuk hal seperti ini jika ingin memalsukan catatan medisnya sendiri.
"Mungkin Dian memiliki alasan tersendiri. Jangan lupa dia menjadi pewaris keluarga Hanasta."
Hanya itu yang mereka ketahui. Salah satu alasan Dian tidak berhubungan baik dengan keluarganya sendiri. Wanita itu sengaja membiarkan orang-orang mengetahui dirinya yang dalam kondisi histerektomi sehingga tidak ada alasan untuk menikahinya atau sekedar menjadi korban perjodohan.
**
__ADS_1
Nico langsung kembali ke mansion setelah menyelesaikan semua urusannya dengan dokter Gwen. Begitu masuk kamar, matanya langsung menangkap sosok Dian yang sedang di temani oleh dua maidnya. Melihat kedatangan Nico, kedua maid itu pamit pergi, begitupun dengan Roby.
Dian tidak bergeming. Ia tahu Nico tengah menatapnya. Tiba-tiba saja tubuhnya terhempas ke ranjang akibat ulah Nico. Pria itu merangkak di atasnya dan menindihnya. Dian pikir Nico akan kembali melakukannya, tapi ia salah. Nico hanya memeluknya dengan menyembunyikan kepala di ceruk lehernya.
Tak lama Dian merasakan sesuatu yang basah di ceruk lehernya itu. Ia terkejut melihat tubuh Nico sudah bergetar. Pria itu menangis disana.
"Nic?"
"Maaf ...," lirih pria itu.
"Untuk apa?"
"Maaf ... tidak bisa menebus kesalahan Papa," racaunya lagi sambil menangis.
Deg!
"Aku berharap dengan kehamilanmu bisa menebus nyawa anak kita dengan melahirkan mereka kelak. Aku sudah berjanji akan memberikan anak kita cinta yang belum pernah mereka rasakan."
Mereka sudah merasakannya, Nic.
"Kau mau melepaskanku?" Setelah mengatakan itu, Dian merasa pelukan Nico menguat.
"Jangan harap!" desisnya marah. Baru saja pria itu menangis, sekarang sudah kembali pada sikap egoisnya.
__ADS_1
"Apa lagi yang kau harapkan dariku? Aku hanya wanita mandul yang tidak bisa memiliki anak."
"Memangnya kenapa?! Bisa atau tidak kau tetap akan menjadi milikku."
"Ibumu tidak akan setuju."
"Aku tidak perlu restunya!"
"Kau tidak malu? Bagaimana jika para rekan bisnismu. Apapun alasan wanita itu melakukan histerektomi, Nico tidak akan menyalahkannya. Justru ini adalah kesalahan dirinya yang tidak bisa menjadi suami sekaligus ayah yang bertanggung jawab. Apapun itu ... Nico takut mengetahui faktanya.
-
-
-
Dian menggeliat kecil di tempat tidur. Ia merentangkan tangannya yang sedikit kaku dengan mata mengantuk. Tak lama kemudian Dian merasa aneh saat merasakan tempat tidurnya sangat lapang. Menoleh, ia tak mendapati Nico di sebelahnya.
Ia mengumpulkan kesadaran, lalu bangun perlahan. Jam di atas nakas masih menunjukkan pukul satu pagi. Memeriksa kamar mandi, walk in closet, bahkan ruang keluarga pribadi juga tidak ada. Dian memeriksa kunci mobil serta ponsel Nico, ada.
Mungkin sedang di dapur. Baru akan mengarah kesana, Dian tak sengaja mendengar suara dari ruang kerja Nico. Pintu tidak tertutup rapat, menyisakan sedikit cela sehingga Dian bisa mengintip. Dalam hitungan detik mata Dian membelalak tidak percaya. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan untuk menutupi keterkejutannya.
Hati-hati ia berbalik dan kembali ke dalam kamar. Dian kembali berbaring dengan selimut menutup tubuhnya. Ia yakin Nico tidak akan tidur bersamanya hari ini. Tangannya mengepal, berbagai emosi menghampiri. Banyak kejutan yang diberikan Nico yang berhasil memporak-porandakan hatinya.
__ADS_1
Saat lelehan bening tak dapat ia tahan, segera Dian menghapusnya. Apa sekarang ia menyesali masa lalu? Tindakan yang telah ia pikirkan dengan matang haruskah menjadi penyesalan pertamanya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...