Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Kegelapan Lain


__ADS_3

Nico dan anak-anak yang bermain di halaman rumah terkejut saat melihat mobil yang tidak utuh lagi kap nya memasuki pekarangan. Tak lama Roby keluar dengan wajah lesu nya. Nico langsung mendekat dengan wajah khawatir.


“Ada apa?! Istrinya baik-baik saja, kan?” Tidak terjadi kecelakaan, kan? Nico panik.


“Semua aman. Aku tidak tahu ini kecelakaan atau bukan.”


“Lalu?”


“Lily tebak mama yang membuatnya seperti itu, kan?” tebak Lily cekikikan.


“Benar, Tuan. Nona yang menabrakkan mobilnya sendiri.” Roby memelas. Jantungnya masih berdetak kencang hingga sekarang. Kali ini ia ikut merasakan kegilaan Dian.


Roby menceritakan semua yang mereka alami. Anak-anak hanya tertawa mendengarnya, begitupun Nico yang hanya terkekeh.


"Papa harus terbiasa dengan mama. Hanya luarnya saja yang terlihat kasar, namun hatinya sangat lembut." Emi berucap datar. Lily dan Rico sontak mengangguk setuju.


-


-


-


-


"Pembuat onar sudah datang," ucap seorang wanita yang duduk di sofa. wanita itu sibuk mengotak-atik laptopnya. Dian baru saja masuk ke ruang kantornya terkejut melihat keberadaan wanita itu.


"Kapan kau datang?"


"Tiga hari yang lalu."


"Apa?! Dan kau tidak memberitahuku apapun!" Suara Dian meninggi.


"Aku ingin, tapi bosku sedang sibuk dengan suaminya." Vira, wanita itu tidak terimidasi sedikitpun.


"Itu—" Dian tergagap.


"Kau gugup? Astaga ... baru kali ini aku melihat ekspresi wajah itu." Vira tertawa puas.


"Kau— hentikan saja!" Dian meletakkan tasnya kasar dan duduk.


"Baik-baik. Langsung ke inti saja." Vira berubah serius.


"Beritamu hampir menyebar lagi, Dian! Kau tahu betapa lelahnya aku menutupi semua jejak burukmu di media. Dan apa tadi?! Kau menabrak orang!" Wajah serius itu menghilang, digantikan dengan wajah syok. "Ya Tuhan, bukan pertama kalinya kau hampir membunuh orang, Dian!"

__ADS_1


Dian hanya memutar bola mata malas. "Aku membayarmu. Kau digaji dan aku atasanmu. Jangan lupa itu."


"Setidaknya kau beri aku keringanan. Pekerjaanku bukan hanya sekretaris pribadimu! Aku juga dokter!"


"Itu resikomu karena memilih dua pilihan."


"Ck!" Vira berdecak. Sudah diduga Dian tidak bisa dibujuk.


Keduanya hening sesaat.


"Tinggalkan apartemenmu. Kenapa tidak kembali ke rumah," ketus Dian.


"Kau gila? Kau pikir aku mau pulang saat mantan sua— ah tidak, suamimu ada disana? Kau tidak takut aku menjadi orang ketiga?" tanya Vira tanpa henti.


"Tidak," jawab Dian singkat.


"Cih! Kau sudah percaya diri rupanya. Dia sudah tergila-gila padamu, kan?" Dian hanya tersenyum tipis. Benar. Ia sudah sepercaya diri itu.


"Aku hampir melupakan mimpi burukku berkat dia." Nada suaranya berubah pelan.


Vira menatap Dian sendu. Mungkin Dian sudah berhasil melewati kegelapan yang disebabkan oleh Nico, tapi jangan lupa jika wanita itu masih memiliki kegelapan lain. Sesuatu yang sudah menetap begitu lama. Harus dimusnahkan dari akarnya.


"Dian ...."


"Munafik!" hardik Vira, menghentikan langkah Dian.


"Apa katamu?" Wajah Dian berubah datar, tidak ramah.


"Kau berhenti mengunjungi psikiater setelah memiliki Emi dan Lily. Kau berpura-pura baik-baik saja padahal kau bisa lepas kendali kapan saja!"


"Aku tau kondisiku sendiri."


"Biarkan Nico tahu. Aku akan tenang setelah itu."


"Aku baik-baik saja." Dian masih membantah.


"Kau harus temukan pintu keluarmu, Dian. Sampai kapan kau akan terjebak disana?"


"Diam!"


"Kondisi kakekmu tidak baik, begitupun kondisi ibumu yang menurun. Jangan sampai kau menyesalinya."


"Aku tidak peduli!"

__ADS_1


"Cobalah bicara dengannya, mungkin ini sedikit mengobatimu." Vira belum menyerah.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau mendesakku?! Kau tahu aku tidak suka membahas ini!" Dian menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut.


"Aku ingin kau sembuh. Menjalani kehidupan normal bersama keluargamu sendiri. Aku bahagia melihatmu tanpa beban."


"Cukup!" Kepalanya mulai terasa sakit, seolah ada batu besar yang menghantamnya. Bayang-bayang buruk mulai berputar di kepalanya.


"Dian?"


"Pergi," hampir bergumam.


"Dian ... maaf. Biar ku lihat." Vira mendekat.


"KU BILANG PERGI!" teriaknya, tanpa sadar tanganya meraih sebuah vas bunga di atas meja dan melemparnya ke arah Vira. Vira yang terkejut langsung berlindung dengan lengannya yang langsung terhantam vas.


Darah segar segera mengalir keluar dari lengan Vira akibat pecahan kaca dari Vas. Wajahnya pun ikut tergores, membuat lecet di beberapa bagian.


Dian tersadar seketika bergerak mundur, bertumpu pada meja kerja di belakangnya. Wajahnya syok dengan nafas tercekat.


"Dian ... tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Vira mencoba menenangkan meskipun lengannya sudah berdenyut sakit.


"Darahmu."


"Tidak apa-apa."


"Aku hampir membunuhmu." Lelehan bening akhirnya keluar.


"Tidak, Dian. Itu bukan kau."


"Menjauh dariku," gumamnya. Vira masih mencoba mendekat.


Tak lama pintu ruangan terbuka, menampilkan dua sosok jangkung dengan wajah terkejut. Nico beserta Roby datang tanpa diduga. Keduanya tak sengaja mendengar keributan dari ruangan Dian saat Nico hendak masuk.


"Bawa dia pergi. Dia terluka." Dian memohon, namun tidak berani mendekat. Lantai sudah kotor akibat darah Vira yang tidak berhenti keluar.


"Rob, bawa dia ke rumah sakit segera."


"Baik, Tuan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bab ini stop sampai disini dulu ya ges. Maaf banget, aku lagi stuck ide buat novel ini.

__ADS_1


__ADS_2