Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Ruang Seni


__ADS_3

Akhir pekan diisi dengan kesibukan di rumah Dian. Semua orang memiliki pekerjaan masing-masing. Sesuai permintaan Nico mereka akan pindah untuk tinggal bersama di mansion yang pernah diberikan oleh Nico pada Dian.


"Kemasi barang penting kalian saja. Pakaian dan sejenisnya tidak perlu," kata Nico.


Saat ini mereka berada di kamar Lily, Emi dan Rico untuk membantu mengemas.


"Mama, bagaimana dengan ruang seni?"


"Biar papa dan mama yang mengurusnya," kata Dian mengelus kepala Lily.


"Lalu piano?"


Nico tak dapat menahan senyum, "jangan khawatir. Kita sudah punya satu di mansion." Sebenarnya sudah lengkap semua keperluan istri maupun anaknya disana, namun mereka pasti tetap memiliki barang pribadi yang penting.


"Memangnya mama tidak marah?" bisik Lily membuat Nico terkekeh. Ya, ia tahu Dian mengajarkan kesederhanaan pada anak mereka bahkan pernah dikatai pelit oleh Lily sendiri. Nico ingat jika putrinya itu sering menyinggung sang mama dulu.


"Papa jangan sering menghambur uang," bisik Lily lagi.


"Tenang saja. Jangan beritahu mama mu itu," balas Nico.


"Aku dengar!" sahut Dian di ujung sana. Emi dan Rico langsung terkikik geli.


Nico segera meletakkan jari telunjuknya di bibir dan di angguki Lily yang ikut melakukan hal serupa.


Pria itu kemudian mendekat pada istrinya yang sedang merapikan buku-buku sang anak.

__ADS_1


"Sayang, jangan terlalu sering marah di depan anak-anak."


Dian sontak menatapnya tajam membuat Nico langsung memasang senyum lebar. Ia salah bicara ternyata.


"Papa sangat berani ya," bisik Rico pada kedua kakaknya.


"Dia payah!" jawab Emi ketus dengan berbisik juga.


"Di pihak mama masih lebih aman." Lily ikut berbisik.


"Sudah selesai?"


Ketiganya membeku kemudian mendongak sambil menampilkan cengiran khasnya. Dian sudah berdiri sambil berkacak pinggang.


"I love you, Mama," cicit ketiganya.


"Hanya mama?" ketus Nico di belakang Dian.


"Papa juga!" Sekarang Nico yang menjadi tubrukan ketiganya.


****


"Ini ruang seni Lily?" tanya Nico dan di angguki oleh Dian yang mulai memutar kunci.


Tempatnya tidak terlalu besar namun juga tidak kecil. Terdapat berbagai macam lukisan disana. Kebanyakan di buat oleh Dian meski tempat ini milik Lily. Ia pernah bilang akan mengimbangi kedua anaknya, kan? Dengan begitu ia bisa menjadi ibu sekaligus ayah.

__ADS_1


Nico sendiri tersenyum kecut. Ada banyak hal yang sudah ia lewatkan mengenai pertumbuhan anak-anaknya.


"Aku benar-benar ingin mengulang waktu, sungguh!" Terkekeh sendu.


Tidak terbayang bagaimana sulitnya Dian dulu mengurus keduanya mengingat Dian bisa melakukan banyak hal yang dulu tidak bisa dilakukannya sama sekali


"Sejak mengetahui Lily suka menggambar, aku membuat tempat ini. Awalnya hanya dengan pensil dan kertas, namun semakin lama dia juga tertarik pada kuas dan kanvas."


"Dia berbakat." Senyum Nico begitupun dengan Dian, "lalu bagaimana denganmu?" Membawa Dian agar menghadap dirinya sembari melingkarkan tangan di pinggang.


"Kau tahu aku payah dalam seni lukis."


"Tapi sekarang lukisanmu lebih baik dari Lily," ucap Nico berbisik. Jangan sampai anak itu tiba-tiba mendengar.


"Seharusnya aku tidak belajar begitu keras," balas Dian berbisik juga. Secara tidak langsung juga mengakui. Keduanya terkekeh pelan.


"Katakan apa lagi yang bisa kau lakukan?" Nico merapatkan jarak mereka.


"Hmm ... Aku belajar piano untuk mengajarkan Lily, lalu belajar basket untuk Emi dan bermain stick game untuk menemani Emi juga. Intinya aku harus bisa melakukan apa yang anakku suka."


"Lily juga begitu. Terkadang aku memintanya bermain stick game bersama dan Emi juga akan menemani Lily bermain boneka. Ya, meski Emi terlihat geli, tapi dia tidak boleh menolak!" ungkap Dian panjang lebar.


Nico tertawa cukup puas mendengar ocehan istrinya untuk menutupi segala penyesalan dan kesedihan yang mulai menyusup lagi sedikit demi sedikit. Seharusnya ia ada diantara mereka saat itu sehingga wanita cantik ini tidak perlu berusaha keras.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2