
Diandra berdiri diam sambil merentangkan tangannya di depan cermin besar seraya Luna memasangkan sebuah dress hitam ke tubuhnya. Adapun Raisa yang sibuk mengompres bagian matanya yang membengkak dan sembab.
"Kami hanya jalan-jalan biasa. Untuk apa meriasku seperti ini?" gerutu Dian. Ia seperti gadis yang dipaksa pergi ke sebuah pesta.
"Kami hanya mengikuti perintah tuan, Nyonya."
Dian akhirnya menutup mulut dan membiarkan dua maidnya bermain dengan wajahnya setelah selesai menata dressnya.
"Anda bisa tidur selama kami merias, Nyonya."
"Hm," gumamnya. Tanpa disuruh pun akan ia lakukan. Pasalnya kedua matanya sudah sayu karena mengantuk.
"Nyonya, lain kali jangan membuat wajah anda rusak!" celetuk Raisa yang seketika membuat Luna melotot, bahkan Dian membuka matanya kembali.
"Kau memang punya keberanian," ujar Dian bangga sembari menepuk-nepuk pundak Raisa.
"Anda sendiri yang bilang jangan takut."
"Luar biasa!" Dian tertawa.
Berbeda dengan Luna yang merasa cemas karena ulah Raisa yang suka lepas bicara sembarangan.
"Luna, belajarlah dari adikmu."
"Iya— Nyonya." Melototi Raisa sekali lagi.
__ADS_1
"Tapi anda tetap cantik! Tuan Nico sangat beruntung!" celetuk Raisa lagi.
"Raisa ... Tuan sudah menunggu," kata Luna membuat gadis itu cemberut.
Dian memejamkan matanya kembali dengan senyum di bibirnya. Ia tak pernah mempersalahkan sikap mereka selama itu tidak melewati batas, terutama untuk sikap Raisa yang lebih kekanakan dibandingkan Luna yang lebih dewasa.
Tidak ada suara lagi setelah itu. Polesan kedua maid di wajahnya menimbulkan rasa kantuk yang tak tertahan. Tanpa sadar Dian larut dalam tidur tenangnya dengan posisi bersandar pada kursi.
Dian terbangun setelah beberapa saat, entah berapa lama waktu yang ia habiskan hingga perasaannya sedikit lebih baik. Untuk wanita karir sekaligus ibu memang menguras banyak waktu istirahat. Tidur sebentar seperti ini saja sudah bisa membuat lega.
"Cantik!" bisikan di telinganya menyadarkan Dian sepenuhnya. Rupanya ada Nico yang entah sejak kapan ada disana.
Dian menatap cermin. Syukurlah, Luna dan Raisa tidak gila meriasanya seperti pengantin.
"Aku sudah janji meluangkan waktu dan juga aku tidak akan lelah soal anak-anak." Mereka saling menatap di cermin.
Cup, Cup, Cup. Nico gemas mendaratkan kecupan di kening.
"Jangan menciumku terus. Luna dan Raisa sudah bekerja keras." Memejamkan mata lagi.
Nico tidak peduli, lagipula istrinya menjadi sangat cantik malam ini. Bukan berarti tak cantik sebelumnya, mungkin karena Dian jarang menggunakan riasan hingga terlihat dua kali lipat mempesona.
Cup!
Dian tersenyum lagi. Ah, dasar keras kepala. Kali ini bibirnya yang menjadi sasaran.
__ADS_1
"Aku akan terus berdandan seperti ini jika kau sangat suka." Mengangkat kepalanya dengan dagu yang sengaja disatukan dengan dagu suaminya, "kau sangat tinggi."
Tuk! Nico menghantukkan dagunya di kening Diandra pelan.
"Kau yang pendek."
Dian tertawa dengan tangan yang kini melingkar di leher Nico.
"Suamiku sangat tampan." Menggesekkan hidung mereka.
Nico membalas dengan melakukan hal serupa. "Istriku sangat cantik!" Dian tertawa lagi.
Cup! Kali ini Dian yang mengecup bibirnya.
Nico membalas lagi dengan cara yang sama. Namun ia tidak melepaskan kali ini sehingga bibir keduanya tertaut intens. Tangan Nico mulai mengelus paha Dian yang terekspos.
"Tuan, Nyonya, mobil dan anak-anak sudah siap."
Suara ketukan menghentikan tautan keduanya dengan Nico yang mengeram kesal. Dian lagi-lagi terkekeh.
"Kita lanjutkan setelah pulang," bisik Dian. Toh situasinya memang tidak pas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1