Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Tidak Apa-apa


__ADS_3

Seperti biasa Emi menunggu mobil jemputan datang di depan gerbang sekolah. Hari ini ia hanya berangkat sendiri tanpa Lily. Gadis kecil itu belum di perbolehkan oleh Dian untuk bergerak dari brankar rumah sakit. Sebenarnya Dian juga sudah mengizinkan Emi untuk tidak pergi ke sekolah, tapi Emi menolak. Salah satu alasan ialah menghindari sang ayah.


Bukan berarti ia membenci. Hanya saja ia terbiasa tanpa keberadaan Nico. Emi belum siap menerima kehadirannya. Kenapa baru sekarang pria itu datang? Dimana dia dulu yang begitu mereka butuhkan? Ibunya harus berjuang sendirian melawan kerinduan serta kelemahannya sendiri, bahkan bertaruh nyawa untuk mereka tanpa kehadiran sang ayah yang sebenarnya begitu ia rindukan.


Lamunannya pecah saat mobil hitam yang nampak asing berhenti di depannya. Seorang pria yang berusaha ia hindari muncul disana. Nico datang menjemput putranya yang belum bisa ia taklukkan.


"Hai," sapa Nico pada Emi yang tidak bergeming. "Papa yang menjemputmu hari ini karena mama harus menjaga Lily."


"Thanks," jawab Emi pelan sembari melangkah masuk ke dalam mobil. Rico tersenyum kecut.


Tidak ada percakapan di sepanjang jalan. Dua orang yang memiliki sifat sama terjebak dalam kecanggungan masing-masing. Nico tidak tahu harus berbicara apa, begitupun dengan Emi yang membisu.


"Apa yang harus Papa lakukan untuk mendapatkan maaf dari Emi?" Nico akhirnya angkat suara, namun tidak mendapat jawaban. "Sebegitu bencinya kah padaku?" tanya Nico lagi.


Bocah laki-laki itu menoleh sebentar, lalu kembali ke posisi awal. "Aku tidak pernah marah atau membenci anda. Tidak ada alasan untukku bersikap begitu," jawab Emi akhirnya.


Nico terdiam. Sebenarnya ia terganggu dengan kata anda yang di ucapkan Emi. Namun ia mencoba mengerti jika putranya berbeda dari putrinya.


"Lalu?"


"Sebelumnya kita tidak pernah berhubungan sama sekali. Anda tidak mengenalku dan aku tidak mengenal anda. Kita hanya tahu jika kita ada di dunia ini." Nico berusaha tetap fokus meski perkataan Emi menyakitinya. Emi menyadari itu.


"Aku tahu itu mengganggumu, tapi itulah kenyataannya. Kita masih orang asing." Citt ....


Nico mengehentikan mobilnya mendadak. Tangannya mencengkram setir mobil dengan wajah menahan amarah.


"Aku ayahmu, bukan orang asing, Emi!"


Emi dapat melihat wajah ayahnya yang memerah. Ada sedikit rasa takut yang ia tahan. Emi memalingkan wajah, meremas tangannya yang berkeringat.


"Saat itu sekolah mengadakan perayaan kecil. Semua orang tua murid diundang untuk datang. Para anak-anak diminta merangkai bunga untuk orang tua mereka sebagai tanda cinta. Anak perempuan membuat bunga untuk diberikan pada ibunya dan anak laki-laki untuk ayahnya." Emi berhenti sejenak.

__ADS_1


"Saat semua orang melakukannya, aku hanya bisa diam melihat mereka memberikannya pada ayahnya. Aku tahu mama ingin menangis saat melihatku, tapi mama mendekat dan memelukku. Dia berkata, Tidak apa-apa, mama akan menjadi ayah sekaligus ibu untuk Emi dan Lily."


"Sejak saat itu aku tidak lagi mengharapkan apapun. Aku sadar jika hanya mama yang bersama kami, bahkan setelah mama mengenalkan sosok anda pada kami."


Nico mengatur nafasnya yang sesak. Dadanya terasa terhimpit mendengar pengakuan putranya. Menyesal, ia sangat menyesalinya. Disaat anak-anak membutuhkannya, ia tidak ada disana. Mereka pasti telah menahan banyak hal. Bahkan Emi memberi tameng pada dirinya untuk terbiasa dengan ketidakhadirannya.


Nico memegang kedua pundak Emi, menatap bocah itu sedih. "Berikan Papa kesempatan. Papa janji akan selalu bersama kalian. Tidak ada seorang pun yang akan memisahkan kita," ucap Nico sungguh-sungguh seraya menatap mata yang sekarang berkaca-kaca.


Emi menunduk dalam, tak lama tangannya terangkat menghapus genangan yang hendak keluar dengan kasar. Ia bukan bocah cengeng, tidak boleh menangis!


"Maaf ... maaf. Menangislah, jangan menahannya lagi." Nico mengusap pipi Emi lembut seraya membawanya ke dalam pelukannya.


Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya mengucur keluar. Emi akhirnya menangis untuk pertama kali setelah menahan diri begitu lama. Bocah itu memeluk leher ayahnya erat. Suara tangisnya begitu menyesakkan bagi yang mendengar.


"Emi– Emi tidak ingin mama sedih. Mama sangat mencintai Papa, Emi tahu itu ...," suguknya. "Itu sebabnya Emi tidak suka jika Lily membahas tentang Papa."


Dian pergi dengan membawa lukanya. Karena keegoisannya, kedua anaknya harus terlibat dalam luka yang disebabkan olehnya.


Dian berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Nico dan Emi. Wanita itu tersenyum lembut mendekati Emi yang masih menggendong tas sekolahnya.


"Bagaimana hari ini?" Berjongkok di depan Emi, memberi kecupan ringan di wajah tampannya.


"Lancar." Artinya tidak ada masalah.


"Baguslah. Sekarang ganti pakaianmu dulu." Emi mengangguk sembari membalas kecupan ibunya di pipi, lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti baju.


"Hanya Emi? Bagaimana denganku?" keluh Nico.


Dian mendelik," Memangnya kau anakku?" sergahnya, merapikan pelan rambut Lily yang tertidur.


Nico tanpa ragu meraih pinggang Dian, mendekatkan wajah mereka. "Bukan anak, tapi suami," bisik Nico hendak menciumnya. Belum sempat bibir keduanya menyatu, Dian menyadari ada yang salah.

__ADS_1


"Why," tanya Nico.


"Dimana Rico?" Mendorong pelan dada Nico yang terdiam. Dian melihat sekelilingnya. "Seharusnya kalian bersama, kan?" Ia baru menyadari jika hanya Emi yang datang.


"Aku sudah meminta sopir untuk menjemputnya," jawab Nico yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dian.


"Maksudmu, kau meninggalkannya?"


"Aku tidak meninggalkannya. Sudah kubilang sopir menjemputnya," bantahnya.


Dian menatap Nico tidak percaya seraya menggeleng pelan. "Dia putraku, Nic. Tidak peduli dari siapa dia dilahirkan ... Aku mencintainya." Ini yang ia takutkan, Nico tidak berlaku adil.


Bukan tidak tahu. Nico pasti belum bisa menerima Rico yang notabennya adalah putra Melly.


"Aku titip Lily."


Nico menahan tangan Dian yang hendak keluar. "Bukan begitu, Dian. Aku butuh waktu," jelasnya, berharap Dian mau mengerti.


"Kita bicarakan nanti," tepis Dian melangkah keluar. Nico ikut mengejar.


Langkah keduanya terhenti saat melihat Rico sudah berdiri di depan ruangan Lily seorang diri tanpa berniat masuk. Apa Rico mendengar?


"Sayang, sudah pulang?" Dian berjongkok memberi kecupan seperti yang ia lakukan pada Emi sebelumnya. Rico mengangguk seraya membalas.


"Rico mencari kak Emi di depan gerbang, tapi tidak ada. Rico pikir kakak sudah pulang, jadi pergi bersama sopir setelah menunggu lama," ucap Rico di pelukan ibunya. "Maaf, Mama. Apa kakak sudah kembali?"


Dian menatap Nico marah. Jika Rico tahu dirinya disisihkan, pasti akan merasa sedih. Sedangkan Rico masih memikirkan kakak laki-lakinya.


"Tidak perlu minta maaf. Emi dijemput papa. Mama minta maaf karena lupa memberi tahu jika Rico juga disana."


"Tidak apa-apa, Mam. Rico sayang Mama." Mengecup cepat pipi Dian, kemudian berlari masuk melewati Nico.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2