Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Sudah Berbeda


__ADS_3

"Mamaa ..." Ketiga anak Dian berhamburan keluar saat melihat Dian turun dari mobil. Ketiga bocah itu sudah sangat merindukan sosok ibu mereka yang sekarang sudah jarang ditemui. Dian memeluk ketiganya dengan kasih sayang dan mengecup satu persatu kening mereka.


"Mama, kak Emi mendapat juara kelas lagi!" Lily mengayunkan tangan ibunya antusias selama berjalan masuk.


"Really?!"


"Yes! Tapi Lily hanya mendapat juara kedua," lesunya kemudian.


Dian tersenyum tipis. "Memangnya kenapa?"


"Pokoknya Lily harus jadi yang terbaik seperti kakak!"


"Rico masih belum bisa menulis. Rico masih bodoh ya?" Dian te rgelak mendengar ucapan polos Rico. Wanita itu membawa Rico ke pangkuannya.


"Ingin menjadi pintar itu berproses. Ingin menjadi yang terbaik pun juga butuh proses. Tidak bisa bukan berarti bodoh. Semua memiliki tahapan," jelas Dian tersenyum.


"Mama tidak mau kalian memaksakan diri. Berusahalah semampu kalian, mengerti?" Mereka mengangguk.


"Emi, mengapa tidak bicara?" Sejak tadi Emi hanya diam.


"Tante Vira akan berangkat lusa besok. Mama menginap disini ya," pinta Emi. Ia rindu menemukan ibunya di pagi hari sedang memasak atau membantu mereka sebelum berangkat ke sekolah.


"Emi rindu ...," cicitnya menunduk, begitupun Lily serta Rico yang ikut mengangguk pelan. Sebenarnya sudah sejak lama mereka ingin mengutarakan hal ini, tapi takut mengganggu rencana sang ibu.

__ADS_1


Dian terdiam. Hatinya seakan diremas melihat anaknya sendiri seperti mengemis demi kehadiran dirinya.


"Oke!" jawab Dian.


Ketiganya mendongak. "Sungguh?" Dian mengangguk.


"Yeyy!!"


Jujur Dian juga merindukan kehadiran anak-anaknya yang selalu ia lihat begitu bangun pagi, ketika pulang bekerja bahkan saat ia akan tidur kembali. Namun, demi kebahagiaan mereka kelak di masa depan, apapun akan Dian lakukan agar keberadaan mereka dapat diakui dan diterima tanpa paksaan. Dian ingin orang-orang yang bersama mereka nantinya bisa mencintai anak-anaknya dengan tulus.


Bersabarlah sedikit lagi. Mama hanya ingin kalian mendapat cinta yang seharusnya kalian miliki.


Cukup ia saja yang tumbuh tanpa mengenal kasih sayang. Ketika anaknya harus tumbuh dengan cinta yang berlimpah!


Dian


Aku tidak pulang. Lusa adalah pesta keluarga Hanasta. Aku mengurus banyak hal.


^^^Nico^^^


^^^Jangan mengecewakanku.^^^


Pesan masuk dari Dian membuat Nico berusaha untuk percaya pada wanita itu. Dua bulan terakhir ini Dian sudah tak mencoba lari darinya. Dian akan kembali ke mansion setelah pulang bekerja. Tapi alasan yang diberikan Dian kali ini entah mengapa membuatnya ragu.

__ADS_1


"Acara nanti bukan hanya sekedar perayaan, Tuan. Tapi penyerahan jabatan sepenuhnya kepada nona Dian oleh Tuan besar Hanasta." Roby menjelaskan. Meski Roby juga ragu, tapi alasan tersebut yang paling masuk akal.


"Nona Dian sudah terikat dengan perusahaan. Meski ia mencoba lari, kita bisa menemukannya dengan mudah. Belakangan ini saya juga menemukan saham atas nama Diandra Selena di beberapa perusahaan besar."


Jadi tidak heran jika Dian tetap bisa hidup mewah meski tanpa perusahaan Hanasta sekalipun. Walaupun tidak bekerja, uang akan tetap mengalir padanya.


Nico tidak terkejut. Dian yang sekarang sudah berbeda. Namun yang ia bingungkan, mengapa baru sekarang ia bisa menemukan informasi Dian yang dulu tidak bisa diakses sama sekali. Seolah-olah ada seseorang yang sengaja menutup semua informasi.


Setelah menemukan wanita itu, akses informasi langsung terbuka dengan mudah. Entah mengapa Nico merasa ia ada orang lain yang bergerak di belakang Dian dan pastinya memiliki koneksi kuat. But who?


"Awasi Dian selama disana. Jangan lengah," perintah Nico.


**


Setelah menunggu beberapa lama, surat ketetapan dari pengadilan yang berkekuatan hukum mengenai pengajuan adopsi anak akhirnya telah disetujui. Nama Rico kini telah tercatat di kantor catatan sipil sebagai anak angkat dari Diandra Selena.


Wanita itu sekarang tak henti-hentinya memeluk Rico yang menatap ibu angkatnya polos. Rico kini miliknya, tidak ada yang bisa memisahkan mereka, bahkan keluarga Abraham sekalipun. Inilah salah satu alasan Dian masih memiliki bungkam. Rico adalah putra dari Melly yang berkhianat pada keluarga Abraham. Sudah jelas mereka sangat membenci wanita itu. Ia khawatir Nico yang gila itu akan memisahkannya dengan Rico karena alasan benci.


Vira sendiri mengetahui kekhawatiran Dian. Siapapun mungkin heran dengan sifat Dian yang begitu mudahnya menerima kehadiran anak yang notabenenya adalah anak dari wanita yang telah merusak rumah tangganya sendiri.


Rico tidak tahu apapun. Dia tidak berhak dihukum meski ibunya seorang penjahat sekalipun.


Dibalik sifat buruk Dian, wanita itu masih tahu bagaimana cara mencintai dan menghargai. Wanita yang terlihat seperti iblis, namun menyimpan sosok malaikat didalamnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2