Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Fakta Lain


__ADS_3

Melly terus tersenyum puas setelah Rico pergi. Untunglah anak haram itu selalu menurut padanya. Mudah sekali menipu anak kecil.


“Jika saja ayahmu yang tidak berguna itu ada, aku juga tidak akan memanfaatkanmu. Dia tidak bersedia hidup denganku, maka kau yang harus bertanggungjawab.” Jika tidak ada ayahnya, maka masih ada putranya.


“Trik murahan!” sahut seseorang tiba-tiba. Melly langsung berbalik, terkejut. “Kau!” Sejak kapan dia disini?


“Sudah tidak sanggup melayani orang, sehingga meminta anak kecil untuk menipuku? Cih!” Dian berdecih.


“Aku tidak akan duduk di kursi Presdir jika benar-benar tertipu olehmu,” lanjutnya lagi.


“Maksudmu– berhenti bicara omong kosong!” kilah Melly.


“Sudah benar perbuatanku membawa Rico. Dia mendengarkanmu, bukan berarti Rico tidak mendengarku. Aku ibunya sekarang. Aku bisa menuntutmu atas kasus pemerasan.” Dian tersenyum miring.


”Uang yang kau ambil dari Rico semua berada dalam pengawasanku. Aku tak membatasi anak-anakku menggunakan uang, tapi bukan berarti aku membiarkan begitu saja.”


Melly tidak bisa menjawab. Tangannya mengepal menahan amarah.


“Johan tidak akan meninggalkanmu jika kau tak memilih bersama Nico. Semua yang kau alami adalah hasil perbuatan mu sendiri, termasuk kehadiran Rico! Dia tidak tahu itu, kan? Kekasih yang dia cintai ternyata sudah mengandung, namun memilih bersama orang lain karena harta,” cibir Dian.


“HENTIKAN!” teriak Melly. “Tutup mulutmu! Kau yang membuat semuanya rusak. Nico mengusirku karena dirimu!” hardiknya tidak terima sambil menunjuk-nunjuk wajah Dian.


Sejauh apa Dian mengetahui tentang dirinya. Bahkan ayah kandung Rico yang sudah menghilang tanpa kabar berhasil diketahuinya.


Dian tersenyum yang dibuat-buat. Ia menurunkan tangan Melly yang menunjuknya perlahan. “Aku? Coba pikirkan kembali apa yang membuat dia mengusirmu.”


“Wanita gila!” umpat Melly menggertakkan gigi, membuat Dian langsung terbahak puas.


“Kau tahu ... karakterku sangat aneh. Aku pernah mengikuti tes kejiwaan beberapa kali saat masih SMA. Kau tahu hasilnya? Mereka mengatakan 80 persen aku adalah sosiopat!”

__ADS_1


Sosiopat merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan perilaku dan pola pikir antisosial. Karakter seorang sosiopat umumnya adalah perilaku yang eksploitatif, melanggar hukum, tidak peduli dengan orang lain, dan kasar.


Mungkin belum ada yang mengetahui fakta ini. Dian juga tidak berniat merahasiakannya. Tidak heran jika Dian sangat kasar dan hampir tidak takut apapun yang menjeratnya dengan hukum. Semua juga sudah mengetahui betapa gilanya Dian dalam bertindak. Ternyata hal tersebutlah alasannya. Karakter yang terbentuk begitu saja. Beruntunglah ia masih memiliki hati nurani.


“Why? Kau takut?” Dian tertawa melihat reaksi Melly yang terkejut. “Jangan khawatir, aku bukan pembunuh.”


Dirinya sudah tidak separah itu. Semenjak mengandung bayi kembarnya, ia telah melakukan pemeriksaan dan penanganan pada psikolog dan hati nuraninya sedikit tertolong.


“Nico akan meninggalkanmu jika dia tahu siapa kau sebenarnya. Kau tidak seharusnya berkeliaran bebas! Wanita gila! Kau itu tidak waras!” bentak Melly tidak karuan.


“Kau sendiri yang bilang.”


Plakk!


Satu tamparan mengenai wajah Melly.


Plakk!


“Itu bayaran untuk racun yang pernah kau berikan padaku. Dan ini ...” Dian menendang perut Melly yang masih terduduk, membuat wanita itu menjerit.


“Rasanya tidak sebanding dengan apa yang kurasakan bersama janinku dulu.”


Saat itu Melly memang berniat membunuh janin yang di kandung Dian. Khawatir Dian menggunakan kesempatan itu untuk membuat Nico berpihak, akhirnya ia berbuat nekat. Siapa sangka jika gadis dan janinnya itu masih bisa selamat. Hanya dirinya yang tahu masalah ini, bahkan Mita tidak mengetahui sama sekali.


“AKHH!! DASAR GILA!” Melly berteriak saat Dian menginjak jari tangannya.


“Aku sangat pendendam kau tahu. Jika tidak membalas, artinya aku sedang tidak punya waktu. Tapi kali ini aku memiliki waktu senggang dan kau beruntung." Dian tersenyum. “Satu lagi ... Aku memang gila.” Kemudian tanpa peduli pada Melly yang kesakitan, Dian melenggang pergi begitu saja.


Melly menatap Dian penuh kebencian. Ia tak menyangka jika gadis pendiam dan lugu saat itu ternyata memiliki banyak hal-hal mengejutkan.

__ADS_1


**


Dian menghentikan langkah saat seseorang menahan tangannya. Nico pelakunya. Ia membawa Dian ke pelukannya, memeluk wanita itu erat.


“Maaf ... Kau mengalami banyak kesulitan, tapi aku tidak ada bersamamu.”


“Kau melihat?” Nico mengangguk. Ia tadi menyaksikan sendiri apa yang terjadi pada Melly dan Dian. Namun tak sedikitpun Nico berniat melerai keduanya.


“Aku gila,” ucap Dian.


“Lakukan apa saja yang ingin kau lakukan selama tidak meninggalkanku.” Nico menghirup aroma rambut Dian. Wanita itu terdiam.


“Aku sudah berjanji pada anak-anak.”


“Terima aku bukan karena anak-anak, tapi dirimu sendiri. Itu yang kuinginkan. Jika seandainya tidak ada mereka, kau tidak akan pernah menerimaku, kan?”


“Aku kasar, buruk, jahat. Bisa saja aku membuatmu malu suatu hari nanti. Aku–" Ucapannya terpotong saat Nico tiba-tiba mencium bibirnya. Dian mencoba melepaskan diri. Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit. Bagaimana jika ada yang


melihat perbuatan mesumnya?


“Siapapun yang mengusik kita, aku tidak akan berbelas kasih. Kau milikku. Orang lain tidak berhak ikut campur!” tekadnya setelah melepas tautan mereka.


“Termasuk ibumu?” pancing Dian.


“Iya, termasuk ibuku. Jika dia tidak terima, biar aku yang pergi. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kali.”


Dian tersenyum tipis. “Kalau begitu aku juga tidak ingin menjadi bodoh untuk kedua kali. Bersiaplah menerima semua kegilaanku.”


“Dengan senang hati, Baby.” Nico kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini tidak ada penolakan dari Dian. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Nico.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2