Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Rico


__ADS_3

“Rico?” panggil seorang guru yang mengajar di kelas Rico. “Tidak pulang?” tanyanya heran.


“Rico bersama sopir,” jawab Rico menunjuk sopir disana.


“Oh begitu, Ibu pikir kau bersama Emilio.” Pasalnya di ujung sana ada Emi dengan seorang pria yang bersiap pergi.


“Kami berbeda tujuan,” jawab Rico seadanya.


“Ibu mengerti. Kalau begitu Ibu pergi dulu ya. Sampai bertemu lagi, Rico.” Mengusap kepala Rico.


Sejak tadi ia sudah menunggu sang kakak keluar, tapi siapa sangka jika dirinya yang akan ditinggalkan. Nampaknya kehidupan kedepannya tidak lagi senyaman dulu. Ia tahu jika dirinya bukanlah siapa-siapa di antara mereka kelak. Cepat atau lambat semua orang akan berubah, bukan?


Setelah melihat kepergian Emi, barulah ia menyusul pergi. Saat di rumah sakit ia kembali menyaksikan kenyataan. Ternyata benar, ia tidak pernah mendapat perhatian dari ayahnya. Meski begitu, jawaban Dian membuatnya puas dan lega. Wanita itu punya sisi menakutkan dan diwaspadai banyak orang, tapi sisi penyayangnya tidak bisa diragukan lagi.


Diantara banyak orang, mungkin hanya sedikit yang seperti dirimu, mama.


Sama seperti Lily, Rico tak kalah menginginkannya memiliki seorang ayah. Ia sudah merasakan kasih sayang ibu dari sosok Dian, hanya perlu seorang ayah lagi. Tapi akan sulit jika itu Nico. Ia teringat ucapan Melly, apa sudah saatnya merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya?


“Sayang, sudah pulang?” Wajah datar Rico seketika berubah tanpa diduga, menampilkan senyum menawan untuk sang ibu yang muncul di balik pintu.


“Rico mencari kak Emi di depan gerbang, tapi tidak ada. Rico pikir kakak sudah pulang, jadi pergi bersama sopir setelah menunggu lama,” ucapnya di pelukan Dian. “Maaf, Mama. Apa kakak sudah kembali?”


Apa berpura-pura lebih baik daripada terlihat menyedihkan?


-


-


-


-

__ADS_1


Di atas brankar Lily sibuk berceloteh. Begitu bangun gadis kecil itu dalam suasana hati yang sangat baik. Nico senantiasa berada di sampingnya, mendengar setiap keluhan Lily dengan tersenyum.


Di sofa, Dian tidak merespon apapun. Meski begitu ia tetap mendengarkan semua keinginan putrinya. Emi dan Rico mengerjakan pekerjaan rumah mereka di dekatnya tanpa suara. Hal itu juga masuk dalam pengawasan Dian.


“Aku ingin jalan-jalan ke tempat jauhh ... Ada tempat bermain besar seperti Disney. Kita pergi bersama-sama ya. Ada mama, papa, kakak dan adik. Pasti menyenangkan!”


“Dasar manja!” sahut Emi yang sejak tadi diam. “Jangan merepotkan Papa. Pekerjaannya pasti tidak sedikit.” Entah apa yang membuat suasan hati Emi kembali buruk.


“Kakakk!” jerit Lily.


"Emi ..." Emi memutar bola matanya malas saat ibunya menegur. Lily menjulurkan lidahnya, mengejek.


“Apapun untuk Lily. Tapi Lily harus sembuh dulu, oke?” Nico menyanggupi, mengelus kepala gadis itu. Lily mengangguk senang.


“Yey ... Lily sangat senang. Akhirnya Mama tidak perlu bekerja keras lagi. Kan sudah ada Papa bersama kita.”


Dian langsung menoleh, menatap putrinya yang berbinar. Apapun keinginan Lily, bagaimana bisa ia mematahkannya. Jika ia memutuskan untuk berpisah lagi, apa artinya ia akan kembali melukai perasaan anak-anaknya.


Ia menatap Rico yang seolah tuli. Ia bukan ibu yang akan pilih kasih. Mengorbankan Rico demi kedua anaknya? Tidak.


Rico adalah obat sekaligus penawar untuk menyembuhkan salah satu luka di hatinya. Penutup kerinduannya pada sosok yang telah lama pergi. Sosok yang harus pergi tanpa ia tahu keberadaannya. Rasa bersalah itu muncul lagi. Dian meremas dadanya yang sesak.


“Dian?” Nico menyadari hal tidak beres pada Dian segera mendekat. Emi, Lily dan Rico ikut khawatir.


“Mama ....”


Dian mengatur nafasnya. Melepas pegangan Nico di pundaknya.


“Mama baik-baik saja. Mama akan keluar sebentar.” Tanpa aba-aba Dian langsung keluar meninggalkan mereka.


“Apa Lily salah bicara?” Lily berkaca-kaca.

__ADS_1


“Tidak, Lily tidak salah. Istirahatlah. Papa akan bicara pada mama.” Nico menenangkan Lily.


***


Tidak perlu bersusah paya untuk Nico menemukan istrinya. Wanita itu duduk bersandar pada kursi tunggu depan ruang inap Emily dengan mata tertutup. Saat lelehan bening mengalir lembut dari sudut matanya, membuat Nico semakin ingin tahu apa yang Dian sembunyikan.


"Tidak berniat membagi lukamu padaku?"


Dian tersenyum tipis, mengusap sisa air matanya. "Perlakuan semua anakku dengan adil. Itu sudah cukup mengobati sedikit lukaku."


"Aku tidak membencinya," jawab Nico.


"Tapi kau tidak menerimanya," balas Dian.


"Beberapa kali aku melihat Melly bersama Rico. Entah di sekolah atau di tempat lain saat mengawasinya. Aku khawatir Melly sudah merencanakan sesuatu pada Rico,” ungkap Nico.


“Mengawasi?" Pria itu mengangguk.


“Aku bersumpah menerima apapun yang ada pada dirimu, Dian. Saat kau menunjukkan Rico pada semua orang jika dia putramu, aku sudah bersedia menerimanya karena kau mencintainya. Jadi ku siapkan beberapa pengawal untuk menjaganya, tapi siapa sangka aku mendapat hal lain.”


“Aku hanya khawatir. Takut hal buruk menimpa Emi maupun Lily jika terlalu dekat.”


Dian tak dapat menahan senyum. Pria ini tidak seburuk itu rupanya. Dia hanya sedang waspada.


”Anak kecil mudah dibujuk. Bagaimana jika yang kau takutkan terjadi jika kau memperlakukannya berbeda?” Apa yang Dian katakan benar.


“Melly memanfaatkan Rico untuk merebut posisiku, termasuk mengambilmu kembali.” Nico mendongak mendengarnya.


"Tapi Rico putraku. Semua rencananya takkan berhasil. Anak-anakku tidak akan membela penjahat!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2