
Di depan gerbang sekolah terdapat dua orang yang saling membisu. Mereka berdiri sambil bersandar pada mobil masing-masing menunggu seseorang keluar dari balik gerbang itu.
Diandra memasang raut dingin dan datar, sebaliknya Johan yang tidak pernah melunturkan senyuman.
Keduanya tidak tahu jika tak jauh dari dalam gerbang, Emi, Lily dan Rico sudah memperhatikan mereka bahkan sengaja berhenti.
"Apa mereka akan bertengkar lagi?" tanya Lily.
"Bukannya mama yang sering marah?" kata Rico polos.
"Benar juga," gumam Lily.
"Mama tidak akan marah jika tidak ada yang membuat marah," koreksi Emi.
"Syukurlah tidak ada papa, tapi mama dan om Johan terlihat serasi."
"Lily," tegur Emi membuat gadis itu cemberut.
Sedangkan Dian yang menahan kesal sejak tadi dengan ditutupi raut dingin dan datarnya mulai angkat suara.
"Aku memang setuju, tapi bukan berarti sekarang! Bahkan baru lewat satu hari."
"Tidak ada kesepakatan seperti itu sebelumnya dan juga satu hari itu sudah cukup membuatku merindukan Rico," jawab Johan santai.
"Kau akan membawanya sekarang?"
"Tentu saja."
"No!"
"Kita lihat saja," santai Johan.
Anak-anak masih memperhatikan mereka.
"Rico, kau harus bilang pada papamu jangan merebut mama dari papa Nico," ujar Emi pada Rico.
"Papa Johan menyukai mama?"
"Sudah jelas. Memang siapa yang tidak suka?"
Mama adalah wanita terbaik dan paling cantik sedunia! Itulah yang selalu Emi pikirkan. Bukan sekali dua kali Emi memberengut kesal setiap kali melihat tatapan memuja dari para lelaki.
"Ternyata Kakak peduli ya dengan papa," ejek Lily.
__ADS_1
"Biasa saja," datar Emi mulai melangkah menuju ibunya.
"Kakak masih saja jual mahal!" Menghentakkan kaki kemudian ikut menyusul.
"Mama!" teriak Lily sembari berlari pada ibunya.
Melihat kehadiran ketiga anaknya, Dian segera bergerak menarik Rico lebih dulu.
Johan terkekeh kecil melihatnya. Ah imutnya. Sisi yang jarang diketahui orang.
"Mama baik-baik saja?" tanya Emi kemudian menatap tajam pada Johan. "Om sebaiknya jangan mengganggu mama!"
Menurun pada putranya ternyata.
"Benar. Om bisa dimarahi papa tahu!" Lily berkacak pinggang.
Anak-anak yang manis dan pelindung ibunya. Johan ingin tertawa namun ditahan.
"Papa jangan membuat mama kesal ya." Rico ikut bicara.
Rico juga? Ah para penjaga kecil.
Namun Dian sedikit terkejut dengan panggilan papa yang disematkan Rico. Benar juga, mereka sering berhubungan tanpa ia ketahui. Mereka juga memiliki ponselnya masing-masing pemberian dari Nico.
"Jangan khawatir. Memangnya aku bisa merebutnya dari Nico."
Cih! Dian saja sudah menaikkan dagu sombong karena mendapat pembelaan anak-anak.
Anakku yang manis, begitu hati Dian menjerit.
"Tapi hari ini Rico pulang dengan papa. Rico mau, kan?"
Eh? Ada apa dengan wajah mereka. Sekarang suasananya menjadi aneh.
"Rico akan pergi?" tanya Lily. Pantas saja ibunya bertingkah aneh.
"Rico akan tinggal dengan om Johan?" Emi ikut bertanya.
Dian tidak menjawab. Dirinya masih ragu apa harus melepas Rico sekarang atau nanti, namun cepat atau lambat Rico tetap akan pergi. Ia tidak bisa memisahkan Rico dari orang tua kandungnya.
Rico mencengkram ujung baju ibunya. Sebenarnya ia mau, tapi malam itu ia sudah mengatakan akan bersama mama saja. Dian tahu kegelisahan Rico.
Menghela nafas, Dian berlutut. "Rico boleh pergi dengan papa Johan. Dia papanya Rico. Sudah seharusnya dia bertanggungjawab padamu." Mengelus rambut Rico.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Mama?"
"Kan ada Emi dan Lily."
Rico menatap Dian dan Johan bergantian. Keduanya sama berharga dan tak ingin Rico tinggalkan.
"Emi juga akan tetap bersekolah disini dan boleh datang kapanpun ke rumah."
"Benarkah?" Dian mengangguk.
"TIDAK BOLEH!" teriak Lily merentangkan tangannya menghalangi Johan.
"Lily," tegur Emi.
Mama akan sedih dan menangis lagi seperti merindukan papa dulu. Lily tidak mau hal itu terjadi lagi. Mata Lily berkaca-kaca.
"Rico kan sudah jadi adiknya Lily dan kakak." Bibirnya melengkung kebawah, ingin menangis.
Sial! Dian jadi ingin menangis juga.
Johan menghela nafas pelan. Ia bersyukur Rico bertemu keluarga yang baik. Ia berlutut di depan Lily.
"Om hanya membawanya tinggal bersama. Om tidak akan membawanya jauh dari kalian. Mama Dian juga sudah tahu karena jika tidak, dia tidak akan mengizinkan Om membawa Rico."
"Lagipula Om sangat mencintai Rico seperti papa Lily yang mencintai kalian dan tidak ingin berpisah."
Emi menarik adiknya itu perlahan.
"Rico pasti merindukan papanya sepertimu dulu. Jangan egois!" bisik Emi.
"Bagaimana Rico?" tanya Dian lagi. Johan juga menatapnya penuh harap.
"Apa Rico boleh tinggal dengan mama seminggu lagi—" cicit Rico bertanya.
"Sure! Sebulan juga tidak apa-apa," potong Dian semangat.
"HEY!" Johan hendak menginterupsi.
"YES!!" sorak Dian seraya berdiri. Tidak memperdulikan Johan.
"Kau dengar? Seminggu lagi!" tekan Dian.
Johan lagi-lagi hanya bisa menghela nafas pasrah.
__ADS_1
Terserahlah!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...