
Baru saja keburukannya dibicarakan, Dian muncul membawa lidah beracunnya. Wanita itu mendekati Melly yang terlihat gugup. Dian menampilkan senyum menawan tapi penuh ejekan seraya melingkarkan tangannya pada lengan Nico. Pria itu belum menyadari karena berfokus pada bocah laki-laki yang mengekori Dian.
Sedangkan yang lain justru terpesona. Tidak bohong jika Diandra memang wanita menawan dan berkelas. Jika saja wataknya sebaik wajahnya, mungkin wanita itu menjadi incaran banyak orang. Tapi yang menjadi fokus mereka sekarang adalah respon Nico terhadap Dian.
Pria itu akan marah pada siapa saja yang berani menyentuhnya, tak terkecuali para anak pebisnis. Namun sekarang Nico tidak menyangkal atau marah sama sekali. Semua orang mulai bertanya-tanya.
"Hai, b*itch!"
Melly ingat. Wanita ini adalah wanita yang sama yang membeli anaknya kala itu. Sudah jelas ada Rico putranya yang berlindung di balik kaki Dian dengan tangan kecilnya mencengkeram ujung dress yang dipakai ibu angkatnya itu. Ia tak menyangka wanita itu benar-benar memperlakukan putranya dengan baik. Terlihat dari pakaian mahal serta tubuh Rico yang tidak lagi kurus. Ada sedikit kecemburuan dihatinya.
"Ja– jaga ucapanmu," ucap Melly gugup.
"Hm?" Dian mengangkat sebelah alisnya. "Ah, benar. Aku lupa jika putraku ada disini." Pura-pura lupa. Dian melepas tangannya dari lengan Nico, lalu meraih Rico yang menatap Melly rindu ke gendongannya.
"Siapa dia?" tanya Nico datar. Nico mungkin tidak tahu, tapi pria dibelakangnya tahu.
Rico Glory adalah anak yang dikandung Melly saat masih menjadi istri dari Nico dengan pria lain. Hal tersebut merupakan pengkhianatan besar bagi keluarga Abraham. Wanita itu akhirnya diusir keluar dengan perceraian. Akan tetapi Nico masih berbaik hati memberinya sejumlah uang untuk membiayai kehidupan calon anaknya.
Hari ini memiliki banyak kejutan untuknya. Kepala Roby sudah di isi dengan tanda tanya yang belum memiliki jawaban.
Dian menatap Melly sebelum menjawab. Telihat sekali jika Melly takut akan ketahuan. Ada banyak orang disini. Belum lagi kariernya yang baru saja naik daun. Jika Dian mengatakan sebenarnya, rusak sudah semuanya.
"My child," jawab Dian ringan.
Suasana seketika ricuh. Banyak yang tidak mempercayai pendengaran mereka. Bagaimana mungkin Dian tiba-tiba muncul dan mengatakan jika bocah itu adalah anaknya? Wanita itu belum menikah. Semua tahu itu! Ataukah anak di luar nikah yang disembunyikan?
Mita yang menyaksikan tidak dapat berkata-kata. Bibirnya kelu dan tenggorokannya ikut tercekat. Apa semua ini? Jika benar anak Dian, maka bocah itu adalah cucunya?
Rea memijat pangkal hidungnya pusing. Merupakan kejutan jika Dian mengakui semuanya hari ini. Bisa saja hal ini menjadi peluang untuk menjatuhkan posisi Dian. Hanya tuan besar yang nampak santai. Pria tua itu memilih duduk mencari kenyamanan.
Nico menatap Dian tajam. Apa lagi yang direncanakan istrinya ini.
__ADS_1
"Aku hanya mengatakan kebenarannya. Jika tidak percaya, aku punya akta kelahirannya," kata Dian lagi. Bukankah Nico bilang tidak masalah jika adopsi? Sekarang biar Dian kenalkan pada anak angkatnya.
"Mama ... Rico takut." Akhirnya bocah itu bersuara. Merasakan suasana tegang sekitarnya, Rico tak tahan untuk tidak bersembunyi. Melindungi wajahnya dari tatapan penasaran di ceruk leher ibunya. Dian merespon dengan mengelus punggung Rico.
Sebutan mama kembali membuat orang terperangah. Ditambah lagi melihat betapa lembutnya Dian pada bocah kecil itu. Persepsi beberapa orang mulai berubah. Dian mungkin tidak seburuk yang mereka lihat.
"Kau berutang penjelasan!" bisik Nico merengkuh pinggang Dian.
"Rico ikut dengan Oma ya," bujuk Rea saat di dekat Dian.
Rico melepas tautan tangannya ragu-ragu saat Rea mulai meraihnya.
"Jangan takut. Mama disini," bisik Dian mencium pipi Rico singkat.
Saat Rea menjauh, Dian kembali menatap Melly yang nampak lega. Dian tersenyum sinis melihatnya.
"Sebaiknya jaga pasangan anda dengan benar, Tuan Bill. Jangan biarkan dia berkeliaran sembarangan. Aku khawatir dia tersesat," sindir Dian sinis, mengalihkan pandangannya pada pria yang bersama Melly tadi.
"Dian ..."
"Ya, dia putriku. Anda sudah melihatnya. Ini Rico, cucuku," jelas Rea pada Mita yang mulai memahami keadaan.
Ternyata Dian yang selama ini ia kucilkan adalah seorang pewaris. Bahkan dulu Mita memperlakukannya seperti pembantu. Rupanya kesalahannya sudah sangat besar. Mita menatap Dian dengan pandangan sendu. Wanita itu memiliki hati yang keras dan dingin, tidak takut melukai orang dan bisa melakukan apa saja tanpa takut di kritik.
Dian bisa saja melawan atau membalasnya saat itu, tapi kenapa tidak pernah ia lakukan?
Sekarang fokusnya jatuh pada Rico. Mita tidak melihat kemiripan pada Dian ataupun Nico. Tapi Rea mengakuinya sebagai cucu yang artinya adalah putra Dian sendiri. Sedangkan ia tahu bahwa Dian telah menggugurkan janinnya.
Setelah kejadian barusan, tidak ada yang membuka suara. Sampai tuan besar memecahkan keheningan, meminta semua orang agar tidak perlu cemas dan bisa melanjutkan acara.
Nico menarik Dian untuk duduk di salah satu meja yang disediakan khusus untuk orang-orang tertentu di barisan terdepan. Di sebelah meja Nico ada Mita serta Rea yang memangku Rico.
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, setelah pembawa acara membacakan susunan acara, Tuan besar naik ke podium sebagai sambutan dan menyampaikan maksud acara malam itu. Selain merayakan ulang tahun perusahaan, Tuan besar juga memanggil Dian untuk naik.
Penyerahan jabatan telah dimulai. Dian harus menandatangani berkas-berkas yang diberikan sebagai persetujuan sekaligus ahli waris. Meski masih ada pro dan kontra, penyerahan tetap berlangsung sesuai rencana.
Setelahnya Tuan besar mempersilahkan semua orang untuk menikmati hidangan yang tersedia. Semua orang mulai berpencar kembali untuk mendekatkan hubungan dengan sesama pebisnis lain.
Sejak tadi Mita terus saja memperhatikan Rico yang tertidur di pangkuan Rea. Ia masih penasaran dengan identitas Rico sebenarnya.
"Dian mengadopsinya," jelas Rea tiba-tiba. Ia menatap Mita yang mengerutkan kening.
"Bisakah kita bersikap santai. Kita adalah besan. Jangan terlalu formal," pinta Rea.
"Tentu," jawabnya. Sudah lama mereka berbesan, tapi baru hari ini mereka bertemu.
"Rea ... soal Dian, aku minta maaf," sesal Mita. Rea tersenyum menanggapinya. "Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada putriku."
"Sudah kucoba ...," lirihnya.
"Kalau begitu kita harus berjuang sendiri." Rea mengelus kepala Rico pelan. "Aku sendiri belum pernah mendengar permintaan maafku diterima."
Rea menatap Mita yang merasa bingung. "Aku yang membuat putriku sendiri menjadi seperti iblis. Apa yang kau lakukan padanya dulu tidak sebanding dengan apa yang kulakukan."
"Kau–"
"Penyesalanku lebih besar daripada penyesalanmu, Mita. Jika waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke saat putriku meminta perlindunganku," ungkapnya menerawang jauh ke masa lalu.
Tapi saat itu, saat mata sendu menatapnya penuh harapan, berharap ia menjadi pelindung. Namun dengan wajah dingin tanpa perasaan, ia meninggalkan pemilik mata sendu itu tanpa sedikitpun rasa iba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Baru bisa Up lagi☺️
__ADS_1