Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Ricard


__ADS_3

"Nyonya, sarapan anda sudah siap."


Seorang pelayan datang memanggil Mita yang sering berdiam diri di halaman belakang.


"Apa Nico belum pulang?" tanyanya menoleh sedikit.


"Belum, Nyonya. Terakhir kali saat tengah malam waktu itu kami melihat tuan pergi."


"Hmm ... Pergilah!" Pelayan itu membungkuk, kemudian pergi.


Wanita paruh baya itu menghela nafas pelan. Ia kembali pada kehidupan yang lama. Dirinya hanya duduk menyendiri di taman yang berada di belakang mansion setiap hari. Nico sudah tidak pulang selama beberapa hari.


Lily pun tidak diketahui keberadaannya. Saat mendatangi sekolah, guru mengatakan jika Lily izin beberapa waktu. Pertemuan terakhir mereka saat pesta berlangsung kala itu. Bahkan mereka belum sempat berbicara sama sekali.


"Nyonya!" Kedatangan kepala pelayan yang tergesa-gesa mengejutkan Mita. Wanita itu hampir marah jika kepala pelayan tidak bicara. "Tuan besar datang!"


Deg! Tanpa banyak berpikir Mita berlari memasuki mansion. Mita sulit mempercayai kenyataan di depannya begitu melihat sosok tinggi bugar yang duduk disana. Wajahnya tidak muda lagi, tapi masih menunjukkan ketampanan dan kewibawaannya.


Para pelayan berkumpul memberi hormat atas kedatangan pemilik rumah, hanya sebentar saat pria itu meminta pergi.


"Ricard ... Kau kembali?" Mita menintikkan air mata. Ia merindukan sosok yang telah lama pergi ini.


Lagi-lagi semua bermula pada kejadian yang sama. Ricardo Abraham merupakan suami sekaligus ayah Nico memilih pergi karena keegoisannya. Tepat setelah meninggalnya tuan besar yang merupakan kakek Nico, Ricard memutuskan meninggalkan rumahnya sendiri.


Hanya meninggalkan rumah, bukan tanggung jawabnya!


"Dimana Nico? Aku kembali untuknya." Pria paruh baya itu tidak berubah. Wajah dingin dan tegasnya masih sama seperti dulu.


"Aku ... tidak tahu. Dia jarang kembali."


"Dia sudah dewasa." Pria itu belum menatapnya sama sekali, tidak tahu jika Mita sudah menangis tanpa suara. Begitu banyak penyesalan dalam dirinya.


"Kau akan pergi lagi?"


"Lihat saja."


"Bisakah tetap disini?" Mita mendekati perlahan. "Kumohon ..." pintanya lirih. Ricard akhirnya mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya ia mendengar istrinya memohon.


Ricard semakin terkejut saat Mita tiba-tiba bersujud di kakinya. Wanita itu menangis sesugukan seperti wanita yang sangat kesakitan.

__ADS_1


"Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku menyesali semuanya, Ric. Aku takut ... aku takut seperti ini selamanya. Bayang-bayang mengerikan selalu muncul jika aku sendiri. Kumohon– maaf ... maafkan aku." Bahu Mita bergetar hebat. Kesombongan nya dulu ia banggakan sudah tidak ada. Ia hanya wanita yang memohon pada suaminya.


Ricard masih memiliki hati. Dengan pergi, ia berharap wanita itu bisa merenung dan berubah. Ricard terlalu lelah untuk menghadapi Mita. Meski begitu ia mencintai wanita sombong dan semena-mena itu.


Pada kenyataannya ia kembali untuk Mita. Selama ini ia mengawasi semua dari jauh, termasuk anak dan ... menantunya. Sudah tujuh tahun, seharusnya cukup memberi semua orang pelajaran dan menunjukkan betapa berharganya orang yang bersamamu.


-


-


-


-


-


Nada pesan masuk berturut-turut di ponsel Dian.


"Siapa?" tanya Nico sembari fokus menyetir.


"Urusan kantor," jawabnya.


08****


Honey.


Aku pulang ....


Berkunjunglah sesekali.


Me


Tentu.


Have fun!


Nico terusik melihat senyum tipis yang jarang Dian lontarkan selain untuknya dan anak-anak. Siapa yang menghubungi istrinya itu. Nico mendengus diam-diam. Sesekali Nico mengawasi anak-anak yang tertidur di jok penumpang karena kelelahan.


Tak lama ponsel Nico ikut berbunyi. Saat melihat nama panggilan masuk, Nico kembali memasukkan ponselnya ke dalam jas. Beberapa kali ponsel terus berbunyi tanpa berniat disentuh oleh Nico.

__ADS_1


"Angkat." Dian mulai jengah.


"Biarkan saja!" datarnya.


Tanpa aba-aba Dian mengambil sendiri ponsel Nico di saku jasnya.


"Dian!"


"Diam kau!" Wajahnya tidak ramah.


Dian terdiam sejenak saat melihat siapa yang menghubungi suaminya sejak tadi.


"See? Abaikan saja. Aku akan mengurusnya nan– " Belum selesai Nico bicara, Dian sudah menggeser ikon hijau di layar.


"Nic?"


"Kau dimana?"


"Pulanglah. Lihat siapa yang datang."


"Aku masih ada urusan. Nanti kuhubungi lagi." Nico merampas ponsel tersebut dari tangan Dian yang sudah memasang wajah mengejek.


"Sejak kapan kau melawan ibumu? Aku ingat kau sangat penurut. Tapi tidak buruk juga."


"Dian, jaga ucapanmu. Ada anak-anak disini." Nico memperingati.


Dian sedikit melirik kebelakang. "Memangnya kenapa? Aku bahkan tidak melarang mereka memukul orang," ucap Dian gamblang.


Jika Nico tidak mengerti watak wanita ini sejak awal, mungkin akan sering terjadi kesalahpahaman. Dian selalu bicara apa adanya tanpa peduli perasaan orang. Itulah mengapa orang lain menganggapnya buruk.


"Dian ..." desis Nico mencoba sabar.


"Iya, sayang?" Nico langsung menatapnya terkejut. Dian baru saja mengatakan apa? Tapi ekspresi wajah itu sangat menyebalkan bagi Nico. Dian ingin tertawa keras jika tidak ingat anak-anak tidak bisa terganggu.


"Orang baik dan orang jahat selalu hidup berdampingan di dunia ini. Jika kau lemah, kau hanya akan berakhir seperti sampah. Keduanya buruk, jadi kuputuskan tidak menjadi keduanya. Pada intinya kau tidak boleh lemah! Tidak peduli orang lain menganggapmu apa," tekan Dian.


Jadi termasuk apa dirinya? Tidak baik, namun juga tidak jahat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2