Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Gadis Kecil Mama


__ADS_3

Dulu Dian mengatakan bahwa Rea sengaja untuk mempertemukan mereka, namun ia berdalih jika hal tersebut tak sekedar dari hubungan bisnis semata. Sekarang Rea mengakuinya.


Meski tidak bisa menjadi obat, setidaknya ia harus menemukan sesuatu untuk mengobati putrinya dan Nico adalah solusi yang ia dapat.


"Mama marah pada papa dan kakekmu yang terlalu keras. Mama kesal padanya karena membuatmu tersiksa. Mama hampir gila setiap kali memikirkannya— mama ingin membuatmu lebih baik agar mereka berhenti."


Tanpa sadar, ia menjadikan dirinya sendiri salah dari mereka yang menjadi luka untuk putrinya.


"Mama benar-benar minta maaf, Dian. Mama tidak peduli lagi kau mau menerimanya atau tidak, yang terpenting kau terbebas dari luka, itu saja." Suara Rea nyaris berbisik.


Dengan tangan yang masih bergetar Rea mulai merengkuh wajah cantik putrinya dan menatapnya penuh pujaan.


"Putriku yang cantik! Kau putri Mama. Akan selalu jadi gadis kecil Mama. Lihat rambut ini, sangat cocok denganmu. Kau cocok dengan penampilan apa saja."


Sesuatu yang ditahan akhirnya merembes keluar dari sudut mata Dian. Sejak tadi ia berusaha menahan gemuruh yang memuncak di dadanya.


Ucapan Rea mungkin membangkitkan sisi childish dalam diri Dian yang begitu mendambakan sosok seorang ibu dengan kasih sayang dan kelembutannya.


Dian memeluk ibunya dengan erat dan terisak cukup kuat di pundak Rea.

__ADS_1


"Jangan menangis— jangan menangis karena diriku lagi." Meski Rea berkata begitu, tak urung ia ikut terisak bersama Dian. Terdengar tangis Dian yang tersendat-sendat menandakan betapa terlukanya gadis ini.


"Kau bukan kesalahan— kehadiranmu bukan kesalahan. Maaf pernah berkata begitu— Mama ... ibu yang buruk!" isaknya mendaratkan banyak kecupan di kepala putrinya.


"Katakan— katakan saja apa yang mau Dian katakan. Mama akan dengar apapun itu." Rea membiarkan Dian bersandar di pundaknya sembari merapikan rambut pendek Dian.


Dian hanya mampu terisak. Setiap kata yang keluar dari mulut ibunya membuat hatinya terasa sesak. Mungkinkah ini pertanda jika dirinya mulai berdamai dengan keadaan?


"Dian—"


"Tidak apa-apa, lanjutkan saja," ujar Rea lembut.


"Dian— rindu Mama."


"Maaf— maafkan, Mama." Rea semakin tersedu. Ia mengelus-elus punggung Dian yang masih bergetar.


"Punggungmu— bagaimana punggungmu?" Rea melepas pelukan Dian dan membuka paksa kemeja putrinya itu. Ia kembali teringat sesuatu.


"Ya Tuhan—" Rea menutup mulutnya. Semakin menganga lebar rasa bersalah dan sakit hatinya setelah melihat punggung Dian yang terdapat banyak bekas luka memanjang.

__ADS_1


"Kau pasti kesakitan, kan?"


Diluar seseorang ikut terisak menyaksikan ibu dan anak itu setelah mengurungkan niatnya untuk masuk. Serena memukul dadanya beberapa kali dikarenakan isakannya.


Dirinya terlibat dalam sakit hati Dian, kan? Jika ia tidak kabur dengan suaminya, Dian tidak akan merasakan hal seperti ini. Adiknya itu tidak pernah membenci atau menyalahkannya. Meski begitu, tidak selamanya ia bisa menutup mata akibat kesalahannya.


Menghapus air matanya, Serena memutuskan pergi dari sana setelah meletakkan setoples kue coklat kesukaan Dian di atas meja nakas.


"Sera?"


Vira yang keluar ruangan tak sengaja berpapasan dengan Serena. Vira terkejut melihat wajahnya yang sembab.


"Aku membawa kue coklat kesukaan Dian. Tolong berikan dia nanti." Menyentuh pundak Vira.


Vira ingin bicara lagi namun diurungkan, melihat Serena tampaknya tidak mau menjawab apapun. Setelah kakak dari Dian itu menghilang di balik lift, Vira bergerak ke ruangan Dian yang tidak jauh dari tempatnya.


Ah sekarang Vira mengerti. Ia sudah tahu banyak mengenai Dian termasuk masalah keluarga. Enam tahun bukan waktu singkat. Itu sebabnya ia berdiri di samping Dian menemani wanita malang itu.


Semoga kau temukan lagi cahaya dalam keluargamu, Dian.

__ADS_1


Memaafkan memang tidak bisa menyembuhkan luka, tapi memaafkan bisa membuat kita lebih tenang. Dian membutuhkan itu mengingat kondisi batinnya yang tidak baik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2