
Alunan lembut dari dentingan piano di sisi panggung mengalihkan atensi semua orang. Ruangan yang tadinya sedikit ricuh kini menjadi hening. Semua orang menatap penasaran sosok di balik piano yang belum tersorot lampu.
...I know what it's like...
...Aku tahu itu seperti apa...
...I know how it feels...
...Aku tahu rasanya bagaimana...
...Let the pain break you down...
...Biarkan rasa sakit menghancurkanmu...
...Now you gotta give it time to heal...
...Sekarang kau harus memberinya waktu untuk sembuh...
...Don't worry now...
...Jangan khawatir sekarang...
...Even though the fear is real...
...Meski ketakutan itu nyata...
...Just hold on...
...Tunggu saja...
Bukan hanya dentingan yang mengalun, tapi suara pun ikut bernyanyi. Bukan pemilik suara dewasa, melainkan suara dari seorang gadis kecil. Siapapun yang mendengarnya terasa terhipnotis dengan suaranya. Alunan terdengar seperti memiliki arti mendalam.
...If you're looking for a sign...
...Jika kau mencari tanda...
...Something to carry you back into the light...
...Sesuatu untuk membawamu kembali ke cahaya...
...Love is the answer...
...Cinta adalah jawabannya...
...Love is the answer...
...Cinta adalah jawabannya...
__ADS_1
...When you're ready, start again...
...Saat kau siap memulai lagi...
...I'll be here waiting reaching out my hands...
...Aku disini menunggu mengulurkan tanganku...
...Love is the answer...
...Cinta adalah jawabannya...
Di salah satu meja, Dian menatap gadis kecil itu dengan pandangan tak terbaca begitu lampu memperlihatkan sosok manis tersebut.
"Lily?" tanya Nico heran.
Ya. Lily tampil membawakan salah satu lagu berjudul Love is the answer yang dibawakan oleh penyanyi asal Amerika, Natalie Taylor yang memiliki makna mendalam secara emosional.
Deg!
Sesuatu seperti mengusik hati Dian. Apa yang dibawakan Lily? Jelas-jelas bukan ini yang Lily tunjukkan saat latihan. Lagu ini seperti menceritakan kisah hidupnya yang pahit.
Pengkhianatan hidup yang membuatnya mengalami banyak rasa sakit. Lalu membohongi diri sendiri dengan berpura-pura kuat seolah-olah ia bahagia. Cinta mungkin bisa mengobatinya jika ia mau mencoba keluar dari kubangan lumpur yang menjeratnya.
...I know it's a struggle...
...I know it's a fight...
...Aku tahu ini perjuangan...
...Not to end every day feeling like you've been living a lie...
...Takkan berakhir dan setiap hari merasa seperti hidup dalam kebohongan...
...It's time to be free...
...Saatnya bebas...
...It's time to find peace by the water...
...Saatnya menemukan kedamaian oleh air...
...And just hold on...
...Dan tunggu aja...
Tepuk tangan bergemuruh saling bersautan, terpukau dengan penampilan Lily. Gadis itu berdiri dari tempatnya, menghadap semua orang yang menatapnya kagum.
__ADS_1
"Woahh ... luar biasa! Emily Deandra membuat semua orang bangga. Tentu saja! Gadis kecil yang berbakat. Telah memegang gelar sebagai pianis cilik berbakat yang telah memenangkan banyak kompetisi hingga kancah internasional." Pembawa acara ikut bertepuk tangan.
Siapapun orang tuanya pasti bangga memiliki anak berbakat seperti Lily di usianya yang masih sangat muda. Meski wajahnya tak begitu terkenal di televisi karena identitasnya yang tertutup, tapi namanya sudah cukup mengharumkan nama bangsa. Hari ini Keluarga Hanasta membiarkan semua orang menyaksikan bakat luas biasanya.
"Apa gadis kecil ini ingin bicara sesuatu?" Pembawa acara menawarkan pada Lily yang hanya diam.
"Bisakah?" tanya Lily.
"Haha ... tentu saja." Pembawa acara segera mempersilahkan.
Lily terdiam beberapa saat. Ia menatap kedua orang tuanya yang juga fokus pada dirinya. Mungkin banyak kejutan pada hari ini. Pada hari ini juga ia ingin memberanikan diri. Sudah cukup berdiam diri, biarkan semua orang tahu.
"Hai ... my name is Lily." Semua orang tersenyum mendengar ucapan polosnya.
"Paman itu bilang Lily begitu luar biasa dan hebat. Tapi Lily tidak setuju," ujarnya sedikit cemberut.
"Why?" tanya salah satu tamu.
"Karena tidak ada yang lebih hebat kecuali mama." Mereka langsung terpaku. "Tangan Lily tidak akan bisa menekan tuts tanpa tangan mama yang memulai dan Lily juga tidak bisa bernyanyi tanpa suara lembut mama yang mengajarkan." Lily tersenyum, membuat semua orang terenyuh.
"Lily juga tidak akan berdiri disini tanpa tekad mama untuk mempertahankan kami. Kehadiran kami pasti pernah menjadi beban untuk mama, tapi cinta mama untuk kami tidak berkurang sedikitpun. Lily akan memberikan yang terbaik untuk mama, agar kelak mama akan selalu tersenyum bahagia melihat Lily."
Lelehan yang lama ditahan akhirnya menetes di mata legam Dian. Wanita itu mengerjap sambil sesekali terkekeh haru. Tanpa menjadi terbaik pun, anak-anaknya akan tetap menjadi alasannya tersenyum.
Nico disebelahnya pun ikut terharu. Matanya tampak berkaca-kaca. Siapapun mama yang disebut Lily, dia pasti telah berhasil menjadi seorang ibu terbaik.
"Happy birthday, Mama. Lily harap mama bisa menjalani kehidupan yang baru tanpa menoleh kebelakang lagi. Lily ingin mama berhenti melihat kegelapan karena ada banyak cahaya di depan kita. Lily terus berterima kasih pada Tuhan karena menjadikan mama sebagai ibu Lily. I Love you my angel."
Ia hanya ingin sang mama lepas dari jeratan masa lalunya. Kehidupan kelam memang tak mudah di lupakan, tapi mama berhak bahagia. Lily tak ingin melihat Dian menangis diam-diam lagi. Dulu ia selalu menyaksikan di balik pintu setiap ibunya merasa kesakitan sendirian.
Tindakan sang papa menculik ibunya adalah pilihan tepat. Bahkan jika keberadaannya tidak diakui ia tak masalah. Selama Dian bahagia, apapun akan ia lakukan.
Tangis Dian pecah, mengagetkan semua orang, tapi bukan hanya Dian. Beberapa tamu juga ikut menangis karena terharu. Inikah isi hati dari sebagian anak yang belum bisa merangkai kata? Lily telah mewakili mereka yang tidak berani bicara.
"Dian ..." Nico membawa istrinya kepelukannya. Wanita itu terlihat sangat rapuh. Nico heran melihat Dian tampak begitu hancur. Tak lama Dian melepas pelukannya dan berdiri.
"Sayang?!" Nico ikut berdiri dan mengikuti Dian yang berjalan ke arah Lily.
Langkahnya terhenti saat Dian tiba-tiba berlutut memeluk gadis kecil itu. Semua orang terdiam menyaksikan. Dian mencium kepala Lily berkali-kali. Gadis itu ikut membalas pelukan sang ibu dengan memeluk lehernya.
"Tetaplah bersama papa. Jangan pikirkan kami jika itu alasan Mama menunda kebahagiaan. Mama saja sudah cukup. Lily tidak akan meminta papa," bisik Lily ditelinganya.
Tidak, ini tidak benar! Dian sadar jika ia telah melukai hati malaikat-malaikat kecilnya tanpa sengaja. Mereka mengalah demi kebahagiaan dirinya yang masih egois. Semua anak pasti ingin keluarga lengkap. Kedua orang tua yang selalu ada untuk mereka. Tapi anak-anaknya selalu berkata hanya cukup dirinya saja, namun sebenarnya hati kecil mereka juga menginginkan seorang ayah.
Apa yang sebenarnya ia takutkan? Mereka yang tak menginginkan anaknya seharusnya bukanlah hambatan. Nico mencintainya tanpa syarat. Mereka saja sudah cukup, bukan? Tak perlu orang lain untuk ikut campur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1