Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Gangguan Kepribadian


__ADS_3

"Aku iri melihat anak-anak lain yang bahagia


bersama orang tuanya. Keluarga yang penyayang dan baik. Orang tuaku— hanya bisa membuatku menangis."


"Tapi kau berhasil membesarkan anak-anakmu dengan baik."


"Baik?" Dian terkekeh pelan, "coba tanyakan pada mereka sudah berapa kali melihat perbuatan burukku."


"Perbuatan buruk bukan penentu, Dian."


Dian menghela nafas kasar. "Kalau begitu kita akhiri ini." Wanita itu bangun dengan kasar dan berlalu begitu saja melewati Nico di dekat pintu.


Nico dan wanita lain disana saling menatap.


"Dia tidak sakit, Nico. Namun kau tidak salah membawanya padaku. Mungkin agak sulit menanganinya."


"Maksudmu?"


"Dari sikapnya, aku menyimpulkan jika dia memiliki gangguan kepribadian. Kepribadian!" tekannya.


"Seharusnya begitu." Nico menyetujui.


Ia pernah mendengar sebelumnya. Dian sendiri yang mengatakan jika 80 persen dirinya adalah sosiopat. (Pernah dibahas di chapter 47: Fakta Lain)


"Sosiopat," ungkap Nico.


"Ternyata benar! Aku juga menduga begitu."


"Lalu bagaimana?" tanya Nico.

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir. Mereka yang mengalami masih bisa tertolong karena masih memiliki hati nurani. Kau lihat cara dia membesarkan anaknya? Sudah terbukti, kan?" Psikiater yang juga sepupunya itu mengibaskan tangan santai.


"Lagipula dia pernah rutin ke psikiater lain sebelumnya. Dia baik-baik saja. Hanya saja kau harus siap mengontrolnya untuk berjaga-jaga."







"Sudah puas bicaranya?" Dian menatap sinis. Dirinya sudah menunggu cukup lama di mobil.


"Karena istriku menolak memberitahu, terpaksa harus kucari tahu sendiri."


"Aku tidak gila," ujar Dian kemudian, "tapi aku memakluminya karena sikapku bisa membuat mereka berpikir begitu."


Ia setuju mengunjunginya psikiater atas permintaan Nico yang membujuknya. Meski tidak suka hal itu, ia menurut agar anak-anak juga tenang.


"Istriku memang tidak gila. Siapa yang berani berkata begitu? Dia hanya sedikit pemarah," ucap Nico dengan wajah kesal.


"Iya, aku sangat pemarah! Pemarah hingga suamiku memperko*saku!" tekan Dian menahan senyum.


"Diann!" desis Nico. Tidak perlu mengingatkan lagi soal itu.


Dian menahan senyumnya dan menatap keluar jendela. Tak lama ia merasakan tangannya di genggam.

__ADS_1


"Tak apa banyak yang membencimu, namun aku ingin tetap menjadi seseorang yang mencintaimu."


Dian tak bersuara dan hanya menatap suaminya itu.


"Aku tahu! Seharusnya kukatakan sejak dulu, kan? Aku salah. Jika aku mengatakannya sejak dulu, kita tidak perlu berpi—" ucapan Nico terhenti saat kecupan hangat menyentuh pipinya.


"Aku tidak sebaik ini sebelum bertemu denganmu. Berkatmu— aku tahu apa itu peduli, rasa kehilangan, khawatir bahkan kasih sayang," ungkap Dian, "dulu, aku jauh lebih buruk dari ini," lanjutnya.


Kepribadian buruknya terbentuk dari lingkungan dan keluarga. Seandainya ia terlahir dengan pelukan hangat, ia tidak akan merasakan pukulan ayahnya atau tamparan ibunya hanya karena kau kehilangan satu persen nilai sekolahmu.


Terlahir sebagai perempuan dalam keluarga membuatnya harus tumbuh dengan sempurna. Apa itu rumah? Mereka menyebutnya tempat nyaman untuk pulang, tapi ia tidak pernah menemukannya. Yang ia temukan hanya lubang hitam tanpa setitikpun cahaya.


"Maaf— karena terlambat menyadari perasaanku." Nico tertunduk menyesal.


"Sudah berapa kali kau meminta maaf. Hentikan, itu membosankan!" kata Dian jengah, "cepat jalan. Anak-anak pasti sudah menunggu."


Nico tersenyum. Ia meninggalkan satu kecupan singkat di pelipis istrinya sebelum akhirnya melajukan mobilnya menuju sekolah.


Dian tersenyum lebar saat melihat mereka hampir dekat dengan sekolah terlebih sudah ada ketiga anaknya yang berdiri di depan gerbang.


Menggemaskan!


Melihat anak-anak itu menunggu dengan tas ransel dipunggung serta rambut lily yang di kuncir dua membuat rasa gemas membuncah di dada Dian. Tidak bisa dipercaya jika tiga mahkluk pemberian Tuhan itu adalah anak-anak manisnya.


Namun senyum di wajah Dian sirna begitu saja setelah menyadari ada orang lain bersama mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Iya tau kalian lupa alur😌

__ADS_1


Silahkan baca ulang yang bersedia ゚3゚


__ADS_2