Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Histerektomi


__ADS_3

Seperti biasa Roby hanya mengantar Lily sampai di depan pagar rumah. Rumah ini sederhana namun masih terkesan mewah. Sebenarnya sudah beberapa kali Lily menawarinya untuk masuk, namun ditolak. Roby merasa tidak enak pada keluarga Lily yang notabene nya tidak ia kenal.


Lagipula rumah ini terlihat sangat sepi jika bukan Lily yang sedikit heboh. Orang-orang disini pasti menyukai ketenangan. Sebenarnya Roby penasaran dengan sosok ibu Lily yang sampai sekarang belum ia dapatkan informasinya. Padahal sudah lama Nico meminta dirinya mencari tahu.


Cukup lama ia berdiam diri di mobil memerhatikan rumah itu, hingga ketukan di jendela mobil membuatnya tersentak kaget. Seorang wanita dewasa, mungkin seumuran dirinya. Roby tertegun beberapa saat sambil menatap wanita itu. Cantik, itulah yang ada dipikirannya saat ini.


"Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu? Anda menghalangi jalan masuk."


Vira baru saja pulang dari rumah sakit, kemudian kembali ke rumahnya bersama Dian, tapi mobil yang berada di depan pagar menghalangi jalan mobilnya masuk.


"Ah! Maaf." Dengan segera Roby menepikan mobilnya di tempat lain, kemudian pria itu turun. "Saya Roby. Yang mengantar Lily barusan." Roby memperkenalkan diri.


"Kalau begitu terima kasih," jawab Vira.


"Maaf, jika boleh tahu ... apakah ini rumah anda?" Mungkin saja wanita ini adalah ibu Lily.


"Benar. Saya juga sudah tahu siapa anda dari Lily."


"Apa anda orang tua Lily?" Roby tanpa sadar terus bertanya. Ada rasa ketertarikan pada wanita di depannya. Sedangkan Vira tidak merasa aneh. Roby merupakan asisten pribadi Nico, pasti sedang mencari banyak informasi.


"Ya, dia putriku." Ah! Ternyata ini dia sosok ibu Lily. Auranya memang sangat positif. Roby tersenyum tipis. Lily tidak memiliki ayah, mungkin ia bisa mendaftar. Ia akan bertanya pada Lily nanti untuk informasi yang lain.


"Apa anda sudah memiliki kekasih?" Roby sedikit memerah saat mengatakannya. Bibir Vira berkedut. Pria ini nampak salah tingkah, lucu. Heh! Apa ia tertarik? Mana mungkin. Jatuh cinta saja tidak bisa.


"Belum, Tuan."


"Bagus! Pertahankan itu." Vira terkejut karena Roby tiba-tiba mencengkeram pelan lengannya, sebelum akhirnya pergi begitu saja dengan mobilnya.


"Aneh!" gumam Vira.


"Cieee, Tante akan menikah!" Lily heboh.


Eh! Apa ini? Ia baru saja masuk, tapi anak-anak sudah menggodanya.


"Siapa yang akan menikah, Lily," sabarnya.


"Tante ... Om Roby tidak buruk. Dia tampan!" ujar Rico.


"Hm, lumayan," kata Emi seadanya. Anak itu lebih tertarik pada bukunya.

__ADS_1


"Tante tidak mengenalnya. Tidak usah macam-macam."


"Ingat kata Mama, Tante. Menikah dan miliki anak yang lucu seperti kami," kata Lily.


"Benar, kecuali Tante tidak laku," sahut Emi lagi.


"Apa itu tidak laku?" tanya Rico.


"Tidak ada yang mau bersama Tante," jawab Lily.


"Kemungkinan memang benar jika di usianya yang ke - 29 nanti Tante masih sendiri," kata Emi. Usia Vira sudah 28 tahun, tapi masih betah sendirian.


"Pantas saja nenek (Ibu Vira) khawatir."


"Tante mungkin menyukai mama," bisik Rico pada Lily, namun di dengar oleh Vira.


"Sembarangan! Dasar bocah-bocah. Enak saja mengataiku tidak laku. Tante juga masih normal ya! Tidak ada kelaianan," pekik Vira cemberut. Mulut mereka tidak jauh berbeda dengan Dian, terutama Emi yang berlidah tajam.


"Oh," jawab mereka bertiga.


"Hanya oh?!"


Wajah Vira mendatar. "Terserah!" Rasanya seperti berdebat dengan Dian. Lebih baik ia tidur sekarang setelah bergadang semalaman. Ketiga bocah itu hanya mengedikkan bahu acuh saat melihat Vira naik ke atas dengan menghentakkan kaki.


"Kau darimana saja! Nyonya besar itu mulai berani menahanmu?" ketus Emi pada Lily.


Lily teringat kejadian tadi. Gadis itu mendekat pada sang kakak dan menarik Rico agar mendekat juga.


"Kakak tahu?" Lily antusias.


"Tidak tahu!" jawab Emi malas.


"Ish! Aku kan belum bicara." Lily cemberut.


"Apa?"


"Mama dan papa akan bersama lagi!" pekik Lily senang.


"APAA?!" Bukan Rico atau Emi yang menjawab, tapi Vira yang tidak jadi pergi menjadi terkejut.

__ADS_1


.......


...-- o0o --...


.......


Keheningan malam mengisi kekosongan di udara dingin dan kembali menjadi saksi dua insan yang saling memadu kasih. Dian mencengkeram erat seprai ranjang saat Nico menghujam semakin dalam hingga cairan hangat terasa memenuhi rahimnya.


Pria itu menjatuhkan dirinya di samping Dian. Memeluk penuh cinta wanita yang telah berstatus istrinya sambil menghirup rakus aroma tubuh Dian.


"Terima kasih," bisik Nico.


Dian tidak menjawab. Wanita itu menatap lurus pada langit-langit kamar di atasnya. Sudah dua bulan berlalu. Sudah dua bulan pula kebenaran masih sanggup ia tutupi. Selama itupun ia mulai kembali membiasakan diri untuk menerima kehadiran pria ini.


Tidak banyak yang berubah. Nico masih menahan dirinya seperti dulu. Mereka berdua sudah menetap di mansion yang pernah diberikan Nico untuk Dian dulu. Hanya mereka dan para pekerja dan tanpa adanya Mita. Selama dua bulan Nico berhasil meluluhkan pertahanan Dian kembali. Wanita itu mulai melunak dan menerimanya tanpa paksaan.


Dian tak ingin egois. Ia sudah memikirkan kembali dengan matang dan berbagai pertimbangan. Dirinya mungkin buruk, tapi pria itu bersedia menerima sisi terburuknya sekalipun. Meskipun begitu, belum saatnya Nico mengetahui kebenaran. Ia masih ingin melihat sejauh apa pria ini berjuang.


Ia tahu Nico sama menderitanya seperti dirinya saat itu. Apalagi Nico pernah memiliki riwayat perawatan sakit jiwa selama beberapa waktu karena dirinya.


Dian menoleh saat merasakan tangan Nico mengelus perut datarnya. Senyum serta kecupan diberikan oleh pria itu.


"Aku selalu berdoa agar dia cepat hadir disini." Cup. Nico bangkit mencium perut Dian, lalu kembali berbaring memeluknya.


Wanita itu dapat melihat pancaran penuh kebahagiaan di mata Nico yang penuh harapan. Matanya mulai memanas dan bibirnya terasa kelu. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi hanya bisa tertahan di tenggorokannya. Binar bahagia itu membuat Dian tak sanggup membuka mulutnya.


"Bagaimana jika dia tidak pernah bisa hadir?" tanya Dian. Nico menatap istrinya penuh arti.


Bagaimana jika Nico tidak benar-benar mencintainya, tapi karena rasa bersalah membuat Nico hanya menginginkan anak darinya?


"Aku akan menunggu," jawabnya, membawa wanita menghadapnya. "Ada apa? Kau tidak ingin punya anak dariku?" Nico masih khawatir Dian membuat ulah yang dapat menyulut emosinya. Wanita ini hampir tidak tahu tempat jika marah maupun bicara.


Dian menatap Nico cukup lama. "Aku melakukan histerektomi," ungkap Dian akhrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Apa tuh😳


# Histerektomi : pengangkatan rahim

__ADS_1


__ADS_2