Ketulusan Cinta (Alvina)

Ketulusan Cinta (Alvina)
19.hari ke 13 sedih


__ADS_3

"Apaan sih lo, nih ya gue setiap jalan sama dia, pulang mobil langsung gue steam. Jujur aja gue risih tiap kali dia jalan mepet mepet, manggil sayang sayang, apaan ga jelas, mana dia cerewet banget lagi. Ngomongnya pake aku-kamu. Diih malesin tau ga? Kalau bukan karna nyokap udah gue tendang dia"


Kata kata itu terus saja menghantui pikiran vina.


Ya daritadi vina melihat dan mendengar semua obrolan mereka.


waktu vina hendak masuk kantin, vina tak sengaja mendengar obrolan yang menyakitkan baginya itu.


Tak sadar sekarang pipinya sudah basah dengan air mata.


Kini vina sudah berada didalam kelasnya.


Vina tersadar dari lamunannya karna ada seseorang yang menggoyang goyangkan bahunya.


"Vin, lo dipanggil kepsek tuh" ucah siswa itu yang dia ketahui namanya aldo


"Eh, ada apa ya?" Tanyanya


"Gatau, gue tadi cuma disuruh manggilin lo doang" jawab aldo dan langsung melenggang pergi


Vina menuju ruang kepsek.


Disana dia sudah melihat kepsek yang duduk disofa ruanganya sedang menunggunya.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


"Masuk" jawab kepsek dari dalam ruangan


"Maaf pak, apa bapak memanggil saya?"


"Iya vina, silahkan duduk"


Vina pun langsung ikut duduk disofa


"Jadi gini vina, bapak minta maaf sebelumnya, beasiswa kamu bapak cabut, karna ada suatu alesan dari pihak pemegang saham, yang tidak lain adalah penyalur bantuan beasiswa." Ucap kepsek


Vina kaget bukan main, kesalahan apa yang vina lakukan, sehingga beasiswanya dicabut, sedangkan untuk masalah nilai, vina rasa dia tetap menjadi juara dan layak mendapat beasiswa itu.


"Begini vina, ibu arum selaku pemberi bantuan, atau penyalur bantuan beasiswa, dan pemberi saham di sekolahan ini, mencabut bantuanya untuk kamu, mungkin ini ada masalah lain yang bapak juga tidak mengerti"


"Jadi dari kurang lebih sebulan yang lalu beliau sudah mencabutnya, apa kamu mau meneruskan sekolah disini atau kamu pindah sekolah?" Lanjut kepsek


Vina tau, vina sadar jika sekolah disini vina tak akan sanggup membayar uang sekolah, vina harus pindah sekolah, dia harus mencari sekolah yang sekiranya mampu untuk membayar biaya nya.


"Emm..pak mungkin sebaiknya saya pindah sekolah saja, jujur saya tidak sanggup untuk membayar biayanya" jelas vina


Skip

__ADS_1


Sedari tadi gadis itu masih melamun dikelasnya, dia belum berniat beranjak dari dalam kelasnya, bahkan bel pulang sekolah pun sudah berbunyi 30 menit yang lalu.


Gadis itu terus saja memikirkan semuanya, tentang omongan alvin, dan tentang perkataan kepsek tadi.


Saat dia pulang sekolah, dengan pelan vina mengayuh sepedanya menuju kost an. Sedari tadi hape nya berbunyi tapi tak dihiraukan oleh vina.


Entah apa yang dipikiran vina saat ini, untuk melanjutkan sekolahnya.


Dia harus berkerja lebih giat lagi, agar dapat melanjutkan sekolahnya. Meskipun bukan di SMA Pelita.


Kini hati vina sakit karna ucapan alvin, sekarang vina harus memikirkan lagi tentang masa depannya, dan juga ibunya.


Kemarin dia mendapat beasiswa, dia bekerja paruh waktu untuk membiayai pengobatan ibunya.


Dan sekarang, bahkan dia harus membiayai sekolahnya juga.


Vina berniat sepulang sekolah nanti akan mencari kerja tambahan, agar mendapat uang lebih.


Tiba tiba ada segerombolan pria berbadan kekar, tinggi, dan sepertinya preman menghadang vina.


"Heh bocah, akhirnya kita ketemu disini. Hahaha" tawa pria pria itu


Tbc

__ADS_1


__ADS_2