
Vina mendengkus kesal, sambil menghentak hentakkan kakinya saat berjalan menuju meja pengunjung yang ditempati alvin.
Bagaimana tidak, sedari tadi alvin menyuruhnya mengambil ini, itu semaunya.
Entah alvin sengaja atau tidak, mungkin alvin sedang mengerjainya.
Begitu lelah vina, disuruh bolak balik, mondar mandir.
Vina menghela napasnya, saat sudah berada didepan alvin dengan membawa seporsi kentang goreng.
Alvin yang mengetahui wajah murung vina, kini bertanya
"Kenapa?"
"Hah?" Vina yang tadinya menunduk kini mendongak menatap alvin.
Mata hitam itu kini benar benar bertemu dengan mata coklat milik alvin.
Sejenak vina terpaku menatap alvin, begitu pula dengan alvin.
Tak ada yang membuka suara saat itu, hingga sepersekian detik. Vina memutuskan kontak mata dengan alvin. Lalu kemudian menunduk kembali.
"Capek?" Suara alvin kembali bertanya
Vina hanya geleng geleng kepala, dengan posisi masih menunduk.
"Kalau ada yang ngomong itu lihat orangnya" ucap alvin menasehati.
"Maaf kak, saya permisi dulu" pamit vina sopan
Alvin membiarkan vina kembali kebelakang.
Skip
Pulang kerja kini vina sedang menunggu bis, tapi sialnya malam ini bis jarang sekali lewat.
__ADS_1
Vina lagi lagi mendengus kesal.
Dia sangat lelah hari ini. Ingin segera merebahkan diri dikasur lantainya.
Meskipun tidak empuk, tapi lumayan lah, untuk beristirahat dari pekerjaan yang melelahkan seharian ini.
Tapi itu semua hanya angan angan vina saja, setelah dari cafe, vina harus bergegas menuju taman kota, untuk menyapu jalanan hingga jam 2 malam.
"Ayo gue anter" suara bariton dari belakang membuat vina harus menoleh kesumber suara.
"Ah..trimakasih atas tawarannya, tapi maaf saya bisa sendiri" tolak vina halus
"Mau sampai kapan nunggu bis disini"
"..."
"Ini udah malem lo, gak takut ada preman gitu" ucap alvin menakut nakuti. Tapi sayangnya vina itu jago beladiri, dia tidak akan takut dengan preman manapun.
"..." vina hanya diam tak menanggapi.
"Yakin nih, gak mau gue anter?"
"Emm" dia hanya menjawab dengan gumaman.
Alvin manggut manggut
"Yaudah deh, gue cabut duluan" pamit alvin, lalu melenggang pergi.
Vina hanya memandangi punggung alvin yang kini mulai menjauhinya, entah mau kemana alvin.
Bukannya vina sombong, bukan. Vina hanya ingin menepati janjinya, untuk melupakan dan mencoba tak mengenal alvin.
Jujur saja hati vina sangat sakit, ingin sekali dia menangis. Vina kangen alvin. Vina juga masih mencintai alvin. Tapi kalau alvin terus terusan mendekat seperti ini, bagaimana dia bisa melupakannya.
Saat ini vina menunggu bis sambil berjalan, karna jarak cafe dan taman kota yang lumayan jauh.
__ADS_1
Tiba tiba
"Serahin tas lo" ucap seorang preman yang tiba tiba menghadang
"Gak akan" tolak vina tegas
"Berani lo sama gue. Hah?" Bentak preman itu, lalu mengepung vina.
Vina pun sudah memasang kuda kuda, dan..
Bugh
Satu tinjuan berhasil mendarat diwajah preman itu.
Bukan vina yang mukul. Bukan. Tapi alvin.
Kini alvin lah yang memukuli preman preman itu.
Vina hanya diam melihat alvin.
Bugh
Salah satu preman memukul alvin, hingga alvin tersungkur.
Vina melotot. Alvin terus saja dipukuli, dan dikroyok 3 preman.
Bugh
Kini giliran vina yang memukul salah satu preman itu.
Vina memukuli semua preman hingga mereka kabur.
Vina mendekati alvin.
"Al, lo gak apa apa kan?" Tanya vina khawatir sambil membantu alvin berdiri.
__ADS_1
Alvin terdiam, dia hanya memperhatikan vina yang tengah khawatir kepadanya.
Tbc