Kisah Cassandra

Kisah Cassandra
10


__ADS_3

Saat ini Kevin dan Cassandra sedang berada di dalam mobil Kevin untuk mengantar Cassandra pulang ke ruko. Saat tiba di ruko disana sudah ada Bimo yang sedang menunggu Cassandra.


"Lo gak kenapa napa San? Lo nangis? Ya ampun." Tanpa basa basi Bimo langsung memeluk Cassandra.


"Lepasin Cassandra." Ujar Kevin.


"Emang kenapa Pak?" Tanya Bimo


"Dia udah jadi milik saya." Jelas Kevin.


"Sorry sorry. aku gak tau.Tapi boleh dong aku peluk Cassandra."


"Ya gak boleh lah. Peluk aja tuh pacar kamu. Jangan peluk punya orang." Ketus Kevin dan Cassandra hanya tersenyum


"Ternyata bapak orangnya pecemburu ya." Ujar Bimo sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Lo diapain aja sama Silmi San?" Ucap Bimo sambil menatap Cassandra dengan tatapan cemas


"Udahlah gak usah di permasalahin lagi. Semua udah jelas kok. Kalau dia cuma salah faham aja." Jelas Cassandra


"Lo itu berarti buat gue. Gue gak mau ada orang yang nyakitin lo. Tolong jawab gue dengan jujur." Ucap Bimo


"Maksudnya dia berarti buat kamu itu apa?" Tanya Kevin ke arah Bimo.


"Gue lupa cowok lo cemburuan." Bisik Bimo di telinga Cassandra. "Gini Pak Kevin, semenjak pertama ketemu sama Cassandra aku udah anggap dia seperti adik aku. Aku cuma mau jaga dia. Gak lebih kok. Jadi gak usah marah marah ya adik iparku." Kata Bimo dengan menekan kata adik ipar.


"Baiklah saya percaya sama kamu. Tapi kalau sampai kamu macem macem sama Cassandra, Aku bakal pastiin kamu menyesalinya." Jelas Kevin.


"Termasuk kamu Pak, kalau sampai Cassandra nangis karena bapak, aku juga gak akan diem aja. kamu juga pasti akan menyesal." Balas Bimo.


"Udah dong jangan debat terus. Gak malu di liatin sama karyawan disini?" Lerai Cassandra


"Ya udah deh. gue balik San. Jaga diri. Kalau ketemu sama cewek bar bar itu mendingan lo menghindar." Jelas Bimo


"Gue aneh deh sama lo. Kok lo mau sih punya cewek yang bar bar kayak dia?" Tanya Cassandra


"Gue lagi khilaf kayaknya. Sekarang aja gue selalu minta putus sama dia tapi dianya yang keukeuh gak mau putus. Malah ngancam yang aneh aneh." Jelas Bimo.


"Milih pacar kok bisa khilaf sih" Ucap Cassandra sambil tersenyum manis sekali di mata Kevin.


"Gue balik. Pacar lo tuh udah melototin gue mulu. Bye tuan puteri." Ujar Bimo sambil mengacak rambut Cassandra.


"Kebiasaan deh. Berantakan nih rambut gue." Ucap Cassandra sambil memberenggut sedangkan Bimo hanya tertawa sambil keluar dari toko.

__ADS_1


"Kamu sedekat itu sama Bimo?" Tanya Kevin sambil merapikan rambut Cassandra.


"Ya gitu deh. Aku juga gak tau kenapa. Tapi aku ngerasa seperti di lindungi saat dekat dia." Jelas Cassandra membuat muka Kevin semakin masam. "Jangan cemberut gitu. Jelek kalau mas kayak gitu." Lanjut nya sambil menggenggam tangan Kevin. "Kita ke rooftop yuk mas. Disini kurang nyaman. Banyak pelanggan sama mata karyawan yang liatin kita terus." Ajak Cassandra.


Setelah mereka sampai di rooftop, Cassandra kembali ke bawah untuk membawakan minuman dan beberapa cake yang baru ia coba buat.


"Aku bikin resep baru tadi pagi. Mas coba deh. Enak atau enggak. Tapi harus jujur ya. Kalau enak aku bakalan coba buat jual." Cassandra menyodorkan piring kecil berisi satu potong cake.


"Suapin." Ucap Kevin sambil menatap Cassandra


"Aku gak nyangka, mas bisa manja kayak gini." Meskipun begitu, Cassandra tetap menyuapi Kevin.


"Aku manja cuma sama orang yang aku anggap spesial. Gak semua orang bisa liat sisi manja aku."


"Baiklah.. baiklah.. Buka mulutnya bayi besar." Ucap Cassandra sambil menyodorkan sendok yang berisi cake yang ia buat.


"Gimana mas? enak gak. Jujur loh ya jawabnya." Lanjutnya.


"Enak loh ini. Beneran aku gak bohong. Aura pasti suka rasa cake ini."


"Aura masih nangis gak mas di rumah? Kamu udah tanya?"


"Mas yakin? Gak akan kenapa napa?"


"Maksud kamu?"


"Ya kan aku takutnya mami malah nyakitin perasaan Aura mas. Gimana kalau mas coba buka hati mas buat perempuan yang di bawa mami?"


"Kamu kenapa ngomong gitu Sandra?"


"Ya aku cuma takut aja mas. Kamu nentang mami demi aku. Gimana kalau mami jadi sakit hati karena ulah kamu mas?"


"Udah ya. Tolong jangan bahas ini lagi. Kita udah bahas ini tadi. Dan kita juga bakal berjuang bersama. Apa kamu lupa sama obrolan kita tadi?"


"Maaf mas. Aku gak bermaksud gitu. Tapi.." Ucapan Cassandra terpotong dengan suara Kevin.


"Kamu gak mau sama aku? Apa kamu berubah pikiran setelah barusan bertemu Bimo?"


"Gak mas. Aku termasuk orang yang susah buka hati. Setelah pernikahan aku gagal. Aku gak bisa buka hati kepada siapapun. Kamu orang pertama yang berhasil membuka pintu hati aku lagi."


"Kamu pernah gagal menikah?"

__ADS_1


"Iya. Kenapa mau ledekin aku?"


"Gak mungkin sayang aku ledekin kamu. Siapa orang yang berani tinggalin kamu. Kurang ajar banget dia."


"Tapi kalau aku jadi sama dia, Kita gak bakalan ketemu mas."


"Iya juga ya. Berarti aku harus berterima kasih sama dia." Ujar Kevin sambil terkekeh. "Kalau boleh tau kenapa kalian gagal menikah?"


"Dia selingkuh mas."


"Selingkuh?"


"Iya, sama adik aku sendiri."


"Wah.. Bener bener gila tuh orang. Terus kejadian apa yang bikin kamu tau dia selingkuh sama adik kamu?"


"Tepat satu hari sebelum pernikahan aku, aku mengetahui adik aku hamil. Dan saat aku interogasi aku tau kalau yang menghamili dia itu ya calon suami aku itu." Tanpa terasa Cassandra menitikan air matanya. Dan Kevin membawa Cassandra ke dalam pelukannya.


"Jangan nangis Nona. Gak usah nangisin orang yang gak bisa menghargai kamu. Ada aku disini."


"Aku juga gak mau nangis. Tapi gak tau kenapa ni air mata gak mau berhenti."


"Udah ya Nona. Pasti hidungnya merah kayak tomat. Tapi lucu sih. Nona kalau mau nangis ataupun mau senyum. Di hadapan aku aja ya Nona."


"Mana bisa gitu. Ya ga bisa lah. Masa iya aku jadi orang yang tanpa ekspresi di hadapan orang lain." Ucap Cassandra sambil melepaskan pelukannya dengan Kevin.


"Pokoknya kamu tuh milik aku."


"Aku tuh milik orang tua aku mas."


"Aku bakalan minta kamu sama orang tua kamu."


"Yakin. Nanti jangan jangan berubah pikiran jadi melepaskan."


"Apa yang udah jadi milik aku. Aku gak bakal lepasin gitu aja. Termasuk kamu."


"Dih. gombal."


"Aku serius loh."


Mereka masih terlibat dalam obrolan. Sampai waktu menunjukkan pukul 8 malam dan waktunya toko tutup, Kevin pun ikut pamit pulang.

__ADS_1


__ADS_2