
Hari hari berlalu, tak terasa sudah hari senin. Setiap hari, Samuel selalu mencari cara agar bisa dekat dengan Cassandra. Namun selalu di halangi oleh Kevin maupun Bimo yang selalu berkunjung ke rumah orang tua Cassandra. Sedangkan Kevin selama di Jogja ia terkadang mengerjakan pekerjaan yang sedang ia garap di Jogja.
Hari ini waktunya Aura untuk bertemu dengan dokter yang menanganinya. Kevin, mami dan Bimo pun masih berada di Jogja. Rencananya esok hari adalah hari kepulangan mereka ke Bandung. Hari ini Cassandra, mami dan Kevin sedang mengantar Aura ke rumah sakit. Sedangkan Bimo sedang mengurus sesuatu sehingga tidak bisa ikut menemani Aura. Mereka sedang menunggu giliran untuk di periksa.
"Mas, jangan lupa nanti tanya sama dokternya. Aura udah boleh buat terbang ke Bandung atau belum. Aku gak mau Aura drop lagi kayak kemarin." Ucap Cassandra kepada Kevin.
"Iya sayang, kamu lebih cerewet sekarang kalau mengenai Aura. Malah melebihi aku ayahnya." Jawab Kevin dengan tersenyum ke arah Cassandra.
"Bagus dong. Berarti Cassandra beneran sayang sama Aura. Mami kan jadi tenang jadinya." Timpal mami.
"Iya mami. Aku kan belum selesai bicara. Aku malah seneng banget ngeliatnya. Aku jadi tenang. Aku gak salah pilih bunda buat Aura." Jelas Kevin lagi.
Tak berselang lama, giliran Aura untuk di periksa. Banyak hal yang di tanyakan oleh Cassandra kepada dokter mengenai kesehatan Aura. Dan dokter pun menjelaskan nya. Aura juga sudah di nyatakan sehat dan bisa beraktifitas kembali sepeerti semula. Dan dokter pun sudah memberi izin untuk Aura terbang ke Bandung.
"Baik dok, saya mengerti." Ucap Cassandra setelah mendengar penjelasan dari dokter.
"Ada yang ingin di tanyakan lagi?" Tanya dokter.
"Tidak dok.Terima kasih." Jawab Cassandra.
"Baiklah dok. Kalau begitu, kami permisi." Ucap Kevin sambil berdiri dari duduk nya dan menjabat tangan dokter.
"Mari dok," Timpal mami. Sedangkan Cassandra hanya menganggukkan kepalanya kepada dokter dengan Aura di gendongannya.
"Bimo kemana sih Vin?" Tanya mami saat mereka sudah berada di dalam mobil.
" Kan lagi ada urusan mam. Kenapa emang?" Tanya Kevin.
__ADS_1
"Ga apa apa, cuma nanya aja." Jawab mami.
"Aku kenal mami. Pasti ada sesuatu yang mengganjal hati mami. Coba cerita, siapa tau Kevin bisa bantu." Jelas Kevin lagi sambil melirik ke sebelahnya dimana mami duduk. Sedangkan Cassandra dan Aura duduk di belakang.
Mengalirlah cerita mami kepada Kevin. Tentang semua kecurigaan mami kepada Bimo. Meskipun semua belum jelas, tapi mami sangat yakin akan hal ini.
"Baiklah, nanti biar Kevin bantu cari tau." Jawab Kevin.
"Oh iya, Cassandra kan dekat dengan Bimo. Gimana kalau kamu juga ikutan tanya sama Bimo tentang kecurigaan mami tadi." Ucap mami sambil melirik ke arah jok belakang.
"Iya mam, nanti Sandra bantu tanya tanya." Ucap Casandra membuat senyuman terbit di bibir wanita cantik yang sudah cukup berumur itu.
"Vin, anterin dulu mami ke hotel ya. Mami mau beres beres dulu. Besok mami ke rumah Cassandra pagi pagi sama Bimo. Jadi besok kita berangkat dari rumah Cassandra bareng bareng." Ucap mami lagi.
"Iya mam. Siap." Ucap Kevin sambil mengemudikan mobil milik Casandra.
Setelah dari hotel, Mereka langsung menuju rumah Cassandra. Setelah sampai, Kevin pun pergi untuk meninjau perkembangan pembangunan hotel yang sedang ia garap. Sedangkan Aura dan Cassandra langsung menuju kamar Casandra untuk beristirahat. Tak berselang lama, Aura pun tertidur. Sedangkan Cassandra hanya tiduran di sebelah Aura. Tak berselang lama terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar.
"Masuk." Ucap Cassandra mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Mbak, aku boleh masuk?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Myta. Dengan Vino di dalam gendongannya.
"Masuk aja. Ada apa?" Tanya Cassandra.
"Aku hanya ingin ngobrol mbak. Besok kan mbak harus terbang lagi ke Bandung. Mbak mau kan?" Myta balik bertanya.
"Ya udah, yuk duduk di sana." Cassandra menunjuk kursi yang ada di kamarnya.
__ADS_1
"Mbak, aku mau minta maaf. Aku bener bener gak enak sama mbak." Ucap Myta sambil meneteskan air matanya.
"Udah, gak usah di bahas lagi. Itu udah berlalu." Jawab Cassandra.
"Tapi mbak, aku belum bisa tenang mbak. Aku bener bener menyesal."
"Udah gak.usah di bahas lagi mbak bilang."
"Aku tau mbak marak sama aku. Aku udah jahat banget sama mbak."
"Dek, denger ya. mbak gak marah sama kamu. Mbak hanya kecewa. Kenapa kamu gak bilang aja dari awal kalau kamu memang menginginkan Sam. Mbak hanya gak suka dengan cara kalian."
"Aku gak ada rasa sama sekali sama mas Samuel. Tapi aku tetap saja dengan mudahnya gampang terkena bujuk rayu mas Sam. Aku yang bodoh, karena dengan gampangnya memberikan sesuatu yang sangat berharga."
"Ya udah. Yang jelas mbak sama sekali gak marah sama kamu dek. Mbak sekarang hanya berharap kamu bisa bahagia dengan Sam."
"Kalau boleh jujur, aku sama sekali gak bahagia mbak. Semua keluarga mas Sam selalu membandingkan aku sama mbak. Termasuk mas Sam yang seketika berubah menjadi dingin sama aku semenjak mbak pergi. Bahkan , seringkali mas Sam tidur di ruang kerjanya. Hanya setelah aku hamil besar aku kembali ke rumah ini. Dengan alasan dari sini lebih dekat ke rumah dakit daripada rumah mas Sam. Aku benar benar menyesal mbak."
"Awal yang gak baik. Pasti akan selalu ada badai datang. Itu sudah menjadi konsekuensi kamu dek."
"Iya mbak. Aku tau. Awalnya aku merasa gak kuat mbak. Aku seringkali berfikir untuk menyudahi hidupku. Namun, setelah kehamilan ku besar. Aku bisa mendengar detak jantung Vino yang masih berada di dalam rahimku.Dari situ aku memiliki semangat hidup lagi."
"Sekarang, kamu harus vokus sama Vino. Gak usah dengerin apa kata orang. Mbak hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu."
"Makasih mbak. Aku bener bener malu sama mbak."
"Ya udah gak usah nangis lagi.Jelek kamu kalau lagi nangis." Ucap Cassandra sambil mengusap air mata yang keluar dari mata Myta dan membawa Myta ke dalam pelukannya meskipun terhalang oleh Vino.
__ADS_1
"Makasih mbak."
Setelah itu, keadaan antara Cassandra dan Myta mencair kembali seperti sedia kala. Banyak hal yang Myta ceritakan kepada Cassandra. Begitu pun sebaliknya. Orang tua Cassandra tentu senang melihat kedua buah hatinya bisa akur seperti dulu.