Kisah Cassandra

Kisah Cassandra
27


__ADS_3

Keesokan harinya, Kevin sudah datang ke kediaman Cassandra. Terlihat Deni dan Lisna sedang membereskan toko di bantu oleh Maya. Sedangkan dari arah dapur, terdengar suara tawa renyah putri kecilnya yang sedang merecoki Cassandra dan Ratih yang sedang membuat roti dan cake.


"Assalamualaikum." Sapa Kevin kepada Deni, Lisna dan Maya.


"Wa'alaikum salam." Jawab mereka bertiga serempak.


"Mbak Sandra sama Aura ada di dapur pak." Ucap Lisna.


"Izin ke dapur ya." Ucap Kevin lagi.


"Iya, silakan pak." Sahut Deni.


"Wah... Wangi banget. Jadi laper." Ucap Kevin saat sudah memasuki dapur.


"Ayah.." Seru Aura sambil berlari dan memeluk kaki Kevin.


"Kangen ya sama ayah?" Tanya Kevin sambil membawa Aura ke dalam gendongan nya.


"Gak kangen. Biasa aja." Jawab Aura.


"Masa sih?" Jawab Kevin lagi.


"Iya dong. Kan ada bunda." Jawab Aura lagi.


"Mentang mentang udah ada bunda. Ayah di lupain." Rajuk Kevin dengan wajah sedih yang dibuat buat.


"Hahaha.. Wajah ayah lucu." Ucap Aura sambil tertawa melihat ekspresi Kevin yang di buat buat.


"Awas ya kamu. Ayah gelitikin biar kamu kapok." Ucap Kevin sambil menciumi wajah Aura dan tangan kanan menggelitik Aura sedangkan tangan kiri menopang tubuh Aura.


"Ampun ayah.. Hahahahaha." Ucap Aura lagi sambil masih tertawa.


"Bunda tolong aku." Ucapnya lagi.


"Kalian ini. Sudah mas, kasihan Aura." Ucap Cassandra.


"Kamu kok malah belain Aura sih. Bukannya bantuin aku." Ucap Kevin.


"Iya dong. Aura kan anak aku." Ucap Cassandra.

__ADS_1


"Awas ya kamu. Sini kamu juga aku gelitikin." tangan kanan Kevin meraih pinggang Cassandra dan menggelitikinya hingga Cassandra ikut tertawa.


Namun saat akan melepaskan diri, Cassandra hampir terjatuh. Membuat Kevin secara refleks menarik Cassandra ke dalam pelukannya. Mereka pun terlihat seperti keluarga bahagia. Dengan Kevin memeluk pinggang Cassandra juga Aura di dalam gendongan Kevin.


"*Semoga mbak bisa bahagia. Aku seneng bisa liat mbak ketawa lepas kayak gitu." Batin Ratih melihat adegan tersebut.


"Aku seneng melihat mbak bisa ketawa lepas seperti ini. Semoga kedepannya mbak selalu bahagia. Aku yakin pak Kevin orang baik yang bisa jaga mbak. Tapi jika sampai mbak disakiti, aku akan jadi orang pertama yang akan membuat pak Kevin menyesal. Itu janji aku. Mbak sudah aku anggap seperti kakak aku sendiri." Batin Deni saat akan mengambil roti yang akan di pajang di rak toko*.


"Sudah mas. Cape tau. Sarapan yuk mas." Ucap Cassandra dengan wajah merona karena malu oleh Ratih dan Deni.


"Kita mau sarapan apa?" Tanya Kevin dengan tangan yang masih setia memeluk pinggang Cassandra. Malah semakin erat saat Cassandra mencoba melepaskannya.


"Lepasin mas. Malu tau." Ucap Cassandra.


"Kenapa emangnya? Malah biar semua tau kalau kamu itu cuma milik aku seorang." Ucap Kevin dengan bangganya.


"Jiwa jomblo saya meronta ronta pak melihat kemesraan bapak sama mbak." Ucap Deni sambil tersenyum.


"Iri aja kamu Den." Ucap Kevin.


"Ayah. Gak boleh pegang pegang bunda. Bunda itu punya aku." Ucap Aura sambil memukul dada sang ayah.


"Baiklah baiklah. Ayah menyerah." Ucap Kevin sambil melepaskan pelukannya kepada Cassandra.


"Mau makan roti aja atau mau makanan berat?" Tanya Cassandra.


"Aku mau sandwich." Ucap Aura.


"Ya udah. Ke atas yuk. Disini gak ada bahannya." Ajak Cassandra kepada Kevin dengan Aura yang masih betah di gendong Kevin. Yang tentu saja itu hanya alasan nya saja. Sebenarnya ia malu kepada Deni dan Ratih soal kejadian tadi.


Sesampainya di tempat kediaman Cassandra yang berada di lantai 2, Cassandra langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan mereka. Sedangkan Kevin dan Aura menuju sofa dan langsung menyalakan televisi. Tak berselang lama sarapan pun sudah tersedia. Mereka pun makan tanpa ada yang bersuara.


"Mas, kalau misalnya aku tiba tiba jalan sama Bimo boleh ya? Aku cuma mau mastiin ucapan mami. Takutnya aku lupa buat bilang kalau tiba tiba pergi." Ucap Cassandra yang masih duduk di sofa dengan Kevin sedangkan Aura duduk di lantai dengan segala macam mainannya.


"Boleh. Tapi kamu gak boleh macem macem ya." Jawab Kevin.


"Kamu gak percaya sama aku mas. Sampe bilang kaya gitu." Ucap Cassandra dengan kedua alis yang terangkat.


"Percaya sayang. Aku sangat percaya sama kamu. Aku cuma takut kehilangan kamu. Maaf kalau kata kata aku bikin kamu tersinggung." Balas Kevin sambil mengelus kepala Cassandra.

__ADS_1


"Tenang aja mas. Aku tau rasanya di hianatin. Jadi sebisa mungkin aku gak akan menghianati orang yang aku sayang dan sayang sama aku." Ucap Cassandra lagi.


"Sayang, pulang yuk. Nenek udah nungguin kamu di rumah. Bunda juga akan ada kegiatan. Jadi gak mungkin jagain kamu terus. Ayah juga sejam lagi ada meeting." Ucap Kevin sambil melihat ke arah jam tangannya.


"Aku akan ada kegiatan apa emang mas?" Tanya Cassandra.


"Kalau kamu tiba tiba mau pergi sama Bimo pasti susah kalau ada Aura. Lagian mami udah nyuruh cucunya untuk pulang. Sepi katanya di rumah kalau gak ada Aura." Jelas Kevin dan Cassandra hanya menganggukkan kepalanya.


"Gak mau. Aku mau sama bunda aja." Rengek Aura.


Aura susah di ajak pulang. Ia sudah lengket sekali kepada Cassandra. Hingga Cassandra menawarkan diri untuk mengantar Aura. Ia akan mencoba membujuk Aura terlebih dulu.


"Sudah mas. Kalau Aura gak mau gak usah di paksa. Biar aku bujuk dulu. Ntar aku antar Aura pulang." Ucap Cassandra yang di setujui Kevin. Dan Kevin pun pergi karena waktu yang sudah mendekati untuk meeting.


Sore hari tiba. Saat ini Cassandra sudah berada di kediaman Kevin untuk mengantar Aura. Ia sedang mengobrol dengan mami di ruang keluarga. Sedangkan Aura sudah tertidur mungkin efek kecapekan karena seharian ini Aura mengikuti kegiatan Cassandra yang sedang membuat resep baru untuk di tokonya. Tak berselang lama Kevin datang.


"Assalamualaikum." Ucal Kevin saat memasuki rumah.


"Wa'alaikum salam." Jawab Cassandra dan mami serempak.


"ya sudah. Aku pulang yah mam. Takut kemaleman." Ucap Cassandra sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 17.30.


"Kamu naik apa kesini sayang?" Tanya Kevin.


"Pakai taksi online mas. Kan aku gak ada kendaraan kalau di Bandung." Jelas Cassandra. Membuat Kevin masuk ke dalam dan mengambil sesuatu dari dalam laci.


"Gimana kalau kamu bawa mobil aku aja. Bukan mobil aku sih. Sebenernya mobil peninggalan Anita. Sayang aja kalau cuma di simpen di garasi. Mau ya? Bukan maksud aku mau ngasih barang bekas. Ini cuma darurat aja. Nanti aku pasti beliin mobil baru buat kamu. Kan lumayan buat bantu kamu kalau mau pergi kemana mana." Jelas Kevin yang takut kalau Cassandra salah paham dengan maksudnya.


"Aku ngerti maksud kamu mas. Tapi aku gak berhak pakai mobil itu. Nanti biar aku beli sendiri aja." Ucap Cassandra.


"Ga apa apa nak. Kevin cuma khawatir sama kamu. Kalau kamu gak mau pakai mobil Anita. Biar tuker aja sama mobil mami. Biar mobil Anita mami yang pake." Ucap mami yang sepemikiran dengan Kevin.


"Bukan gitu maksud aku mam. Aku belum berhak mendapatkan ini. Aku belum resmi jadi isteri mas Kevin. Kalau aku udah resmi, aku pasti pakai mobil peninggalan mbak Anita. Tapi kalau sekarang, aku gak bisa. Aku takut orang berfikiran negatif tentang aku." Jelas Cassandra.


"Ga apa apa sayang. Pakai aja ya. Demi mami. Jadi mami juga tenang. Zaman sekarang, taksi online juga gak aman." Ucap mami dengan memohon kepada Cassandra.


"Ya sudah kalau gitu. Sini mas kuncinya. Biar aku pakai mobilnya. Makasih ya sebelumnya. Maaf sudah merepotkan mami sama mas Kevin." Jelas Cassandra lagi.


"Gak repot kok sayang. Makasih udah mau nerima mobil ini. Aku janji, nanti aku bakalan beliin mobil baru buat kamu." Ucap Kevin sambil memberikan kunci mobil kepada Cassandra.

__ADS_1


"Gak usah mas. Ini udah lebih dari cukup." Balas Cassandra.


Cassandra sudah masuk ke dalam mobil. Ia juga sudah berpamitan tadi kepada mami dan Kevin. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan perhatian dari mami.


__ADS_2