
sudah sebulan berlalu Raka bersekolah di SMA PESISIR 1. namun Raka mulai menyadari bahwa pembelajaran di sana di lakukan seperti sekolah pada umumnya hanya pembagian waktu saja dan beberapa hal lainnya yg berbeda seperti pembagian, pengukuran dan kemampuan yg di terapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolahan tersebut. walaupun sebenarnya hal itu merugikan murid terutama para murid yg memiliki kekuatan yg rendah sebab mereka akan mendapat ilmu atau tehnik atau jurus baru mereka harus menguasai ilmu yg sedang ia pelajari tanpa mendapatkan berbagai fasilitas yg menjamin. sehingga mereka menaikkan tingkat mereka dengan tekat dan usaha serta kegigihan. namun peraturan itu sangat memudahkan para guru serta karyawan untuk menciptakan beberapa lulusan terbaik dikarekan fasilitas terfokus kepada mereka yg berbakat yg membuat fasilitas itu semakin efektif untuk di gunakan.
Raka mulai berpikir bahwa menguntungkan baginya masuk sebagai murid luar karena sangat sedikit pembullyan dan pembedaan antara para murid serta keseharian di sana pun lebih tenang. hal itu terjadi sebab para murid luar sudah mengerti dan merasakan apa yg di alami satu sama lain walaupun rasa tersebut berbeda antara murid satu dengan yg lain. namun mereka pernah atau sering merasakan kejadian yg sama seperti di rendahkan, di bully, atau di beda-beda kan yg membuat tumbuhnya ikatan persaudaraan di antara mereka. bahkan dalam latihan pun mereka lakukan secara bersama tanpa ada yg menjatuhkan justru membantu murid lain yg kesulitan. berbanding terbalik dengan keadaan di daerah murid dalam dimana kekuatan di anggap segalanya. sehingga menjadi pembeda dan pembatas kasta di antara mereka yg membuat munculnya sikap saling menjatuhkan.
hari semakin larut namun Raka masih belum bisa tidur muncul perasaan yg cemas yg berlebihan di hatinya. ketakutan mulai memenuhi hati dan pikirannya walaupun ia tak tahu apa yg ia cemaskan. detak jantungnya mulai tak beraturan dan pikirannya mulai tak karuan hingga yg ia lakukan hanya tidur di kasur kesayangan. ia hanya menatap langit-langit rumah dengan penuh tanda tanya dimana rasa sakit kepala mulai terasa, dada terasa tertusuk suatu benda dan badannya terasa panas yg luar biasa. pada akhirnya matanya mulai tenggelam dalam kegelapan.
Raka terdiam di tempat sambil mencoba kesekitar tempatnya. namun satu hal yg ia temukan hanya kegelapan tanpa ujung. bahkan ia tak merasa bahwa matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan ini karena sejak tadi pandangannya tetap tak berubah. berbeda dengan teori yg mengatakan bahwa setiap anggota tubuh akan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. hal itu membuat Raka sadar bahwa ia telah masuk kedalam dunia pikiran. walaupun ia tak tahu siapa yg melakukannya namun Raka tetap tenang menghadapi keadaan tersebut. ia meraba lantai untuk memastikan keadaan apakah ini lantai modern atau sebuah gua. untuk memastikan tempat yg ia pijaki.
tiba-tiba ada sebuah suara yg bergema dan menggetarkan gendang telinga Raka.
" Raka Arsya apa kau mendengar ku? " ucap suara berat itu.
__ADS_1
" aku mendengarnya dengan sangat jelas. siapa kau dan dimana aku berada? " ucap Raka membalas pertanyaan.
" kau berada di dimensi pikiran yg di buat oleh kakekmu. " jawab suara berat itu.
" lalu untuk apa dimensi ini di buat dan kapan kakek membuatnya " tanya Raka yg kebingungan.
suara itu menjawab " dimensi ini di buat di saat umurmu 8 tahun. karena engkau gagal mengendalikan kekuatan sejati dari dirimu sendiri. "
suara itu membalas " jika kau ingin tahu maka ikuti cahaya yg ada di depanmu dan kau akan menemukan kebenaran itu. dan kau harus menerima apa yg kau lihat karena itu adalah jati dirimu yg sebenarnya. "
tak berapa lama muncul sebuah bola cahaya yg mulai bergerak. Raka mulai mengikuti cahaya itu karena hanya dengan itu ada kemungkinan ia bisa cepat keluar dari dimensi ini. walaupun untuk itu ia harus bertaruh segala yg ia miliki termasuk nyawanya.
__ADS_1
Raka telah sampai di sebuah ruangan yg sangat kuno seperti ruang bangsawan yang lihat di sebuah novel atau film. di sebuah kursi ada sosok hitam layaknya api berwujud manusia sambil menghisap sebatang rokok. sosok itu mulai merasakan kehadiran Raka dan bangun mendekatinya. lalu saat berdiri berhadap-hadapan barulah Raka sadar bahwa sosok itu adalah sosok yg sangat mirip dengannya namun ekspresi nya memberikan ketakutan pada orang yg melihatnya. mereka mulai bercakap-cakap cukup lama hingga pada akhirnya dimensi itu mulai hancur.
Raka membuka matanya dan melihat ke sekeliling yg ternyata ada Aqila yg telah ada di sampingnya sambil menggenggam tangannya dengan kuat. namun Aqila saat ini tengah tidur dengan posisi duduk di kursi kayu dan kepalanya berada di kasur tempat Raka berbaring. Raka yg melihat itu melepaskan tangan Raka yg menggenggam tangan dan membelai rambut Aqila. lalu ia bangkit dan menggendong Aqila serta membawanya ke kamar sebelah agar Aqila bisa tidur dengan nyenyak. saat menggendong Raka melihat wajah Aqila dengan seksama dan mulai tersenyum penuh arti. setelah merebahkan Aqila di kasur Raka mengecup bibir Aqila sebentar dan pergi menuju kamarnya untuk tidur.
saat di kamar Raka mulai mengingat-ingat percakapan di dimensi tadi. namun ia melupakan segala percakapan itu kecuali di bagian di mana ia harus melindungi Aqila dari para pembunuh yg siap menyerang kapan saja. ia mulai berpikir untuk belajar lagi tentang berbagai ilmu beladiri dan tenaga dalam untuk menjadi lebih kuat karena ia tak tahu seperti apa yg harus dia hadapi untuk melindungi Aqila. hingga ia mulai mempelajari sebuah jurus pedang terlarang dari buku yg di berikan kakeknya. walaupun jurus itu hebat namun hal yg harus di korbankan juga sangat besar yaitu darah lawannya apa bila gagal maka nyawanya sendiri yg menjadi korban. namun karena sebuah keterpaksaan ia harus mempelajari nya demi melindungi seseorang.
Raka pun mulai membaca buku itu hingga selesai dan tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 23.47 dini hari. Raka pun mulai tidur dan berniat memperagakan gerakan jurus itu besok saat siang hari. dikarenakan besok adalah hari Minggu. namun Raka mulai terpikirkan tentang apa yg di lakukan Aqila di rumahnya dan sadar sejak Aqila mengetahui rumahnya ia sering menginap di sini dengan berbagai alasan. padahal keluarga nya memiliki penginapan di desa pesisir. ia pun mulai berpikir untuk menanyakan alasan malam ini ia menginap di sini lagi.
Raka terlihat kesulitan untuk tidur di karenakan kecemasan akan keamanan Aqila dan mulai bertanya-tanya apakah ia mampu tuk melindunginya. Raka bangun kembali dan memasak mie instan untuk mengisi perutnya mengingat sejak tadi sore ia tak makan sesuatu. setelah mie instan nya matang ia pun memakannya dengan lahap sambil membaca buku tentang beberapa kekuatan unik dan salah satunya adalah ilusi. Raka membaca buku itu dengan seksama dan untuk saat ini Raka berfokus pada kekuatan dimensi dimana ada ultimate dari jurus ini yaitu jurus perpindahan yg meliputi hampir segala hal. itu membuat Raka tertarik untuk mempelajari nya karena ia pun memiliki kekuatan teleportasi dan kemungkinan itu akan berhubungan dengan kekuatan yg ia baca.
setelah selesai makan ia pun membersihkan alat yg ia gunakan dan beranjak ke kamar untuk tidur. namun Raka justru tanpa sadar masuk ke kamar yg di gunakan Aqila tidur. saat ia merebahkan tubuhnya di samping Aqila barulah ia sadar bahwa ia salah kamar. namun di saat itu pula Aqila terbangun dan menatapnya penuh khawatir bahkan sampai mengeluarkan air matanya. Raka pun mengusap air mata itu dan membelai rambut Aqila di sertai satu tangannya yg memeluk tubuh Aqila. Aqila mulai tenang yg membuat Raka mencium keningnya dan mengajaknya untuk tidur di karenakan hari telah larut.
__ADS_1
( sekedar informasi di karenakan Aqila terlalu sering menginap di rumah Raka. hal itu membuat Raka membangun satu kamar lagi untuk mengantisipasi Aqila yg tidur di rumahnya juga untuk adiknya yg terkadang menginap di sini. )