
ada sebuah warnet yang berisi para pemuda yang tengah bermain komputer. beberapa dari mereka ada yang bermain game, mengerjakan tugas, dan streaming video. di salah satu ruangan komputer, duduk dua pemuda dan satu pemudi. jika di lihat secara cermat ada keanehan dalam posisi salah satu pemuda dan pemudi tersebut. dimana sang pemudi duduk di pangkuan seorang pemuda yang tengah terlihat sangat gelisah. mungkin bagi yg orang-orang lewat pikirkan adalah sang pemuda memiliki niat buruk pada sang pemudi. namun mereka tak berani menegur sebab belum ada bukti bahwa sang pemuda akan melakukan hal buruk pada pemudi tersebut dan sosok pemuda itu adalah Raka terlihat gelisah karena bosan. pikirannya mulai bingung dan tak tenang saat diam tak melakukan apapun. mulai terbesit tingkah usilnya yang tergambar jelas pada wajahnya yang bersinar-sinar seperti mendapatkan inspirasi. saat ia hendak mengganggu konsentrasi Andi yang sedang membacakan teks untuk Aqila. tiba-tiba hp Andi berdering menandakan ada pesan masuk. Andi melihat hp nya dan membuka pesan tersebut. terlihat wajah Andi terlihat kurang nyaman dan gelisah.
Raka :" ada apa ndi? mengapa kamu terlihat gelisah?"
Andi :" aku tidak enak untuk mengatakannya."
Raka :" katakan saja."
Andi :" jadi gini. tadi bapakku memberi pesan untuk segera pulang. tapi aku tak bisa menyerahkan semua tugas pada kalian. padahal aku yang meminta kalian untuk menemaniku."
" oh shit, kenapa keadaan berubah menjadi seperti ini?" batin Raka
Aqila :" pulanglah ndi, biar aku dan Raka yg menyelesaikan nya."
Raka :" eh kenapa harus aku?"
Aqila :" jangan protes dan ikuti aja"
Raka :" iya iya"
Andi pun pulang setelah menyerahkan uang pada Aqila. Raka pun kembali merenungi nasibnya yang begitu buruk, ia harus berhadapan dengan orang yang dingin dan menganggap dirinya sebagai kursi. bahkan kini Aqila mulai duduk santai dengan bersandar di dada Raka. tak seperti saat Andi masih bersama mereka di mana Aqila duduk dengan posisi tegak dan condong ke depan. Raka mulai gelisah kembali dan tubuhnya mulai terasa pegal-pegal. Raka mulai mengangkat tubuh Aqila dan mencoba memindahkannya ke samping mencoba mengurangi rasa pegal pada kaki. namun Aqila ternyata menolak hal tersebut. sehingga Raka hanya merubah posisi duduk nya saja. karena rasa bosan dan mengantuk tanpa sadar tangan Raka melingkar di perut Aqila dan kepalanya bersandar di bahu dengan wajah yg menghadap ke leher Aqila. ia mulai memejamkan mata dan tidur. Aqila yang mendapati tingkah Raka yang memeluk dan tidur di bahunya hanya cuek dan membiarkannya.
waktu menunjukkan pukul 21.45, menandakan mereka berdua berada di warnet sekitar satu jam lima belas menit. tugas mereka telah mereka cetak dan bayar. Aqila mencoba membangunkan Raka yang masih tertidur lelap di bahunya. Aqila menggoyangkan tubuh Raka sehingga Raka mulai terganggu dan membuka matanya.
Aqila :" ka bangun udah selesai cetaknya."
__ADS_1
Raka :" hemmmmmm ya."
raka masih mengucek mata nya menandakan bahwa kesadarannya belum pulih seutuhnya. setelah beberapa menit ia mulai tersadar dan melepaskan pelukannya pada Aqila. segera Aqila bangun setelah Raka melepas pelukannya. sedangkan Raka merenggang otot-otot nya yang pegal karena memangku Aqila dalam waktu yang sangat lama. setelah beberapa menit melakukan perenggangan, Raka bangun dan mengikuti Aqila yang berjalan keluar. niat Raka saat itu adalah mengantar Aqila sampai rumah untuk memastikan bahwa Aqila bisa sampai rumah. walaupun Aqila termasuk kuat dalam fisik dan beladiri. namun jika berhadapan dengan puluhan orang akan lain ceritanya.
" oh ya Raka kemana tadi tujuanmu?" tanya Aqila dengan ekspresi yg datar
" mau ke toko langgananku untuk membeli bahan masakan dan persediaan mie instan." ucap Raka sambil mempercepat langkahnya, mencoba berjalan di samping Aqila.
" ya udah kita kesana. aku bakal membantumu membawa barang-barang yg kau beli nanti." ucap Aqila.
" ga usah, lebih baik aku mengantarmu pulang dan lagi cuaca sedang mendung nanti aq takut kamu terjebak hujan kalo tidak segera pulang."
Raka mencoba memberi saran pada Aqila agar cepat pulang. malam semakin larut dan cuaca sepertinya akan hujan.
" tidak, aku sudah berjanji untuk membantumu. jadi aku ga mau berhutang janji padamu." tegas Aqila.
Raka dan Aqila menuju ke arah toko langganan Raka. kabar baik bagi mereka sebab toko tersebut masih buka sehingga mereka tidak menunda tujuan mereka. mereka pun masuk dan mencari barang yang ingin di beli. setelah semua terkumpul Raka membayar semua barang tersebut dan meninggalkan toko. perjalanan pun kembali sunyi tanpa ada percakapan antara mereka berdua. Raka yg mengetahui respon apa yg di berikan Aqila saat ia membuka suara memilih untuk diam. namun ia sadar sesuatu hingga mulai menanyakan pada Aqila.
Raka :" La apa kau yakin ikut ke rumah ku?"
terlihat raut wajah Raka yang gelisah dan khawatir
Aqila :" sangat yakin, memang kenapa?"
Raka :" kau tahu kan aku tinggal di desa krims. sebagian besar penduduk nya itu mantan narapidana dan kriminal."
__ADS_1
Aqila :" memang kenapa? kau aja terlihat baik-baik saja setelah tinggal di sana selama 2 bulanan."
Raka :" tapi mereka terlalu mengintimidasi pada orang-orang baru atau mereka yang singgah di sana kecuali para pembeli"
Aqila :" justru dirimu sendiri lah yang harus kau khawatir kan. dimana kamu membeli barang-barang ini diluar desamu sendiri."
Raka :" aku membeli keluar karena setiap malam toko kebutuhan sehari-hari tutup dan ketika membeli lewat rumah mereka akan marah. tapi sepertinya memang tidak akan ada masalah. "
mereka telah sampai di desa krims. lalu Raka menunjukkan jalan menuju rumahnya. gerimis mulai berjatuhan membuat Raka menarik tangan Aqila agar berjalan lebih cepat. akhirnya mereka sampai di rumah Raka. dengan segera mereka meletakkan barang-barang yang dibeli Raka di dapur dan lemari pakaian. baru saja mereka menaruh barang-barang tersebut. hujan deras mengguyur bumi dengan angin yg cukup kencang. Raka hanya berdiam tak bergeming dengan pikiran yang kalut mencari cara agar Aqila bisa pulang. menggunakan kendaraan tidak bisa, membawa payung juga tidak mungkin dengan angin yg lumayan kencang. satu-satunya cara untuk Aqila pulang adalah menelpon keluarga Aqila dan meminta mereka untuk menjemput nya.
Raka :" coba kau telpon keluarga mu dan minta mereka untuk menjemputmu."
Aqila :" ga, aku akan menginap di sini. tadi aku udah memberitahu keluarga ku bahwa aku akan menginap di rumah teman."
Raka hanya bisa mematung mendengar jawaban Aqila. sikap datar, acuh dan cuek serta keras kepalanya udah terlalu tinggi. padahal saat bersama orang lain ia begitu pemalu, pendiam dan penurut. Raka hanya menghela napas dan menyiapkan selimut untuknya tidur di ranjang depan tv. melihat hal itu Aqila langsung berjalan ke arahnya.
Aqila :" apa yg kau lakukan disini?"
Raka :" ya tidur lah, emang mau ngapain lagi"
Aqila :" tidur di kamar sana."
Raka :" kamar nya satu buat kamu tidur. aku ga pa pa tidur di sini."
Aqila :" ga kamu juga harus tidur di kamar. aq merasa ga nyaman jika memakai kamarmu sedangkan kamu tidur di luar sini."
__ADS_1
Aqila menarik tangan Raka dan menyeretnya menuju kamar. lalu Aqila membanting tangan Raka yang membuat Raka jatuh ke kasur. Raka mulai gelisah dengan keadaan ini. pikiran kotornya mulai memenuhi otaknya. ia sangat takut jika melakukan perbuatan buruk kepada Aqila. itulah sebabnya ia menolak untuk tidur bersama Aqila. Raka mulai berinisiatif untuk berjalan keluar kamar saat merasa bahwa Aqila telah tertidur. tapi baru saja kakinya menyentuh lantai Aqila telah berbalik dengan tangan mengepal seperti hendak memukul nya. Raka pun langsung terdiam dan berposisi tidur. ia berusaha memejamkan matanya dengan paksa. namun kenyataan berkata bahwa ia tidak bisa tidur karena adanya Aqila di sisinya. perasaan takut itu membuatnya kesulitan tidur dan hanya memutar-mutar tubuhnya mengganti posisi tidur. Aqila yang merasakan Raka terlihat gelisah dan tidak bisa tidur membalikkan badannya. lalu tangannya menarik kepala Raka ke dalam pelukannya. Raka yang mendapat perlakuan itu memberontak. namun satu kalimat yg keluar dari mulut Aqila langsung membuatnya diam seribu bahasa membuatnya mencoba tidur kembali. derit ranting di terpa angin, suara tetesan air hujan dan bau segar udara saat hujan mulai membuat Raka tenang. pelukan Aqila membuat rasa dingin nya hujan tak mampu menyentuh tubuh Raka. hingga akhirnya mereka berdua tertidur dalam pelukan yang hangat itu.