Kultivator Dewa Pedang Ada Di Bumi

Kultivator Dewa Pedang Ada Di Bumi
14. BANDIT KELELAWAR HITAM


__ADS_3

Baik Chen... Aku berjanji akan mengurusnya dan aku mewakili kekaisaran meminta maaf karena belum bisa bersikap adil terhadap seluruh rakyat kekaisaran ini" ucap Di Zao menangkupkan tangannya.



\*\*\*



'kakak?'gumam bibi Shi ketika mendengar Chen memanggil pangeran dengan sebutan kakak.



'Apakah nak Chen pangeran baru yang di bicarakan banyak orang itu'lanjutnya tapi masih bisa didengar oleh Yan Chen.



"Iya bibi, dia adalah kakak ku dan aku adalah pangeran baru itu"ucap Chen tersenyum.



"Ja..jadi nak Chen pangeran baru itu?"tanya bibi Shi tergagap.



"Hehehe.. iya bi"jawab Chen.



"Ma..maafkan sikap hamba yang kecil ini pangeran" ucap bibi Shi sambil berlutut dihadapan Cen dan Di Zao.



"Tidak usah berlutut bi.. sudahlah bangun bi" ucap Di Zao.



Lalu bibi Shi itu bangun.



"Bi, kami tidak akan berlama-lama disini, karena kami masih ada urusan" ucap Chen.



"Apakah kak Chen akan pergi meninggalkan Feng?"tanya Feng menghampiri Chen.



"Kakak masih ada urusan yang harus di kerjakan Feng'er"jawab Chen sambil mengelus anak itu.



"Cepatlah besar dan jaga adik-adikmu dengan baik." Ucap Chen.



"Baiklah kak. Aku berjanji akan menjaga adik-adikku"kata feng sambil menahan air matanya.



"Jangan bersedih Feng'er. Setelah urusan kakak selesai, kakak akan menemuimu lagi"ucap Chen.



"Baiklah Feng'er dan bibi Shi, kami pamit undur diri" lanjutnya.



"Baiklah semoga urusannya cepat selesai pangeran"ucap bibi Shi.



Mereka pun akhirnya pamit dan berjalan keluar dari panti asuhan menuju ke arah hutan kematian.



Mereka berjalan sembari melihat-lihat suasana ibukota kekaisaran.



(Skip perjalanan)



Ketika mereka hendak memasuki kawasan hutan bagian luar, mereka mendengar suara perkelahian dari arah hutan itu.



"Apakah kakak mendengarnya?"tanya Chen.



"Ya, itu seperti suara orang sedang berkelahi"jawab Di Zao.



"Mari kita lihat kak"ucap Chen



"Ya, ayo !!" Jawab Di Zao.



Chen menggunakan ilmu meringankan tubuhnya mengikuti arah suara perkelahian itu.



"Tunggu Chen" teriak Di Zao sembari berlari.



Yan Chen melompat dari satu pohon kepohon lainnya.



Di depannya ia melihat 2 perempuan sedang dikepung oleh banyak lelaki berbadan kekar dan berwajah sangar.



"Hahhhh....hahhhh... Kenapa kamu meninggalkan ku Chen?" Tanya Di Zao ketika berhasil menyusul Yan Chen.



"Suuuuuttttt... Lihatlah ke depan"ucap Chen memberi kode agar tidak terlalu berisik.


__ADS_1


Kembali ke tempat perkelahian..



"Hahahahhh.. kamu tidak akan bisa lepas dari kami gadis manis.." ucap pemimpin kelompok itu.



"Hahahahahahahaha.. kita akan bersenang-senang malam ini ketua"ucap salah satu anak buahnya.



Terlihat keadaan 2 wanita itu sangat buruk..


Bajunya terlihat banyak sekali sobekan sehingga terlihat bagian paha mereka dan banyak juga luka sayatan pedang.



Mereka terlihat lemah dan pasrah. Mereka hanya bisa berdo'a siapa tau ada orang yang akan menolongnya..



"Maafkan kakak yang tidak bisa menjagamu adik"sambil menangis mengeluarkan air matanya.



Ketika mereka melihat sang pemimpin mendekat dan menjulurkan tangannya untuk menangkap mereka.


Samar-samar, mereka melihat sosok pemuda berdiri membelakangi mereka berdua.



Kembali ke Yan Chen.


"Apakah kakak akan menolong mereka"tanya Chen.


"Heheheh... Kau tau sendiri bahwa kakakmu yang tampan ini masih lemah. Lebih baik kamu saja yang menolong mereka."jawab Di Zao cengengesan.


"Hahhhh... Yasudah kakak tunggu disini saja" ucap Chen lalu melompat dan turun dihadapan perempuan itu.



"Siapa kamu bocah?"teriak pemimpin itu terkejut karena tiba-tiba muncul seorang pemuda yang tidak tau dari mana asalnya.



"Beraninya kalian hanya kepada perempuan saja"ucap Chen santai.



"Hahahah beraninya kamu berurusan dengan kami bocah tengik"ucap pemimpin itu.



"Apakah kamu sudah tidak sayang pada nyawa mu lagi?" Lanjutnya.



"Kenapa kalau aku berani?"ucap Chen santai.



"Tuan, lebih baik tuan pergi dari sini. Mereka adalah bandit kelelawar hitam, tuan" ucap salah seorang perempuan yang lebih tua.




"Kenapa? Apakah kamu takut sekarang?"tanya pemimpin itu.



"Hahahahahahhahah....."semua anak buahnya tertawa .



"Heeeeehhhh... Tidak ada kata takut dalam kamus hidup ku" jawab Chen sambil mengupil.



Terlihat pemimpin tersebut mukanya memerah menahan amarah melihat tingkah Chen dihadapannya.



"Beraninya bocah yang tidak memiliki kultivasi berlagak didepanku yqng memiliki tingkatan alam bumi"ucap pemimpin.



"Kalian semua... Tangkap dan siksa bocah tidak tahu diri itu ..!!" Lanjutnya



'Hiiiiiaaaaaaattttttt' teriak mereka serempak maju menyeran Chen.



"Awassss tuannn "teriak perempuan yang ada di belakang Chen.



'hehehehh... Hanya sekumpulan semut tidak tahu diri'guman Chen.



"Saatnya bermain" ucap Chen lalu berlari kearah sekumpulan orang yang menyerangnya.



Tidak lupa ia mengeluarkan jurus pelindung dewa naganya agar kulitnya tidak terluka ketika menahan pedang dan kapak yang digunakan kelompok itu sebagai senjatanya.



Tring...


Tringg..


Tring...



Semua yang menyerang dibuat kaget karena mereka tidak bisa melukai tangan Chen yang menahan senjata mereka.



Meskipun senjata mereka senjata \*3 tapi mereka masih tidak bisa melukai Chen.


__ADS_1


"Apaaaaa???" Teriak mereka bersamaan lalu mundur kebelakang mengambil jarak.



Chen mengumpulkan energi Qi di tangannya dan merubah energi itu menjadi pedang.



"Siallll .... Ternyata dia bisa melakukan perubahan unsur.."keluh sang pemimpin.



"Tamatlah riwayat kita"sambungnya.



Kembali ke pertempuran~



"Kalian tau siapa yang telah membunuh pemimpin kalian sebelumnya?"tanya Chen dengan wajah dingin.



"Si..si..siapa?"tanya pemimpin itu.



"Itulah aku.." jawab Chen.



Lalu ia mangayunkan pedang perubahan unsur nya kearah kelompok itu.


Seketika tercipta energi berwarna putih menyerupai sabit meluncur ke arah mereka.



Mereka semua tidak sempat mengelak atau menahannya karena serangan tersebut sangat cepat dan alhasil tubuh mereka semua terbelah menjadi 2.



Kedua perempuan yang melihat tubuh kelompok bandit itu terbelah menjadi 2 bagian langsung pingsan kerena tidak kuat melihatnya.



'haisssshhhh.... Wanita memang selalu merepotkan'gumam Chen.



Lalu ia membakar mayat kelompok bandit itu dengan elemen apinya, karena takut menimbulkan penyakit dan mengundang hewan buas.



Di Zao langsung turun kearah Yan Chen.



"Hoeekkkkk.. !! Kamu sungguh sadis Chen"ucap Di Zao sambil muntah.



"Dasar kakak lemah... Segitu saja sudah muntah-muntah" ucap Chen melihat kakaknya itu.



"Baiklah.. sekarang bantu aku membawa para wanita ini kak"lanjutnya.



Chen dan Di Zao pun membawa mereka menuju tempat tujuan Chen yaitu hutan kematian bagian inti.



Mereka berjalan sambil menggendong perempuan yang terlihat sedang pingsan itu.



"Chen, kita akan kemana?" Tanya Di Zao yqng terlihat ketakutan ketika berjalan memasuki wilayah bagia dalam.



"Kita akan masuk ke hutan bagian inti"jawab Chen singkat.



"Apaaaa...??"kaget Di Zao dan menjatuhkan wanita yang ada digendongannya saking kagetnya.



Ia sering mendengar cerita kengerian hutan kematian ini.



Ketika ia mendengar jawaban Chen, membuat ia bergetar seluruh tubuhnya.



"Apa kamu tidak bercanda, Chen?" Tanya Di Zao.



"Tidak... Aku tidak bercanda, dan kakak tenanglah"jawab Chen.



Mereka pun berjalan memasuki hutan bagian dalam. Tapi anehnya tidak ada hewan buas ataupun siluman yang menghadang mereka.



Karena apa????



Ya, betulll... Karena Yan Chen mengeluarkan aura dewa naganya. Jadi tidak ada yang berani mendekat ke arah mereka, yang ada mereka menjauh karena merasakan aura itu.



(To Be Continue?



SELAMAT PAGI UNTUK KALIAN SEMUA.


SEMOGA TETAP SEHAT DAN SEMANGAT MENJALANI HARINYA


See you next chapter.. !!

__ADS_1


__ADS_2