
Liong'er, apakah kamu mau ikut dan tinggal bersama tuan Chen?" ucap Yuan lin.
"Aku...."
\*\*\*
Liong da terlihat sedang berfikir. Apakah ia akan ikut atau tidak.
"Liong'er, apakah kamu ingin menjadi kultivator?" Tanya Chen yang melihat kebimbangan Liong da.
"Aku ingin sekali menjadi kultivator, tapi bagaimana caranya, kak?" Ucap Liong da.
Chen lalu membuka portal menuju dunia jiwa nya.
Didalam portal itu terlihat sebuah istana besar nan megah.
"Woaaaahhhh .. istana siapa itu kak?" Tanya Liong da yang kagum akan istana megah yang berada didalam portal.
"Itu adalah dunia jiwa milik ku. Kamu bisa tinggal dan berlatih disana bersama ibumu. Dan aku yakin, kamu kelak akan menjadi kultivator hebat dibawah pelatihan aku dan paman Zi. Jadi apakah kamu mau ikut dan tinggal bersamaku, Liong'er?" Ucap Chen.
"Apakah ibu setuju jika kita ikut dan tinggal bersama kak Chen?" Tanya Liong da kepada ibunya.
"Demi masa depan mu, ibu setuju saja" ucap Yuan lin tersenyum hangat.
"Baiklah.... Aku akan ikut dan akan menjadi kultivator yang hebat" ucap Liong da penuh tekad.
"Bagusss.... Semangat seperti itu yang harus kamu pertahankan" ucap Chen.
"Baiklah... Kalian bersiap-siap lah dahulu. Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan. Nanti setelah urusannya selesai, aku akan kembali dan menjemput kalian" lanjutnya.
"Baik kak Chen.." ucap Liong da.
"Terimakasih...." Ucap Yuan lin sembari menangkupkan tangannya.
"Sama-sama, bi. Jangan terlalu sungkan" ucap Chen.
"Baiklah... Ayo paman, kita akan menuju ke pelelangan Seribu Bintang" lanjut Chen.
"Bibi Yuan, kami pamit undur diri dulu." Ucap Chen.
"Hati-hati tuan" ucap Yuan lin.
Chen dan Zi tang melangkahkan kakinya keluar menuju pelelangan Seribu Bintang.
Mereka berjalan melewati pasar yang tampak sangat ramai sekali karena tempat ini adalah jalur perdagangan.
"Apakah kamu tahu tempat pelelangan itu, Chen?" Tanya Zi tang.
"Heheheheh..... Tidak paman" ucap Chen sembari tertawa.
"Hadeuhhhhhh.... Aku kira kamu mengetahuinya" ucap Zi tang.
"Kita bertanya saja paman" ucap Chen.
"Baiklah...." Ucap Zi tang.
Mereka berjalan menghampiri salah seorang pedagang yang sedang berjualan.
"Silahkan dibeli manisannya tuan." ucap pedagang itu.
"Maaf paman, aku hanya ingin bertanya" ucap Chen.
"Yah.. aku kira kamu akan membeli dagangan ku." Ucap pedagang manisan itu.
"Apa yang ingin kamu tanyakan anak muda?" Lanjutnya.
"Apakah paman tau dimana tempat pelelangan seribu bintang?" Tanya Chen.
"Tinggal lurus saja sekitar 10 meter, di sebelah kiri ada bangunan besar. Nah itu pelelangan Seribu Bintang" ucap pedagang manisan itu.
"Baiklah.. terimakasih paman" ucap Chen lalu memberikan 1 koin emas kepada pedagang manisan itu.
"Hahahah... Terimakasih tuan,, terimakasih" ucap pedagang itu tertawa senang karena mendapat koin emas.
"Sama-sama paman, kami pergi dulu" ucap Chen sembari menangkupkan tangannya.
"Baiklah.. hati-hati dijalan tuan" ucap pedagang itu.
Pedagang itu memanggi Chen dengan sebutan tuan karena Chen begitu gampangnya memberikan koin emas dengan cuma-cuma.
__ADS_1
Chen dan Zi tang berjalan mengikuti arah yang ditunjukan oleh paman penjual manisan tadi.
Ketika sudah berjalan sekitar 10 meter, mereka melihat bangunan 3 lantai yang memiliki dekorasi yang unik dengan bertuliskan "Paviliun Seribu Bintang".
Mereka pun berjalan menuju bangunan itu.
Terlihat 2 penjaga menjaga pintu masuk bangunan itu.
"Selamat datang tuan-tuan di Paviliun Seribu Bintang" ucap salah satu penjaga.
Chen dan Zi tang hanya mengangguk lalu melangkahkan kakinya memasuki bangunan itu.
Terlihat didalam banyak sekali orang yang sedang melihat-lihat barang.
Tiba-tiba seorang pelayan mendatangi Chen dan Zi tang.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya pelayan itu.
Pelayan itu terlihat masih muda, tetapi memiliki perawakan yang cukup tinggi.
"Aku ingin bertemu dengan pemilik tempat ini" ucap Chen.
"Hahahaha... Hanya pemuda miskin ingin bertemu dengan pemilik paviliun ini? Ia hanya bermimpi" ucap seorang pelayan yang terlihat lebih tua.
"Aku memang ingin bertemu dengan pemilik paviliun ini" ucap Chen.
"Hehh.. dasar bocah miskin tidak tahu diri. Pakaiannya saja jelek begitu." Ucap salah seorang pemuda yang cukup tampan dengan memakai pakaian mewah.
' Wah itu tuan muda Zen' bisik orang yang ada di tempat itu.
Memang pakaian yang dipakai Chen dan Zi tang hanya pakaian sederhana berwarna biru dengan tudung kepala yang selalu Chen dan Zi tang pakai.
"Apakah ada masalah dengan pakaian ku ini?" Tanya Chen.
"Hahahah... Dasar tidak tau diri. Lihat pakaian tuan muda Zen, mewah dan mahal" ucap pelayan tadi.
"Tentu saja pakaian ku ini mahal. Dia tidak akan sanggup untuk membelinya... Hahahahah" ucap Zen sembari tertawa.
"Apa yang perlu dibanggakan dari pakaian hasil pemberian dari orang tua?" Ucap Chen.
"Berengsekk.... Kamu tidak tahu siapa aku hahhh? Aku adalah tuan muda bangsawan Zen, Zen Ming" ucap Zen terlihat marah.
"Pengawal.... Berikan pelajar untuk sialan yang tidak tau diri ini" ucap Zen.
"Baik tuan.." ucap 2 orang pengawal yang ada di belakang Zen.
"Bocah... Kamu sudah menyinggung tuan muda Zen. Terimalah ini..." Ucap salah seorang pengawal.
'Dia akan mati jika terkena pukulan itu.. pengawal tuan muda Zen berada di tingkatan alam langit -2' bisik pengunjung yang ada disana.
Chen hanya tersenyum menyeringai melihat 2 orang pengawal menuju kearahnya.
"Apakah kamu akan membiarkan mereka yang menimbulkan keributan di tempat ini?" Tanya Chen sembari melihat keatas langit-langit.
'Hahh... Apakah dia bisa melihatku?' batin orang yang sedang bersembunyi diatas langit-langit tempat itu.
Ya, ia adalah orang yang menjaga paviliun seribu bintang ini.
Ia akhirnya menampakan dirinya lalu turun kehadapan Chen.
"Hentikan....!!! Dilarang berkelahi di tempat ini" ucap orang itu sambil melepaskan aura alam langit -7.
Semua orang yang ada disana merasa tertekan oleh tekanan aura orang itu.
Hanya Chen, Zi tang dan seorang pelayan yang dari awal berada disisi Chen yang tidak merasa tertekan.
'Hah... Apakah ia tidak tertekan dengan aura ku? Tapi aku tidak bisa melihat tingkatan 2 orang itu. Aku lebih baik berhati-hati dan tidak boleh menyinggungnya' gumam orang itu ketika melihat Chen, Zi tang dan seorang pelayan yang tidak tertekan dengan auranya.
'Uhhh.... Sialan.' guman Zen karena ia tertekan sekali dengan aura yang orang itu keluarkan.
"Hentikan paman..." Ucap salah seorang yang turun dari tangga.
"Nona muda..." Ucap orang yang dipanggil paman itu lalu berhenti dan menutup kembali auranya.
Terlihat semua orang bernafas lega karena tidak tertekan lagi dengan aura yang dikeluarkan.
"Ada apa ini paman?" Ucap seorang wanita cantik yang turun dari tangga.
__ADS_1
"Ada sedikit masalah disini, nona muda" ucap orang itu.
"Nona ling, pria miskin itu ingin bertemu denganmu." Ucap Zen sambil menunjuk Chen.
Dia adalah Ling Mei. Nona muda pemilik paviliun Seribu Bintang.
Ling Mei melihat kearah Chen dan Zi tang. Ia ingin mengukur tingkatan Chen dan Zi tang, tapi hanya lubang gelap yang ia lihat.
' Kamu tidak akan bisa melihat tingkatan kulivasiku' batin Chen.
"Tidak baik nona mengukur tingkatan seseorang tanpa persetujuan" ucap Chen ketika merasa Ling Mei ingin melihat tingkatannya.
"Langcang.... Pengawal serang dia" ucap Zen.
Belum sempat orang yang menjaga dan pengawal tuan muda Zen bereaksi, tangan kanan kedua pengawal tuan muda Zen sudah terpisah dari tempatnya dan jatuh kelantai.
Bruuukkkkk....
Bruuuuuukkkk....
Aaaaaaahhhhhhhhh.......
Teriak kedua pengawal tuan muda Zen sembari memegang bahu tangan yang terus mengucurkan darah.
Semua orang yang ada disana terkejut melihat kejadian itu. Bahkan paman penjaga juga tidak kalah terkejut.
Suasana menjadi hening seketika.
'Sejak kapan ia melakukannya?' gumam paman penjaga itu.
"Hehh... Hanya sekumpulan semut ingin melawan naga. Masih kurang satu juta tahun untuk melawanku" ucap Chen meledek.
"Berengsek kau sialan.... Awas saja. Aku tidak akan melepaskanmu" ucap Zen penuh dengan kemarahan.
Ia lalu pergi keluar paviliun seribu pedang.
"Semua.. silahkan kembali ketempat masing-masing" ucap Ling Mei.
"Baik nona" ucap semua orang dan para pelayan.
'Aku sudah salah menyinggung orang kali ini' gumam seorang pelayan yang tadi meledek Chen dan Zi tang.
"Tuan, mari ikut keruangan ku" ucap Ling Mei kepada Chen.
"Tunggu dulu nona.. Aku ingin kamu memecat pelayan mu itu" ucap Chen sambil menunjuk ke arah pelayan yang tadi mengejeknya.
"Kenapa aku harus memecatnya, tuan?" Ucap Ling Mei.
"Pelayan itu berperilaku buruk sekali. Ia hanya melihat penampilan luarnya saja. Harusnya semua orang diperlakukan sama disini. Dia hanya akan mencemarkan nama baik paviliun ini" jelas Chen.
"Jangan memecat saya nona. Maafkan saya nona muda" ucap pelayan itu sembari berlutut meminta pengampunan.
"Lihat pelayan muda ini. Ia tidak membeda-bedakan orang.. kamu hanya seorang pelayan, harusnya kamu tidak pilih-pilih untuk melayani para tamu." Ucap Chen.
"Apakah benar yang dikatakan tuan ini, paman?" Tanya Ling Mei kepada paman penjaga.
"Yang dikatakan tuan muda ini benar sekali, nona" ucap paman penjaga.
"Penjagaaa...." Teriak Ling Mei
Terlihat kedua penjaga yang berada di pintu luar menghampirinya.
"Hormat nona muda" ucap kedua penjaga sembari berlutut.
"Bawa dia keluar dari paviliun ini.. Ia mempunyai sifat buruk. Dan aku tidak ingin pekerjaku mempunyai sifat buruk seperti dia" ucap Ling Mei.
"Baik nona muda" ucap kedua penjaga serempak.
"Ayo keluar ..." Lanjutnya sembari menyered pelayan itu.
"Nona...nona... Jangan nona... Tuan muda maafkan aku.." ucap pelayan itu memohon.
"Berisikkk ..." Ucap kedua penjaga itu.
"Baiklah... Tuan mari silahkan" ucap Ling Mei.
Ling Mei, Chen, Zi tang dan paman penjaga menaiki tangga menuju ruangan Ling Mei.
Cuaca sangat panas sekali uhhhh... !!
Semoga kalian terhibur !!!
Terimakasih atas semua dukungan yang kalian berikan.
__ADS_1
See you next chapter !!
Byebye !