Kultivator Dewa Pedang Ada Di Bumi

Kultivator Dewa Pedang Ada Di Bumi
06. TIBA DI KEKAISARAN Xin


__ADS_3

***


"Kemana kesombongan mu yang tadi paman?" Ucap Yan Chen.


"Ampuni hamba tuan... Hamba mepunyai mata tapi tidak melihat" Ucap pemimpin sambil menahan aura Yan Che


"Mohon ampuni hamba yang berdosa ini tuan"


Lanjutnya.


'Awas saja jika aku bebas dari sini, akan ku balaskan penghinaan ini' batin si pemimpin.


"Baiklah akan ku lepaskan. Tapi.... Titip salam untuk raja Yama dari ku" ucap Yan Chen dengan wajah dingin.


Yan Chen mencabut pedang dari sarungnya dan menemaskannya ke udara kosong. Seketika tercipta sebuah energi berbentuk sabit meluncur kearah pemimpin kelelawar hitam itu.


Alhasil tubuh pemimpin tersebut terbelah menjadi 2 akibat tertebas energi yang di lepaslan Yan Chen.


Ia tidak percaya bahwa kematiannya disebabkan oleh pemuda berusia 17 tahun.


'Haish... Menyebalkan' batin Yan Chen.


Setelah Yan Chen membunuh pemimpin tersebut ia menghampiri jendral dan prajurit yang masih berada disitu.


"Paman minumlah pil ini. Ini akan menyembuhkan luka dalam dan luar yang paman alami" ucap Yan Chen.


Yan Chen memberikan pil penyembuhan tingkat tinggi yang memiliki efektivitas 100% yang ada di dalam cincin penyimpanan pemberian gurunya.


Ia juga membagikan pil yang sama kepada 4 prajurit yang lainnya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya luka jendral dan prajuritnya berangsur-angsur membaik.


Melihat itu Yan Chen pun tersenyum.


"Terimakasih tuan karena sudah menolong kami" jendral beserta prajurit berterimakasih sambil membungkukan badannya.


"Sama-sama jendral. Itu sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong-menolong dan membantu yang kesusahan"


" Dan jangan panggil aku tuan paman. Nama saya Chen. Panggil saja Chen, paman" ucap Yan Chen memperkenalkan diri.


'Sungguh pemuda yang sopan dan tidak gila hormat, dan di umur masih muda sudah memiliki kekuatan semengerikan itu, bahkat tingkat kultivasinya saja tidak bisa terbaca oleh ku' batin sang jendral.


"Baik lah nak Chen. Nama yang tua ini Zen long. Panggil saja paman long" ucap sang jendral.


Tiba-tiba dari dalam kereta kuda terlihat seseorang yang sedang turun dengan tergesa-gesa.


"Apakah kalian baik-baik saja jendral?"tanya nya.


Ya, dia adalah pangeran sekaligus putra mahkota kekaisaran Xin, Xin Di Zao.


Kaisar kekaisaran Xin bernama Xin Rou Shu


Istri kaisar bernama Lan Yu


Dan adik Xin Di Zao bernama Yu mei Er.


Xi Di Zao berumur 20 tahun dan Yu mei Er berumur 14 tahun.


"Kami baik-baik saja pangeran. Berkat bantuan dari nak Chen" jawab jendral.


"Terimakasih sudah membantu kami" ucap pangeran sambil menangkupkan tangannya.


"Sama-sama. Dan tidak perlu memberi hormat kepada yang lebih muda. Nama saya Chen pangeran" ucap Chen.


"Nama saya Xin Di Zao" jawab pangeran.


"Ngomong-ngomong, apa yang sedang kamu lakukan di hutan ini Chen?"tanya jendral.


"Saya sedang melakukan perjalanan untuk pergi ke kota terdekat, paman"jawab Chen.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bersama-sama melakukan perjalanan?" Tawar pangeran.

__ADS_1


"Baiklah.. itupun kalau tidak merepotkan kalian" ucap Chen.


"Hahahaha... Yang ada kita yang merasa merepotkan nak Chen" jawab jendral sambil tertawa.


""Baiklah.. jendral, lanjutkan perjalanan" ucap pangeran.


"Ayo Chen kita masuk kedalam kereta" ajak pangeran.


"Eh..ehh.. tidak pangeran"jawab Chen gelagapan karena ia merasa tidak enak jika duduk bersama pangeran.


"Tidak apa-apa Chen. Ayo cepat kita akan segera berangkat" ucap pangeran.


"Haishh.. baiklah pangeran" ucap Chen memelas


Jarak antara hutan dan kota yang akan dituju berkisar 1 hari.


Dalam perjalanan pun mereka tidak mendapatkan masalah atau gangguan. Mereka hanya beristirahat ketika hari sudah malam dan ketika pagi mereka melanjutkan perjalanannya kembali.


Dari jarak 100 meter sudah telihat gerbang kota yang menjulang tinggi dan dengan banyaknya antrian orang yang akan masuk. Entah itu pedagang kaya maupun rakyat biasa, mereka mengantri menunggu giliran pemeriksaan oleh prajurit yang berjaga.


Jarak mereka semakin dekat dengan gerbang kota tersebut.


Chen yang melihat keramaian itu merasakan sensasi yang belum pernah lagi ia rasakan selama 11 tahun kebelakang.


Pangeran menjelaskan bahwa kota tersebut bernama Kota Emas, ibu kota di kekaisaran Xin ini.


Ya, kota tersebut terlihat menakjubkan dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi membuat mata termanjakan.


Rombongan pangeran pun berjalan melewati antrian tersebut.


Banyak orang yang berbisik-bisik ketika melihat kereta rombongan pangeran melewati mereka.


"Hormat kepada jendral kekaisaran" ucap prajurit penjaga sambil berlutut.


"Berdirilah" ucap jendral lalu menyuruh prajurit tersebut membuka gerbangnya.


Ketika rombongan sudah berada di dalam kota, Chen turun dan ingin berpisah.


"Apakah kamu tidak mau pergi bersamaku ke istana, Chen?" Ucap pangeran kecewa.


"Terimakasih pangeran, lain kali saja" ucap Chen menolak ajakan pangeran.


"Hahhh.. baiklah !! Jangan lupa untuk berkunjung ke istana dan menemui keluargaku" ucap pangeran menghela nafas.


"Baiklah.. sampai bertemu kembali pangeran, jendral dan semuanya" ucap Chen sambil memberikan hormat.


Akhirnya ia pergi berkeliling untuk mencari penginapan terlebih dahulu.


Banyak orang yang berlalu-lalang dan berdagang, karena ibukota sebagai tempat perdagangan pusat.


Ketika ia sedang melihat-lihat, terlihat ada seorang anak kecil berusia 10 tahun sedang dikejar oleh salah satu pedagang.


"Hei bocah pencuri..! Jangan lari kamu" teriak sang pedagang.


Terlihat anak kecil tersebut berlari membawa sebungkus roti kecil ditangannya berlari ke arah Yan Chen dan menabrak dirinya sampai anak kecil itu terjatuh.


'Duaaaakkkk'


"Aduhhhh..! Maaf kak sudah menabrak mu" kata anak itu sambil meringis kesakitan.


"Apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Chen.


"Tidak apa-apa kak.. cuman lecet dikit aja" jawab anak kecil itu.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu berlari seperti itu?" Tanya Chen sambil mendirikan anak kecil itu.


Tiba-tiba si pedagang berlari kearahnya.


" Woy bocah biadab..!! Berani-beraninya kamu mencuri makanan di tempatku.. Akan ku bunuh kau bocah" teriak si pedagang sambil mendekat menghampiri Yan Chen dan anak kecil itu.


Anak kecil itu seketika bersembunyi di balik jubah putih Yan Chen ketika melihat pedagang yang mengejarnya mendekat.

__ADS_1


"Oyy.. bocah !! Bayar roti ku yang kamu ambil" ucap pedangang itu.


"Berapa harganya paman? Biar aku yang membayarnya." Tanya Chen.


'wah ada pemuda kaya raya nih. Biar aku memberi harga mahal saja hahah' batin pedagang itu sambil tertawa sinis.


"Harganya 1 koin emas" jawab si pedagang.


Yan Chen merogoh saku jubahnya supaya terlihat sedang mengambil uang, padahal ia mengeluarkan uangnya dari dalam cincin penyimpanan nya.


"Ini paman.. 1 koin emas" Chen memberikan koin emas itu kepada di pedagang.


"Baiklah, aku akan pergi. Dan untuk kamu bocah !! Jangan pernah mencuri lagi di tempatku" sambil menatap anak kecil yang berada di balik jubah Yan Chen.


Pedagang itupun pergi setelah mendapatkan uang dari Yan Chen.


"Terimakasih tuan, sudah menolongku" ucap anak itu sambil menundukan kepala.


"Sudahlah adik kecil.. Jangan terlalu dipikirkan dan jangan panggil kakak tuan" ucap Yan Chen.


"Eh ngomong-ngomong nama kakak Chen, siapa namamu adik kecil? Dan kenapa kamu mencuri?lanjut Chen bertanya kepada anak itu.


"Nama saya Feng lang kak. Kenapa saya mencuri sebab saya dan adik-adik saya belum makan dari tadi pagi kak. Jadi saya hanya bisa mencuri" jawab Feng sambil memegang roti yang ada dibalik baju nya.


Terlihat anak kecil tersebut tidak terurus dan pakaiannya juga banyak sobekan dimana-mana.


Yan Chen merasa iba terhadap keadaan Feng lang yang terlihat memprihatinkan dan Chen berniat membantunya.


"Apakah kak Chen boleh ikut bersama pulang kerumah Feng?" Tanya Chen.


"Boleh kak, tapi rumah tempatku jelek sekali" jawab Feng.


"Tidak jadi masalah buat kakak" ucap Chen sambil tersenyum hangat.


"Baiklah kak.. mari ikuti aku" jawab Feng.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya Chen dan Feng memasuki wilayah kumuh. Wilayah itu tidak terurus, terlihat dari kondisi keadaan sekitarnya.


Yan Chen melihat didepannya terdapat sebuah rumah tua yang bertuliskan panti asuhan.


(To Be Continue)



Terimakasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca novel abstrak dari author ini ๐Ÿ˜



Semoga waktu dan kuota kalian tergantikan berkali-kali lipat๐Ÿ˜€



Saya sebagai author hanya ingin mengucapkan...



Sahuuuuuuuuurrrrr gaaaaakkkk ????


Sahuuuuuuuuuurrrr gaaaaaaakkkk ???


Sahurlah.... Masa enggaaaa !!! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚



MOHON MAAF APABILA ADA SALAH KATA MOHON DI MAKLUM YA HEHEHH !!


'Aku masih pemula' bisik author๐Ÿ˜


Jangan lupa like dan sarannya !!


See you gaessss !!

__ADS_1


__ADS_2