KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Kembali Ke Ibukota


__ADS_3

Panji dan Nissa sudah sampai di selatan Jakarta, lebih tepatnya pinggiran selatan Jakarta. Alamat yang diberikan oleh Pak Andi ternyata berlokasi di sbuah cluster yang sangat nyaman dan asri, jauh dari jalan raya, sehingga jauh daru kebisingan dan polusi. Di gerbang depan ada petugas yang berjaga diluar, setelah Panji menyampaikan maksudnya kepada petugas jaga, mereka dengan ramah mengantar Panji dan Nissa kerumah milik Pak Andi, mereka tersenyum senang karena rumah itu sangat bagus dan nyaman, model rumah kekinian yang memang tidak besar tapi modern. Dari sini sekolah yang di maksud untuk adiknya juga dekat, Panji sudah melihat beberapa sekolah disekitar dalam perjalanan menuju kesini.


Rumah ini ternyata sudah dilengkapi seluruh perlengkapan tinggal. Ada sofa diruang tamu , kasur dan lemari umtuk mereka dimasing-masing kamar . Bahkan perlengkapan dapur sudah tersedia disana. Panji melihat isi kulkas yang ternyata sudah ada isinya berupa botol botol air mineral, ia memgambil air mineral yang paling dingin yang ada didalam kulkas, tenggorokannya yang tadi kering sekarang menjadi basah dan segar. Ia merebahkan diri di kasur. Pikirannya masih terngiang apa yang terjadi saat makan malam dirumah Pak Andi dan ibu Haryati. Mereka berjanji akan mwngirimkan foto -foto TKP pembunuhan ayahnya, namun sampai saat ini informasi yang ditunggu belum juga sampai.


Cukup lama ia tertidur, getaran ponsel disaku celananya membuat ia terbangun. Pamji memeriksa isi pesan dan langsung terlonjak bangun. Ia berlari keluar kamar mencari adiknya, dilihatnya seluruh ruangan rumah sudah bersih dan segar, ppppaAAaQqQqQQQQQQQQANiisa sedang didapur menyiapkan makanan. Ternyata Nissa sudah sempat keluar kewarung tedekat untuk membeli bahan makanan.


"Dek! Sini! Foto-foto TKP sudah dikirim oleh bu Haryati."


Nissa segera menghampiri Panji diruang tamu. Mereka sedikit kecewa karena gambar yang diharapkan tidak terjadi. Mayat pak lurah tertelungkup dengan pisau dipunggungnya dengan kepala menghadap pagar. Panji menghempaskan punggungnya ke sofa, wajahnya menatap langit-langit dengan kecewa. Nissa masih mengutak-atik gambar .


"Mas Panji! Itu pisau bapak!" Pekik Nissa gembira.


" Kenapa kamu gembira? Itu membuktikan bapak kita pembunuhnya kan?" Panji masih bingung dengan sikap Nissa.


"Itu pisau bapak buat membersihkan sayur dan buah, bapak selalu menyimpannya diluar, diselipkan di pohon yang menempel dipagar. Bapak selalu kehilangan pisau kalau ditaruh dapur, makanya sejak itu ia menyimpannya di pagar!" Nisa berteriak gembira.


Panji masih belum dapat memahami maksud Nissa, namun perlahan ia mengerti.


"Kalau pisau itu ada di pagar tidak mungkin posisi mayat pak lurah menghadap pagar, ia pasti menghadap rumah kita. Apa mungkin pisau sedang di pegang ayah?"


"Tidak! Mas lihat! jalan setapak rumah kita bersih, artinya sayuran belum datang, pisau masih tersimpan di pagar. Ayah selalu menyimpannya dengan rapi disana sesudah ia pakai!"

__ADS_1


"Bisa saja ayah sudah melihat dari jauh Pak lurah datang, ia sudah menyiapkan pisau dibaik bajunya, saat pak lurah berbalik langsung ia tikam!" Panji menyampaikan opininya walaupun ia tak berharap itu yang terjadi.


"Berdasarkan pengakuan ayah bahwa pak lurah datang ingin balas dendam membawa pisau, kalau akhirnya pak lurah yang terbunuh artinya ada perkelahian, pisau berhasil direbut bapak, Pak lurah hendak lari lalu bapak menikam dari belakang!' Panji kembali menebar opini kemungkinan lain, ia coba merekonstruksi kejadian di benaknya, namun ia mematahkan sendiri opininya.


"Tidak! Terlalu lemah! merebut pisau harus dari jarak dekat, paling tidak ada luka bekas pukulan, sikutan bahkan harusnya pergelangan tangan pak lurah ada yang terkilir!"


"Bagaimana bila ada orang lain yang datang, yang tahu dimana bapak menyimpan pisau, lalu menikam pak lurah dengan tiba-tiba dari belakang?"


Nissa gantian mengemukakan opininya. Panji tersenyum kepada Nissa.


" Itulah yang ada dipikiran saya dan Ibu Haryati dari awal! Tapi kalau ditikam dari belakang kepala pak lurah harusnya jatuh menghadap rumah kita kan? Apa ia sempat berbalik menghadap pelakunya?"


Baik Panji dan Nissa tak dapat berkata-kata lagi. Andaikan otak Panji adalah mesin buatan Jepang pasti saat ini sudah terdengar bunyi gesekan putaran mesin dan sudah mengeluarkan asap, ia sedang berusaha keras mengolah semua kemungkinan.


"Mas Panji tahu sendiri bapak tak pernah mau berurusan dengan riba, tak mungkin bapak punya hutang dengan seseorang. Lebih mungkin adalah siapa yang ia lindungi karena bapak menyayanginya!"


"kalau benar begitu berarti orang itu adalah orang yang dekat dengan bapak dan ia juga tahu kalau baoak menyimpan pisau di pagar! Siapa kemungkinannya?"


"Bapak punya anak buah yang membamtunya di pasar, Namanya Joko, ia orang kampung kita juga yang bantu bapak dirumah baru setelah bersih barulah dagangan dibawa ke pasar."


Panji juga mengenal Joko, salah satu teman permainannya dari kecil. Bapaknya memang mengajak Joko membantunya dipasar karena bapak ingin membantunya agar dia dan adiknya bisa tetap sekolah. Tapi sejak bapaknya ditangkap entah dimana keberadaan Joko sekarang? Ia tak pernah mendengar kabar Joko dan adiknya sejak kejadian itu.

__ADS_1


Nissa mengamati kembali gambar di ponsel, matanya berfokus kepada pisau yang menancap dipunggung pak lurah.


" Harusnya kalau sedalam itu pisau menembus punggung pak lurah,pak Lurah tak akan sempat berbalik. Kalau sempat berbalik berarti tusukan awal tidak sedalam itu akan ada sedikit perlawanan, kalau terjadi perkelahian pot-pot bunga yang disusun ibu disisi jalan setapak kita pasti berantakan, tapi lihat Mas! Pot bunga masih tersusun rapi!"


Panji melihat kembali foto yang ditunjukan Nissa, ia memandang Nissa dengan kagum. NIssa memang murid terpandai di sekolahnya, ia bercita-cita jadi dokter, makanya nilai pelajaran biologinya sangat bagus. Panji kembali mengamati foto dan berpikir.


Apakah susunannya benar dek? Kamu pasti sering bantu ibu menyiram bunga, apakah susunan pot bunga difoto ini seperti biasanya?" Nisa kembali memperhatikan foto yang dimaksud Panji.


"Tidak Mas! Ini disusun kembali secara asal, Ibu selalu menyusun pot bunga dari yang kecil terus kedepan semakin besar!'


Nissa dan Panji saling pandang, keduanya menganguk sepaham, satu fakta sudah terurai bahwa pot disusun kembali, seribu pertanyaan kembali muncul di benak Panji.


"Untuk apa bapaknya menyusun kembali pot-pot bunga itu? Siapa yang ia lindungi? tapi apakah memang terjadi perkelahian? Kalau terjadi perkelahian harusnya tetangga pasti mendengar, kampung itu sangat sepi, sedikit saja suara pasti terdengar kemana-mana. Apakah pak Slamet tidak mendengar perkelahian?" Panji menjadi sangsi akan kesaksian Pak Slamet.


" Dek! Bukankah bapak punya ponsel? Kenapa ia harus meminta Pak Slamet yang menghubungi ke polisi?"


Nissa tak bisa menjawab pertanyaan Panji. Panji mengambil ponselnya lalu menghubungi ibu Haryati.


"Selamat siang Ndan! Saya mau tanya apakah ada bekas luka, memar atau patah dibagian-bagian tubuh pak Lurah? Karena difoto ini ia terlihat baik-baik saja."


"Sayangnya kami tidak melakukan otopsi Panji, Pihak keluarga korban tidak mau otopsi karena bapakmu sudah mengaku maka tak ada yang perlu merasa repot untuk otopsi. Tapi bapakmu legam di mata kirinya, hidungnya patah saat ditangkap!"

__ADS_1


"Bapak yang terluka?" Panji tak lagi mendengar pembicaraan di ponselnya, fakta baru yang ia dengar membuat otaknya semakin kusut. Ia merebahkan badannya ke sofa, tak lama ia berjalan kekamar dan langsung menghempaskan dirinya ke ranjang.


__ADS_2